Appenzell

Author Twelveblossom

Cast

Kris Wu & Oh Ahra

Genre Romance

Rating PG-13

Length One Shoot

This story line is mine, please don’t copy paste

***

Aku tidak tahu sekarang berada di surga atau neraka. Semua orang mengatakan, aku sedang berada di surga. Aku seperti di neraka, persepsi pertama ku datang ke tempat ini. Aku tahu pendapat ku sangat subjektif. Baiklah, aku akan mencoba menggambarkan tempat ini secara objektif.

Innerrhoden merupakan sebuah kanton yang terletak di Swiss bagian utara, dengan ibu kota Appenzell. Wilayah yang sepi karena memang tidak banyak ditinggali penduduk. Jumlah penduduk wilayah ini tidak lebih dari 16.000 jiwa. Berbeda sekali dengan tempat tinggal ku, Seoul. Bisa dihitung sendiri jumlah penduduk Seoul berkali-kali lipat lebih banyak. Jumlah penduduk yang kecil membuat kota ini begitu damai. Tidak ada hiruk pikuk manusia dan lalu lalang kendaraan. Oke, tempat ini sesuai untuk seseorang yang ingin menyendiri atau seseorang yang tidak suka  bertemu dengan banyak orang seperti ku. Tetap saja, wilayah ini terlalu sepi. Aku hanya ingin menenangkan diri, bukan bertapa.

Aku berangkat dari Zurich untuk mencapai Appenzell. Dari kota terbesar di Swiss tersebut, perjalanan ditempuh dengan kereta. Aku berani bertaruh, siapa saja yang melalui perjalanan dari Zurich ke Appenzell tidak akan jenuh. Sebab, begitu keluar dari stasiun kereta api di Badara Zurich, pandangan mata langsung bertemu dengan hijaunya hamparan rumput, indahnya perbukitan yang di beberapa titik terdapat rumah pertenak sapi dan kambing. Kondisi kereta yang nyaman membuat mata ku hampir menutup. Tubuh ku meminta diistirahatkan setelah menempuh perjalan dari Korea ke Swiss yang membutuhkan waktu seharian. Saat itu, aku sudah terbang ke alam mimpi, tapi semuanya terusik. Aku mendengar pintu kompartemen terbuka dan seorang pria jangkung masuk. Benar saja, kursi di depan ku masih kosong. Kereta di Swiss dibentur kompartemen, semacam ruangan. Terdengar helaan napas panjang dari pria itu, mengundang tatapan mata ku ke arahnya. Ia duduk santai tepat di kursi depan ku.

Tampan. Seharusnya, banyak kata yang bisa mendefinisikan pria itu. Aku hanya memilih satu kata itu untuknya. Otak ku berputar sebentar untuk memerintahkan bibir ku agar membalas senyumnya. Baiklah kerja tubuh ku sedikit berlebihan untuk pria ini. Kemeja putihnya terlihat sangat pas dengan bentuk tubuh. Rambut blonde. Satu hal, wajahnya terlihat seperti ras Asia walaupun tinggi badannya terlalu berlebihan untuk ukuran pria Asia.

“Apa ada yang salah?” tanya pria itu tiba-tiba. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Baru sadar sudah menatapnya lama. Membuat penilaian dan itu tidak sopan. Anehnya pria itu bertanya dengan pelafalan Bahasa Korea yang lancar.

“Ah, aniya. Aku hanya penasaran dengan buku yang kau baca.” Bibirku mengalirkan jawaban asal. Tidak ada yang menarik dari buku yang ada di tangannya. Bahkan, aku sudah membaca buku itu beberapa kali. Hanya saja itu alasan terbaik yang sanggup aku pikirkan.

“Kau suka membaca buku Kim Jiseok?” Pria itu tampak tertarik dengan arah pembicaraan. Ia melipat sikunya. Aku sudah gila atau memang ini pengaruh culture shock setiap gerakan dari pria itu mengundang letupan pujian yang ingin menyembur keluar dari bibir.

“Tentu saja, bukankah dia sangat cerdas? Dia bisa menggabungkan rasa cinta pada Korea dengan pemikiran dinamis. Bahkan dia menyelipkan teori dari Charles Berger dan Richard Calabrese dengan unik.” Sedikit bersyukur aku mendengarkan dengan baik saat kelas History of Communication Study, paling tidak ucapan ku tidak memalukan.

“Benarkah? Aku baru membeli buku ini di Incheon. Setidaknya untuk mengisi waktu. Sebenarnya aku tidak tertarik membaca buku, tapi setelah mendengar penjelasanmu aku ingin membacanya sampai selesai.” Ujarnya dengan santai lalu tertawa ringan. Aku ikut tertawa canggung.

Aku mengusap hidung ku. Ada keheningan, dia menatap ku dengan tertarik. Mungkin, menunggu aku melanjutkan perbincangan kami. Rasanya otak ku sibuk terpesona, menjadi malas berpikir.

“Kau dari Korea?” Pertanyaan itu muncul setalah aku mengingat, ia menggunakan Bahasa Korea dengan sangat lancar.

“Bukan sebenarnya, aku besar di Kanada. Pekerjaan ku menuntut untuk lancar berbahasa Korea. Aku tidak perlu bertanya kau dari Korea atau tidak, bukan? Baju yang kau pakai sudah menuliskan identitas mu dengan jelas.” Ia mengucapkan itu dengan nada bercanda yang kentara.

Aku melirik kaos merah yang melekat di tubuh. Aku hampir ketinggalan pesawat, tidak sadar kalau kaos yang aku pakai bertuliskan ‘I Love South Korea’. Aku hanya meringis menanggapi perkataannya.

“Kau tahu? Aku kira akan sangat membosankan menempuh perjalanan ke Appenzell. Pemikiran itu berubah. Kompartemen ini menarik. Melihat cara mu menanggapi apa yang aku lakukan. Ada semburat merah di pipi mu. Itu lucu sekaligus cantik.” Kata-kata pria itu seperti dengungan yang masuk ke dalam telinga, perlu beberapa detik untuk mengelola. Sesuatu yang perlu dikutuk sekarang adalah perasaan ku. Baru kemarin aku menangis, mengunci pintu kamar karena cinta pertama ku mencintai sahabat ku. Bahkan, aku mengambil keputusan gila untuk datang ke Appenzell dengan tujuan melupakan cinta pertama ku. Sekarang, kurang dari tiga puluh menit pria ini mampu membuat ku siap untuk jatuh cinta lagi.

***

“Siapa nama mu?”

“Ahra… Oh Ahra.”

“Baiklah, Oh Ahra. Sampai jumpa lagi! Oh ya, namaku Kris. Ini kota yang kecil. Kita pasti bertemu lagi.”

 

            Aku melangkahkan kaki ku dengan ringan. Memutar kembali kejadian satu bulan yang lalu selalu berhasil membuat tersenyum. Kris. Nama yang bagus. Cocok untuk pria tampan sepertinya. Aku tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi. Benar, Appenzell adalah kota kecil. Takdir tidak mengantarkan aku bertemu lagi dengan pria itu. Tunggu, mungkin belum saatnya. Satu menit, satu jam, satu hari atau satu bulan lagi. Aku yakin akan bertemu secara tidak sengaja dengan pria itu. Sama dengan pertemuan kami yang pertama.

Kaki ku memasuki pusat kota yang lenggang. Meski namanya pusat kota, kondisinya tidak seperti kota kebanyakan. Alun-alun Landsgemeindeplatz berjejer toko-toko yang hampir tutup. Di Appenzell toko-toko serempak tutup jam 06.00 PM. Tidak tahu kenapa, hanya ada satu alasan mereka sangat memegang teguh kebudayaan itu. Sekarang sudah hampir jam 06.00 PM aku terpaksa keluar di jam sepi seperti ini untuk menemui bibi ku. Ia bekerja di pabrik pembuatan keju di sudut kota. Bibi mendapat giliran untuk membersihkan salah satu gereja. Ia memnita ku untuk membantunya. Ini pengalaman baru, terlalu berharga untuk dilewatkan. Gereja itu hanya dibuka saat perayaan musim panen. Tentu saja, sangat ramai di siang hari. Di malam hari berbanding terbalik, aku bisa memuaskan rasa penasaran terhadap lukisan-lukisan yang ada di gereja itu.

Nuansa lain tersirat saat aku mulai memasuki perkampungan di sudut kota. Disini banyak bangunan kuno, gereja dan kapel. Semua bangunan kuno dengan arsitektur khas. Terdapat gereja besar yang terletak ditengah-tengah bangunan lain. Gereja katolik Romawi kuno, berdiri angkuh. Bangunan lain terlihat kurang istimewa. Pamor mereka kalah dengan keagungan gereja yang tidak tergerus jaman itu.

Bibi ku sudah menunggu di depan pintu gereja yang terbuka dengan peralatan bersih-bersih.

“Bagaimana sudah terbiasa dengan Appenzell?” Tanya Bibi Han membuka pembicaraan. Aku menghentikan langkah. Sedari tadi aku menelusuri setiap lukisan yang tertata rapi di dinding batu gereja.

“Lumayan terbiasa.” Jawabku singkat, tangan ku mengusap salah satu lukisan.

“Bibi kira kau tersesat. Tadi bibi sudah menunggu lama, tapi bibi ingat kalau sekarang sudah menjadi gadis cantik berumur Sembilan belas tahun.” Bibi terkekeh sendiri dengan ucapannya. Tangannya sibuk mengelap debu yang melekat di sisi gereja.

“Aku tidak secantik ibu.” Aku menanggapi perkataan bibi ku.

“Benar juga, kau lebih mirip dengan Lady Meryl.” Ungkapnya. Aku mengernyitkan alis. Lady Meryl ini pertama kalinya aku mendengar nama itu.

“Secara singkat dia nenek moyang kita. Kau lihat lukisan di sebelah patung Yesus? Itu karya Lady Meryl. Pemerintah Swiss membawa lukisan itu ke gereja ini dari Seoul. Lady Meryl melukisnya disini. Mereka selalu berkata kalau lukisan itu terlihat lebih hidup bila berada di tempat pelukisnya membuat lukisan.” Bibi menjelaskan dengan sedikit terbatuk akibat debu yang terbang.

Aku mendongakkan kepala. Mengubah posisi agar bisa melihat dengan jelas lukisan Lady Meryl. Aku mengusap mata ku. Sedikit tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

“Lukisan itu dibuat pada masa Renaissance. Lady Meryl melukis kekasihnya. Ada cerita yang menyedihkan melekat pada lukisan itu. Kisah cinta mereka dilarang oleh kedua pihak keluarga. Orangtua mereka saling membunuh karena perebutan tanah dan kekuasaan. Tinggal mereka yang tersisa. Lady Meryl dan kekasihnya hanya memiliki dua pilihan untuk mengakhiri semuanya. Lady Meryl memilih meminum racun setelah menyelesaikan lukisannya. Gadis itu merasa bersalah dengan keluarganya jika ia menikahi kekasihnya. Disisi lain, Lady Meryl terlalu mencintai kekasihnya. Tiga minggu setelah mengetahui Lady Meryl meminum racun, kekasihnya menebas tubuhn dengan pedang yang sekarang diletakkan di sebelah lukisan Lady Meryl.” Penjelasan panjang dilontarkan bibi.

Konsentrasi ku terbelah menjadi dua. Mendengarkan penjelasan bibi dan sibuk mencerna pria yang ada dilukisan Lady Meryl. Pria itu mengenakan baju khas tahunnya dengan tersenyum sendu. Terlukis sangat sempurna. Hidung. Mata. Alis. Begitu mirip dengan seseorang yang berhasil meluluhkan ku. Demi Tuhan.

Aku mengusap lukisan itu. Berusaha membawa ke dalam arah yang lebih realistik. Penjelasan bibi yang selanjutnya seperti musik opera yang menambah keanggunan pikiran menuju hal yang tidak wajar.

“Kabarnya, kekasih Meryl diselamatkan oleh makhluk legenda Appenzell. Kau tahukan kenapa warga Appenzell menghentikan aktivitas mereka tepat pukul enam malam? Legenda makhluk penghisap organ tubuh itu masih melekat. Kekasih Meryl diselamatkan oleh makhluk itu dan sekarang dia menjadi penghisap organ tubuh.” Bibi melanjutkan penjelassannya karena melihat ku terdiam. Ia mengira aku menikmati pembicaraan ini.

Sudah berapa lama waktu yang aku habiskan untuk mengamati lukisan ini. Mengira-ngira jalan pikiran. Mempersalahkan otak ku. Aku melihat pria di dalam lukisan itu mirip seperti Kris, mungkin karena aku sangat ingin bertemu dengan pria itu. Aku baru tersadar jika sekarang berada di dalam gereja sendirian. Ucapan bibi yang ingin mengambil sabun lantai di bangunan samping gereja hampir saja terlupakan.

“Kau sudah mendengar cerita lukisan itu?” Sebuah pertanyaan dari suara yang tidak asing terdengar bersamaan dengan ketukan langkah kaki di belakang ku.

Aku sedikit takut. Ada rasa grogi. Mengetahui kenyataan yang ada membuat kepala pusing. Pemikiran tentang makhluk mistik tidak sesuai dengan ideologi yang sudah tertanam.

“Apa kau takut, Oh Ahra?” tanya suara itu lagi. Aku menjawab dengan desahan napas yang terdengar keras. Kulit dingin menyentuh pergelangan tangan ku. Membalik tubuh ku, menghadap pemilik kulit itu. Bisa-bisanya aku masih melunak dengan wajah tampan itu, disituasi segenting ini. Berusaha memproses bahwa mungkin saja pria di hadapan ku ini adalah makhluk penghisap organ tubuh. Seharusnya emosi takut mendominasi. Sekarang, malah kerja jantung berantakan karena terlalu terpesona dengan pria itu.

“Tuan muda Kris.” Suara bibi mengalihkan perhatianku kepada Kris. Pria itu tersenyum meihat bibi datang mendekati kami. Kris masih menggenggam tangan ku, catatat ini.

“Nyonya Han.” Sapa Kris dengan santai. Aku hanya tercengang.

“Apa kalian sudah saling mengenal? Kalian terlihat akrab.” Tanya bibi sambil melirik singkat pada genggaman tangan Kris.

Aku ingin menjawab tetapi bibi merubah ekspresinya menjadi khawatir.

“Astaga Ahra, apa cerita bibi tadi membuat mu takut? Wajah mu terlihat memerah.” Bibi menambahkan pertanyaan sebelum aku sempat menjawab. Ia mengubah suaranya menjadi nada khawatir yang dilebih-lebihkan.

“Mungkin Ahra hanya kaget melihat kemiripan ku dengan Sir Kevin Li” Kris mewakili ku berbicara.

“Semua warga di sekitar sini juga terkejut saat pertama kali melihat anda datang. Benar-benar mirip dengan pria di lukisan itu. Jangan terkejut Ahra. Kemiripan kalian dengan Lady Meryl Han dan Sir Kevin Li, membuat tardir kalian dekat. Bibi lihat kau sedang tidak enak badan Ahra, sebaiknya kau pulang dan beritirahat” Bibi mengakhiri ucapannya dengan tertawa keras.

Aku mendengus tidak tertarik berulang-ulang dalam perjalan pulang. Bibi yang menaruh kekhawatiran lebih, meminta Kris untuk mengantarkan aku pulang. Aku seperti menang lotre bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Kris. Di lain hal, aku juga harus bekerja ekstra mengingatkan seluruh bagian tubuh agar bisa bersikap normal.

Malam di kota ini benar-benar sunyi. Totalnya kami hanya berselisih jalan dengan satu orang dalam sepuluh menit waktu yang kami habiskan untuk berjalan. Suasana menjadi canggung. Sedari tadi Kris hanya berjalan diam. Beberapa kali membenarkan letak jaket kebesaran yang ia sampirkan di tubuh ku. Tangannya sesekali juga mengusap tangan ku yang tidak memakai sarung tangan. Kegiatan yang dilakukan tubuhnya pada tubuh ku seperti kami sudah sangat dekat. Ayolah, kami baru bertemu dua kali. Tidak ada protes tentu saja. Aku menikmatinya.

“Kau sangat mirip dengan lukisan itu.” Aku mencoba membuka pembicaraan. Kris memelankan langkah kakinya.

“Dan kau mirip dengan wanita yang melukisnya. Apa ada kebetulan serapi ini?” Kris bertanya dengan suara pelan. Ia lalu tersenyum miring.

“Aku tidak pernah mengalami sebelumnya. Setelah mengalaminya langsung ternyata ada.” Aku menjawab pertanyaannya dengan ragu. Tidak yakin apakah itu jawaban yang tepat.

“Benar. Lukisan itu mebuat pertemuan kita menjadi semakin menarik.”

“Tetapi, aku tidak ingin berakhir seperti Lady Meryl. Mencintai seseorang lalu meminum racun.”

“Aku tidak akan membiarkan mu berakhir seperti itu. Kita mulai kisah mereka dari awal, lalu mengakhirinya dengan cara kita. Kau setuju?” Kris menghentikan langkahnya. Menghadap ke arah ku. Lalu sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi badan kami. Aku menolehkan kepala ku. Bingung. Memulai kisah dari awal. Misalnya seperti apa? Kris seharusnya membuatkan contoh yang lebih spesifik.

Sebelum pertanyaan terealisasikan oleh bibir ku. Gerakan cepat, sesuatu yang lembut terlebih dahulu menyentuh bibir. Aku membelalakkan mata saat bibir pria itu dengan cerdas mencuri ciuman pertama ku. Kris menegapkan tubuhnya lagi. Aku yakin reaksi dari tubuh ini akan memalukan. Pria itu tertawa ringan. Tangannya mengusap lembut, semburat merah yang muncul di pipi ku.

Aku ikut tersenyum bersamanya. Tidak ada hal yang diperdebatkan. Aku setuju dengan tawarannya.

Di dalam memori ku tertanam kuat bahwa jatuh cinta membutuhkan waktu yang lama. Aku tidak percaya dengan  cinta pada pandangan pertama. Kenyataannya, hati ini mengalir. Seseorang bisa jatuh cinta kapanpun jika mereka sudah bertemu dengan takdirnya. Hanya satu hal yang perlu dilakukan, selalu bersiap menerima kehadirannya. Membuat sesuatu dalam hidup menjadi sederhana. Tidak sesederhana dalam mengakhirinya. Apapun kesimpulan dari cerita yang aku tuliskan sekarang, semuanya berawal dari kota ini… Appenzell.

***

Tepat jam 22.00 WIB FF ini selesai aku tulis. Sebenernya idenya uda lama dan tidak yakin bisa menulis FF lagi, tapi karena ulang tahun Kris jadi pengen mebuat sesuatu tentang leader tinggi itu. Belum sempat bikin poster untuk FF ini. Setting tempat ini terinspirasi dari tulisan salah satu wartawan Jawa Pos yang begitu pintar menceritakan keindahan kota Appenzell. Kalian yang penasaran bisa buka lagi Koran Jawa Pos edisi 6 September 2013. Ya, terimakasih sudah membaca sampai jumpa di FF berikutnya ^^~ HAPPY BIRTHDAY KRIS.

Advertisements

66 thoughts on “Appenzell

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s