Pimple

Author

Twelveblossom

Cast

Kyungsoo & Jisoo (OC)

Length One Shoot

Genre Friendship

Rating PG-13

This story line is mine, please don’t copy paste.

Prompts Challenge Shirae Mizuka.

***Pimple***

Jisoo bersumpah, nanti kalau Kyungsoo punya jerawat ia harus menjadi alasan munculnya jerawat itu di wajah Kyungsoo.

***Pimple***

Usia Jisoo empat belas tahun waktu itu. Jisoo sedang berada di dapur keluarga Do, berusaha memotong wortel dengan bentuk bulat dan tipis. Hasilnya, malah tidak beraturan dan tebal. Berulang kali bahunya turun karena napas berat. Bakat memasaknya tidak pernah meningkat. Memang usianya masih belia, namun gadis itu ingin sekali menjadi koki profesional.

Apa seorang koki?

Apa Jisoo bercanda?

Membedakan mana gula mana garam saja tidak bisa.

Hai, Kim Jisoo usahamu itu akan sia-sia. Lebih baik kau menyerah—tunggu.

Lamunan Jisoo tentang bakat memasaknya, terhenti saat ada tangan lain yang berasal dari belakang tubuhnya mengambil alih pisau. Seseorang memeluknya dari belakang, tangan dari pemilik tubuh itu membimbing Jisoo. Dan, bingo! Satu bulatan wortel terpotong dengan sempurna.

“Memotong wortel saja tidak bisa. Katanya, kau mau jadi koki.” Kyungsoo berbicara dibalik punggung Jisoo.

Jisoo berdekatan langsung dengan pemuda itu, jantungnya hampir saja melompat. Kalau terus-terusan begini, Jisoo bisa mati muda. Kyungsoo, benar-benar tidak peka. Tetangga Jisoo itu benar-benar harus—ah, harus apa?

Kyungsoo sebenarnya tidak bersalah disini. Jisoo saja yang bodoh, menjadikan pemuda itu sebagai pacar. Di saat teman-temannya yang dalam masa pubertas itu membicarakan tentang pacar, Jisoo mendadak cemas. Dia ikut-ikut ingin cepat-cepat mempunyai pacar.

Jisoo terlihat bodoh ketika teman-temannya membicarakan tentang berkencan atau semacamnya. Sumpah, Jisoo tidak tahu pacar itu apa. Apalagi, ketika teman-temannya bercerita tentang bagaimana mereka berbagi satu gelas jus jeruk dengan pacar mereka. Ugh, membayangkannya saja Jisoo sudah berkidik ngeri. Jus jeruk adalah minuman favorit Jisoo. Membagi jus jeruk dengan orang lain, jelas tidak mungkin. Eum, ada pengecualian disini, Jisoo biasanya membagi jus jeruknya pada Kyungsoo. Well, mendapatkan fakta itu, akhirnya Jisoo memutuskan untuk menjadikan Kyungsoo sebagai pacarnya. Bisa diambil kesimpulan disini, definisi pacar menurut Jisoo adalah siapa saja yang mendapatkan setengah bagian dari jus jeruk miliknya. Oleh karena itu, Jisoo memutuskan pemuda yang berusia dua tahun lebih tua darinya—Kyungsoo, telah resmi menjadi pacarnya.

Okay, keputusan sepihak.

Err, tapi Jisoo merasa sangat gembira atas keputusannya.

Jisoo tiba-tiba terkikik geli karena memikirkan tentang pacar. “Oppa kau bau,” kata Jisoo sembari membalik tubuhnya lalu mendorong tubuh Kyungsoo. “Ganti pakaianmu dulu, kemudian bantu aku dan bibi menyiapkan makan malam. Hari ini ulang tahun paman, jadi kita harus memasak sesuatu yang yummy.” Perintah Jisoo.

Hari ini memang ulang tahun ayah Kyungsoo. Jisoo sebagai tetangga yang baik dan demi melancarkan cita-citanya menjadi seorang koki, maka dari itu Jisoo merecoki ibu Kyungsoo memasak.

“Aku tidak bau. Aku selalu wangi,” balas Kyungsoo sambil membuka ketiaknya lebar-lebar di depan wajah gadis itu.

Jisoo melotot kesal melihat Kyungsoo dengan baju seragam yang bau, sekarang malah memamerkan ketiak. “Oppa, kau seharusnya memakai deodorant.” Jisoo memencet hidunya. “Kau dalam masa pubertas, bau badanmu jadi tidak enak,” ungkap gadis berambut hitam itu, kini suaranya berubah seperti orang yang sedang flu.

Kyungsoo menganggukan kepalanya berulang kali sembari mengelus dagunya seakan-akan ada jenggot panjang disana. “Aku rasa kau juga sedang mengalami pubertas,” ucap Kyungsoo dengan penghayatan disertai kegiatan membesarkan matanya yang bulat.

Pipi Jisoo sekarang bersemu merah. Oh, jangan sampai ketahuan. Baru tadi pagi Jisoo membicarakan soal pubertas dengan Jinri di sekolah. Jisoo curhat kalau ia, belum pubertas mengingat dia belum pernah berkencan seperti Jinri. Tapi, Jinri malah menyangkal. Menurut Jinri, Jisoo sudah pubertas karena Jisoo sudah punya—eum…

“Kau sekarang berjerawat,” kata Kyungsoo terkejut, matanya menatap lekat wajah Jisoo. Seakan-akan Jisoo alien yang baru saja jatuh dari langit.

Dan tandanya kalau berjerawat, berarti Jisoo sudah punya pacar! Ah, yeah ini sedikit membingungkan—maksudnya, Kyungsoo memang pacarnya—tunggu bukan pacar sungguhan seperti yang ada di drama itu, bukan. Tapi, pacar asal-asalan agar Jisoo terlihat mengikuti trend yang sedang ada di kelasnya.

“Kau pasti sudah punya pacar,” cetus Kyungsoo. Tangan pemuda tanggung itu sekarang memencet-mencet jerawat yang bertengger tidak manis di hidung Jisoo.

Jisoo menggigit bibirnya. Jadi, begini rasanya diledek karena sudah punya pacar dan parahnya yang meledek adalah pacarmu sendiri. Super duper parahnya lagi, pacar yang kau anggap pacar, tidak tahu kalau dia pacarmu. Ugh, membingungkan sekali.

Kyungsoo tertawa jahil, “Oh, lihatlah! Jerawatmu besar sekali. Pasti pacarmu badannya besar.”

Konyol, teori dari mana yang dipakai Kyungsoo?

Jerawatmu, besar berarti badan pacarmu itu besar?

Apa Kyungsoo bercanda?

Tidak peduli bercanda atau tidak, teori Kyungsoo membuat Jisoo tersipu-sipu. Namun, teori Kyungsoo sedikit keliru. Badan Kyungsoo tidak besar. Kyungsoo kecil, dia pendek walaupun lebih tinggi dari Jisoo.

Eum, mata Kyungsoo besar.

Apa yang dimaksud besar sebenarnya adalah mata?

“Wah, lihat jerawatmu bentuknya oval. Pasti pacarmu itu tidak suka Matematika.” Kyungsoo menebak, semakin bersemangat.

Jisoo menautkan alisnya. Pengetahuan baru! Ternyata, kalau kau punya jerawat bentuk oval, maka pacarmu pasti tidak suka Matematika.

Kyungsoo bertepuk tangan singkat lalu cemberut. Ekspresinya berubah ekstra cepat. “Kenapa diam? Siapa pacarmu? Aku ingin tahu,” tanya Kyungsoo.

Jisoo menggosok pelan hidungnya, sengaja pelan-pelan agar jerawat itu tidak cepat pecah. Jisoo bangga memiliki jerawat karena itu tanda bahwa dia sudah punya pacar. “Aku sebenarnya sudah menganggap Op—“

“—Tunggu, biar aku tebak. Barusan setelah kau menggosok hidungmu, jerawat itu berubah menjadi segitiga. Ah! Pacarmu pasti suka sekali makan bayam.” Potong Kyungsoo lebih antusias. Mata pemuda itu berbinar, dia mirip ilmuwan yang baru saja menciptakan senjata ajaib.

Jisoo lagi-lagi sibuk mencatat di dalam pikirannya. Jerawat segita berarti pacarmu, suka makan bayam, pikir Jisoo.

Bayam?

Kyungsoo selalu menyisihkan bayam di pinggir piring. Kyungsoo otomatis melengos kalau melihat bayam.

Jisoo mengklaim Kyungsoo sebagai pacarnya di pikiran—walaupun Kyungsoo tidak tahu. Tapi, tetap saja. Teori itu melenceng.

“Oppa, jerawat segitiga itu tidak terbukti!” Seru Jisoo.

Kyungsoo nampak tidak terima, “Mana mungkin salah, itu hasil penelitian. Tapi, memang ada beberapa jerawat yang unik, tidak sesuai dengan penelitian.” Nada suara pemuda itu serius.

Huft, Do Kyungsoo, kau benar-benar sok tahu!

Jisoo tampak setuju dengan bantahan Kyungsoo. Okay, mungkin jerawat Jisoo unik. Jisoo sebenarnya tidak tahu apa arti unik dalam konteks ini. Namun, siapa yang peduli?

Jisoo tidak peduli.

Kyungsoo melanjutkan ucapannya, setelah mendapatkan sinyal bahwa Jisoo setuju soal teori bentuk jerawat. “Bisa disimpulkan kalau pacarmu itu punya badan besar, tidak suka Matematika, dan suka bayam.” Kyungsoo tersenyum bangga, menyamakan dirinya dengan detektif.

Jisoo mencerna kesimpulan dari Kyungsoo. Sepertinya, ada yang salah. Well, jerawatnya unik tapi seunik-uniknya jerawat, tebakan Kyungsoo terlalu jauh.

“Oppa, apa badanmu besar?”

“Tidak, aku langsing!”

“Oppa, apa kau tidak suka Matematika?”

“Aku menyukai Matematika itu pelajaran paling seru!”

“Oppa, apa kau suka bayam?”

“Tentu saja tidak. Bayam itu makanan sapi!”

Kepala Jisoo menggeleng ke kanan dan ke kiri, “Teori bentuk jerawatmu salah.” Jisoo mendecakkan lidah, “Kaukan pacarku seharusnya—“

“­—Apa yang kau katakan tadi? Siapa pacarmu? Aku?”

Sekarang giliran Jisoo yang mengelus-elus janggut, “Tiga hari lalu aku memutuskan kalau kau resmi jadi pacarku, Oppa.” Jisoo menjawab dengan mantap.

Kyungsoo tampak kebingungan. Mulutnya hanya membuka lalu menutup.

“Kata Jinri dia sering membagi jus jeruk dengan pacarnya. Nah, Oppa sering meminta jus jerukku lalu aku membaginya denganmu. Berarti, Oppa resmi jadi pacarku. Habis, aku kebingungan mau cari pacar siapa lagi.” Jisoo menarik napas berat, seakan akan ia memiliki beban hidup di pundaknya. “Oppa jadi pacarku ya? Sebenarnya jerawat ini simbol, Oppa.” Jisoo berucap dengan lemah.

Pemuda itu menelaah perkataan Jisoo. Ia bergumam tidak jelas. Ada keraguan di mata Kyungsoo. Ia tampak akan mengatakan sesuatu, ragu.

“Tapi Jisoo, aku sudah berpacaran dengan Jinri.”

Sebenarnya, Kyungsoo tidak tega mengatakan hal itu. Jika saja, Jisoo mengatakan kalau ia ingin menjadi pacar Kyungsoo seminggu lalu, mungkin Kyungsoo bisa membantu. Namun, Jisoo keduluan Jinri.

Air muka Jisoo berubah sangat kecewa. Oh tidak, ini patah hati pertama yang dialami oleh Jisoo. Sebaiknya, Jisoo harus melakukan apa? Apa Jisoo harus menangis? Seperti cerita di majalah remaja yang ia beli sepulang sekolah tadi. Giliran Jisoo yang bingung.

Kyungsoo menunggu respon dari Jisoo. Diam-diam pemuda itu menghitung harga es krim vanilla Pak Lee. Kyungsoo hanya berjaga-jaga siapa tahu Jisoo menangis meraung-raung setelah tidak mendapatkan pacar. Sahabatnya itu, hanya bisa dibujuk dengan es krim vanilla.

 “Jisoo—“

 “—Cukup, aku sedang kesal setengah mati. Aku sudah capek-capek memelihara jerawat ini, Oppa. Jerawat ini di hidung dan berat! Kalau tahu kau tidak mau jadi pacarku, aku sudah pakai obat anti jerawat, Ugh!” Seru Jisoo dengan tidak terima.

Baiklah, jerawat sebagai tanda bahwa seseorang sudah punya pacar itu bohong besar. Itu cuma dongeng, mitos, ah entahlah. Jisoo tidak mau lagi punya jerawat. Jisoo mau pakai obat anti jerawat saja, agar dia tidak usah punya pacar. Rasanya ada retakan aneh di hati Jisoo, walaupun sedikit. Ada rasa tidak rela, si Jinri yang sok tahu tentang pubertas itu merebut Do Kyungsoo-nya.

Tapi, kalau teori jerawat itu benar— sekarang di wajah Kyungsoo tidak ada jerawat. Memegang prinsip teori jerawat, itu artinya Kyungsoo belum punya pacar. Jangan-jangan Jinri juga menjadikan Kyungsoo pacar sepihaknya—bedanya Kyungsoo tahu kalau dia pacar Jinri.

Siapa tahu Kyungsoo tidak menganggap Jinri sebagai pacarnya?

Kyungsoo si pacar pura-pura Jinri.

Jisoo bersumpah, nanti kalau Kyungsoo punya jerawat ia harus menjadi alasan munculnya jerawat itu di wajah Kyungsoo.

***Pimple***

A/N: Hai, Hahahahahahahahahahahaha yah semoga cerita yang aku angkat ini nyambung sama topik pimple. Ini pertama kalinya ikut Prompts Challenge.  Terimakasih sudah membaca <3.

Advertisements

67 thoughts on “Pimple

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s