[Kris & Hyosung] Don’t Go

lom

Don’t Go!

Author

Twelveblossom

Cast

Kris Wu

Jeon Hyosung

Rated PG-17

Length One Shoot

Genre  

Romance & little bit angst

This story line is mine, please don’t copy paste

Fanfiction ini telah dipublish di blog pribadi saya twelveblossom.wordpress.com

***Don’t Go!***

“Menikahlah dengan ku.”

“Aku gila, bila mengiyakan.”

“Aku rasa hanya kau gadis di dunia ini yang menolak ku, Hyosung-ssi.”

“Aku hanya—”

“Hanya?”

“Tidak siap, menjadi alasan mu menyesal.”

“Jeon Hyosung…”

“Maafkan aku, Kris. Aku tidak bisa.”

 

***Don’t Go!***

Seoul, 2011.

Hujan. Air dengan frekuensi tidak beraturan, jatuh berbentuk bulir-bulir oval. Satu tetes, berlanjut dua tetes lalu, ribuan bulir jatuh dalam hitungan detik. Langit ingin membangun persepsi dengan hujan. Gadis berambut pendek itu, menangkap semua persepsi yang langit bangun dengan hujan sebagai rasa kesedihan. Tangannya mengusap lembut kaca yang berembun. Matanya menerawang. Pikirannya berlari-lari. Ada dialog yang terus berputar dalam benaknya.

“Kris meminta ku untuk menikah dengannya.”

“Tinggalkan dia Hyosung. Kau tahu dengan pasti konsekuensi bila hal ini terus dilanjutkan.”

“Aku sangat mencintainya, Oppa.”

“Aku tahu. Kau sangat mencintainya. Kau juga orang yang paling tahu apa impiannya.”

“Aku tidak akan bisa meninggalkannya.”

“Kau harus bisa.”

Hyosung menghembuskan napas panjang. Lengan kemeja putih kebesaran yang ia gulung kembali menjulur. Ia menempelkan hidungnya pada lengan kemeja yang ia gunakan. Aroma pemilik kemeja yang sekarang menempel di tubuhnya seakan membawanya ke dialog-dialog lain yang membuat hatinya diremas, menyakitkan.

“Aku ingin kita berpisah.”

“Hyosung,ini tidak lucu.”

“Jinki Oppa, menyarankan agar aku masuk ke universitas yang sama dengan Appa.”

“Australia?”

“Ne.”

“Hyosung, Australia bukan alasan kita untuk berhenti. Aku sangat mencintai mu”

“Cukup, aku sudah muak dengan semua ini, Kris.”

“Jeon Hyosung!”

“Aku tidak ingin menjadi gadis bodoh yang hanya berpikir tentang cintanya. Aku tidak ingin menikah muda.”

“Hyosung…”

“Aku. Kau. Kita memiliki mimpi Kris. Jangan buta karena aku. Impian kita lebih penting.”

“Aku tidak bisa—”

“Mengertilah, Kris. Aku mohon.”

Hati gadis itu terasa sangat sesak. Ia memikirkan cara hidup tanpa oksigennya. Benar-benar egois. Semua fokusnya ada pada pria itu. Kris. Entah, Hyosung harus memulai darimana jika ia diminta mendeskripsikan bagaimana sosok Kris. Dia membutuhkan berlembar-lembar kertas untuk memuja pria itu. Bisa jadi, ia tidak bisa menulis satu katapun untuk mendeskripsikan pria itu pada orang lain.

Kris pria tinggi, berkulit putih, berambut coklat, dan sangat tampan. Kris, miliknya. Pribadi. Dia tidak ingin membagi Kris untuk orang lain. Cukup untuknya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara hangat favorit Hyosung, terdengar. Pemilik suara itu meletakkan tangannya pada pinggang Hyosung. Memeluk gadis itu dari belakang. Tubuh mereka menempel sangat pas. Serasi.

Hyosung berpikir, Pria itu benar-benar tidak menyadari. Sentuhan yang ia lakukan pada Hyosung akan membuat sengatan listrik yang akan menjalar keseluruh bagian tubuh gadisnya. Hyosung hampir kehabisan napas. Mungkin ini sentuhan Kris yang kesekian kali, tetapi tubuhnya tetap merespon dengan berlebihan.

“Hanya melihat-lihat hujan.” Jawab Hyosung dengan suara sedikit bergetar, gugup.

Kris mendekatkan bibirnya ke arah telinga gadis itu. Ia tersenyum saat merasakan gerakan kecil kikuk dari Hyosung. Pria itu tahu dengan pasti bagaimana efek dirinya untuk Hyosung. Kris juga merasakan hal yang sama, seperti gadisnya. Detak jantung yang ingin melompat saat berdekatan dengan gadis itu. Sengatan listrik. Aroma tubuhnya. Semua itu membuat Kris gila.

“Sejak kapan seorang Hyosung menaruh perhatian banyak pada hujan.” Kalimat yang Kris ucapkan terdengar pelan tepat di telinga. Bibir pria itu bergerak di telinga Hyosung. Nada yang Kris ucapkan terdengar seperti musik penggoda di telinga Hyosung.

Semburat merah muncul di permukaan pipi gadis itu. Ia tersenyum lemah. Pikirannya berusaha mengingatkan lututnya untuk tidak lemas.

“Hujan sangat menarik.” Hyosung berkata asal. Otaknya benar-benar sedang tidak bisa bekerja dengan baik.

“Baiklah, hujan lebih menarik daripada aku.”  Gerutu Kris. Hyosung tahu itu kalimat sindiran untuknya.

Tentu saja, Kris lebih menarik dari segala macam hal yang Hyosung tahu selama ini. Hanya saja, gadis itu tidak bisa menatap Kris dengan wajah bersemu merah seperti ini. Dia malu. Ia tidak bisa mengendalikan respon tubuhnya.

Kris membalik tubuh Hyosung agar berhadapan dengannya. Hyosung sempat kaget, mendapatkan serangan mendadak. Dia hanya menatap Kris dengan hambar. Di satu sisi, Hyosung melihat kebahagian di mata Kris. Di sisi lain, Ia melihat kesedihan Kris. Hyosung tahu ini pertemuan mereka yang terakhir. Mereka telah menyelesaikan semua. Bukan, mereka. Hanya Hyosung yang ingin menyelesaikan semuanya. Demi prianya,  Kris.

“Beri aku waktu sehari sebelum semuanya benar-benar berakhir.”

“Tidak, Kris.”

“Ini permintaan ku yang terakhir, Hyosung.”

“Berapa pun waktu yang akan kita habiskan. Tidak akan membuat kita kembali bersama.”

“Hanya satu hari, beri aku waktu satu hari untuk merubah keputasan mu.”

Kris menginginkan waktu berhenti saat itu juga. Detik demi detik sangat berarti untuk pria itu. Gadis yang sekarang sedang dihadapannya seperti asap. Ia tidak ingin lengah, barang satu detik pun. Hyosung bisa menghilang dengan tidak sopan dari jarak pandangnya. Gadis beraroma bunga lili favoritnya bisa meluluhkan hati Kris dengan satu kata saja.

Tangan Hyosung berbindah ke wajah Kris. Ia mengusap lembut wajah pria itu. Kris mungkin bukan gelas kaca yang rentan pecah. Hyosung hanya menikmati setiap  jengkal kulit putih Kris yang bisa ia sentuh. Setelah matahari terbit, gadis itu tidak akan bisa menyetuh prianya lagi. Mereka harus kembali ke jalan yang sudah ditentukan.

“Jangan mencium ku seenaknya Kris!”

“Ya! Kau tahu berapa gadis yang menginginkan ku untuk mencium mereka?”

“Mereka penggemar mu. Aku bukan salah satu dari mereka.”

“Tapi, aku ingin selalu mencium mu.”

“Sekali lagi kau mencium ku. Aku akan—”

“—Kau akan­—”

“—Memukulmu seperti ini!”

“Ya! Hyosung, sakit. Kau tahu berapa harga kepala ku!”

Kris memejamkan matanya. Satu-satunya gadis yang boleh menyentuhnya seperti ini. Hanya Hyosung. Satu-satunya gadis yang membuatnya tersenyum hanya karena sentuhan kecilnya. Hanya Hyosung. Satu-satunya gadis yang mendapatkan ciumannya. Hanya Hyosung.

“Saranghae.”  Kalimat sederhana tapi, bermakna luar biasa. Kris membuka matanya. Tangan Kris seakan menghapus guratan merah yang ada dipipi Hyosung. Ia tahu dengan pasti bagaimana perasaan gadis itu kepadanya. Kris tahu, sangat tahu. Pengetahuan itu membuatnya ingin menghormati keputusan gadis itu walaupun hatinya menolak.

Kris perlahan-lahan merapatkan wajahnya dengan wajah Hyosung.

Pria itu ingin tenggelam dalam manisnya tubuh Hyosung.

Melupakan apapun yang terjadi setelah mereka berpisah.

Kris hanya menginginkan Hyosung. Hanya itu saja. Sederhana.

Hyosung membelakkan mata untuk kesekian kali terkejut oleh letupan yang dihasilkan oleh sentuhan Kris. Bibir mereka bertemu. Hyosung memejamkan mata. Pikirannya sedang terfokus mengikuti alur lumatan-lumatan lembut yang diberikan Kris. Mengikuti naluri, Hyosung mengalungkan tangannya ke leher Kris. Tubuh mereka tahu pasti apa yang sebenarnya diinginkan oleh tuannya.

“Suara ku habis.”

“Kau terlalu banyak mendesah, tadi malam. Hahaha.”

“Menyebalkan.”

“Aku berpikir untuk melakukan kegiatan malam itu setiap hari.”

“Kris!”

“Sangat menyenangkan mendenga rmu memanggilku ‘Kris Oppa’. Seharusnya aku merekamnya.”

“Diam, Kris!”

Ciuman mereka berlanjut. Kris. Hyosung. Mereka tahu pasti apa yang benar-benar mereka butuhkan. Berkali-kali melakukan hal yang sama, tidak akan cukup. Mereka menginginkan satu sama lain. Bukan hanya sekedar hormon yang mengendalikan perasaan. Kebutuhan untuk memiliki satu sama lain menjadi alasan. Hyosung tahu dimana ciuman dan semua sentuhan ini akan berakhir. Seharusnya, ia bisa mengendalikan dirinya. Sisi egois Hyosung mulai muncul. Ini pertemuan terakhirnya dengan Kris. Ia ingin melakukan apa saja yang Kris inginkan atas dirinya.

“Kris.” Ucap Hyosung, singkat. Terdapat nada kecewa saat Kris melepaskan ciuman mereka. Pria itu kembali tersenyum. Gerakan cepat, sebelum ada penolakan dari gadisnya. Kris mengangkat tubuh Hyosung. Menggendog tubuh gadis yang terasa ringan baginya. Ia menindih gadis itu di tempat tidur, membuat tangannya menopang agar tidak memberatkan Hyosung. Tidak ada penolakan ketika Kris mulai menyentuh setiap inci tubuhnya.

Hyosung ingin selalu  seperti ini. Menarik kembali semua kalimat perpisahan yang sudah ia ucapkan. Andai ia bisa. Hyosung hanya bisa berharap. Merutuki dirinya atas keputusan yang dibuatnya.

“Pertanyaan terakhir, Hyosung. Apa kau masih mencintai ku?” Tanya Kris disela-sela kegiatan pribadi yang sedang mereka lakukan.

Hyosung, kehabisan napas. Ia berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya setelah terbang mengikuti permainan Kris.

“Hyosung.” Panggil Kris penuh penekanan, menuntut jawaban. Hyosung hanya menggigit bibirnya. Penekanan Kris tidak hanya pada kata yang ia ucapkan. Area bawah Hyosung benar-benar diobrak-abrik oleh Kris. Penuh penekanan.

“Ti… Tidak.” Hyosung tersengal-sengal menjawab pertanyaan Kris.

Pria itu tersenyum dalam kegiatannya membuat gadisnya mengerang. Ia tahu pasti Hyosung berbohong. Pikirannya berusaha memilah. Ia hanya ingin membuat waktu ini berarti untuk mereka. Setelah mereka bangun esok hari. Semuanya akan kembali kesemula. Ia tidak akan bisa menyentuh gadis dalam pelukannya lagi. Kris ingin berjuang dengan hubungan mereka tetapi, gadisnya sudah berhenti. Dia tidak cukup hebat untuk berjuang sendiri. Semuanya telah berakhir. Menyakitkan.

“Aku selalu berpikir kita menikah dan memiliki banyak anak.”

“Tingkat perceraian artis terus melambung naik, Kris. Itu menjadi headline di majalah.”

“Mereka terlalu melebih-lebihkan.”

“Kebanyakan artis terkenal akan kehilangan segalanya  sesudah mereka  menikah. Termasuk penggemar mereka.”

“Tidak akan ada berita ‘Kris kehilangan penggemarnya’ bila aku menikah.”

“Terlalu percaya diri.”

“Mereka menyukai ku karena aku berbakat, Hyosung.”

“Keras kepala. Dengar, satu hal yang harus kau ingat, penyesalan selalu datang terlambat.”

“Aku sudah  tahu. Aku sekarang menyesal, mencintai gadis cerewet seperti mu.”

***Don’t Go***

Hyosung, mengerutkan keningnya. Sinar matahari mulai menerobos masuk ke mata. Tidurnya terusik. Gadis itu merasa tubuhnya tidur dalam posisi yang sangat nyaman. Dia tidak tidur dalam alas kepala yang empuk. Kepalanya terasa menindih sesuatu yang keras tetapi malah membuatnya ingin tidur lebih lama lagi. Hyosung merasakan sepasang tangan melingkari tubuh  polosnya. Sangat protektif. Membutuhkan usaha untuk melepaskan diri dari dekapan tangan itu.

Dalam diam, Hyosung menatap wajah pria yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Bohong jika ia mengatakan pria itu tidak tampan. Sangat tampan. Ia rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap wajah tertidur pria itu. Tangan Hyosung dengan tidak sopan ingin menyentuh wajah sempurna Kris.

Tetapi…

Logikanya segera mengendalikan tubuhnya.

Gadis itu tersadar akan waktu yang sudah habis. Ia harus tegas dengan semua keputusannya.

“Aku tidak bisa meninggalkannya, Oppa.”

“Kau tahu dengan pasti skandal yang mulai tercium tentang hubungan mu dengan Kris, Naa.”

“Oppa…”

“Kris telah mengorbankan segalanya untuk mencapai posisinya sekarang, Hyosung.”

“Dia akan hancur.”

“Bukan dia yang akan hancur, tapi kau. Jangan egois. Semuanya akan berakhir menyedihkan, jika kalian tetap bersama.”

Hyosung, beranjak dari ranjang mereka. Satu sentuhan di pipi Kris, menjadi harapan bahwa mereka akan baik-baik saja. Memberikan kekuatan pada saat mereka tidak bertemu lagi. “Saranghae, Kris. Mianhae.” Kalimat terakhir yang Hyosung ucapkan, sebelum tubuhnya meninggalkan Kris.

Selesai. Berakhir.

Hyosung tidak tahu apa dia akan baik-baik saja…

Namun, Kris harus baik-baik saja.

***Don’t Go!***

Melbourne, 2014

Tepat tiga tahun. Mata Kris terakhir kali melihat gadis itu. Ingatannya tidak terlau tajam sebenarnya, tetapi ia bisa menyelami memorinya dengan nyata tentang gadis itu. Gadis yang membuat jantungnya berdetak dengan cepat.

Cinta pertamanya.

Pikiran Kris melayang, ia tidak peduli dengan suara memekakan telinga yang memanggil namanya. Pada kenyataannya hanya ada satu suara yang benar-benar ingin ia dengar.

Terlalu picisan.

Terlalu dramatis.

 Mungkin itu, kebanyakan yang orang pikirkan. Kris tidak peduli. Nalurinya menginginkan kesadaran bahwa gadis itu pernah ada mengisi setiap lapisan terkecil dari seluruh kehidupannya. Hanya ada penyesalan bila ia mengingat gadis itu lagi, tetapi dia tidak pernah berhenti memikirkan semua hal tentang mereka. Berhenti memikirkan gadis itu, sama saja ia berhenti bernapas. Bukankah kita harus tetap bernapas agar tetap hidup?

Kris benar-benar seperti terserap dalam dunianya. Ia kembali merasakan tubuhnya kembali ke alam nyata ketika Ia  sedikit terhuyung karena desakan. Kris sekarang sedang berada di pintu keluar Avalon International Airport.

Pria itu menyebarkan pandangan ke sekitar. Padat. Segerombolan remaja yang mengatas namakan diri mereka sebagi penggemar Kris. Berteriak. Menjerit. Bahkan ada yang menangis. Kris hanya memberikan senyuman sebagai sikap profesionalnya. Memberi Penghargaan pada setiap orang yang meluangkan waktu untuk mencintainya.

Sebenarnya, pria itu merasa hambar.

Hidupnya hanya dipenuhi kepalsuan.

Tubuhnya sedikit kikuk. Ia sekarang berada di satu negara dengan gadis itu. Jarak mereka, mungkin hanya dipisahkan beberapa kilometer. Kris merasa terlalu pengecut untuk mencari gadisnya. Sebagian dari dirinya takut ditolak untuk kesekian kali oleh gadis itu. Jeon Hyosung.

“Baiklah, aku berikan waktu satu hari untuk mu. Tetapi, berjanjilah satu hal padaku.”

“Apa?”

“Jika, kita bertemu lagi setelah itu. Berjanjilah untuk tidak mengenali ku. Berjanjilah kau akan mengabaikan ku bila kita berselisih jalan.”

“Hyosung…”

“Berjanjilah.”

“Aku berjanji.”

             Setelah sekian lama menghindari negara ini. Kris akhirnya harus datang kesini karena alasan pekerjaan. Ia harus menghadiri acara penghargaan musik. Kris mengira dirinya sudah dapat melupakan semua tentang Hyosung. Sekarang, melihat kenyataan bahwa jaraknya dengan gadis itu lebih dekat, membuat tembok batas dengan masa lalunya hancur.

Kris berjalan ke arah restoran di lantai bawah hotel tempatnya menginap. Ia merasakan sedikit kebebasan di negara ini. Dia tidak perlu menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Dia hanya perlu menjadi Kris, mengenakan pakaian yang ia suka. Tanpa make up yang membuatnya pusing.

Fakta bahwa orang di sekitar Kris tetap meliriknya dua kali, saat ia berjalan membuat pria itu mendengus. Kris memakai kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya yang terlalu tampan. Ia berjalan dengan santai mengikuti penunjuk arah yang memudahkan pengunjung agar tidak tersesat. Kris tersenyum kecut ketika ia melihat sebuah toko coklat di deretan  jalan yang ia lalui.

“Kris aku mencintai mu.”

“Tidak. Kau lebih mencintai tumpukan coklat itu.”

“Jangan cemburu. Apa kau tahu ini bukan coklat biasa?”

“Coklat tetaplah coklat, Hyosung.”

“Ini coklat yangselama ini aku rindukan. Appa biasa memberikan coklat ini sewaktu aku masih kecil.”

“Baiklah.”

“Ayolah, Kris. Kau mencintaiku bukan? Kau bisa menunggu ku. Harus. Tapi, coklat ini tidak bisa menunggu ku. Mereka akan meleleh kalau aku tidak segera memakannya.”

“Iya, aku mengerti. Aku dinomor duakan. Baiklah.”

Tanpa Kris sadari kakinya  melangkah memasuki toko coklat itu. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin deretan kenangan yang berputar ulang tentang coklat dan Hyosung membuat tubuhnya seakan tertarik magnet.

Ada hal menarik yang memaksa tubuh dan pikirannya memasuki toko itu.

Ia merasa akan menemukan sesuatu disana.

***Don’t Go!***

Hyosung membenarkan letak rambutnya. Kakinya sudah sangat pegal. Engsel kakinya hampir patah.  Oke, ini berlebihan, gadis itu baru saja mengantri selama dua puluh menit. Ia tidak suka menunggu. Sangat tidak suka. Saat ia sudah berada di hadapan pelayan, Hyosung hampir memeluknya. Oke itu berlebihan.

Hyosung memesan semua jenis coklat yang ada dimenu. Banyak sekali coklat akan memperbaiki harinya. Sambil menunggu pesanannya, pikiran Hyosung berjalan-jalan. Mengenang sesuatu.

Gadis itu, mengingat kembali alasannya berada di hotel ini. Hyosung telah meninggalkan masa lalunya. Ia sudah menutup buku cerita lama. Bahkan sudah membuangnya. Ia sudah hidup dengan sangat baik. Menemukan pria lain, cinta lain, dan alasan lain untuk hidup.

Ah, sangat bahagia. Jika, kehidupan gadis itu berjalan seperti apa yang diinginkan benaknya.. Tetapi…

Bohong.

Semua kalimat itu bohong. Bila Hyosung sudah melupakan semua itu, ia tidak akan berada di hotel ini. Tempat Kris menginap.

Saat mendengar Kris berada di Melbourne Hyosung datang ke hotel ini tanpa berpikir dua kali. Bahkan gadis itu mencari informasi kesana-kemari untuk mengetahui dimana Kris menginap.

Hyosung merindukan Kris. Sangat merindukannya. Kris tidak pernah membiarkan Hyosung merindukan prianya sebanyak ini.

“Kau merindukan ku?”

“Belum.”

“Kalau kau merindukan ku. Segera beritahu aku.”

“Kenapa?”

“Agar aku bisa segera menemui mu.”

“Baiklah.”

“Kau tahu aku sedang merindukanmu sekarang, Hyosung. Rasanya tidak enak. Aku harap kau tidak perlu merasakan rindu seperti ini.”

Hyosung berpikir bahwa Ia hanya perlu melihat Kris satu kali, lalu berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melihat pria itu lagi. Ia hanya membutuhkan kekuatan. Logikanya tidak mengatasi masalah perasaan. Gadis itu hanya ingin melihat Kris secara nyata.

“Silahkan, ini pesanan anda.” Seorang pelayan menyadarkan Hyosung dari lamunannya. Gadis itu segera mengambil kotak-kotak coklat pesanannya. Ia membawa semua kotak coklat dengan hati-hati. Ia tidak ingin coklat itu terjatuh. Bentuk coklat ini yang membuat Hyosung bersemangat untuk memakannya.

            Berhati-hati dan perlahan.

***Don’t Go!***

“Aku tidak percaya takdir dan kebetulan, Hyosung. Berhentilah mengomel tentang dua hal itu.”

“Kau pikir dulu sewaktu pertama kali kita bertemu itu bukan takdir?”

“Pertama kali bertemu? Di halte bus itu, maksud mu?”

“Iya!”

“Tentu saja, bukan. Aku berjam-jam menunggumu lewat. Itu bukan takdir atau kebetula, oke. Aku memang menunggumu disana dan memang ingin bertemu dengan mu. Catat itu, Hyosung.”

Jantung Kris hampir saja melorot. Ia tidak mempercayai matanya. Ia tidak mempercayai apa yang ia lihat sekarang.

“Jadi ini yang dinamakan takdir.” bisik Kris, matanya menatap lurus ke depan.

Seorang gadis di antrian paling belakang. Walaupun, hanya terlihat punggungnya. Pria itu sudah sangat yakin siapa pemilik punggung itu. Waktu seakan berhenti di sekitar Kris. Semuanya terasa begitu… tiba-tiba. Ia tidak tahu bahwa efeknya akan sehebat ini. Gadis itu tampak membawa setumpuk kardus yang hampir menenggelamkan kepalanya.

Kris masih terpaku. Tubuhnya kaku. Ia hanya menatap dalam diam saat gadis itu melangkah mendekat. Semakin dekat.. dan…

***Don’t Go!***

Hyosung merasakan keseimbangannya menurun drastis karena semua kardus coklat yang harus dibawanya. Ia tidak bisa melihat dengan benar apa yang ada di depannya. Gadis itu hanya melihat pria jangkung yang tetap berdiri menghalangi jalannya. Seharusnya pria itu minggir.

“MINGGIR!” seru Hyosung, terlambat. Semua kardusnya terjatuh dan menimpa pria yang menghalangi jalannya. Gadis itu hampir mati saat mengetahui semua coklat kesayangannya jatuh. Ia memikirkan berapa banyak denda yang harus dibayar karena mengotori toko ini. Wajah gadis itu memerah. Perasaan malu yang luar biasa, tiba-tiba merasuk. Ia tidak sempat memikirkan siapa pria dihadapannya. Bagaimana nasib pria itu setelah terkena tumpukan kardus yang ia yakin lumayan berat bila dijatuhkan bersamaan.

Don’t go, Hyosung” Kris berucap pelan, nyaris seperti bisikan.

Hyosung mengangkat kepalanya dengan cepat mendengar suara itu.

Hatinya kelu.

Seluruh tubuhnya seperti ingin meledak.

Hyosung ingin merespon kata-kata pria itu. Sebelum semua itu terjadi, tubuhnya sudah berada di pelukan pria itu. Tenggelam begitu saja.

“Aku merindukan mu.” Bisik Kris di tengah-tengah pelukan mereka.

Sekali lagi Hyosung tidak bisa merespon.

Apa ini akibat rasa rindu yang terlalu dalam?

Rasa rindu yang membuncah. Hyosung hanya bisa menganggap ini sebuah mimpi indah.

Terlalu banyak rasa yang larut disini. Disaat Hyosung sedang mengelolah perasaan dan emosinya. Kris bergerak lebih cepat.

Hyosung kalah beberapa langkah.

Hyosung terbius.

Hyosung terhipnotis.

Tiba-tiba saja.

Tidak tahu siapa yang memulai.

Bibirnya sudah bertaut dengan sempurna dengan milik Kris.

Bahkan, Hyosung sekarang membalas lumatan bibir Kris yang manis. Darahnya berdesir.

Demi Tuhan. Tubuh Hyosung berkhianat besar. Ia ingin menolak tetapi tidak bisa. Gadis itu pusing terlalu bingung. Hyosung sudah tidak sanggup berpikir dengan gambling saat bibir Kris menggodanya. Bergrilya mengobrak-abrik perasaan dan pendirian Hyosung.

Tidak ingin lebih pusing lagi, Hyosung memutuskan untuk tidak menolak. Mungkin untuk saat ini.

“Kris.”  Bisik Hyosung di bibir Kris.

“Baiklah Hyosung, cukup lelucon menghilang yang kau ciptakan. Mulai sekarang demi alasan apapun, kau tidak boleh beranjak sedikitpun dari pandangan ku.”

***Don’t Go!***

“Maaf, Kris.”

“Aku berhenti, hyung.Aku sudah yakin dari awal kalau kau sangat terlibat dengan keinginan Hyosung mengakhiri hubugan kami. ”

“Kris, ini mimpi mu.Gadis itu hanya sebagian dari masa lalu mu.”

“Dia hidup ku. Aku tidak bisa meraih apapun yang ada di mimpi ku, tanpa hidupmu.”

***Don’t Go!***

 

Hyosung’s Diary

Aku tidak merasakan keberadaan mu, sungguh. Hati ku ini sudah tidak dapat merasakan apa-apa. Aku terlalu menyukai mu. Mencintai mu. Aku tidak peduli bagaimana tubuh ku nanti akan bergerak setelah kau tidak ada di samping ku. Aku tidak peduli bagaimana aku akan bertahan menjalani semuanya tanpa kau di sisi ku. Kau tahu, aku melakukan semuanya dengan tidak benar. Kau selalu menghawatirkan ku sekecil apapun hal yang aku lakukan. Kau takut aku terluka. Sekarang, jangan pedulikan aku lagi. Sekarang, aku tidak baik-baik saja, memang. Tapi, aku akan terlihat baik-baik saja. Paling tidak, melihat mu baik-baik saja sudah cukup. Kris, aku sangat mencintai mu. Apa yang harus aku lakukan? Sangat sakit, disini. Sakit sekali. Aku mohon jangan merasakan hal yang sama seperti ku karena ini sangat sakit. Ada luka yang menganga, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengobatinya. Ini mengerikan. Kris, berjanjilah..

Jangan merasakan apa yang aku rasakan.

Jangan mencintai diri ku, sebesar aku mencintai mu.

Jangan memikirkan ku, lagi.

Hyosung, 2011

Kris’s Diary

Dia pergi. Gadis yang ingin aku perjuangkan. Tidak ada lagi alasan kami untuk bertahan. Aku menginginkannya, setiap hari dan sepanjang hidup ku. Aku mencintainya. Tapi, aku hanya bisa melepas tangannya, sekarang. Aku tidak ingin egois. Dia sudah lelah dengan ku. Aku tidak memiliki apa-apa untuknya dan bodohnya aku tetap merindukan gadis itu. Maaf, Hyosung aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Aku merindukan mu, sangat. Aku berani menukar apapun agar bisa mengatakan sekali saja bahwa aku merindukan mu. Mengatakan bahwa aku mencintai mu. Aku ingin melihatmu sekali saja untuk memastikan kau baik-baik saja. Hyosung, berjanjilah satu hal. Jangan merasakan rindu seperti aku merasakannya padamu. Berjanjilah.

Kris, 2011

***FIN***

Advertisements

16 thoughts on “[Kris & Hyosung] Don’t Go

  1. Anjirrr sedih, gitu yacewe kadang rela lepasin sgalanya bukan untuk keuntungan dirinya tapi untuk masa depan org yg dicintai nya anjassss wkwkwkwk god girl bgt hyosunggg

  2. terenyuh banget bacanya T.T perjuangan mereka beneran berat yeee
    hmmm..mungkin kemudian mereka bahagia. itu pasti menyenangkan 😀

  3. nyesek banget,,, hatiku berasa di obrak-abrik setelah baca ff ini,,, jadi Kris itu artis? dan Hyosung cuman orang biasa? lalu Jinki itu jangan2 managernya kris? ah entahlah,,,. pokoknya ff ini keren banget,,, penulisannya bagus dan gak bikin aku bingung,,,

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s