Please, Fall Down!

Author Twelveblossom

Cast 

Kris Wu & Oh Ahra

Genre  

Fluff &Romance

Length Vignette

Rate PG-17

Terinspirasi dari Novel Breaking Dawn

***

“Astaga, Oh Sehun berhenti berpikiran mesum.”

“Oh Ahra, ini wajar. Ah, tunggu dulu jangan bilang kau belum pernah melakukan apapun dengan Kris hyung?”

“Aku tidak ingin membahas apapun tentang itu.”

“Tubuh mu memang tidak ada sisi menariknya”

“YA!”

“Aku bisa memaklumi.”

“Kris sangat tertarik dengan ku. Catat itu.”

“Baiklah, mari  kita bertaruh.”

“Tidak.”

“Kris hyung…”

“IYA! Kita bertaruh dan jangan menyesal, Oh Sehun!”

***

Ahra mengintip. Matanya bergerak ragu. Ia memperhatikan seseorang yang berada di ruangan sebelah. Kaca kamar mandi apartemennya adalah model kaca satu arah, gadis itu bisa melihat dengan jelas seorang pria yang sedang duduk santai di ranjangnya. Ahra menarik napas dalam-dalam, lalu menghampiri cermin yang membentang di atas konter panjang. Tangannya mulai bergerak untuk mencuci muka, memuncratkan sedikit air ke tengkuk yang terasa panas. Kemudian gadis itu di hadapkan pada dilema yang tidak ia pikirkan dengan matang sebelumnya. Mengingat kembali bagaimana ia dengan mudah terpengaruh taruhan konyol saudara kembarnya membuat Ahra mengutuk diri.

Ahra membalut tubuhnya dengan handuk putih. Rencana awal, dia ingin menang dengan mudah. Tentu saja, harus berhasil merayu Kris. Gadis itu tidak berpikir bahwa tekanan batin mengenakan lingerie di depan kekasihnya akan seberat ini. Ahra dengan ragu menyambar lingerie yang tergantung. Setidaknya, mengenakan lingerie jauh lebih baik daripada ia telanjang.

“Jangan jadi pengecut,” Ahra membisikan kalimat itu untuk dirinya. Tanpa banyak berpikir dan membuat pusing lagi, Ahra dengan cepat mengenakan pakaian berenda yang mengekspos lebih dari separuh bagian tubuh. Berapapun waktu yang dilewatkan, ia harus tetap berhadapan dengan Kris.

Perlahan tangan gadis itu membuka engsel pintu, lalu mengajak kakinya untuk keluar. Ia mengatur napas dan detak jantung. Shows have begun.

***

Ahra puas melihat mata Kris membelalak ketika ia keluar dari kamar mandi. Semenit setelahnya, pria itu sudah dapat mengendalikan ekspresi. Kris malah mengganti ekspresinya menjadi tertawa ringan membuat kepercayaan diri Ahra menurun hampir ke titik terendah. Gadis itu menatap Kris, menyadari kekasihnya sangat tampan hari ini.

Ahra mengira-ngira apa yang harus ia katakan.

“Bagaimana menurut mu?” Tanya Ahra, memutar tubuh. Menunjukkan bagian-bagian yang menerawang.

Kris berdeham-deham. “Cantik, kau memang selalu terlihat cantik.”

Ahra mengerucutkan bibir. Seolah-olah kalimat Kris itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. “Gomawo,” balas Ahra masam. Kaki gadis itu terlalu malas untuk berjalan ke tempat tidur. Apalagi, Kris tampak tidak tertarik dengan lingerie yang sudah meredam harga dirinya untuk memakai pakain tipis itu. Kris memeluk dan menarik Ahra untuk berbaring di ranjang. Kris memainkan jari-jari Ahra. Pria itu meletakkan indra penciumannya pada rambut Ahra, menghirup bau sampo yang melekat.

Berada di dalam pelukan kekasihnya, Ahra merasa mengantuk. Pikiran Ahra masih berusaha berputar. Gadis itu sudah menghabiskan uang untuk membeli lingerie mengerikan ini. Dia tidak ingin kain mahal yang melekat di tubuhnya menjadi sia-sia.

“Aku ingin membuat kesepakatan dengan mu.” Ucap Ahra teredam karena wajahnya sibuk mengendus baju pria itu.

“Aku tidak ingin membuat kesepakatan apapun dengan mu,” jawab Kris.

“Kau bahkan belum mendengar tawaran ku.”

“Tidak perlu.”

Ahra mendesah pelan bersamaan dengan tangan Kris yang mengelus punggungnya. “Sial, padahal aku benar-benar menginginkannya.”

Kris memutar bola mata.

Gigi Ahra bergemeletak menyembunyikan senyum kemenangan. Satu kelemahan Kris, pria itu tidak bisa menahan diri untuk mengabulkan permintaan Ahra.

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Kris dengan nada tidak tertarik. Tangan pria itu bergrilya mengelus rambut dan punggung kekasihnya, trik lain. Melalui dua kegiatan itu biasanya Ahra akan cepat tertidur.

Mendengar pertanyaan itu Ahra langsung menyingkirkan bantal yang menyulitkannya untuk menjangkau wajah Kris. Ahra memilih menunjukkan langsung jawaban atas pertanyaan Kris daripada menjawabnya memalalui perkataan. Gadis itu mencium mata Kris, membuat pria itu memejamkan mata. Lalu bergerak ke pipi. Berlanjut ke rahang kekaksihnya, bibir Ahra mencium setiap detail rahang Kris. Sesampainya di ujung bibir prianya, Ahra merasakan cengkraman lembut di bahu. Kris menggerakkan tubuh untuk mengambil jarak di antara mereka.

“Ahra, tidak malam ini,” tukas Kris. Tampaknya pria itu sudah mulai memahami kemana arah gerakan intens kekasihnya.

“Kau sendiri yang ingin tahu apa permintaan ku.” Ahra beralasan.

“Aku pikir kau meminta sesuatu yang lebih realisitis.”

“Jadi maksud mu, aku meminta sesuatu yang bodoh?” Ahra meninggikan suaranya.

Wajah Kris mengeras. “No sex, Ahra. Kita sudah membicarakan itu.”

Ahra menegakkan tubuhnya. Wajahnya berubah murung. Tiba-tiba perasaan tertolak dan menjadi gadis murahan mendominasi. Naluriah, Ahra melipat kedua lututnya. Menunduk. “Aku seperti berusaha memperkosa mu.” Ucap Ahra tidak bersemangat.

Kris mendongakkan wajah Ahra, sehingga gadis itu harus menatapnya. “Kau tahu kenapa aku harus menolak.”

“Karena kau tidak menginginkan ku.” Jawab Ahra mengambil kesimpulan.

“Tentu saja aku menginginkan mu gadis bodoh, cantik, dan kelewat sensitif. Kau selalu menggairahkan bahkan tanpa pakain tipis. Otak ku bahkan sudah mengarah ke hal-hal yang dapat membuat mu mengerang.” Penjelasan Kris membuat Ahra meringis.

“Kalau begitu mari kita realisasikan.”

“Sebelum kita menikah tidak ada seks. Aku harus berapa kali mengucapkannya? Ini demi kebaikan mu.”

“Menikah bukan perkara mudah bagi ku. Menikah di umur ku yang sekarang sama saja memberitahu semua orang kalau aku baru saja dihamili.” Ahra menyuarakan pendapatnya dengan nada bijak.

Kris tampak berpikir. Tangannya menyeret Ahra kembali ke dalam pelukannya. “Ada kemungkinan kau bisa hamil, jika kita meneruskannya.”

Ahra sedikit tersentak. Hamil dan bayi. Gadis itu tidak berpikir sejauh itu.

“Satu kali tidak membuat ku hamil dan aku yakin kau tidak akan meninggalkan ku.” Ahra berkata mantap.

Lengan Kris memeluk Ahra lebih erat dan bibirnya menempel di telinga Ahra. Hembusan napas Kris membuat gadis itu  gemetar.

Please?” Suara memohon yang biasanya dapat mengoyak pendirian Kris digunakan oleh Ahra.

Kris menjajarkan wajah mereka. Menghujani tatapan ragu pada mata Ahra. Gadis itu tahu jika kekasihnya sudah goyah. Ahra hanya perlu memancingnya. Bingo.

Kejadian selanjutnya begitu cepat. Kedua tangan Ahra sudah mengalungi leher Kris. Tanpa tahu  malu, Ahra menyatukan bibir mereka. Tidak ada penolakan yang kedua. Kris membalas ciuman Ahra, menempel lembut dan saling melumat. Satu tangan Kris merengkuh wajah Ahra dan satu tangannya lagi memeluk pinggang Ahra. Jantung Ahra membara. Ciuman Kris terhadap bibirnya mengaburkan semua gerakan yang ia rencanakan. Pria itu mengobrak-abrik bagian dalam mulut Ahra, menjelajahi setiap bagian. Andai saja, bibirnya tidak tersumpal Ahra pasti sudah mengerang. Ahra benar-benar lupa jika kekasihnya dapat berciuman dengan begitu profesional.

Jari-jari Kris sudah turun mengelus paha Ahra yang terekspos dengan jelas. Membuat perut kekasihnya bergejolak, seperti ada kupu-kupu yang bertebangan. Menggelitik dan menyenangkan. Tangan Ahra melepas pelukannya pada leher Kris, tapi bibirnya terus bergerak agresif. Jari-jari gadis itu merayap menuruni leher Kris sampai ke arah kemeja putih pria itu. Ia mencoba melepaskan satu perstu kancing kemeja kekasihnya. Kris mengangkat tangan Ahra ke atas, mengunci gerakan gadis itu untuk tidak berlanjut melepaskan kancing terakhir kemejanya. Ahra berguling, berusaha menindih Kris. Gagal. Usaha gadis itu gagal, Kris tidak memberikan kesempatan bagi Ahra untuk memimpin permainan.

“Berhenti mencoba menelanjangi ku, Oh Ahra,” tukas Kris melepaskan ciuman mereka.

Kris menggeser tubuhnya. Pria itu menatap Ahra lama matanya sedang memastikan sesuatu. Tangannya mengusap hidung Ahra yang terlihat memerah setelah mendapatkan kepastian dari otaknya. “Alergi mu kambuh.” Ucap Kris setalah mengamati hidung dan tangan Ahra yang lebih merah.

Ahra dengan cekatan bangun dari tempat tidur. Alergi terhadap dingin bisa menjadi masalah besar. Tentu saja, Ahra lupa kalau cuaca terlalu dingin dan tidak cocok menggunakan lingerie. Padahal, pemanas ruangan sudah dinyalakan. Kulitnya terlalu sensitif. Gadis itu, sibuk memikirkan pendapat Kris tentang lingerie dia tidak sempat memikirkan alergi yang dengan suka rela menyerang kulitnya.

“Kau harus mengganti gaun malam mu, sayang.” Kata Kris. Pria itu bangun untuk mendekati Ahra yang sedang mengusap-usap kulit tangan. Kris beranjak dari ranjang, lalu memeluk Ahra dari belakang meletakkan sepasang tangannya dipinggang Ahra.

“Tidak mau.”

Kris mendengus, “Ahra. Aku tidak ingin berdebat.”

“Buka sendiri kalau begitu.” Ucap Ahra tidak mau kalah.

“Apa?”

“Kalau kau mau aku mengganti lingerie ini dengan piama tidur. Lepaskan lingerie ini dengan tangan mu.” Ahra menjawab pertanyaan Kris.

Ahra mendengar Kris menghembuskan napas berat.

Pria itu mengeratkan pelukannya. Kris mengarahkan kepalanya ke leher jenjang Ahra. Mencium dengan lembut kulit putih gadisnya. Pria itu sadar jika Ahra ingin bermain-main dan belum menyerah. “Kali ini apa yang kau pertaruhkan dengan Sehun?” Tanya Kris disela-sela kegiatan menjelajahi leher Ahra.

“Ne?”

“Aku sudah mengenal kalian berdua lebih dari setengah umur ku. Sifat tidak mau kalah dan pantang menyerah mu, hanya akan terpacu jika Sehun yang menyulut.”

Ahra sedikit hilang kesadaran dan tidak bisa memproses pertanyaan kekasihnya di dalam otak, saat ia merasakan gigitan kecil Kris pada leher. Bahkan gadis itu harus berpegangan pada meja kayu. Dia merasakan lututnya lemas.

“Bisa kau ceritakan taruhan kalian?” Kris mengulang pertanyaan.

Ahra menggigit bibir. Berusaha mengumpulkan memori agar bisa menyusun jawaban untuk Kris. “Hanya tiket pesawat ke Paris.” Gadis itu menjawab dengan pelan, berusaha mengendalikan desahan yang siap meluncur bersama dengan kalimat yang ia ungkapkan.

“Aku perlu menghajar Sehun.”

“Kenapa?” Ahra bertanya dengan nada tidak terima. Walaupun, Sehun saudara yang menyebalkan, tetapi membayangkan wajah Sehun babak belur tidak sesuai dengan nalurinya.

“Karena dia sudah membuat gadis polos ku menjadi mesum.” Jawab Kris lalu terkekeh. Pria itu melanjutkan kegiatan menandai leher Ahra. Beberapa kali ia merasakan Ahra berjingit geli sebagai respon.

“Aku suka lingerie yang kau pakai sekarang.” Kris memulai pembicaraan.

La Perla, tidak mampu menarik perhatian seorang Kris Wu,” ucap Ahra menyebutkan brand lingerie yang ia pakai.

“Kau selalu bisa menarik perhatian ku tanpa pakain tipis itu.”

“Aku harus mencoba mengenakan milik Victoria’s Secret.” Gumam Ahra tidak mempedulikan pernyataan Kris.

“Tubuhmu cocok dengan Jean Gaultier. La Perla tidak buruk juga. Menarik.”

Ahra beringsut menekan pelukannya pada kekasihnya. “Jadi… kau tertairk?” Ahra memberikan pertanyaan dengan nada mencicit.

“Sudah ku katakan, kau selalu menarik.”

Gadis itu mengumbarkan senyum mendengar jawaban Kris. Ahra membalikkan tubuh menelusuri wajah kekasihnya. “Aku rasa kalimat tadi cukup bagus sebagai hiburan karena aku sudah kalah taruhan dan harus membelikan Sehun bodoh itu tiket pesawat.”

“Kau menang Ahra.”

“Yang benar saja.”

Kris memutar  kembali tubuh Ahra menghadap cermin besar. Gadis itu mendelik. Baru sadar akan sesuatu yang janggal.

“Tunjukkan leher mu pada Sehun besok. Dia akan menelan semua ucapan dan mengaku kalah atas taruhan kalian,” kata Kris lalu disusul suara tawa tertahan.

Ahra menatap bayangan tubuhnya di cermin. Leher gadis itu sudah penuh dengan bercak merah hasil kegiatan Kris tadi. Demi apapun Ahra tidak tahu ciuman dan gigitan lembut Kris pada lehernya akan menimbulkan bekas yang sangat terlihat. Ahra mulai panik. Pikiran gadis itu yakin, jika tanda buatan Kris susah dihilangkan. Ahra mengusap rambutnya kasar.

Oh my God. Kris what are you doing?

Just trying to help you, baby.” Kris menjawab dengan cepat. Cekatan pria itu segera berlari menjauhi Ahra, sebelum mendapat tinjuan dari kekasihnya. Kris berpikir untuk mengambil cuti besok. Amukan dari Ahra bisa membuatnya kualahan menahan tawa dan itu bisa membuat kram perut.

***

“Apa sesakit itu?”

“Ya, Oh Ahra aku tidak yakin kau benar-benar menganggap ku sebagai kekasih mu. Kau bahkan memukul ku tanpa belas kasihan.”

“Mianhae, tapi ini salah mu. Tanda merah ini susah dihilangkan. Bagaimana, jika orang lain melihatnya?”

***FIN***

Advertisements

49 thoughts on “Please, Fall Down!

  1. Sehun minta digampar,padahal Kris udah bijaksana banget ngadepin Ahra, tapi emang dasar gengsi buat kalah atau pengen tiket ke parisnya yang tinggi seorang gadis polos berubah mesum gara gara Sehun

  2. Gile ya kris kuat banget nahan semuanya 😮 yah walaupun akhirnya dia bantu ahra dg cara kyk gitu
    tp salut bgt sama dia ^^
    hallo kak ijin baca semua ff nya ya, maaf baru ijin hehe

  3. hahhaha reaksinya ahra lucu bgt dah.
    yakali dy taruhan sama sehun buat do sex sama kriw tp giliran d tandain ngamuk ngamuk 😀

  4. Couple bikinan si unnie ini emang slalu so sweet dan bumbuhan skinship. Hahahah, ini nih yg bkin senyam senyum gaje stiap bca critanya.

  5. Aduaduaduhhh kak, gak kuat kak
    Duizhang sweet sweet menjerumuskan(?) gitu >.<
    Sehun emang, suka bikin taruhan yang engga-engga hmm ini anak satuk huhu
    As usual ah, kak
    Suka suka, alur dan bahasanya okeh beud
    Keep writing, kak 🙂

  6. Wuahhhh kris daebak..dia ttp nahan it demi ahra….good boyyy hahaha
    Dan sehunnnn..auhhh ni anak bennneer2 ya..hasutanx yg aneh2 aj

  7. Si sehun nich biang keladinya sampe bikin nara nekad begitu.Untung kris masih bisa ngerem hahaha.Tapi ini terlalu..hm gimana yach.Bingung ngomongnya.Authornya bkin aq pervert.Duch malu bgt.Kk

  8. Kak Titis, aku balik lagiii. Kali ini mau obrak-abrik fic kakak yg udah numayan lama. Hehe
    Semoga ga bosen yaa baca komen2 aku. 😀

    Eum, itu itu itu di atas ada yg ngaku istrinya sehun kan yaa? Yaudah, aku ngaku jadi selingkuhannya sehun aja deh. Wkwk

    Ngomong2 itu terakhirnya Kris digebukin Ahra? Ckck malang nasibmu oppa. HAHA
    Padahalkan yaa Kris udah brilian bgt ngasih solusinya. xD

    Uuhhhh tulisan kakak emang T.O.P deh. Ga usah basa-basi lagi. Hihi

  9. Kriiisss…
    Aduh lemes.. Yaoloh.. Gak kuat.
    Inii terlalu. Sangat terlalu. 😀
    Nice ff ka. Bikin lg ya sequel nya 😉
    Nice banggeet nih ff nya. Sumveh

  10. waduuuhhh .. hahahaha ..
    jdi makin kangen sama kris ..
    trus jdi keinget sma breaking dawn jugaa .. ngebayangin kalo kris jdo edward cullen .. hehehee ..
    great chingu ! hehe

  11. ergghh, itu kalimat awal terus diselingi antara Breaking Dawn sama Eclipse hingga nyaris akhir..
    well, hahah…
    story line nya bagus, ya tp, kalimat-kalimat itu. itu milik Ed-Bella…dan tentu saja milik Stephanie Meyer…
    improvisasi lah setidaknya. sorry, kalau terkesan menggurui…

    1. Hahaha tidak apa-apa, ff ini memang story line milik kedua novel tersebut. Terimakasih sudah membaca dan komentar 😀

  12. Ff nya seru thorr .. Kalo boleh kasih saran coba authorr post di web yang lain thorr.. Pasti bnyak pada komentar thorr tentang ff ini.. Soalnya kalo aku baca ff authorr dari tadi ff nya menarik semua lho thorr ^^ hehe mian kalo aku agak gimnaaaa gitu thorr

    1. Wah makasih ya :D. Beberapa ff ku sudah aku kirim di exofanfiction dan ffindo. Hehehe makasih sudah baca dan komentar ya 😀

  13. OMG! Krisss hahahaha dia hasratnya tingkat dewa banget masih tertahankan pdhl keadaan sudah tidak bersahabat *mulaingaco hahahahahaha yak Oh Sehun -_- ngapain kamu taruhan kyk gitu, bicara apa orang” ttng keluarga kita(?) Anyeong.. Perkenalkan saya istri Sehun wkwkwk

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s