Sehun’s Game

sehun's game

Author

Twelveblossom

Cast

Oh Sehun & Jung Nara

Genre

Romance

Rated PG-15

Length Vignette

This story line is mine, please don’t copy paste

-oOo-

Akan sangat seru nanti, waktu kita sudah dewasa, kemudian tinggi ku melebihi Appa dan aku melamarmu, melalui permainan.

.

.

.

“Besok hari ulang tahun ku.”

“Lalu?”

“Jung Nara, ini masalah serius.”

“Iya, aku tahu. Ini serius. Besok seorang Oh Sehun, artis terkenal berulang tahun.”

“Baiklah, mana hadiahku?”

“Kau ingin apa?”

“Kau bisa memberiku apa?”

“Kau sudah memiliki semuanya. Aku bingung harus memberimu apa. Bagaimana kalau besok aku melakukan satu permintaan mu?.”

“Hanya satu?”

“Iya.”

“Tanpa penolakan apapun?”

“Iya.”

“Aku yang membuat aturan dan tidak ada penolakan?”

“Kau cerewet sekali. IYA!”

“Baiklah! Hahaha.”

Ruangan yang sebenarnya luas, terasa sangat  panas sekarang. Kain peredam suara yang melapisi dinding menyerap seluruh energi dingin yang ada. Pendingin ruangan telah dinyalakan dengan suhu terendah. Tidak ada yang berubah. Sebenarnya, bukan suhu ruangan yang disalahkan. Hanya saja, tubuh Nara memanas. Gadis itu diam, mengunci mulutnya. Ia duduk dengan gelisah di ujung ranjang. Nara sibuk merutuki diri karena menyetujui permainan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk Sehun. Seharusnya, Nara menolak. Tidak satu dua kali Nara dikerjai oleh pria jangkung itu, bodohnya ia selalu masuk ke perangkap yang sama. Pikiran gadis itu berteriak kepada pria yang sekarang sedang bersenang-senang. Sehun sibuk menikmati permainan yang menurut Nara, lebih parah dari saat ia mendapatkan nilai D di kalkulus.

Sebenarnya, permainan yang mudah. Secara bergantian Sehun akan memberikan tujuh soal pada kekasihnya. Apabila Nara tidak dapat menjawab soal, ia harus melakukan hukuman yang diberikan Sehun. Sebaliknya, jika Nara bisa menjawab pertanyaan, Sehun akan mendapat hukuman dari Nara. Menurut Nara, soal yang diberikan Sehun terlalu subjektif. Bahkan di soal ke tiga Sehun memberikan pertanyaan, “Apa yang sedang aku pikirkan sekarang?” Nara hanya menatap kekasihnya dengan tatapan tidak percaya. Demi apapun, Oh Sehun. Nara bukan cenayang. Gadis itu sangat yakin, Sehun sudah merencanakan permainan mengerikan ini dengan sangat matang. Tidak memberikan Nara kesempatan untuk menang satu persen saja.

“Lepaskan kancing ke tiga mu, sayang,” ucap Sehun sembari menahan tawa. Hiburan tersendiri untuk  pria bersurai coklat itu, melihat ekspresi protes dari kekasihnya.

Nara menggigit bibir. Tangannya bergerak melepas kancing ketiga kemeja. Sudah tiga kali ia mendaptakan hukuman. Ketiga hukuman itu meminta melepaskan kancing kemeja yang ia kenakan. Nara tahu tujuan utama Sehun atas permainan ini. Istilah kotornya, Sehun ingin membuatnya telanjang.  Dasar pria mesum!

Sehun membelai surai panjang Nara yang sedikit berantakan. Pria itu seperti gajah terkena suntikan hormon keceriaan yang tidak bisa berhenti tertawa. Secara suka rela, Sehun akan melompat-lompat kalau tidak ingat ia sedang bermain-main dengan gadisnya. Ia mendapatkan banyak hadiah mahal, tetapi permainan sederhana ini menciptakan perasaan senang, lebih dari hadiah yang lain. “Cepat katakan pertanyaan keempat!” Perintah Nara dengan nada kesal yang tidak berusaha disembunyikan. Gadis itu memainkan tangan Sehun yang tadi mengusap rambutnya.

“Hari ini kau sangat tidak sabaran,” kata Sehun lalu menegakkan posisi duduknya. Nara memberikan tatapan bosan.

Setelah jeda yang cukup lama dan menunjukkan kesenangan Sehun yang berlebihan, bibir pria itu bergerak lagi.

“Pertanyaan ke empat, ceritakan kapan dan dimana ciuman pertama kita?” Tanya Sehun, terselip raut pura-pura serius khas miliknya.

Nara tersenyum kecil mendengarnya.

Dari semua pertayaan Sehun malam ini, soal ke empat adalah yang paling masuk akal. Tentu saja, dia sangat ingat kapan dan dimana ciuman pertama mereka. Bahkan, Nara mengingat, saat itu Sehun memakai kaos kaki bergambar Doraemon dan jaket kura-kura kesangannya. Ada insiden kecil ketika ciuman pertama mereka. Nara bersin tepat sewaktu Sehun meletakkan bibirnya yang manis di bibir gadis itu. Nara masih ingat sekali, Sehun terkena flu yang sama dengan dirinya setelah mereka melakukan hal konyol di tengah hujan salju. Bagaimana Sehun menyentuh tengkuknya dengan kikuk. Bagaimana Sehun menatapnya dengan pandangan panik  seakan ia baru saja mencium singa betina. Hal-hal seperti itu mana bisa dilupakan. Mungkin seumur hidupnya. Bisa saja nanti Nara akan bercerita lagi kepada anak cucunya tentang ciuman manis di bawah pohon Natal.

Nara menjawab dengan yakin, “Malam Natal, 24 Desember 2012. Tempatnya di bawah pohon besar—taman dekat rumahku. Kau hampir menangis gara-gara aku akan berkencan dengan Jongin.” Nara menekankan bagian ‘Sehun menangis dan berkencan dengan Jongin.’

Diam-diam Nara berterimakasih kepada Jongin, jika pria seksi, tampan, dan berkulit coklat itu tidak mengajaknya berkencan di malam Natal mungkin Sehun tidak akan mengatakan bahwa ia mencintai Nara sampai sekarang.

“Salah,” kata Sehun enteng.

Nara sudah menampakkan wajah tidak terima. Gadis itu benar-benar yakin jika jawabannya sudah tepat. Satu hal lagi, kejadian-kejadian tentang Sehun selalu bercokol di otaknya. Mana mungkin salah. Ugh, Sehun pasti hanya mencari kesalahan agar dapat menelanjanginya.

“Jangan mengada-ada, Oh Sehun.”

“Siapa yang mengada-ada. Jawabanmu memang salah, Jung Nara.”  Sehun cemberut. “Ingatanmu parah, bisa-bisanya tidak ingat kapan ciuman pertama kita.” Lanjut Sehun, ada nada jengkel.

Nara memutar otak.

Apa Nara melewatkan sesuatu?

Rasanya tidak. Mana mungkin Nara lupa hal-hal manis.

Eh, mungkin saja Nara lupa. Siapa tahu Sehun menciumnya waktu ia pingsan.

Tunggu dulu, Nara tidak pernah pingsan seumur hidupnya.

Lalu?

Nara berpikir keras, sesekali melihat ekspresi Sehun yang kusut. Tawa nyaring pria itu hilang. Sungguh, Nara tidak tega melihatnya.

Sehun bergumam tentang hal-hal yang berbau sindiran seperti dasar pelupa, gadis tidak peka, kalau saja hidungnya tidak melekat terus di tempat aku yakin ia akan lupa membawanya, dan untung aku tidak menitipkan pororo kesayanganku dari Luhan gege pada gadis pelupa ini. Gerutuan Sehun yang terakhir membuat Nara sedikit err.. cemburu pada Luhan.

Gadis itu berusaha memasang senyum semanis mungkin, agar suasana hati Sehun mencair. Tidak tahu malu karena sudah melupakan kecupan pertama mereka, Nara malah bertanya dengan nada yang terdengar lugu. “Lalu, kapan?”

Sehun bersendekap, mencuri pandang sekilas. Ia menatap Nara seperti musuh bebuyutannya. “Sebenarnya, sudah lama,” ujar Sehun pelan.

Nara mengernyitkan kedua alis. Ia memberikan kesempatan agar Sehun meneruskan perkataannya.

“Benar, tanggal 24 Desember, tapi tahun yang kau katakan tadi salah.”

Nara hanya diam, pikirannya berputar. Barang kali, ada yang terlewat.

Sepertinya, dulu sekali… Astaga!

“Ketika itu usia kita masih delapan tahun,” kata Sehun. Rautnya nampak malu-malu.

Nara terkekeh pelan. Sepertinya sudah menemukan gulungan film yang tertinggal. Sungguh, ia tidak menyangka kalau Sehun mengingatnya. Lebih parahnya lagi, Sehun menganggap hal konyol yang anak kecil lakukan sebagai kecupan dewasa.

“Kau menangis gara-gara Ibumu tidak pulang di malam Natal—”

“—Kau tiba-tiba menyeretku ke taman, Sehun. Kau memberiku hadiah, tapi aku tidak punya sesuatu untuk ditukar.” Nara memotong sembari menyunggingkan senyum.

Sehun mengangguk setuju, “Kau mencium pipiku sebagai hadiah Natal. Kemudian—”

“Demi semua koleksi boneka panda Tao. Jadi, kau menyebut itu ciuman pertama?” Tanya Nara dengan suara yang heboh.

Sehun menyipitkan mata, “Lalu yang kau sebut ciuman, seperti apa?”

“Eum,” Nara kikuk. Ia jadi malu sendiri. Bagaimana, ya? Nara terlalu bingung kalau diminta menjelaskan. Tidak mungkin ia dengan begitu gamblang mengatakan, jika ciuman harus dari bibir ke bibir. Bukan dari bibir ke pipi.

Sehun menepuk dahi kekasihnya pelan. “Dasar gadis mesum. Kau pasti berpikir tujuan permainan ini hanya ingin membuatmu telanjang,” ucapnya.

Nara jadi salah tingkah. Jelas, pikirannya menjurus pada hal yang bukan-bukan.

“Habisnya, kau menyuruhku membuka kancing kemeja.”

Sehun hanya tertawa ringan mendengar pembelaan kekasihnya. Ia membetulkan posisi duduk, lebih dekat pada Nara sembari menunjuk pipi dengan jari, berulang-ulang.

Nara menjauhkan wajah dari Sehun, kebingungan akan niat kekasihnya. “Jangan dekat-dekat, kenapa?” Tanya gadis itu menyelipkan kekesalan yang kikuk.

“Poppo,” kata Sehun.

“Kau gila, ya?”

“Hukuman mu, apa kau lupa?”

Nara melebarkan mata, bergerak-gerak tidak nyaman disela duduk bersilanya. “Tidak mau.”

Sehun memberengut, “kau curang!” Pria itu melengoskan kepala, mirip bocah berumur lima tahun. “Kau tidak mentaati peraturan,” tambahnya.

Nara memutar bola mata jengah, cepat-cepat ingin mengakhir permainan konyol ini. Setelah, bergumam baiklah, beberapa kali, secepat kilat Nara beranjak mengecup pipi Sehun. “Sudah.”

Sehun tersenyum puas menerima kecupan. “Siap untuk pertanyaan ke lima?”

Kepala Nara mengangguk sebagai respon.

“Saat ciuman pertama kita, aku berjanji sesuatu padamu. Katakan, apa yang aku janjikan saat itu?”

Nara merenung sebentar memilah-milah jawaban yang mungkin ia lewatkan. Kebersamaan mereka yang terlampau lama, membuat banyak janji yang terucap. Seingat Nara, ia hanya mengecup Sehun, kemudian mereka tertawa mengulang lelucon kartun di televisi. Akan tetapi, pikiran Nara terbentur pada satu komedi yang mereka bicarakan, tentang pernikahan Paman Jo— yang berwajah bundar dibumbui dengan raut galak —tetangga Nara dan Sehun dulu.

“Kau berjanji untuk tidak menjadi suami yang galak, seperti Paman Jo. Demi Tuhan, Oh Sehun usia kita masih delapan tahun dan kita sudah mencampuri urusan rumah tangga orang lain.” Nara menjawab sembari terkekeh, mengingat kepolosan Sehun dan dirinya kala itu.

Lantaran ikut terkekeh hingga tersedak seperti kekasihnya, Sehun memunculkan raut dingin. Seakan-akan, sesuatu yang paling penting di hidupnya telah direnggut. Entah mengapa, tawa Nara semakin tidak terkontrol melihat ekspresi Sehun—menurutnya, Sehun terlihat seperti menahan keinginan untuk buang air besar.

“Kenapa kau diam saja? Jawaban ku betul, bukan?”

Sehun masih bergeming, kemudian meluncurkan satu kata dengan bibir tipisnya, “Salah.”

Nara berhenti tertawa seketika. “Kau konyol. Aku masih ingat dengan jelas. Kita membicarakan Paman Jo yang selalu bersikap galak pada istrinya, kemudian kau berjanji tidak akan menjadi suami yang galak seperti Paman Jo—tunggu. Kau berjanji tidak akan menjadi suami yang galak seperti Paman Jo, jika kita menikah nanti.” Nara mengoceh panjang lebar. Ia menggigit bibir bawah, menyadari ada hal yang telah ia lewatkan. “Maaf, aku melupakan yang terakhir,” sesalnya.

Sehun menarik napas dalam-dalam, “Biasanya orang melupakan sesuatu karena hal itu tidak penting.”

“Tidak, Oh Sehun. Kau laki-laki yang sangat penting dalam hidupku. Mungkin, aku bisa bunuh diri kalau kau meninggalkan aku.” Nara meralat ucapan Sehun dengan nada dramatis kemudian, menyenderkan kepalanya ke bahu Sehun—berusaha merayu.

“Sudahlah tidak usah menghibur.”

Nara merasa tidak enak hati, sesungguhnya ia ingin mengamuk melihat sikap Sehun yang kelewat sensitif hari ini, tetapi gadis itu berusaha sabar. “Aku mencintaimu,” rayu Nara sembari memainkan jemari kekasihnya—menautkan jemari mereka menjadi satu. “Lihatlah, bahkan jemari kita cocok, digabung seperti ini. Tandanya, kau sangat penting di dalam hidupku,” seloroh Nara, melanjutkan.

Sehun masih tidak merubah rautnya yang keras, “Dasar perayu.” Tetapi intonasi suaranya kian melembut diiringi kecupan manis bibirnya pada jemari Nara yang menjadi satu dengan miliknya.

“Apa hukuman ku kali ini?” Tanya Nara dengan nada antusias yang dibuat-buat.

Sehun tidak menjawab, ia dengan cekatan menggeser posisi sedemikian rupa hingga berhadapan dengan gadisnya. Nara mendapatkan serangan tiba-tiba, setelah menangkap seringaian ganjil Sehun yang sudah ia kenal betul. Sehun meluncur begitu saja di leher gadisnya. Pria itu tenggelam di leher Nara yang terekspos menjanjikan karena tiga kancing kemeja telah terlepas. Sehun mengecup leher gadisnya lembut, memberikan sengatan-sengatan kecil pada perut Nara yang terasa anjlok. Jantung Nara hampir lepas ketika Sehun menambahkan gigitan kecil pada lehernya. Nara mencengkram sprei ranjang dengan kuat, bisa-bisa gadis itu limbung jatuh ke tempat tidur, lalu mereka kehilangan arah.

Beberpa menit Nara kehilangan kata-kata, ia mendengus terengah-engah saat Sehun melepaskan pergumulan mereka. “Hukuman yang menarik,” komentar Nara.

“Sangat menarik,” kata Sehun sembari membelai surai gadis nya. Kecupan cepat di hidung Nara sebagai penutup hukuman untuk pertanyaan ke lima.

Nara bersandar di  sudut ranjang. Baru menyadari Sehun tadi menggiringnya bersender.  Ia mengambil oksigen yang beberapa menit lalu terasa menipis.

“Pertanyaan ke enam, kapan aku berjanji untuk melamarmu?”

Nara hampir tersedak salivanya sendiri mendengar pertanyaan kekasihnya. Topik yang mereka bahas menjadikan semburat merah muncul pada pipinya. Kali ini, ia tidak ingin menjadi tolol karena melupakan kejadian paling indah dalam hidupnya. Tentu saja dia ingat, satu bulan lalu ketika Nara dan Sehun bertengkar besar karena rumor adegan ranjang yang akan dilakoni pria itu dengan lawan mainnya dalam sebuah film. Mereka hampir saja memecahkan seluruh perabotan, kemudian Sehun mengecupnya dengan paksa—membuka pakaian satu sama lain—di ranjang kamar yang lembut mereka menyatu—Sehun berjanji bahwa tubuh dan jiwanya milik Nara, ia menjanjikan lamaran yang lain daripada yang lain.

“Setelah kita bercinta.” Jawab Nara yakin seratus persen.

Sehun tersenyum melembut, “Aku kira waktu itu kau sudah melayang ke udara dan tidak sadar untuk mengingat-ingat.”

Nara meminju bahu Sehun ringan, “Sangat memalukan.”

“Tapi, kau sukakan?”

Pertanyaan yang Sehun lontarkan membuat Nara salah tingkah. Ia menunduk malu-malu. “Hentikan mempermalukan aku.”

“Aku senang kau mengingat kejadian saat itu, meyakinkan jika kau tidak amnesia setelah mengerang sepanjang malam—“

“—Jangan dibahas lagi!”

Okay, aku tutup mulut, tapi asal kau tahu jawabanmu salah,” ujar Sehun kemudian muncul cengiran di wajahnya.

Nara melongo, ia tidak sanggup harus mendapat hukuman berupa sentuhan fisik. Kesehatan organ tubuhnya tidak terjamin, jika ia terus-terusan bersentuhan dengan Sehun. Nara merasa dirinya bisa mati muda, serius. Nara, kau berlebihan!

“Terserahlah, Oh Sehun. Semua jawabanku salah, aku tidak pernah benar.” Nara berucap sembari memeluk kakinya yang tertekuk.

“Masih di malam Natal. Apa kau lupa? Aku berjanji untuk melamarmu saat usia ku menginjak 23 tahun.”

Nara menepuk dahinya, ia baru menyadari sesuatu. “Astaga, itu hanya ucapan anak berusia delapan tahun, Sehun. Mana bisa, aku berpedoman pada bocah.”

“Bocah  yang kau sebut-sebut itu akan menepati janjinya, Jung Nara.”

“Benar sekali, sekalian saja kau mengingat ucapanmu dulu kalau kau akan melamarku dengan permainan—ugh brengsek. Kau sedang melamarku sekarang.” Bibir Nara seperti mengingatkan pada janji Sehun kecil. Entah mereka baru menonton telenovela picisan atau iklan percintaan, namun di malam Natal bertahun-tahun lalu—waktu mereka berusia delapan tahun, Sehun menjanjikan beberapa omong kosong tentang melamar Nara dan menjadi suami yang baik untuk Nara. Selaras dengan usia mereka, Sehun menjanjikan lamaran yang menyenangkan, melalui sebuah permainan. Nara benar-benar tidak peka, sadar, dan ingatannya terlalu pendek untuk mengingat semua kejadian. Seharusnya Nara curiga atas permainan ini, Sehun tidak pernah melakukan apapun tanpa rencana yang matang.

Sehun memotong lamunan Nara, “Hukumannya, kau harus menjawab yes di pertanyaan ke tujuh.”

“Kau menjebakku, Oh Sehun!” Seru Nara setelah berhasil medalami pola permainan.

Sehun mengulum senyum. Pria itu mengusap pipi gadisnya dengan perlahan kemudian, berhenti agak lama disudut bibir Nara. “Hidup ini kejam, sayang.”

Nara mengikuti polesan senyum Sehun, ia meraih jemari Sehun, kemudian mengecupnya.

“Would you marry me, Jung Nara?”

Nara menatap dalam-dalam kekasihnya, alisnya bertaut—berpikir, jika orang lain yang mengajukan pertanyaan itu, aku tidak akan semudah ini memberikan persetujuan. Ceritanya selalu berbeda, jika Oh Sehun yang meminta.

“Yes, Oh Sehun. Bukankah jawaban itu yang kau mau? Dan aku menyetujuinya, tanpa permainan konyol ini.

Sehun membalas dengan raut luar biasa lega.

Tidak ada teguran.

Tidak ada penolakan.

Mereka hanya saling menatap, memaknai kejadian intim yang akan berpengaruh di tahun-tahun selanjutnya perjalanan hidup.

Sama-sama tahu jika, manusia di hadapanku ini akan menggenggam tanganku selamanya—dan mereka menerima takdirmenerima akhir permainan.

Hingga

Sehun memperkecil jarak di antara mereka, membimbing gadisnya membaringkan diri di ranjang. Menautkan bibir mereka. Tanda, jika ‘permainan’ telah usai—atau justru baru dimulai?

-oOo-

a/n:

Ini selingan ya~ lagi pengen nulis cerita yang menye-menye dan mengosongkan draft di folder fanfictionku. FF ini sudah mengendap di draft selama tiga bulan. Yeah, akhir-akhir ini aku sering nulis tentang SENA couple ini, habis Sehun makin unyu dengan belahan tengahnya. Sebenernya, aku ada FF tentang Luhan tapi, berita tentang Luhan yang lagi gencar di portal media membuat hati ini patah-patah-patah <//3 ((malah curhat)). Maaf ya kalau ada typo :))

Terimakasih sudah membaca, have a nice day!

Advertisements

124 thoughts on “Sehun’s Game

  1. Gak tau lagi mau bilang apa sama kak titis.. ide2 ceritanya.. gilak.. keren2 abis!! 😍😍
    Cara ngelamar yang..mm.. jail menggelitik tapi gak keilangan sisi romantis…
    Ga tau lagi mau ngomong apa tapi ini ceritanya..
    Keren!! 🙆🙇👍👍👍

  2. Wiii aku dulu pernah baca ff ini dimana gitu sebelum ketemu wordpress ini :3 Jadi baca ulang *padahal udah lama bgt tapi inget pernah baca ff ini ditempat lain xD*

    ceritanya seru! Mau juga dong diginiin sama Sehun xD Ha gak la xD

  3. Ah… ini sweet sekaligus konyol buat aku 😀 Sehun ngelamar nara dengan sebuah permainan? Dan lagi semuanya dilakuin berdasarkan janji anak 8 tahun? Wah.. Bang ohse bener” luar biasa 😀 (y)

  4. pertanyaan dari pertama sampai terakhir kagak ada benernya sih Nara , emang Sehun sengaja buat jebak nara nih 😂😂
    Kalo hukumannya kayak gitu trs yg ngehukum sehun sapa aja mau kagak ada yg nolak 😂😂😂

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s