Good Afternoon

good aftenoon

Author

 Twelveblosom

Cast

Sehun & Jung Nara

Genre Romance

Rating PG-15

Length One Shoot

Inspired by Cheeky Romance – Kim Eun Jeong

Author’s Note:

Setelah menyelesaikan Good Morning, jadi tergoda untuk membuat Good Afternoon tapi dengan cast yang berbeda. Selamat membaca^^.

***Good Afternoon***

Siang Nara menjadi sangat aneh belakangan ini.

Campur aduk seperti adonan kue.

Siang Nara, dihabiskan di ruang praktek dokter kandungan.

Jangan-jangan dia hamil.

Atau… tidak?

***Good Afternoon***

“Jangan merajuk seperti itu. Seharusnya kau mengucapkan ‘good afternoon, baby’ bukan malah cemberut,” ucap Sehun dengan nada bercanda. Pria itu baru saja memasuki ruang prakteknya. Mendapati seorang gadis memakai rok merah muda dan baju bergambar bunga-bunga sedang melipat ke dua tangan di depan dada.

“Aku benar-benar merasa dibohongi,” lawan bicara Sehun menjawab. Nada kesal kentara merasuki kalimatnya. “Kau bilang pelatihan itu hari ini, ternyata kemarin,” sambung Jung Nara.

Sehun berjalan mendekati gadis itu lalu sengaja meletakkan gelas karton yang ia bawa ke pipi Nara. “Kemarin kau masih flu, kalau datang bisa menulari peserta yang lain—”

“—Ugh! Ini grain latte. Setidaknya, kau menyogok ku dengan Americano,” protes Nara setelah menyesap minuman yang disodorkan Sehun.

Americano hanya bisa diminum setelah sembelitmu sembuh.” Sehun berkata acuh. Ia lalu duduk di kursi kerjanya.

Ayolah, Oh Sehun—dokter tampan yang diklaim sebagai milik Nara. Seenaknya saja ia mengungkit-ungkit masalah sembelit di depan muka gadisnya. Sembelit itu memalukan. Well, pacaran dengan seorang dokter lalu punya penyakit tidak elit­—sembelit, membuat mental Nara sedikit terguncang.

“Jangan membahas soal sembelit. Itu topik yang menyebalkan.”

 “Baiklah, bagaimana jika membahas tentang erangan? Eum, misalnya eranganmu setiap pagi saat—”

“—Aku tidak mengerang saat buang air besar! Demi apapun, Oh Sehun apa aku datang ke ruang praktek mu dan mengorbankan istirahat makan siang hanya untuk membicarakan sembelit!” Nara memutar bola matanya. Gadis itu duduk di kursi berhadapan dengan Sehun.

Pria itu malah tertawa menghadapi ekspresi cemberut dari kekasihnya. “Sembelit itu penyakit yang penting untuk dibahas, Nara. Sembelit berkepanjangan bisa menyebabkan tumor usus.” Sehun menjelaskan dengan mengelus-elus janggutnya, seakan-akan ia memiliki jenggot panjang disana.

Nara menopang dagunya dengan tangan. “Bisa tidak kita berhenti membahas sembelit,” kata gadis itu lemas. “Aku tidak tahan dengan ejekan perawat Kim. Apalagi, jika ia tahu aku tidak berhasil mendapatkan sertifikat.” lanjut Nara.

Lagi-lagi Nara membahas soal sertifikat. Taejun Hospital, tempat Sehun bekerja sedang mengadakan program pelatihan penangan kondisi darurat yang bisa diikuti oleh khalayak umum. Gadis itu tertarik mengikuti program itu. Jung Nara sangat tergila-gila dengan bidang kesehatan, tapi otaknya yang tidak mumpuni dan sifat pemalasnya berujung pada pedoman bahwa dirinya tidak ingin menjadi dokter.

Membingungkan?

Yeah, jalan pikiran gadis itu terlalu berkelok dan menukik tajam untuk dipahami.

“Perawat Kim hanya bercanda padamu.” Sehun menanggapi kegelisahan Nara. Pria itu sekarang sedang sibuk memeriksa tumpukan kertas data pasien yang ditanganinya.

Nara menghembuskan napas berat. Sehun tidak pernah mengerti tekanan batin yang dirasakan kekasihnya—jujur saja Nara sensitif akhir-akhir ini. Perawat Kim—Kim Hana adalah salah satu penggemar Sehun, dari sekian banyak perawat di rumah sakit ini. Memang, perawat itu mencemooh Nara dengan nada bercanda, namun kentara sekali Hana mendiskriminasi Nara. Perawat itu menyamakan Nara dengan itik hitam buruk rupa yang tersesat di rumah sakit, setiap Nara datang ke tempat kerja kekasihnya.

“Kau tidak tahu perasaan wanita!” Seru Nara kesal. Gadis itu melampiaskan kekesalannya dengan menyeruput banyak-banyak grain latte-nya.

Sehun berhenti dari kegiatannya lalu menatap Nara sekilas. Pria itu memberikan tatapan berisik sekali gadis ini, padahal umurnya sudah 22 tahun. “Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku benar-benar kesal karena tidak bisa ikut pelatihan. Ini buktinya grain latte yang biasanya hanya aku minum setengah, sekarang sudah aku habiskan.”

Sehun meletakkan map yang ia pegang, lalu mencondongkan badan agar bisa mendekatkan diri kepada kekasihnya. “Aku sudah mendapatkan sertifikat itu tiga tahun lalu.” Ucap Sehun, tangan pria itu menghapus sisa latte yang berada di ujung bibir Nara. Menyentuh bibir kekasihnya sekilas dengan ibu jari. Andai saja, mereka tidak sedang di rumah sakit sekarang. Mungkin Sehun sudah menggantikan ibu jarinya dengan bibir….

Gadis itu terlalu menggoda.

“Lalu?”

“Aku bisa mengajarimu. Ujiannya masih seminggu lagi.”

“Kalau begitu ajari aku—”

“—Dengan gratis? Yang benar saja.”

“Apa yang kau inginkan dariku Sehun?”

Sehun mengernyitkan dahi. Ia tampak berpikir keras. Kepalanya masih melongok mendekat ke arah wajah kekasihnya. “Menikahlah denganku.” Jawab Sehun.

DUK!

Bunyi suara benturan kepala dengan kepala terdengar. Nara membenturkan kepalanya dengan kepala Sehun. Pria itu langsung terjembab kembali ke tempat duduknya.

Menikahlah dengan ku?

Apa pria itu bercanda?

Itu sebuah lamaran dan Sehun mengtakannya dengan gaya tengil.

Jung Nara adalah seoarang penulis dongeng di majalah anak-anak. Ia selalu hidup sebagai putri di kerajaan dongeng. Maksudnya begini, gadis itu ingin sekali mendapatkan lamaran romantis. Di beri bunga mawar yang super banyak. Diajak makan malam dengan ribuan lilin, lalu kekasihnya berlutut memberikan cincin. Sekarang Sehun malah mengacaukan segalanya. Ugh.

“Aku paham kalau kau terlalu terkejut karena aku memintamu menikah denganku, tapi jangan merusak kepalaku,” kata Sehun dengan cemberut. Pria itu mengusap kepalanya.

Nara menghela napas dalam-dalam dan menunduk sejenak. Mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan pekikkan keras, “Cepat ajari aku atau…” Nara menggantungkan ucapannya.

“Atau apa, Jung Nara-ssi?

“Atau aku tidak akan sudi menikah denganmu selamanya,” tegas Nara dalam satu tarikan napas. “Lagi pula, aku merasa seperti orang mengidam. Well, mengidam mendapatkan sertifikat itu,” lanjut Nara sambil mengelus perutnya.

Memangnya, Nara hamil?

Mana mungkin, Sehun dan Nara belum menikah.

Tapi, siapa tahu?

Eung, okay never say never.

Sehun tersenyum penuh arti mendengar ucapan Nara. Sebagai respon, ia segera bangkit dari tempat duduk lalu mengambil jas dokternya. Menarik gadis itu untuk keluar dari ruang praktek.

Sambil berjalan di lorong rumah sakit dengan tangan Nara berada di genggaman-nya, Sehun berbisik sekilas ke telinga kekasihnya. “Ini terdengar aneh, tetapi aku benar-benar ingin menciumu saat kau marah atau saat kau berteriak kesal seperti tadi.”

Efeknya?

Pipi Nara bersemu merah.

***Good Afternoon***

“Kau tidak perlu mengajari ku sekarang, lain kali juga bisa.” Tidak tahu kenapa Nara malah merasa enggan belajar. Mereka sekarang sedang di ruang luas berdinding biru yang penuh dengan manekin. Nara tidak tahu ruangan apa itu, satu hal yang pasti Nara merasa sedikit… err takut. Dari dulu gadis itu memang tidak suka dengan boneka—manekinkan mirip boneka, menurut Nara.

Sehun memeluk sebuah manekin lalu meletakkannya di lantai. “Jangan takut inikan cuma manekin. Mengajarimu sekarang lebih baik, lagi pula jam istirahat makan siang berakhir satu jam lagi. Jadi, kita masih punya waktu,” ucap Sehun panjang dan lebar. Tangan Sehun menarik Nara untuk mendekat.

Nara mendekat dengan takut-takut, tatapan takutnya berubah menjadi bingung. “Aku baru tahu kalau belajar menolong orang harus menggunakan manekin. Itu mengerikan, aku membayangkan kalau manekin ini mirip manusia.”

“Ini manekin khusus untuk pelatihan CPR,” terselip nada bangga pada kalimat Sehun. Yah, walaupun sebenarnya manekin ini bukan punya Sehun.

“CPR itu apa?” Tanya Nara polos.

Tersurat ekspresi terkejut luar biasa dari wajah Sehun setelah mendengar pertanyaan Nara. Seakan-akan Nara, baru saja menanyakan apakah Sehun impoten atau pertanyaan lain tentang alien yang datang ke bumi. “Apa kau benar-benar tidak tahu? Kau berkencan dengan ku selama tiga tahun dan tidak tahu CPR itu apa, sayang?”

“Bagaimana aku bisa tahu? Setiap kali kita bertemu hanya berciuman, berdebat, dan berakhir di ranjang,” jawab Nara acuh.

Sekarang giliran Sehun yang menghembuskan napas berat. “CPR itu salah satu materi yang diajarkan pada pelatihan penangan kondisi darurat. Cardiopulmonary resuscitation adalah teknik penyelamatan hidup dalam keadaan darurat. CPR berguna untuk menjaga agar darah yang mengandung oksigen mengalir ke otak dan organ penting lainnya.” Sehun memberikan penjelasan.

Sehun tersenyum senang melihat Nara mengangguk-anggukkan kepala. Pria itu mengira jika Nara sudah paham dengan penjelasannya. Sehun membusungkan dada, berpikir ternyata dirinya cocok menjadi seorang guru.

 “Aku ingin bertanya,” ucap Nara setelah berulang kali menganggukkan kepala.

“Tanyakan saja.”

“Siapa nama manekin ini?”

Sehun melongo. Pria berambut blonde itu, mengira Nara akan bertanya seputar CPR atau hal lain yang berkaitan dengan materi.

“Apa itu penting, Jung Nara?”

“Tentu saja penting, kau bilang kita akan menyelamatkan nyawanya. Aku perlu tahu siapa namanya, siapa tahu aku tidak berhasil menyelamatkannya,” jawab Nara dengan sedih, ia meringkuk di dekat manekin. Seakan-akan sang manekin korban pelecehan.

“Panggil dia Momo,” kata Sehun sedikit frustasi.

Nara tersenyum lebar sekali, lalu menatap Momo dengan penuh penghayatan. “Baiklah Momo. Aku akan menyelamatkan mu.”

 “Bisa kita lanjutkan?”

“Tentu, cepat lanjutkan. Momo sedang sekarat, bukan?”

“Baiklah,” wajah Sehun kembali serius, menatap Nara dengan tatapan seperti Sehun beralih profesi menjadi seorang guru. Mereka berlutut di dekat Momo.

“Pertama, kau harus memeriksa apakah ia sadar atau tidak.” Sehun memulai penjelasannya. Pria itu mengetuk wajah Momo, kemudian menempelken telinganya ke dada Momo.

“Kedua, kau harus mengecek apakah suara jantung dan napasnya masih ada. Satu lagi, pastikan bahwa di mulutnya tidak ada cairan. Jika, ada cairan, maka miringkan kepalanya.” Sehun menjelaskan dengan sungguh-sungguh diikuti anggukan kepala Nara.

Gadis itu berjongkok di dekat Momo dan Sehun yang sedang berdemostrasi tentang CPR. Tetapi fokus Nara berbeda, pikirannya sedang berputar memikirkan hal lain. Gadis itu berpikir tentang…

Kenapa Sehun sangat tampan dengan jas dokternya?

Kenapa Sehun terlihat menarik saat menekan dada Momo?

Tunggu! Menekan dada Momo?

Nara lupa, menanyakan apa Momo laki-laki atau perempuan. Siapa tahu, Momo sebenarnya adalah tuan putri yang dikutuk menjadi manekin.

Bisa jadikan, di dalam dongeng menceritakan tentang kutuk-mengkutuk lalu yang dikutuk mencintai penyelamatnya. Biasanya mereka berciuman dan kutukan terpatahkan kemudian, mereka menikah. Bahagia selamanya.

Momo dan Sehun menikah?

Hal bodoh macam, apa itu?

Tidak masuk akal.

….Tapi Nara harus tetap berjaga-jaga.

“Lakukan pernapasan buatan dua kali dan dengarkan kembali suara napasnya. Jika tidak terdengar berarti masalah ada pada jantung. Tumpukan kedua tanganmu seperti ini, lalu letakkan di antara dada dan perut dan lenganmu harus lurus. Saat memberikan napas buatan harus ada udara yang masuk.”

Sehun mendekatkan wajahnya ke Momo akan mencontohkan bagaimana cara memberi napas buatan.

“Tunggu!” Sela Nara, membuat Sehun berhenti.

“Ada apa?” Tanya Sehun lalu menegakkan kembali badannya.

“Kau tidak perlu berciuman dengannya—”

“—Itu napas buatan bukan berciuman.”

Nara mengusap tengkuknya, dia agak ragu. “Tetap saja, Sehun. Kalian akan berciuman.”

“Jangan bilang kau cemburu dengan manekin.”

Nara mengerakkan jarinya, gadis itu tetap melalang buana tentang dongeng manekin yang berubah jadi putri cantik.

Baiklah, Nara kekanakan. Nara terjebak dalam dongengnya. “Tidak hanya saja.”

“Hanya saja?”

“Aku bosan bermain dengan manekin.”

Sehun memiringkan kepala dan menatap Nara tajam, “Kau pasti sedang berpikir bahwa manekin itu adalah putri raja yang sedang dikutuk menjadi manekin.”

Bingo, Sehun dapat membaca pikiran Nara.

“Hahaha. Apa aku gila?” Nara tertawa canggung. Gadis itu tidak bisa lebih malu lagi daripada sekarang.

Nara berdiri masih tertawa dengan canggung.

“Kalau begitu biar aku contohkan caranya.” Sehun tetap memaksa menemukan bibirnya dengan bibir si Momo.

Nara dengan cekatan kembali berjongkok dan menyeruduk Sehun dengan kepalanya—agar bibir Sehun tidak bertemu dengan Momo.

Duk!

Suara benturan kepala dengan kepala kembali terdengar lagi. Tapi, kali ini Nara tidak sengaja. Sebenarnya gadis itu hanya ingin menarik Momo menjauh dari Sehun. Apa daya, pipi sebelah kanan Sehun malah tergores bando duri Nara.

“Ah, kenapa kau pakai duri sialan itu sebagai hiasan rambut?” Tanya Sehun kesal sambil memegangi pipinya yang berdarah, sedikit.

“Ini sedang model, tau. Apa sakit?” Tanya Nara. Gadis itu berdiri dari tempatnya lalu mengulurkan tangan membantu Sehun unutuk berdiri.

“Tentu saja, sakit.”

“Maaf,” Ucap Nara lalu mengelus pipi Sehun.

“Tidak ada yang gratis—”

“Kau memintaku menikah, lagi? Ugh, sudah kubilangkan aku tidak mau—”

“—Traktir aku makan siang. Aku ingin mengatakan sesuatu.” Sehun memotong penjelasan Nara.

Gadis itu tampak berpikir, porsi makan Sehun sangat banyak. Dia akan bangkrut, tetapi menjauhkan bibir Sehun dari manekin ini lebih penting sekarang. “Baiklah. Ayo kita makan siang dan buang manekin jelek itu,” kata Nara lalu menggelandang Sehun pergi.

***Good Afternoon***

Mobil hitam Sehun menjadi tempat makan siang mereka. Sehun menikmati burger daging ayam dengan coffee latte sebagai minumanya. Nara menggerutu menyesap grain latte dan salad bayam yang sekarang berada di pangkuannya.

Nara memang yang mentraktir, tetapi Sehun yang sok sebagai penentu menu makanan mereka. Sudah dua minggu ini, Sehun jadi over protective pada Nara. Pria itu menentukan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan kekasihnya.

Oh, lihatlah! Sehun bisa meminum kopi sepuasnya dan makan, makanan cepat saji tetapi melarang mentah-mentah kekasihnya melakukan itu. Tidak adil.

“Jangan menekuk wajah. Itukan demi kesehatanmu.”

Nara menatap Sehun dengan sinis. “Biar saja aku mati. Tadi kau bilang ingin memberitahuku tentang sesuatu. Cepat katakan.”

“Kau sedang menstruasi ya? Dari tadi emosi terus.” Perkataan Sehun benar-benar keluar dari topik.

Nara melengoskan kepala.

“Aku rasa belum, tadi pagi kita masih bisa bercinta tandanya kau belum datang bulan. Apa kau baru saja datang bulan siang ini?” Selidik Sehun.

Pertanyaan itu malah membuat wajah Nara bersemu merah—memikirkan kembali kegiatan mereka tadi pagi.

Bagi Sehun mengurusi, kapan seorang wanita datang bulan, ibu hamil, dan wanita melahirkan sudah biasa. Sehun itu seorang dokter kandungan. Huh.

“Aku tidak sedang datang bulan.”

“Kapan kau terakhir datang bulan?”

Pertanyaan Sehun itu membuat Nara memutar otaknya untuk menghitung. Kalau tidak salah ia terakhir datang bulan… Eum… tanggal 13 bulan lalu. Tunggu, sekarang sudah tanggal 30 itu artinya datang bulannya mundur 17 hari.

Apa mungkin…?

“Sehun—” Nara menoleh ke arah kekasihnya. Sehun sudah menyeringai lebar.

“Apa sayang?”

“Datang bulanku…”

“Kenapa?”

“Mundur 17 hari,” Nara mengatakan itu dengan ekspresi, seperti ia baru saja melihat hantu.

Sehun malah memasang ekspresi tenang. Tidak ada raut terkejut, sepertinya Sehun sudah tahu Nara hamil dari jauh-jauh hari. “Kita melakukannya saat kau dalam masa subur,” terang Sehun.

Nara hanya menatap Sehun nanar.

“Kau bahkan tidak sadar jika datang bulanmu telat.”

Nara membuka sedikit bibirnya.

“Kau tidak sadar jika kau lebih emosional dari sebelumnya. Bahkan mengira manekin itu putri raja—serius Nara itu sangat tidak masuk akal, kau sedang diliputi oleh emosional.”

Nara memberikan tatapan yang tidak terdefinisi pada kekasihnya.

“Belakangan ini kau sering mual. Kau malah mengira dirimu keracunan makanan.”

Nara meggumamkan kalimat aneh.

“Kau sembelit. Aku khawatir jika bayi kita akan—mangkanya aku—ah sudahlah. Sebenarnya aku ingin memberitahumu lebih awal kalau kau hamil tapi—”

“Kapan kau terakhir berciuman?” Nara memotong ucapan Sehun.

Sehun menautkan alisnya bingung. Pria itu hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun gerakan cepat Nara membungkamnya.

Nara menarik kerah kemeja Sehun. Gadis itu menyatukan bibirnya dengan bibir Sehun. Ada dorongan kuat dari Nara sedari tadi. Melihat Sehun panik. Menerima kenyataan bahwa di perutnya akan ada nyawa lain. Ada sesuatu yang yang akan hidup disana dan yang paling penting itu anak Sehun. Perasaan menggelitik aneh menyeruak, membuat seluruh tubuh Nara berdesir.

Desiran itu menjadi musik tautan pertemuan bibir mereka.

Manis. Bukan hanya manis saja…

Bibir Sehun terasa seperti burger daging sapi.

Bukankah Sehun baru saja memakan burger ayam?

Kenapa jadi terasa seperti daging sapi?

Apa bedanya daging sapi dan daging ayam?

Otak Nara terlalu sibuk berciuman dengan Sehun untuk memikirkan perbedaan daging ayam dan daging sapi.

Gadis itu mengeratkan genggaman tangannya pada kemeja Sehun saat merasakan balasan dari lumatan Sehun. Memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tangan Sehun yang usil perlahan meraba paha Nara hendak menyingkap rok itu.

“Aku sedang hamil, Oh Sehun. Jangan macam-macam.” Nara berbicara di bibir Sehun.

“Kita tetap bisa melakukannya, asal pelan-pelan,” bisik Sehun di tengah-tengah kecupannya pada leher Nara.

“Kau harus menikahiku besok.”

“Tentu saja, kau belum mengucapkan selamat siang untukku dan sekarang malah memintaku menikahimu.”

Good afternoon, Oh Sehun aku mencintaimu.”

Good afternoon, baby. Aku lebih mencintaimu.

***Good Afternoon***

Advertisements

162 thoughts on “Good Afternoon

  1. Ngebayangin Sehun jadi dokter itu udh seneng bgt..
    Ditambah humoris giniii aaaaa, makin ngena..
    Tapi ternyata mereka blm nikah juga, ya? Cepet nikah lagi deh buat kalian di versi ini 😅
    Mantap, Kaa 👍👍👍

  2. uh sehun beneran gemesin bgt disini-.- baru pertama kali baca ff sehun yg jadi dokter kandungan, uh, pasti malu kalo mau konsultasi sama dokter yg satu ini hahahaha
    karya kak titis selalu bagus kak, author kesukaanku ♥♥

  3. Tbh aku udah pernah baca ff ini di skf, trmsk fflist terfavorit;” tapi aku baru bca ini di wp kamu sekarang hehe gak bosen kkkkk disini sehun nya badhayyy as dokter kandungan;”

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s