Run Baby!

run baby!

Tittle

Run Baby!

Author

@baekistagram

Cast

Byun Baek Hyun and Kim Ha Na

Length One Shoot

Genre Marriage Life

Rated PG-15

This Story line is mine. Please don’t copy-paste.

***  RunBaby!***

 “Byun Baek Hyun.”

“Mwo?”

“Kenapa jawabanmu terdengar kesal.”

“Aku tidak kesal.”

“Kau kesal.”

“Tidak.”

“Kalau begitu… aku ingin makan anggur.”

“Astaga, Ha Na. Di pangkuanmu sudah ada semangkuk penuh anggur.”

“Aku ingin anggur yang berwarna hijau.”

“Rasanya sama saja, sayang.”

“Tidak sama.”

“Makan dan diamlah.”

“Ayolah, Baekki”

“Tidak.”

“Bayi kita menginginkan anggur hijau.”

“Baiklah, baiklah!”

*** Run Baby!***

Ha Na tersenyum puas saat melihat kepergian Baek Hyun dari apartemen. Gadis itu mengusap perutnya yang mulai membesar. Kehamilan enam bulan membuatnya semakin manja dan seenaknya sendiri. Baek Hyun yang posisi mutlaknya adalah suami dari gadis itu, sekarang merangkap menjadi pembantu rumah tangga mereka. Ada kalanya, permintaan Hana memang dikarenakan keinginan sang bayi, tetapi ada beberapa permintaan yang sengaja ia katakana hanya untuk menjahili suaminya. Hal itu untuk membalas Baek Hyun yang telah melanggar janji pra-nikah. Baek Hyun berjanji untuk tidak membuat Ha Na hamil dulu sebelum gadis itu menyelesaikan kuliahnya.Akan tetapi, seenaknya saja Baek Hyun malah ‘mengerjai’ Ha Na setiap hari. Bukannya, Ha Na tidak mau mengandung anak mereka, hanya saja waktu yang dipilih Baek Hyun untuk membuatnya hamil sangat tidak tepat.

“Makanlah pelan-pelan,” ucap Baek Hyun sambil meletakkan semangkuk anggur hijau yang baru saja dibelinya kepangkuan Ha Na.

Gadis itu tersenyum manis, lalu menggeleng. “Kau lama sekali membelinya, aku sudah tidak ingin makan anggur hijau lagi.” Ha Na mengacuhkan anggur hijau yang dibeli Baek Hyun dengan berlari karena takut istrinya menunggu lama.

Baek Hyun mengehembuskan napas kasar. Berulang kali, pria berambut hitam itu mengingatkan pikirannya bahwa di dalam perut istrinya ada bayi mereka. Dia tidak boleh marah.

Ha Na menepuk-nepuk kursi di sampingnya memberi pesan nonverbal pada Baek Hyun untuk segera duduk. “Aku ingin memelukmu.” Minta gadis itu.

“Tidak, Chan Yeol baru saja menghubungiku kalau ia sedang butuh bantuan untuk pratikum.” Baek Hyun menolak dengan halus, ia sudah berbalik untuk bersiap-siap pergi menolong sahabatnya. Ha Na berdiri, sedikit kesulitan dengan perut dan mangkuk anggurnya.

“Jangan pergi,” Ha Na menarik kemeja putih pria itu. Tidak berhenti dengan hanya menarik kemeja Baek Hyun, Ha Na meraih tangan pria itu lalu mengusapkan pada perutnya yang memang sudah mulai gendut. “Bayi kita tidak ingin kau pergi.” Hana menyambung rayuan agar Baek Hyun tidak pergi.

“Sayang, Chan Yeol menghubungi ku dengan suara hampir menangis. Aku rasa dia benar-benar dalam masalah besar dengan Profesor Jung. Dia perlu bantuanku.” Ucap Baek Hyun sambil mengelus perut istrinya dengan lembut.

Ha Na tetap tidak terima. “Kau tega aku sendirian di rumah.” Rengek Ha Na lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

Baek Hyun tersenyum, Ha Na benar-benar menggemaskan jika sedang kesal.

“Eomma akan datang sebentar lagi. Aku memintanya untuk menemanimu.”

“Jadi, kau lebih memilih Chan Yeol Oppa daripada aku!” Alasan lain. Ha Na bersungut-sungut sambil merubah posisi tangannya menjadi berkacak pinggang.

Gadis itu terlihat lebih lucu. Ia sekarang seperti Teletubies yang sedang kesal. Perutnya sangat cocok untuk dipencet-pencet. Ditambah lagi gadis itu sekarang sedang menggunakan piama Baek Hyun yang bergambar kura-kura dengan ukuran lebih besar dari tubuhnya.

Baek Hyun menatap dengan seksama gadisnya. Ha Na menjadi lebih berantakan daripada enam bulan sebelumnya. Ha Na yang awalnya sangat menjunjung tinggi kebersihan, gemar mengkritik Baek Hyun yang jarang sekali mandi, dan berganti pakaian sekarang malah bertingkah seperti duplikat Baek Hyun. Pria itu yakin kalau gadis yang sedang melotot ke arahnya sekarang belum mandi sedari pagi. Bahkan, Ha Na tidak mau menyisir rambut sebahunya kalau tidak Baek Hyun yang melakukan atau tidak mau mandi jika suaminya tidak ikut mandi. Dan… mandi disaat yang sama dengan Ha Na membuat Baek Hyun harus pandai-pandai meredam hasratnya. Sudah lupakan, jangan bicara soal hasrat. Baek Hyun sudah cukup kerepotan memikirkan ini itu—jangan ditambah dengan hasrat.

Baek Hyun kembali duduk di kursi. Pria itu menyerah, Ha Na terlalu menggemaskan untuk ditinggalkan. Sekarang, gantian pria itu yang menepuk-nepuk kursi mengisyaratkan Ha Na untuk kembali duduk. Ha Na membuang muka, tidak berencana untuk duduk di dekat Baek Hyun. Ia masih kesal.

“Duduklah.”

“Tidak aku mogok berdekatan denganmu.” Ha Na cemberut.

“Apa kau yakin?” Tanya Baek Hyun jahil. Baek Hyun merentangkan kedua tangannya. Lalu, pria itu mengendus ketiaknya berlebihan. “Baunya sangat enak. Kau benar-benar tidak tertarik?” Baek Hyun mengeluarkan nada menggoda sambil terus mempromosikan ketiaknya.

Ha Na menarik napasnya berat. Ia mencuri pandang Baek Hyun. Lebih tepatnya ketiak Baek Hyun. Gadis itu memejamkan mata. “Aku tidak tergoda!” Gadis itu tetap teguh, tetapi tidak dengan hidungnya yang sudah mengendus udara, mulai tertaik.

Tangan Baek Hyun bergerak melepas satu persatu kancing kemeja putihnya dengan seduktif. Hal itu membuat Ha Na melongo. Gadis itu menggigit bibirnya. Demi Tuhan, Byun Baek Hyun, ucap Ha Na dalam hati.

Setelah berhasil melepas kemejanya dan membuangnya entah kemana, Baek Hyun kembali merentangkan kedua tangannya. Ia masih berusaha mempromosikan ketiaknya. “Benar-benar tidak menginginkannya, Byun Ha Na?”

“Kalau tetap tidak menginginkannya aku akan memakai kemeja ku lagi.” Tambah pria itu yang sekarang bersiul menggoda.

Ha Na sudah tidak tahan. Sangat tidak tahan, tepatnya. Ketiak Baek Hyun akhir-akhir ini membuatnya gila. Dia memang sudah gila gara-gara kehamilannya.

Ha Na memilin ujung piama.

Bergulat antara gengsi dan kegemarannya dengan ketiak Baek Hyun.

Ketiak Baek Hyun.

Ketiak Baek Hyun.

Ketiak Baek Hyun.

Ketiak Baek Hyun.

Ketiak Baek Hyun. Pikiran Ha Na berulang kali mempersuasi kerja tubuhnya untuk ketiak Baek Hyun.

Hobi baru Ha Na—mengendus ketiak Baek Hyun, memenangkan pergulatan batin.

Gadis itu segera berhambur duduk bersama Baekhyun, lalu tenggelam dalam pelukan suaminya. Baek Hyun mengelus kepala Ha Na dengan lembut, kadang-kadang berjengit kegelian karena hidung Ha Na terus saja menggerayangi ketiaknya. Ekspresi puas terpampang jelas di wajah gadis itu. Bayi mereka sangat menyukai ketiak ayahnya. Ha Na bisa tertidur pulas di dalam dekapan ketiak Baek Hyun seharian. Maka, dari itu Baek hyun akhir-akhir ini tidak tega meninggalkan Ha Na sendirian di rumah. Ha Na akan mual jika sehari saja tidak menghirup aroma tubuh Baek Hyun. Kegemaran yang menggelikan, memang.

“Pelan-pelan, baby. Geli.” Ucap Baek Hyun dengan sabar.

Ha Na mendongakkan kepala, “Sebenarnya apa yang aku lakukan sekarang memalukan.” Gerutu gadis itu, lalu menenggelamkan kepalanya lagi di ketiak suaminya.

Baek Hyun terkekeh. Dia masih mengingat bagaimana Ha Na merengek minta mengendus ketiaknya waktu mereka belanja di supermarket atau pada saat reuni sekolah mereka. Beberapa kejadian lain yang kalau diingat sungguh di luar kewajaran dan selalu dapat mebuat Baek Hyun terbahak-bahak.

Semua orang yang melihat terheran-heran karena hobi baru Ha Na.

“Ini tanda kalau anak kita mencintai ayahnya.” Kata Baek Hyun ditengah-tengah kekehannya.

Ha Na menarik kembali wajahnya, menjembul. Gadis itu merayap ke pangkuan Baek Hyun lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu. “Tapi, hal itu menyengsarakan ibunya.”

“Jadi, kau merasa keberatan mengendus ketiak ku?” Tanya Baek Hyun disertai dengan bibirnya yang mengerucut. Sungguh, lucu. Sekarang prianya mirip sekali seperti bocah umur lima tahun, tapi pemikiran itu segera ditepis oleh Ha Na. Gadis itu mengingat bagaimana Baek Hyun mengerjainya setiap malam, benar-benar jauh dari wajah bocah menggemaskan yang sekarang ditunjukkan.

“Aku hanya takut kau malu karena akhir-akhir ini, aku sering sekali berbuat konyol.” Ha Na mengakui kegelisahannya.

“Memangnya kau pernah bersikap normal sebelum hamil? Byun Ha Na sudah menjadi manusia bertingkah konyol seumur hidupnya. Jadi, tidak usah sok malu.”

Ha Na mendengus. Seharusnya, Baek Hyun berkata manis atau mengatakan kalau istrinya tidak bertingkah konyol. Yah, perkataan cinta yang romantis juga seharusnya bisa dijadikan pilihan. Tapi, dasar Baek Hyun bodoh mana mungkin dia memikirkan hal-hal itu, pikir Ha na.

“Benar-benar menyebalkan.” Ucap Ha Na nyaris tidak terdengar.

Gadis itu hendak berdiri, marah.

Lantaran dapat berdiri, Ha Na malah semakin erat di dalam dekapan Baek Hyun. Tangan kiri pria itu menarik istrinya semakin melekat ke tubuhnya yang bertelanjang dada.

“Tapi, dengar Byun Ha Na. Kau itu prioritas utamaku. Sekonyol apapun tingkahmu aku tetap tidak bisa hidup tanpamu. Gadis sensitif.” Baek Hyun mengakhiri ucapannya dengan menggosokkan hidungnya dengan hidung Ha Na. Pria itu mencuri satu lumatan di bibir Ha Na, tidak lebih. Ia takut berurusan dengan hasrat yang berakhir di tempat tidur dan itu tidak baik untuk bayi mereka.

Err… dia sedikit liar di tempat tidur… dan bercinta, tentu saja.

“Dasar tukang merayu. Rayuanmu menyedihkan seperti dialog opera sabun.” Cela Ha Na, tapi hati gadis itu tetap saja luluh. Ia meletakkan kepalanya dipundak Baek Hyun. Mengagumi karya sempurna Tuhan yang sekarang menjadi miliknya. Ha Na merasa Tuhan sedang dalam mood yang sangat bagus saat sedang menciptakan Baek Hyun.

Menarik.

Tampan.

Menawan.

Dan sangat mudah dicintai.

“Baek Hyun.”

“Hm.”

“Oppa.”

“Apa sayang?”

“Aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu.”

“Baek Hyun?”

“Ne?”

“Kenapa hanya ‘ne’ tidak ada kata sayang.”

“Baiklah, aku ralat. Apa sayang?”

“Aku menginginkan sesuatu lagi.”

“Lagi?”

“Bayi kita yang ingin, bukan aku.”

“Iya-iya-iya, apa yang bayi kita inginkan?”

“Aku…”

“Iya, cepat katakana kau ingin apa.”

“Berjanjilah dulu kau akan memenuhi keinginanku.”

“Ayolah, Ha Na.”

“Berjanji dulu.”

“Aku berjanji.”

“Aku…ingin..emm.”

“Lanjutkan sayang.”

“Berjanjilah jangan marah.”

“Tidak aku tidak akan marah. Lalu kau ingin apa?”

“Aku ingin…”

“Cepat Byun Ha Na. Aku mengantuk.”

“Bercinta.”

“….”

“Aku ingin bercinta.”

“APA?”

“Aku mohon. Aku ingin bercinta, sekarang!”

           *** Run Baby!***

Advertisements

85 thoughts on “Run Baby!

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s