Midnight Activity

Midnight Activity

Author

Twelveblossom

Cast

Luhan & Han Jiwon

Length One Shoot

Rated PG-17

Genre

Romance & Fluff

This story line imine, please don’t copy paste.

*** Midnight Activity*** 

“Luhan.” Suaran lenguhan terdengar. Kamar tidur yang berukuran terlalu luas dan bernuansa laut itu  memiliki ranjang besar yang cukup untuk tiga orang. Ranjang di tengah ruangan berderit ringan. Seorang gadis dengan mata yang masih tertutup, terbaring di atas ranjang. Tangannya meraba-raba tempat kosong disisinya. Seharusnya, ada seorang pria yang berbaring disitu. “Oppa.” Suara malas gadis itu kembali terdengar setelah memastikan bahwa ia sendirian.

“Luhan.” Kesekian kalinya gadis itu bersuara, kali ini dengan nada kesal. Tenggorokannya kering. Ia mengendurkan tubuhnya lalu duduk di atas tempat tidur. Gadis itu menguap sambil sesekali mengusap matanya, mengantuk. Tentu saja, ia sangat mengantuk mengingat baru dua jam terlelap. Jam masih menunjukkan pukul dua belas malam.

Gadis itu beranjak dari tempat tidur menuju pintu yang menghubungkan antara kamarnya dengan ruang santai. Ia mendengus setelah melihat pria yang seharusnya berada disampingnya malah menonton siaran pertandingan bola. Pria itu berambut coklat muda dengan tinggi standar. Memiliki mata, hidung, mulut, dan bagian tubuh lain yang dapat memasukkannya dalam kategori tampan.

Mendengar suara pintu terbuka pria itu menelengkan kepala. Ia tersenyum miring melihat kekasihnya yang merengek. “Terbangun?” Ucap pria itu sambil menepuk sofa memberi sinyal nonverbal agar kekasihnya duduk di sampingnya. Gadis itu berjalan dengan langkah terseret. Matanya berat.

Big baby,” kata pria itu setelah menarik gadisnya ke dalam pelukan dan memberikan ciuman singkat di bibir.

“Namaku Jiwon bukan big baby, Luhan.” Kata Jiwon. Gadis itu menyenderkan kepalanya dan membalas pelukan kekasihnya.

Jiwon sama sekali tidak menaruh minat pada gambar yang menanyangkan beberapa orang berlari-lari merebutkan satu bola. Sementara Luhan terlalu berkonsentrasi hingga lupa pada  gadis dalam pelukannya. Menyebalkan.

“Bahkan saat libur kau juga tidak ada waktu untukku.” Suara Jiwon dengan nada marah yang dibuat-buat merebut perhatian Luhan. Pria itu mencium puncak kepala kekasihnya lalu mengusapkan hidung mereka. Jiwon tertawa, geli.

“Jangan cemburu,” ucap Luhan .

“Aku tidak cemburu.”

“Ini aktivitas wajar yang dilakukan seorang pria.”

“Aktivitas apa?”

“Menonton pertandingan bola.”

“Lalu siapa yang pria?” Jiwon bertanya dengan nada mengejek yang kentara. Ia menatap Luhan.

Luhan membalas tatapan Jiwon dengan sedikit bingung. Pria itu mengira-ngira kemana arah pembicaraan mereka. “Tentu saja aku.”

“Apa kau bercanda?” Tanya Jiwon. Gadis itu menelusupkan kepalanya di leher Luhan sambil menunggu jawaban. Konsentrasi otaknya sedikit buyar.

“Tidak pernah seserius ini.” Jawab Luhan memejamkan mata, merasakan kecupan dari bibir Jiwon di lehernya. “Jiwon-ah, aku butuh konsentrasi.” Lanjut Luhan, matanya menatap telivisi dengan serius.

“Seorang pria tidak akan berteriak dan terpeleset di rumah hantu.” Jiwon melepaskan leher Luhan lalu terkekeh. Jiwon mengungkit salah satu adegan acara yang dibintangi Luhan, EXO’s Showtime.

“Itu hanya skenario.” Luhan membela diri.

“Tentu saja, aktingmu sangat bagus. Aku jadi tidak bisa membedakan antara ketakutan yang asli dan palsu.” Jiwon kembali tertawa, rasa kantuknya tiba-tiba menghilang. Gadis itu bahkan mulai memperagakan teriakan Luhan yang terdengar beberapa kali lebih melengking.

Luhan memutar bola matanya. Ia mengubah posisi menjadi berhadapan dengan gadisnya. “Kau sangat menyebalkan.” Kata Luhan setelah menangkup kepala Jiwon dengan kedua tangan, membuat bibir kekasihnya mengerucut. Pria itu melepaskan Jiwon lalu kembali bercengkrama dengan televisi.

Jiwon kembali beringsut kepelukan Luhan. Wajah gadis itu sengaja di dekatkan dengan telinga kiri Luhan. “Saranghae.” Jiwon berbisik lebih ke arah mendesah.

Luhan berjinggit sebentar merasakan napas gadisnya yang menggelitik telinga. Pria itu menghela napas panjang, berusaha tidak tergoda. Ia belum mengalihkan matanya dari televisi. Pertandingan bola sebenarnya tidak lagi menarik setelah kedatangan kekasihnya. Jiwon adalah hal yang paling menarik dari semua yang ada di dunia Luhan. Gadis cengeng, kelewat sensitif, dan manja.

Luhan penasaran tingkah apa lagi yang akan ditunjukkan gadisnya untuk bersaing dengan televisi.

“Aku rasa wajahmu ini terlalu cantik untuk ukuran seorang pria.” Jiwon menyentuh pipi Luhan dengan telunjuk. Gadis itu mengeluarkan ejekan untuk mendapatkan perhatian kekasihnya. “Tidak ada reaksi.” Bisik Jiwon setelah diacuhkan Luhan.

Jiwon menyembunyikan wajah di dalam rangkulan Luhan sambil memainkan jari-jari kekasihnya. Ia mulai bosan dan mengantuk, tetapi otaknya masih berputar. Luhan mengelus ringan punggung Jiwon. Biasanya gadis itu mudah tertidur setelah mencium bau badan Luhan dan mendapat gosokan ringan di punggungnya. Terdengar aneh, sudah menjadi kebiasaan.

“Kau seperti ladyboy.” Suara Jiwon teredam pelukan kekasihnya. “Di Thailand banyak ladyboy yang lebih menyukai  sesama pria daripada wa..”

I love you too.” Luhan memotong perkataan Jiwon yang ia yakin akan memojokkan tampilan wajahnya yang dapat terlihat cantik sekaligus tampan dalam waktu bersamaan.

“Mereka lebih menyukai pria daripada wanita.” Jiwon meneruskan perkataannya, tidak terpengaruh dengan interupsi Luhan.

“Jadi..”

“Jadi?”

“Menurutmu aku menyukai pria?”

“Lebih tepatnya menyukai Minseok Oppa.”

“Xiuge?”

“Sehun yang mengatakan.”

“Bocah sialan.”

“Aku setuju.” Jiwon membenarkan.

“Setuju apa?”

“Setuju kau ladyboy.”

“Baiklah. Mari kita lihat.” Kata Luhan lalu mengalihkan tatapannya dari televisi, merasa jengah.

Luhan membagi tatapannya pada gadis yang sekarang mengusap hidung. Pria itu mengundurkan pelukan mereka. Sekali lagi membuat posisi berhadapan. Luhan memberikan tatapan tajam tidak terima, sedangkan gadis yang diberi tatapan itu hanya mengulum bibir menahan tawa.

“Apa ladyboy  bisa melakukan ini?” Luhan mulai memasang seringaian di bibirnya.

Jiwon merasa kikuk, melihat seringaian kekasihnya. Gadis itu bertambah gentar merasakan sentuhan halus pada pahanya oleh tangan Luhan. Apalagi rok di atas lutut yang ia pakai sama sekali tidak menguntungkan untuk posisinya yang dapat dengan mudah ditindih Luhan. Jiwon menggigit bibir atas, kebiasaan jika gadis itu gugup. Bodohnya, tubuh Jiwon tidak menolak. Matanya justru menutup pasrah menikmati tangan Luhan yang bergrilya. Desiran halus seperti kupu-kupu terbang berputar ketika tangan Luhan menyentuh bagian dalam tubuhnya. “Oppa…” Suara memohon meluncur dari bibir Jiwon. Gadis itu tidak tahu nada memohon itu bertujuan untuk apa. Meminta Luhan untuk berhenti atau meneruskan.

“Ini untuk ejekan teriakan di adegan rumah hantu. Teriakan siapa yang lebih keras kau atau aku, sekarang.” Kalimat itu diselesaikan bibir Luhan bersamaan dengan satu jari pria itu bergerak memasuki tubuh Jiwon. Secara otomatis membuat gadis itu melenguh panjang. Tangan Jiwon mencengkram erat kemeja yang dikenakan Luhan.

“AHH.. brengsek, sakit.” Teriakan Jiwon dibales dengan senyum polos Luhan.

Pria itu menggerakan jarinya yang bermain bersama tubuh Jiwon. Membuat kekasihnya kembali mendesah.

Jiwon berkali-kali mengumpat.

“Ini untuk ejekan wajahku yang terlalu cantik untuk ukuran pria.”

Jiwon sudah mengantisipasi sentuhan Luhan yang tiba-tiba. Tetapi sekali lagi gadis itu kalah cepat. Luhan mencium pipi lalu beralih merangkum bibir Jiwon. Lumatan kecil di bibir atas dan bawah membuat gadis itu menahan napas. Luhan menggigit bibir Jiwon yang hendak protes karena pergerakan tangan Luhan yang lincah di bagian bawah tubuhnya. Tubuh Luhan bergerak menindih Jiwon. Membuat pergerakan gadisnya terbatas dan tidak bisa melawan. Ruang santai yang luas terasa sempit dan panas.

Jiwon berani bersumpah bahwa sekarang ia seperti sedang berjalan di angkasa. Tubuhnya terasa ringan terkena aliran listrik di setiap titik yang bersentuhan dengan kulit Luhan.

“Luhan.. hentikan.” Dua kalimat itu muncul ketika Luhan memberikan ruang bernapas untuk kekasihnya.

“Kau yakin ingin aku berhenti?” Luhan menjawab dengan pertanyaan. Kepala Luhan sudah tenggelam dalam leher Jiwon. Memberi balasan atas kecupan-kecupan yang diberikan gadis itu waktu menggodanya tadi. Jiwon menengadahkan leher, memberikan ruang atas ciuman berbekas yang diciptakan Luhan untuk lehernya.

Luhan membuat Jiwon mengerang. Tangannya menekan Luhan agar bergerak lebih dalam dan tetap berada di lehernya. Aku sudah gila, batin Jiwon.

“Apa kita harus berhenti sekarang?” Ulang Luhan disela-sela kegiatannya meloloskan kemeja Jiwon.

“Tidak.”

“Kau serius.” Tangan Luhan mengelus pundak Jiwon, terus turun.

“Tidak pernah seserius in-ahh!” Jawaban Jiwon terpotong oleh cubitan bibir Luhan pada dadanya.

“Itu bagus,” pria itu tersenyum polos. Tangan Jiwon berada di lengan Luhan. Mencengkram. Tubuhnya seperti dipompa habis-habisan akibat kegiatan balas dendam Luhan. Namun, Luhan masih menginginkan hal yang lebih dari sekedar menyentuhkan bibir, tangan, dan mengerang.

Malam ini akan menjadi malam yang panjang.

Jiwon sudah membayangkan bagaimana besok ia akan kesulitan membuka kakinya.

Bibirnya yang bengkak.

Tenggorokannya yang terbakar karena terlalu banyak mengerang.

 

“YA Sakit, bodoh. Tapi, jangan berhenti, Luhan!”

            *** Midnight Activity*** 

Advertisements

71 thoughts on “Midnight Activity

  1. Tbh….author keren. baru aku nemuin di tweleveblossom ff seringan ini juga penulisannya yang rapih. Good luck. Hihi

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s