Don’t Go

IMG-20140701-WA0007

Author

Twelveblossom

Cast 

  Oh Sehun &  Jung Nara

Length 

One Shoot

Genre 

Romance & Fluff

This story line imine, please don’t copy paste.

***

“Menikahlah dengan ku.”

“Aku gila, jika mengiyakan.”

“Aku rasa hanya kau  yang berani menolak ku, Jung Nara-ssi.”

“Aku hanya…”

“Hanya…”

“Tidak siap, menjadi alasan mu untuk menyesal.”

“Nara-ya…”

“Mianhae, Sehun-a.”

***

Korea Selatan, Seoul.

Hujan. Air dengan frekuensi tidak beraturan, jatuh berbentuk bulir-bulir oval. Satu tetes, berlanjut dua tetes lalu, ribuan bulir jatuh dalam hitungan detik. Langit ingin membangun persepsi dengan hujan. Gadis itu, menangkap semua persepsi yang langit bangun dengan hujan sebagai rasa kesedihan. Tangannya mengusap lembut kaca yang berembun. Matanya menerawang. Pikirannya berlari-lari. Ada dialog yang terus berputar dalam benaknya.

“Sehun meminta ku menikah dengannya.”

“Tinggalkan dia Ahra. Kau tahu dengan pasti konsekuensi bila hal ini terus dilanjutkan.”

“Aku sangat mencintainya, Oppa.”

“Aku tahu. Kau sangat mencintainya. Kau juga orang yang paling tahu apa impiannya.”

“Aku tidak akan bisa meninggalkannya…”

“Kau harus bisa.”

Nara menghembuskan napas panjang. Lengan kemeja putih kebesaran yang ia gulung kembali menjulur. Ia menempelkan hidungnya pada lengan kemeja yang ia gunakan. Aroma pemilik kemeja yang sekarang menempel ditubuhnya seakan membawanya ke dialog-dialog lain yang membuat hatinya diremas dengan tidak manusiawi.

“Aku ingin kita berpisah.”

“Nara,ini tidak lucu.”

“Jinki Oppa, menyarankanku untuk masuk ke universitas yang sama dengan appa.”

“Australia?”

“Ne.”

“Jung Nara, Australia bukan alasan kita untuk berhenti. Aku sangat mencintaimu, Nara.”

“Aku sudah muak dengan semua ini, Sehun.”

“Jung Nara!”

“Aku tidak ingin menjadi gadis bodoh yang hanya berpikir tentang cintanya. Aku tidak ingin menikah muda.”

“Nara-ya.”

“Aku. Kau. Kita memiliki mimpi Oh Sehun. Jangan buta karena aku. Impian kita lebih penting.”

“Aku tidak bisa…”

“Mengertilah, Oh Sehun. Aku mohon.”

Hati gadis itu terasa sangat sesak. Ia memikirkan cara hidup tanpa oksigennya. Benar-benar egois. Semua fokusnya ada pada pria itu. Oh Sehun. Entah, Nara harus memulai darimana jika ia diminta menjelaskan siapa Oh Sehun. Dia membutuhkan berlembar-lembar kertas untuk memuja pria itu. Bisa jadi, ia tidak bisa menulis satu katapun untuk mendeskripsikan pria itu pada orang lain. Oh Sehun, miliknya. Pribadi. Dia tidak ingin membagi Oh Sehun untuk orang lain. Cukup untuknya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara hangat favorit Nara, terdengar. Pemilik suara itu meletakkan tangannya pada pinggang Nara. Memeluk gadis itu dari belakang.

Nara berpikir, Pria itu benar-benar tidak menyadari, sentuhan yang ia lakukan pada gadisnya akan membuat sengatan listrik yang akan menjalar keseluruh bagian tubuh. Nara hampir kehabisan napas. Mungkin ini sentuhan Sehun yang kesekian, tetapi tubuhnya tetap merespon dengan berlebihan.

“Hanya melihat hujan.” Jawab Nara dengan suara sedikit bergetar, gugup.

Sehun mendekatkan bibirnya kearah telinga gadis itu. Ia tersenyum kecil saat merasakan gerakan kecil kikuk dari Nara. Pria itu tahu dengan pasti bagaimana efek dirinya untuk Nara. Sehun juga merasakan hal yang sama, seperti gadisnya. Detak jantung yang ingin melompat saat berdekatan dengan gadis itu. Sengatan listrik. Aroma tubuh. Semuanya membuat ia gila.

“Sejak kapan seorang Jung Nara menaruh perhatian banyak pada hujan.” Kalimat yang Sehun ucapkan terdengar pelan tepat di telinga. Bibir pria itu bergerak di telinga Nara.

Semburat merah muncul dipermukaan pipi gadis itu. Ia tersenyum lemah. Pikirannya berusaha mengingatkan lututnya untuk tidak lemas.

“Hujan sangat menarik.” Nara berkata asal. Otaknya benar-benar sedang tidak bisa bekerja dengan baik.

“Baiklah, hujan lebih menarik daripada aku.”  Gerutu Sehun. Nara tahu itu kalimat sindiran untuknya. Gadis itu tidak bisa menatap Sehun dengan wajah bersemu merah seperti ini. Dia malu. Ia tidak bisa mengendalikan respon tubuhnya.

Sehun membalik tubuh Nara agar berhadapan dengannya. Nara sempat kaget, mendapatkan serangan mendadak. Dia hanya menatap Sehun dengan hambar. Di satu sisi, Nara melihat kebahagian di mata Sehun. Di sisi lain, Ia melihat kesedihan Sehun. Nara tahu ini pertemuan mereka yang terakhir. Mereka telah menyelesaikan semua. Bukan, mereka. Hanya Nara yang ingin menyelesaikan semuanya. Demi prianya,  Oh Sehun.

“Beri aku waktu sehari sebelum semuanya benar-benar berakhir.”

“Tidak, Sehun-a.”

“Ini permintaan ku yang terakhir, Nara.”

“Berapa pun waktu yang akan kau dan aku habiskan. Tidak akan membuat kita kembali bersama.”

“Hanya satu hari, beri aku waktu satu hari untuk merubah keputasanmu.”

Sehun menginginkan waktu berhenti saat itu juga. Detik demi detik sangat berarti untuk pria itu. Gadis yang sekarang sedang dihadapannya seperti asap. Ia tidak ingin lengah, barang satu detik pun. Jung Nara bisa menghilang dengan tidak sopan dari jarak pandang. Gadis beraroma bunga lili favoritnya bisa meluluhkan hati Sehun dengan satu kata saja.

Tangan Nara berbindah ke wajah Sehun. Ia mengusap lembut wajah pria itu. Sehun mungkin bukan Kristal yang mudah pecah. Nara hanya menikmati setiap  jengkal kulit Sehun yang ia bisa sentuh. Setelah matahari terbit, gadis itu tidak akan bisa menyetuh prianya lagi. Mereka harus kembali ke jalan yang sudah ditentukan.

“Jangan mencium ku seenaknya Oh Sehun!”

“Ya! Kau tahu berapa gadis yang menginginkan ku untuk mencium mereka?”

“Mereka fans mu. Aku bukan salah satu dari mereka.”

“Tapi, aku ingin selalu menciumu.”

“Sekali lagi kau mencimuku. Aku akan…”

“Kau akan…”

“Memukulmu seperti ini!”

“Ya! Jung Nara, sakit. Kau tahu berapa harga kepalaku!”

Sehun memejamkan matanya. Satu-satunya gadis yang boleh menyentuhnya seperti ini. Hanya Jung Nara. Satu-satunya gadis yang membuatnya tersenyum hanya karena sentuhan kecilnya. Hanya Jung Nara. Satu-satunya gadis yang mendapatkan ciumannya. Hanya Jung Nara.

“Saranghae.”  Kalimat sederhana tapi, bermakna luar biasa. Sehun membuka matanya. Tangannya seakan menghapus guratan merah yang ada dipipi Nara. Ia tahu dengan pasti bagaimana perasaan gadis itu kepadanya. Sehun tahu, sangat tahu. Pengetahuan itu membuatnya ingin menghormati keputusan gadis itu walaupun hatinya menolak.

Nara membelakkan matanya, kesekian kalinya terkejut oleh letupan yang dihasilkan oleh sentuhan prianya. Bibir mereka bertemu. Nara memejamkan mata. Pikirannya sedang terfokus mengikuti alur lumatan-lumatan lembut yang diberikan Sehun. Mengikuti naluri, Nara mengalungkan tangannya ke leher Sehun. Tubuh mereka tahu pasti apa yang sebenarnya diinginkan oleh tuannya.

“Suara ku habis.”

“Kau terlalu banyak mendesah, tadi malam. Hahaha.”

“Menyebalkan.”

“Aku berpikir untuk melakukan olah raga malam setiap hari.”

“Oh Sehun!”

“Sangat menyenangkan mendengarmu memanggilku ‘Sehun Oppa’. Seharusnya aku merekamnya.”

Ciuman mereka berlanjut. Sehun. Nara. Mereka tahu pasti apa yang benar-benar mereka butuhkan. Berkali-kali melakukan hal yang sama, tidak akan cukup. Mereka menginginkan satu sama lain. Bukan hanya sekedar hormon yang mengendalikan perasaan menggebu. Kebutuhan untuk memiliki satu sama lain menjadi alasan. Nara tahu dimana ciuman dan semua sentuhan ini akan berakhir. Seharusnya, ia bisa mengendalikan dirinya. Sisi egoisnya mulai muncul. Ini pertemuan terakhirnya dengan sehun. Ia ingin melakukan apa saja yang Sehun inginkan atas dirinya.

“Sehun-a.” Ucap Nara, singkat. Terdapat nada kecewa saat Sehun melepaskan ciuman mereka. Sehun kembali tersenyum. Gerakan cepat, sebelum ada penolakan dari gadisnya Sehun mengangkat tubuh Nara. Menggendog tubuh gadis yang terasa ringan baginya. Ia menindih gadis itu di tempat tidur, membuat tangannya menopang agar tidak memberatkan Nara. Tidak ada penolakan ketika Sehun mulai menyentuh setiap inci tubuhnya.

Nara ingin selalu  seperti ini. Menarik kembali semua kalimat perpisahan yang sudah ia ucapkan. Andai Ia bisa. Nara hanya bisa berharap. Membodohi dirinya atas keputusan yang Ia buat.

“Pertanyaan terakhir, Nara-ya. Apa kau masih mencintai ku?” Tanya Sehun diselah semua kegiatan pribadi mereka.

Nara, kehabisan napas. Ia berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya setelah terbang mengikuti permainan Sehun.

“Nara.” Panggil Sehun penuh penekanan. Nara hanya menggigit bibirnya. Penekanan Sehun tidak hanya pada kata yang ia ucapkan. Area bawah Nara benar-benar diobrak-abrik oleh Sehun. Penuh penekanan.

“Ti.. Tidak.” Nara tersengal-sengal menjawab pertanyaan Sehun.

Pria itu tersenyum dalam kegiatannya membuat gadisnya menyuarakan namanya berulang kali. Ia tahu pasti Nara berbohong. Pikirannya berusaha memilah. Ia hanya ingin membuat waktu ini berarti untuk mereka. Setelah mereka bangun besok. Semuanya akan kembali kesemula. Ia tidak akan bisa menyentuh gadis dalam pelukannya lagi. Sehun ingin berjuang dengan hubungan mereka tetapi, gadisnya sudah berhenti. Dia tidak cukup hebat untuk berjuang sendiri. Semuanya telah berakhir. Menyakitkan.

“Aku selalu berpikir kita menikah dan memiliki banyak anak.”

“Tingkat perceraian artis terus melambung naik, Sehun-a. Itu menjadi headline di majalah.”

“Mereka terlalu melebih-lebihkan.”

“Kebanyakan artis terkenal akan kehilangan segalanya  sesudah mereka  menikah. Termasuk fans mereka.”

“Tidak akan ada berita ‘Oh Sehun kehilangan fansnya’ bila aku menikah.”

“Terlalu percaya diri.”

“Mereka menyukaiku karena aku berbakat, Nara-ya.”

“Baiklah, aku mengerti. Kau sangat berbakat. Satu hal yang harus kau ingat, penyesalan selalu datang terlambat.”

“Aku tahu. Aku sekarang menyesal, mencintai gadis cerewet seperti mu.”

***

            Nara, mengerutkan keningnya. Sinar matahari mulai menerobos masuk ke mata. Tidurnya terusik. Gadis itu merasa tubuhnya tidur dalam posisi sangat nyaman. Dia tidak tidur dalam alas kepala yang empuk. Kepalanya terasa menindih sesuatu yang keras tetapi sangat nyaman. Nara merasakan sepasang tangan melingkari tubuh  polosnya. Sangat protektif. Membutuhkan usaha untuk melepaskan diri dari dekapan tangan itu.

Dalam diam, Nara menatap wajah pria yang tengah tertidur pulas di hadapannya. Bohong kalau ia mengatakan pria itu tidak tampan. Sangat tampan. Ia rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap wajah tertidur pria itu. Tangan Nara dengan tidak sopan ingin menyentuh wajah sempurna itu. Logikanya segera mengendalikan tubuhnya. Gadis itu tersadar akan waktu yang sudah habis. Ia harus tegas dengan semua keputusannya.

“Aku tidak bisa meninggalkannya, oppa.”

“Kau tahu dengan pasti skandal yang mulai tercium tentang hubunganmu dengan Sehun, Nara-ya.”

“Oppa…”

“Sehun telah mengorbankan segalanya untuk mencapai posisinya sekarang, Nara.”

“Dia akan hancur.”

“Bukan dia yang akan hancur tapi, kau. Jangan egois. Semuanya akan berakhir menyedihkan, jika kalian tetap bersama.”

Nara, beranjak dari ranjang mereka. Satu sentuhan di pipi Sehun, menjadi harapan bahwa mereka akan baik-baik saja. Memberikan kekuatan pada saat mereka tidak bertemu lagi. “Saranghae, Oh Sehun. Mianhae.” Kalimat terakhir yang Nara ucapkan, sebelum tubuhnya ia tarik untuk tidak terlihat lagi oleh mata prianya. Selesai. Berakhir. Ia harus tetap hidup tanpa napasnya. Oh Sehun.

***

Australia, Melbourne

Tepat tiga tahun. Di hari ini. Mata Sehun terakhir kali melihat gadis itu. Ingatannya tidak terlau tajam sebenarnya, tetapi ia bisa menyelami memorinya dengan nyata tentang gadis itu. Gadis yang membuat jantungnya berdetak dengan cepat.

Cinta pertamanya.

Napasnya.

Pikiran Sehun melayang, Ia tidak peduli dengan suara memekakan telinga yang memanggil namanya. Pada kenyataannya hanya ada satu suara yang benar-benar ingin Ia dengar. Terlalu picisan. Terlalu dramatis. Mungkin itu, kebanyakan orang pikirkan. Sehun tidak peduli. Nalurinya menginginkan kesadaran bahwa gadis itu pernah ada mengisi setiap lapisan terkecil dari seluruh kehidupannya. Hanya ada penyesalan bila Ia mengingat gadis itu lagi, tetapi dia tidak pernah berhenti memikirkan semua hal tentang mereka. Berhenti memikirkan gadis itu, sama saja Ia berhenti bernapas. Bukankah kita harus tetap bernapas agar tetap hidup?

Sehun benar-benar seperti terserap dalam dunianya. Ia kembali merasakan tubuhnya kembali ke alam nyata ketika Ia  sedikit terhuyung karena desakan. Sehun sekarang sedang berada di pintu keluar Avalon International Airport.

Pria itu menyebarkan pandangan ke sekitar. Padat. Segerombolan remaja yang mengatas namakan diri mereka sebagi fans Oh Sehun. Berteriak. Menjerit. Bahkan ada yang menangis. Sehun hanya memberikan senyuman sebagai sikap profesionalnya. Memberi Penghargaan pada setiap orang yang meluangkan waktu untuk mencintainya.

Sebenarnya, pria itu merasa hambar.

Hidupnya hanya dipenuhi kepalsuan.

Tubuhnya sedikit kikuk. Ia sekarang berada di satu negara dengan gadis itu. Jarak mereka, mungkin hanya dipisahkan beberapa kilometer. Sehun merasa terlalu pengecut untuk mencari gadisnya. Sebagian dari dirinya takut untuk ditolak untuk kesekian kali oleh gadis itu. Jung Nara.

“Baiklah, aku berikan waktu satu hari untukmu. Tetapi, berjanjilah satu hal padaku.”

“Apa?”

“Jika, kita bertemu lagi setelah satu hari itu. Berjanjilah untuk tidak mengenaliku. Berjanjilah kau akan mengabaikan ku bila kita berselisih jalan.”

“Nara…”

“Berjanjilah.”

“Aku berjanji.”

Setelah sekian lama menghindari negara ini. Sehun akhirnya harus datang kesini karena alasan pekerjaan. Ia harus menghadiri acara penghargaan musik. Sehun mengira dirinya sudah dapat melupakan semua tentang Nara. Sekarang, melihat kenyataan bahwa jaraknya dengan gadis itu lebih dekat, membuat tembok batas dengan masa lalunya hancur.

Sehun berjalan ke arah restoran di lantai bawah hotel tempatnya menginap. Ia merasakan sedikit kebebasan di negara ini. Dia tidak perlu menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Dia hanya perlu menjadi Oh Sehun, mengenakan pakaian yang ia suka. Tanpa make up yang membuatnya pusing.

Fakta bahwa orang di sekitar Sehun tetap meliriknya dua kali, saat ia berjalan membuat pria itu mendengus. Sehun memakai kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya yang terlalu tampan. Ia berjalan dengan santai mengikuti penunjuk arah yang memudahkan pengunjung agar tidak tersesat. Sehun tersenyum kecut ketika ia melihat sebuah toko coklat di deretan  jalan yang ia lalui.

“Sehun-a saranghae.”

“Tidak. Kau lebih mencintai tumpukan coklat itu.”

“Pria paling tampan sedunia, apa kau tahu ini bukan coklat biasa?”

“Coklat tetaplah coklat, Nara-ya.”

“Ini coklat yang sama seperti appa berikan, appa selalu membawakan coklat ini sewaktu aku masih kecil.”

“Baiklah.”

“Ayolah, Oh Sehun. Kau mencintaiku bukan? Kau bisa menunggu ku. Harus. Tapi, coklat ini tidak bisa menunggu ku. Mereka akan meleleh kalau aku tidak segera memakannya.”

Tanpa Sehun sadari kakinya  melangkah memasuki toko coklat itu. Ia tidak tahu kenapa. Tubuhnya seakan tertarik magnet. Ada hal menarik yang memaksa tubuh dan pikirannya menuju toko itu. Ia merasa akan menemukan sesuatu disana.

***

Nara membenarkan letak rambutnya. Kakinya sudah sangat pegal. Engsel kakinya hampir patah.  Oke, ini berlebihan, gadis itu baru saja mengantri selama dua puluh menit. Ia tidak suka menunggu. Sangat tidak suka. Saat ia sudah berada di hadapan pelayan, Nara hampir memeluknya. Nara memesan semua jenis coklat yang ada dimenu.

Gadis itu, mengingat kembali alasannya berada di hotel ini. Nara telah meninggalkan masa lalunya. Ia sudah menutup buku cerita lama. Bahkan sudah membuangnya. Ia sudah hidup dengan sangat baik. Menemukan pria lain, cinta lain, dan alasan lain untuk hidup. Bohong. Semua kalimat itu bohong. Bila gadis itu sudah melupakan semua itu. Ia tidak akan berada di hotel ini. Tempat prianya menginap.

Saat mendengar Oh sehun berada disini Nara datang ke hotel ini tanpa berpikir dua kali. Ia sangat merindukannya. Sangat. Sehun tidak pernah membiarkan Nara merindukan prianya sebanyak ini.

“Kau merindukan ku?”

“Belum.”

“Kalau kau merindukan ku. Segera beritahu aku.”

“Kenapa?”

“Agar aku bisa segera berlari menemui mu.”

Nara berpikir bahwa Ia hanya perlu melihat Sehun satu kali, lalu berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melihat pria itu lagi. Ia hanya membutuhkan kekuatan. Logikanya tidak mengatasi masalah perasaan. Gadis itu hanya ingin melihat Sehun secara nyata.

“Nona, ini pesanan anda.” Seorang pelayan menyadarkan Nara dari lamunannya. Gadis itu segera mengambil pesanannya. Ia membawa semua coklatnya dengan hati-hati. Ia tidak ingin coklatnya terjatuh. Bentuk coklat ini yang membuat Nara bersemangat untuk memakannya.

***

Sehun hampir saja berhenti bernapas. Ia tidak mempercayai matanya. Ia tidak mempercayai apa yang ia lihat. Seseorang diantrian paling belakang. Walaupun, hanya terlihat punggungnya. Pria itu sudah sangat hafal siapa pemilik punggung itu. Waktu seakan berhenti di sekitar Sehun. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Ia tidak tahu bahwa efeknya akan sehebat ini. Gadis itu tampak membawa setumpuk kardus yang hampir menenggelamkan kepalanya.

Sehun masih terpaku. Tubuhnya kaku. Ia hanya menatap dalam diam saat gadis itu melangkah mendekat. Semakin dekat.. dan…

***

 Nara merasakan keseimbangannya menurun drastis karena semua kardus coklat yang harus dibawanya. Ia tidak bisa melihat dengan benar apa yang ada di depannya. Gadis itu hanya melihat pria jangkung yang tetap berdiri di jalannya. Seharusnya pria itu minggir.

“MOVE!” seru Nara terlambat saat semua kardusnya terjatuh dan menimpa pria yang menghalangi jalannya. Gadis itu hampir mati saat mengetahui semua coklat kesayangannya jatuh. Ia memikirkan berapa banyak denda yang harus ia bayar karena mengotori toko ini. Wajah gadis itu memerah. Perasaan malu yang luar biasa, tiba-tiba merasuk. Ia tidak sempat memikirkan siapa pria dihadapannya. Bagaimana nasib pria itu setelah terkena tumpukan kardus yang ia yakin lumayan berat bila dijatuhkan bersamaan.

“Jung Na…Ra… Don’t go.”

Nara mengangkat kepalanya dengan cepat mendengar suara itu.

Hatinya kelu.

Seluruh tubuhnya seperti ingin meledak.

Nara ingin merespon kata-kata pria itu. Sebelum semua itu terjadi, tubuhnya sudah berada di pelukan pria itu. Tenggelam begitu saja.

“Aku merindukan mu.”

Sekali lagi Nara tidak bisa merespon. Gerakan prianya lebih cepat. Dia kalah beberapa langkah. Dia seperti terbius. Terhipnotis. Tiba-tiba saja. Bibirnya sudah bertaut dengan sempurna dengan milik pria itu. Tidak tahu. Tubuhnya berkhianat besar. Ia ingin menolak tetapi tidak bisa. Gadis itu tidak ingin lebih pusing lagi, Ia memutuskan untuk tidak menolak. Mungkin untuk saat ini.

“Sehun-a…”

***

“Maafkan aku, Sehun-a.”

“Aku berhenti, hyung.Aku sudah yakin dari awal kalau kau sangat terlibat dengan keinginan Nara mengakhiri hubugan kami. ”

“Sehun, ini mimpimu.Gadis itu hanya sebagian dari masa lalu mu.”

“Dia hidup ku. Aku tidak bisa bermimpi tanpa hidup.”

 

-FIN-

Advertisements

84 thoughts on “Don’t Go

  1. Akhirnya mereka ada kesempatan buat bersama lagi
    Apalagi kalo kepergian Nara waktu itu ada campur tangan dari orang lain…
    Makanya, Sehun milih pilihan yang tepat^^

  2. aaaaaaaaaahhhhh ini keren keren sukaaaa sukaaaaa aku suka ceritanya aaahh knp baru baca padahal keren bgt ini, aahh dilanjut sukaaa suka bgt ☺☺☺☺☺

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s