Kiss me, I’ll Forgive Everything

Image

Author Twelveblossom

Cast

Oh Sehun & Jung Nara

Length Ficlet

Genre  Romance & Fluff

Rated  PG-13

This story line imine, please don’t copy paste.

***

“Jangan sibuk berspekulasi, Nara-ya.”

“Berspekulasi? Ini sudah sangat jelas, Sehun-ssi.”

“Benar, ini sudah sangat jelas. Aku dan dia hanya sebatas rekan kerja. Apa penjelasan itu belum cukup?”

Berciuman di luar lingkungan pekerjaan. Apa itu disebut rekan kerja?”

“Kami hanya berlatih untuk drama.”

“Berlatih. Baiklah, kalau kalian ditugaskan melakukan adegan ranjang. Apa kalian juga akan bercinta dan berlatih setiap hari?”

“Jung Nara…”

“Sudah bukan hal yang baru, memulai hubungan lain dengan alasan pekerjaan.”

“Jung Nara, kau kekanakan!”

***

Nara meraba lekukan-lekukan tempat ia menekan bolpoin begitu kuat sampai kertasnya nyaris sobek. Gadis itu bermaksud untuk menyalin catatan, sekarang malah catatan itu semakin tidak bisa dibaca. Suasana hati yang tidak baik, mempengaruhi tingkat kesialan. Semua hal yang ia lakukan hari ini berujung pada masalah. Wajahnya sudah ditekuk. Terlihat masam. Pertengkaran kecil. Bukan, menurut Nara itu semua hal besar. Pertengkaran besar dengan Sehun, menghapus semua asumsi positif.

Gadis itu  sebenarnya, tidak terlalu marah. Ia hanya terbawa emosi. Emosinya dengan riang akan melambung tinggi jika, tingkat kerinduan pada pria itu bertambah. Ia hanya terlalu merindukan Sehun. Tidak ada banyak waktu untuk bersama. Setiap waktu yang mereka dapatkan, sangat berharga. Nara hanya kesal. Sehun ketahuan berciuman dengan gadis lain, tepat pada  waktu berharga yang seharusnya dihabiskan dengannya. Nara benar-benar kesal.

Saat memikirkan semua kekesalannya, gadis itu mencium bau gosong yang menyeruak dari arah dapur. Nara segera melompat ke dapur. Stoples logam berisi saus spageti terlihat berputar di microwave. Ia menyentakkan pintu microwave hingga terbuka. Bodoh. Kenapa bisa begitu ceroboh. Tentu saja, logam tidak boleh masuk ke microwave, kecuali ingin meledakkan rumah. Otaknya benar-benar tidak bisa berjalan dengan benar. Semua ini karena pria itu.

“Ini semua gara-gara kau Oh Sehun, bodoh!”  Nara menyuarakan kekesalan. Ia meremas kertas lecek yang berada di konter dapur. Berimajinasi kertas itu adalah Oh Sehun.

“Siapa yang bodoh?” Suara Sehun bergema di dapur.

Nara hampir terjungkal saat mendengar suara kekasihnya. Ia mengira dirinya sudah benar-benar gila sampai alam bawah sadarnya bisa menirukan suara Sehun dengan sempurna.Nara memutar tubuhnya. Ia melihat tubuh jangkung itu. Nara hampir saja meledak kesenangan. Sesak kerinduan dan semua beban yang sudah seharian ini dirtanggung, tiba-tiba hilang begitu saja.

Sehun menyipitkan mata. Mengira-ngira respon apa yang akan diberikan oleh gadisnya setelah pertengkaran kecil mereka. Alih-alih memberikan sebuah sentuhan fisik untuk menghajar Sehun. Nara hanya mengatur ekspresi wajah, menjadi sangat tidak bersahabat. Gadis itu meninggalkan Sehun begitu saja. Nara kembali ke meja ruang tamu, tempat dimana buku-buku tadi berserakan. Ia menyibukkan diri dengan memasukkan buku-buku itu ke tas. Seolah-olah matanya tidak melihat Sehun.

“Jadi..” kata Sehun berusaha mencuri perhatian, pria itu duduk di hadapan Nara. Sehun merengkuh jari Nara yang mengetuk-ngetuk meja. Jari-jari Nara diam. Gadis itu tidak memperdulikan sentuhan Sehun. Ia malah menatap buku-bukunya dengan tatapan memuja. Memberikan kesan, buku-buku itu berkali lipat lebih menarik daripada Sehun.

“Jadi, kau masih marah?” Pertanyaan Sehun dengan nada merengek yang dibuat-buat, membuat telinga Nara berdengung. Biasanya, Nara akan langsung tertawa dan luluh ketika Sehun menggunakan nada itu. Kali ini gadis itu benar-benar menekan kerja tubuhnya agar tidak terpancing.

“Baiklah, kau diam. Aku anggap sebagai jawaban tidak. Sekarang, Jung Nara tidak marah lagi kepada Oh Sehun.”  Pria itu membuat kesimpulan.

Nara mendongak, berusaha menjajarkan  wajah dengan kekasihnya. Gadis itu berniat melontarkan komentar sarkastis menanggapi kesimpulan Sehun yang merugikan dirinya, tetapi wajah Sehun lebih dekat daripada yang ia harapkan. Tubuh Nara seakan terserap dalam keindahan mata coklat Sehun. Hembusan napas Sehun terasa di bibir Nara yang sedikit terbuka karena terlalu kaget dengan jarak mereka. Nara lupa akan komentar pedas yang akan ia tujukkan untuk Sehun. Gadis itu, hanya pasrah saat tangan Sehun  merengkuh wajahnya mendekatkan bibir mereka.

Kalau kemauan gadis itu diturti, Nara rela mengahbiskan seluruh waktu untuk berciuman dengan Sehun. Tidak ada pengalaman lain yang setara dengan merasakan indahnya bibir pria itu. Bagaimana kekasihnya menyatukan bibir mereka. Bagaimana cara pria itu membuat bibir Nara bergerak lembut bersamanya. Manis. Semua membuat kerja sarafnya tak karuan. Tubuhnya menjadi ringan. Sangat ringan.

Jari-jari Sehun menyusup ke rambut gadisnya, merengkuh wajah Nara kuat-kuat. Kedua tangan Nara mengunci leher Sehun. Gadis itu ingin memenjarakan kekasihnya, tidak rela berbagi dengan siapapun.

Sehun menghentikan ciuman mereka, digantikan dengan kekehan nyaring. Terdengar hembusan napas kecewa dari Nara. Wajah gadis yang sekarang berada di pangkuannya sudah penuh dengan semburat merah yang menurut Sehun, sangat cantik. Ia tidak tahu sejak kapan, tubuh kekasihnya sudah berada dipangkuannya. Sehun sering lupa akan semua hal ketika menyentuh gadis itu.

“Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima amukan yang mengalahkan Babon Brazil, tetapi malah ini yang kudapat? Seharusnya aku lebih sering membuat mu marah.”

“Beri aku waktu setengah menit untuk bersiap-siap.”  Ucap Nara lalu menarik Sehun dalam ciumannya, lagi. Gadis itu mengabaikan semua harga dirinya. Dia tidak peduli. Kerinduanya lebih besar dari semua rasa gengsi yang ia miliki.

“Akan kutunggu selama yang kau mau,” bisik Sehun di bibir Nara.

Gadis itu benar-benar terhanyut dalam semua hal yang dilakukan Sehun. Nara tidak tahu darimana kekasihnya bisa belajar semua hal itu. Semua sentuhan yang bisa membuat tubuhnya melayang. Seingatnya, sekolah mereka tidak mengajarkan bagaimana cara berciuman. Astaga, apa yang Nara pikirkan? Ia merasa otaknya perlu dibersihkan.

“Bukan bermaksud membangkitkan kemarahan tapi aku hanya ingin memperjelas. Apa aku sudah dimaafkan?” Pertanyaan Sehun terselip di sela-sela ciuman mereka.

Sebelum Nara sempat menjawab, bahkan sebelum gadis itu berkonsentrasi untuk mencerna kata-katanya, Sehun kembali merengkuh wajah itu dengan kedua tangan menelengkan sedemikian rupa agar bibirnya dapat menjangkau leher Nara.

Hal-hal gila mulai terlintas dibenak Nara. Seperti film-film hitam yang terus berputar. Oh Sehun, benar-benar manusia yang berbahaya.

Desah napas Nara terlalu keras.

Agak memalukan sebenarnya, tetapi gadis itu tidak sempat merasa malu.

“Apa aku dimaafkan?” Sehun mengulangi pertanyaannya. “Mungkin.” Jawab Nara berusaha mengumpulkan kesadaran. Gadis itu mengambil napas banyak-banyak. Ia hampir lupa bernapas.

Sehun menatap gadis didekapannya dengan pandangan kesal. “Setelah kita melakukan semua ini, kau masih berani menjawab mungkin, Nara-ssi?”

Nara yang masih sedikit terengah, berusaha memililah kalimat yang pas untuk membalas Sehun. Kosakata dalam memorinya hilang semua. Ia lupa semua kata. Bahkan, ia lupa namanya sendiri. Di otaknya, hanya ada nama Oh Sehun.

“Kenapa masih bertanya kalau sudah tahu jawabannya?”

Sehun tersenyum singkat mendengar pertanyaan dengan nada menyebalkan dari gadis itu.  Baiklah, tidak ada yang perlu diperpanjang. Pertengkaran mereka selesai. Sehun sudah sangat tersiksa dengan aksi diam Nara. Tidak melihat gadis pemarah itu, satu hari saja sudah membuat semuanya kacau. Sehun seperti kecanduan. Pria itu tidak dapat menemukan kalimat yang sempurna untuk mendeskripsikan rasa ketertarikannya pada Nara. Lebih tepatnya, semua kata terlalu sederhana untuk gadisnya. Jung Nara.

***

“Oh Sehun-ahh… hentikan!”

“Diamlah, Jung Nara.”

“Ya! Ja… jangan membuat tanda di leher ku. Itu akan terlihat.”

“Diam.”

“Oh Seh-AKH! Pelan-pelan bodoh, sakit!”

“Jung Nara, bisakah kau diam dan menikmati saja.”

-FIN-

Advertisements

138 thoughts on “Kiss me, I’ll Forgive Everything

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s