Kisseu

Kisseu

Kisseu

Author: Blossom

Cast: Oh Sehun & Jung Nara

Genre: Love & School life

Length: Drabble

Rated: PG-13

***Kisseu***

Kisseu itu menempelkan bibirku pada bibirnya

Daging yang menempel pada daging, Kisseu

Kisseu, kami baru saja melakukannya

Bibirnya, rasa stroberi saat kisseu

Kisseu, bukan hanya stroberi tapi juga jeruk

Astaga, lebih dari rasa kisseu

Kisseu, aku seperti kecanduan

Bolehkah kita mengulang, Kisseu

Sekali lagi, Oh Sehun…

***Kisseu***

Jung Nara duduk di baris paling belakang kelas. Ia menutup mata, membiarkan kata-kata seonsaengnim-nya mengalir ke dalam pedengaran tanpa masuk sedikitpun keingatan. Ia bertanya-tanya pada otaknya kenapa Ia bisa memikirkan hal memalukan seperti… Oh Sehun. Baiklah, laki-laki yang lebih muda itu memang selalu menyita alam bawah sadarnya. Lebih parah lagi, Nara memikirkan bagaimana rasa Sehun. Tepatnya bagaimana rasa bibir Sehun.

Jeruk.

Stroberi.

Apel.

Atau buah-buahan yang lain…

Benar-benar sudah tidak waras.

Bukan sepenuhnya kesalahan Nara. Salahkan saja Park Cheonsa, sahabat Nara. Cheonsa bertanya tanpa jeda setelah Nara bercerita tentang ciuman pertamanya dengan Sehun di malam Natal. Cheonsa bertanya, bagaimana rasa bibir Sehun. Demi Tuhan, jangankan menyadari rasa bibir Sehun, memastikan bahwa dia dapat bernapas dengan benar pada saat itu saja sangat sulit. Nara hanya ingat, ia hampir mati kehabisan napas saat Sehun menciumnya satu kali.. dua kali.. tiga kali, malam itu.

Nara menutup bukunya dengan keras dan meninggalkan kelas dengan terburu-buru saat bel istirahat berbunyi. Dia malas menanggapi pertanyaan tentang rasa bibir Sehun, lagi. Jujur saja, gadis itu tidak bisa menjawab. Itu mebuat ceritanya diragukan. Dia akan dikira sebagai gadis tidak waras yang terobsesi dengan Sehun, sehingga mengarang cerita tentang ciuman itu. Baiklah, Sehun memang kekasihnya dan semua orang tahu itu. Hanya saja, ia tidak siap menerima tatapan kesal dari gadis-gadis lain yang menyukai Sehun. Nara berusaha menutupi statusnya sebagai kekasih Sehun. Walaupun, laki-laki tampan dan kelewat percayadiri itu terus menunjukkan kedekatan mereka.

Nara terus berjalanan menuju halaman sekolah yang teduh, berderet pohon-pohon hijau. Gadis itu menyukai keadaan halaman yang sepi. Paling tidak dia bisa berpikir jernih dan menyingkirkan pikiran kotor yang mengikutinya. Nara mengacak-acak kasar rambut sebahunya. Ia menghembuskan napas panjang dengan berlebihan.

Gadis itu hampir terkena serangan jantung, ketika tahu siapa yang sedang duduk di bawah pohon besar. Ia segera memutar balik langkahnya.. tapi  terlambat.

“Sial,” ucap Nara dengan nada kesal yang dibuat-buat. Laki-laki yang duduk di bawah pohon itu menangkap Nara dengan tatapan mata, sebelum gadis itu berhasil kabur. Nara tidak ingin menghindar sebenarnya, tetapi ia hanya ingin membersihkan pikiran. Rentan sekali bertemu dengan Sehun saat imajinasinya sedang liar.

Sehun tiba-tiba meledak tertawa saat Nara ikut duduk di sampingnya. Gadis itu melotot tidak terima. Melihat Sehun yang terus tertawa, Nara mengerucutkan bibir. “Apa yang lucu, Oh Sehun?”

“Wajahmu sekarang seperti kepiting yang overcook.” Sehun berusaha mengontrol tawanya. Terdengar menyebalkan di telinga, Nara.

Nara menarik dan menghembuskan napas seperti pelatihan senam ibu hamil yang biasa dilakukan bibinya. Gadis itu tidak ingin terpancing dan marah-marah seperti babon gila. Ditambah lagi, Nara berusaha keras mengontrol detak jantung. Asal kalihan tahu, Sehun terlihat berkali-lipat lebih tampan saat tertawa lebar. Itu membuat kesehatan jantung gadis itu terancam.

“Menyebalkan!” Seru Nara, hanya satu kata itu yang mampu diucapkannya. Mengalihkan perhatian. Nara mengambil buku dari tangan Sehun dengan gerakan cepat. Gadis itu berpura-pura tenggelam dalam buku yang baru direbutnya. Menutupi pipi yang ia yakin sudah bersemu merah.

Sehun mengambil kembali buku yang dicuri Nara. “Setelah ini aku ada ujian,” ucap Sehun dengan jarak yang sangat dekat dengan kekasihnya. Hidung mereka bersentuhan. Nara membuka bibirnya sedikit. Terperangah. Laki-laki itu menjauhkan wajah mereka lagi, lalu tersenyum kecil melihat respon Nara. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa Sehun melanjutkan kegiatan membaca yang sempat tertunda karena kehadiran gadis yang selalu menarik perhatiannya.

Gadis itu memilih duduk patuh sambil mengamati Sehun membaca. Nara menelan ludahnya saat ia melihat gerakan bibir Sehun yang membaca isi buku tanpa suara. Demi apapun di dunia ini Oh Sehun, apa yang harus aku lakukan… jangan menggerakkan bibirmu seperti itu, batin Nara. Gadis itu mengetuk-ngetuk ringan kepalanya. Mengundang perhatian Sehun.

“Di dalam tasku, ada satu buku lagi.” Kata Sehun, tanpa mengalihkan matanya dari buku.

Mwo?”

“Di dalam tasku.. Ayolah, Nara. Aku tidak bisa membaca dengan baik kalau kau terus mengamatiku dengan tatapan ingin menelan bulat-bulat.”

“Aku.. baiklah.” Ucap Nara menyerah. Ia menarik tas Sehun yang berada disampingnya. Gadis itu menunduk lalu memasang ekspresi serius, mengeluarkan satu persatu isi dari tas. Nara mengernyit saat mencium bau baju olahraga Sehun. Kalau saja, Nara tidak dalam tekanan yang ditimbulkan oleh imajinasi liarnya terhadap bibir Sehun, gadis itu pasti sudah mengomeli kekasihnya karena menyimpan baju bau di dalam tas. “Menjijikkan,” keluh Nara.

Sehun terkekeh. Benar, berada di dekat kekasihnya membuat syaraf mengendur. Ia jadi mudah sekali tertawa. Laki-laki itu mengambil alih tasnya, membantu gadis itu menemukan apa yang dicari. “Sangat tidak sabaran,” ujar Sehun.

Nara menelan ludah berkali-kali. Tenggorokkannya kering. Ia menatap Sehun yang berjarak sangat dekat dengan tubuhnya. Nara yakin jika ia mendongakkan kepala, pasti bibirnya sudah menyentuh bibir Sehun..

Aku bisa gila.

Mau ditaruh  mana mukaku kalau aku menciumnya duluan.

Cheonsa, kau harus membayar mahal sudah membuatku berpikiran mesum seperti ini.

Gadis itu merutuk dirinya sendiri.

“Kenapa?” Tanya Sehun sambil memberikan buku setebal 320 halaman pada kekasihnya. Nara hanya menggeleng sebeagai jawaban. Gadis itu sedang berperang batin.

“Nara!” Panggil Sehun, tidak sabar. Laki-laki itu gemas melihat kekasihnya terus menuduk dengan tersipu-sipu.

“Oh Sehun, jangan menggangguku. Aku sedang berpikir.”  Nara masih menundukkan kepala. Gadis itu membuat gerakan kecil, menggeleng dan mengangguk-anggukan kepala.

Sehun mendongakkan wajah Nara, sehingga gadis itu harus menatapnya. “Jadi, apa yang dipikirkan Jung Nara sekarang?”

Nara melakukan pernapasan ibu hamil dengan tempo cepat. Sehun benar-benar mengujinya. “Aku sudah berusaha mengontrolnya. Tapi, kau yang memicuku.” Nara mulai membeberkan.

“Jadi?”

“Kau bilang aku boleh melakukan apapun padamu, selain minta putuskan?”

True.

“Apapun?”

“Iya.”

“Anggap saja, aku tidak pernah melakukannya.”

“Melakukan apa?”

“Sesuatu yang akan aku lakukan setelah ini, Sehun.”

“Baiklah.”

“Berjanjilah!”

“Ya, aku berjanji.”

Nara menggigit bibirnya. Ia hanya terlalu penasaran. Imajinasinya. Gadis itu masih menatap Sehun yang mulai kebingungan. Setelah menarik dan menghembuskan napas mantap, Nara menempelkan bibirnya ke bibir Sehun dengan tiba-tiba.

Sehun membelalakkkan mata. Ia tidak percaya. Jung Nara-nya melakukan kegiatan yang selalu dimulai laki-laki itu terlebih dahulu.

Tidak ada pergerakkan dibibir mereka. Hanya sekedar ditempelkan.

Nara, berusaha berkonsentrasi. Memusatkan pikiran untuk menjawab pertanyaan rasa bibir Sehun. Semakin ia berkonsentrasi, tangannya yang merengkuh Sehun semakin lemas. Apalagi, ketika ia merasakan bibir Sehun yang mulai bergerak. Melumat bibir bawah dan atas gadis itu dengan perlahan. Satu kali lumatan memacu desir darah Nara. Ini berkali-kali.

Tangan Nara sudah terkulai. Gadis itu sudah tidak peduli dengan rasa bibir Sehun lagi. Sekarang gerakan kepala mereka miring ke kanan lalu ke kiri, memastikan posisi yang tepat. Sehun menarik tengkuk Nara, semakin dalam dan mendekat. Tubuh Nara lemas… jangan lupa bernapas¸ Nara terus mengingatkan kerja tubuhnya.

“Jadi itu yang ingin kau lakukan?”

“Bisa kita melakukannya sekali lagi?”

“Apa?”

Kisseu.”

“Ya! Jung Nara.”

“Ayolah, sekali lagi. Rasanya seperti bubble tea.

“Rasa apa?”

Kisseu~”

***Kisseu***

Advertisements

87 thoughts on “Kisseu

  1. Naraaaa aku jg pengin nyoba bibir nya sehun *eh 😁 sehun kayak jd cowok polos mlh nara yg kayak mesum

  2. LOL
    Jung Nara, itu ulah Cheonsa ya Nara imajinasinya jadi liar banget, dikit-dikit mikirin Kiss hahaha
    Yang terakhir ngakak

  3. Jung Nara kelewat polos atau gimana sih? Gak tau malu bgt ih Sehun gak nyianyiain kesempatan, embat langsung wkwkqk

  4. oohhh astagaaaa naraaaa nyok gantian posisi yaaakkk aku jg mau nyicipin bibir sehun *plaaakk wkakkakaa 😃😃😃😁😁😁

  5. Kak titis aku enggak tau mau komen apa, otak aku blank liat kelakuan polos nara yg malah jadi agresif gitu 😀 kalo nara selalu kecanduan kisseu sehun. Aku kecanduaan kisah nara-sehun aja deh 😀 hahaha

  6. ya ampun ka titis…
    kenapa pinter banget sih bikin readernya ngefly. please aku jadi bener bner kecanduan sama cerita tentang sehunnara.
    eh tapi d sini sehun lbih muda ya? bronding? nggak papa kalo berondongnya cem sehun aku juga mau d pacarin sama dia(?).
    aku selalu suka nara yg agresif. haha yg nggak bisa nahan rasa penasarannya. yg rela ngelakuin apa aja biar dia nggak bakal terus keingetan.
    pas pertama nempel nara malah konsen sama rasanya. duhh gregetaaaan.
    bdw sehun keknya lagi minum bublle tea jadi rasanya itu.
    gilaaa aku suka nara yg gila. sehun yg dingin dingin manis kayak permen kapas.

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s