[3rd – B] Sad Movie

sad movie 2nd

Part1 – 2 – 3A

Because your eyes, nose, lips. Every look and every breath, every kiss still got me dying. Uh, still got me crying. – Eyes, Nose, Lips, Taeyang

-oOo-

Suasana senyap, tidak ada yang berani membuka percakapan, termasuk aku atau pria di sampingku. Sehun hanya menatap lurus, menampilkan raut serius di sela kegiatan mengemudinya. Tidak ada yang perlu dibahas, sebenarnya. Akan tetapi, beberapa kali mataku mencuri pandang ke arah Sehun. Pemandangan yang kudapat, secara kilat membuat hati berdesir. Sehun mengenakan kemeja dengan lengan yang tergulung, surai berantakan, dan mata tajam.

Kembali terdengar suara berdeham dari tenggorokkanku, menyadarkan untuk tidak terlampau terpesona dengan pria itu. Aku mengeratkan genggaman pada sabuk pengaman saat menangkap suara Sehun yang memulai percakapan.

“Sudah lebih baik?” Tanya pria itu sembari membelokkan setirnya ke arah kanan.

Aku butuh waktu berapa detik untuk menjawab pertanyaan Sehun. Pikiranku, tanpa diperintah menggiring mundur pada kejadian makan malam tadi. Aku tertangkap basah sedikit meneteskan airmata, setelah berbicara dengan Soyeon. Mantan suamiku itu terlalu panik, mengira ada pertengkaran antara aku dan Soyeon. Sudahlah, mungkin dia takut Soyeon tersakiti atau semacamnya.

“Seharusnya, aku tidak mengajakmu makan malam keluarga secepat ini.” Sehun menyuarakan pikiran, ketika kalimat sebelumnya tidak dibalas.

Aku memberikan tatapan bertanya, namun tak ada keinginan menanggapi ucapannya.

“Aku kira dengan menyelesaikan masalah antara kau dan Seoyeon, memberikanmu pilihan alternatif yang lebih baik.” Nada rendah digunakan Sehun untuk mengucapkan kata terakhir.

Apa maksud kalimatnya?

Masalah?

Apa pria berengsek itu lupa, jika masalahnya bertitik pada dirinya?

“Aku dan Seoyeon tidak pernah ada masalah, kami bersaudara. Yeah, kalaupun ada itu semua disebabkan olehmu, Oh Sehun.”

“Aku berusaha memperbaikinya, Nara. Tapi, kau terlalu keras kepala.”

Aku menatap Sehun yang kini menghentikan mobil di depan sebuah hotel.

“Jika saja kepalaku lebih lunak, apa kau bisa menghidupkan sesuatu yang sudah mati, bahkan terkubur?” Tanyaku penuh emosi.

“Nara, dengarkan aku—”

“—Semuanya telah menjadi bubur, Sehun. Tidak ada yang dapat diperbaiki lagi.” Aku memotong perkataan Sehun, kemudian beranjak melirik kursi belakang melalui spion tengah mobil. Jino tertidur pulas disana, harap-harap cemas semoga Jino tidak mendengar pertengkaran kecil kami.

Puas menatap anak laki-laki itu. Aku segera membuka pintu mobil, tanpa menunggu penjelasan Sehun yang lain. Lebih baik menghetikannya sampai di sini daripada merajut ke hal yang tidak diinginkan.

“Terima kasih tumpangannya,” ucapku sembari keluar dari mobil, mengacuhkan teguran Sehun yang memekakan telinga.

Aku hanya butuh istirahat. Sejenak memastikan aku akan baik-baik saja seminggu ini. Paling tidak, memberikan sugesti bahwa beberapa hari kedepan adalah hadiah cuma-cuma Tuhan, agar aku dapat merawat Jino. Itu sudah cukup.

Kamar hotel terasa lenggang, ketika aku duduk bosan mengamati televisi yang menayangkan acara komedi. Lucu, tetapi tidak dapat membuatku tertawa. Mata ini rasanya pedih menuntut haknya untuk tidur, namun pikiran lebih berkuasa membuat tetap terjaga.

Tidak lama kemudian ponselku berdering. Tangan merogoh nakas dengan tergesa. Separuh jengkel, setengahnya lagi senang menatap layar yang memunculkan nama seseorang. Setidaknya, aku butuh teman bicara yang benar-benar netral.

“Halo.”

Suara diseberang sana terkekeh, “Belum ada satu minggu berada di Seoul membuatmu lebih sopan. Bagaimana kabarmu?”

Raut cemberut sebagai jawaban, seakan-akan lawan bicaraku berada di ranjang yang sama. “Tidak begitu baik.”

“Aku sedang berada di Tokyo.”

Aku mendengus mendengar pernyataannya, “Lalu?”

“Suasana hatimu sedang buruk, aku rasa. Apa perlu aku ke Seoul setelah urusan di Tokyo selesai? Kau merindukanku.”

“Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri. Catat baik-baik Kim Suho, aku tidak merindukanmu dan rasa percaya dirimu itu perlu dikurangi.” Aku menjawab sengit.

Pria itu hanya menimpali dengan suara semakin keras, “Bertemu mantan suami memang membuat wanita menjadi lebih sensitif.”

Ugh, apa bisa kita berhenti membicarakan hal yang tidak berguna? Kalau tidak ada yang penting, kita akhiri saja perbincangan ini.”

Ada suara berkerusuk sebelum Suho bicara dengan tergesa, “Tunggu,  Sweetheart. Baiklah aku tidak akan bertele-tele lagi. Bagaimana perasaanmu?”

Aku hendak menjawab pertanyaan dari Suho, namun tersela suara merajuk wanita. “Ada wanita Tokyo yang cantik ya, bagaimana rasanya tidur dengannya?” Pertanyaan itu lolos, terselip nada kesal yang tidak berusaha ku tutupi.

Suho tertawa dibuat-buat, ia tampak canggung kemudian melanjutkan, “Tidak ada yang sehebat dirimu di ranjang. Jangan cemburu.” Ada jeda sebentar, Suho menunggu respon, tapi aku enggan bersuara. “Bagaimana perasaanmu, Sayang?” Pria itu mengulang.

Helaan nafas secara responsif menguar, memberikan tanda beratnya jawaban dari pertanyaan sederhana itu. “Sama dengan kabarku. Buruk.”

“Jadi si berengsek itu belum mengaku juga.” Suho menarik kesimpulan.

“Dia punya nama—”

Ah! Aku lupa nama lainnya pengecut, bukan?”

“Kim Suho, aku memperingatkanmu.” Amarahku tersulut, rasanya ada getir ketika orang lain menyebut hal tidak sopan tentang Oh Sehun. Suho biasa menyebutnya naluri mantan istri.

“Kalian berdua sama-sama idiot—” Suho memutus makiannya ketika aku mengeram tidak terima. “Oke, kalau itu terlalu kasar, aku akan meralat. Kalian berdua egois. Kalimat itu terlalu lembut untuk ukuran ketololanmu dan Sehun.”

“Aku seorang wanita. Aku tidak akan pernah mengemis cintanya seperti delapan tahun lalu. Apalagi, ia tidak akan bisa mengembalikan bayiku.” Perkataan penuh tuntutan meluncur dingin dari bibirku.

Suho berdecak, “Jangan mengungkit bayi perempuanmu itu, Jung Nara. Kau ingat kata dokter? Walaupun, operasi itu dilakukan, bayimu tidak akan bisa diselamatkan. Sehun mengambil jalan yang tepat. Setidaknya kalian masih memiliki Jino. Sayangnya, kau malah melewatkan darah dagingmu sendiri, kemudian memilih hidup menggelandang. Padahal kau punya suami yang kekayaannya bisa digunakan untuk berenang uang, lima kali sehari.”

Aku menggeser kaki, merasakan kesemutan akibat ucapan Suho yang blak-blakan. “Baiklah, tuan-yang-selalu-benar, kau tahu bagaimana menggunakan pita suaramu untuk merusak suasana.”

Terdengar suara desahan wanita di ujung telepon Suho.

“Jangan melakukan hal tidak senonoh saat kita berbincang,” tegurku.

“Sebentar, wanita ini benar-benar agresif. Tunggu lima menit, aku akan berpakaian, lalu ke tempat yang cocok.” Suho bicara dengan cepat. Sebelum aku membuka mulut, sambungan sudah terputus.

Secara sadar aku menggelengkan kepala, berusaha maklum. Suho yang beberapa bulan lalu melamarku, tidak lebih tepatnya hanya menjadikanku sebagai pelampiasan. Bukan hanya aku, entah sudah berapa banyak wanita dengan kekayaan berbukit-bukit tunduk takluk, kemudian berakhir di atas ranjang dengan pria rupawan itu. Aku adalah satu-satunya manusia kategori miskin yang bertopang hidup padanya. Sungguh, kenyataan itu justru membuat harga diriku bertambah. Setidaknya, aku tidak pernah berakhir di ranjang dan terjerat pesonanya secara alami. Kami berhubungan karena ada faktor yang menguntungkan. Suho bisa memanfaatkan kekayaan Sehun yang menyokongnya selama, ia sudi menjadi malaikat penolongku. Sedangkan aku, menjadikan Suho sumber dana untuk lari, serta keyakin bahwa Sehun mencintaiku, melalui cara royalnya mengucurkan uang untuk perusahaan Suho yang secara signifikan juga mengalir ke kantongku.

Aku tahu semuanya. Sehun menguntit di awal kepergianku ke Paris. Dia bahkan membuka toko barang pangan yang selalu diskon jika aku yang berbelanja. Tentu saja, ada kecurigaan. Bertambah dan semakin bertambah, kecurigaan semakin melambung saat Suho—yang tanpa semangat hidup—tiba-tiba menawariku pekerjaan di biro periklanan dengan gaji fantastis. Upah terlalu mewah untuk seorang janda muda dengan pengalaman minim. Suho bermuka dua, yeah dalam arti positif. Ia mengungkapkan segalanya tentang Sehun yang membelinya di acara mabuk-mabukan kami. Aku yang menjunjung tinggi kejujuran, menerima Suho dengan tangan terbuka sebagai teman. Dia menunjukkan ketulusan, maka aku menyukainya. Berbeda dengan Sehun. Tentu saja, berbeda. Sehun pemuda kaya raya, hidupnya hanya dipenuhi bagaimana cara menjaga gengsi yang berbuah pada kebohongan mutlak.

Andai saja.

Satu kali saja.

Sehun mengatakan, bahwa dia membutuhkanku. Bahwa dia mencintaiku. Tubuh, hati, dan jiwa ini tidak akan beranjak darinya.

“Sudah sampai mana lamunanmu?” Aku langsung disambar pertanyaan ketika dering pertama panggilan Suho pada ponsel terangkat.

“Sampai pada, kapan kau berhenti mempermainkan wanita.” Jawab ku asal.

“Semua wanita berengsek di mataku. Kau tahu benar.” Suho menyelesaikan kalimatnya enteng. “Kecuali kau, Jung Nara. Maka dari itu, kapan tanggal yang tepat untuk pernikahan kita?”

Jika saja, aku tak pernah berjumpa dengan kecerdasan Suho, pasti aku akan mengira dia memiliki kelainan jiwa akut. “Mungkin setelah kau membebaskan perusahaanmu dari belenggu uang Sehun.” Candaan yang tidak lucu, namun berhasil membuatku sedikit tersedak tawa. Membayangkan bagaimana kesalnya Sehun karena tak bisa mengontrol Suho, menjadi hiburan tersendiri.

“Aku serius Jung Nara. Aku akan berhenti bermain apa pun yang tak kau suka, jika

Bulu kudukku merinding seketika. “Cukup. Aku tahu maksudmu. Aku akan mencoba.”

“Mencoba apa?” Suho bertanya.

Aku memutar bola mata jengah, memantapkan peringatan tersirat dari Suho “Mencoba untuk memaafkan Sehun. Mencoba membuatmu memupuskan harapan untuk menikahiku.”

Suho terkekeh pelan, “Good girl. Aku ingin kau bahagia, lil sis.” Pria bersuara kalem itu, menegaskan intonasinya. “Kalau butuh bantuan, aku bisa membantu memanasinya. Well, pura-pura mencetak undangan pernikahan kita, misalnya.” Lanjut Suho, kali ini benar-benar bercanda.

Tertegun. Aku tidak dapat mengikuti alur humornya, ada kepanikan dari hati yang memaksa keluar. “Kim Suho. Jika, Sehun membuangku… Kau masih menyediakan tempat untukku?”

Halusnya suara Suho berbaur dengan umpatan kesal, “Dia akan benar-benar dalam masalah besar jika membuangmu lagi. Aku akan memastikan kau seratus persen berubah mencintaiku dan tidak akan menyodorkanmu padanya.”

Semburan kekesalan Suho justru membuat perasaanku aman dan terlindungi. Banyak hal yang ingin aku utarakan sebagai ucapan terima kasih, tetapi yang meluncur hanya pertanyaan ringan, “Bagaimana Tokyo?” Selanjutnya pembicaraan terpusat pada  topik akan komentarnya tentang papan iklan Tokyo yang perlu dibenahi—hingga pukul tiga pagi.

 

Apa kita bisa bertemu?

 

Satu pesan singkat sampai di ponsel. Demi Tuhan, andai saja aku tidak membaca nama pengirimnya, pasti akan berakhir pada lemparan manis ponsel ke tempat sampah. Namun, tubuh ini malah langsung terduduk linglung. Mengumpulkan nyawa yang masih berceceran karena terserang kantuk parah, akibat perbincangan tanpa alur dengan Suho. Tergesa-gesa aku segera mengetik jawaban, kemudian beranjak untuk mencuci muka.

Aku harus nampak sebagai wanita layak. Setidaknya untuk pertemuan dengan Sehun yang telah disepakati melalui pesan singkat.

Kosmetik tipis telah terpoles, kemeja putih dengan kain menerawang, dan celana kain bewarna kulit menjadi sandangku. Tanpa mandi, hanya menyemprotkan parfum kamuflase menjadikanku siap untuk melangkah keluar kamar—menemui mantan suami.

Menghindari kantuk, aku sengaja memilih meja di dekat jendela besar yang mendesirkan angin. Rasanya ingin sekali menyetujui naluri, agar dapat meletakkan kepala di meja makan restoran sembari tertidur pulas.

Tiba-tiba ada perasaan malu. Aku terlihat terlalu agresif dalam janji temu ini. Oh, seharusnya aku datang terlambat saja, bukan malah datang lebih cepat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Sekali lagi agar gengsiku yang terlampau lebih tinggi dari ujung kepala Sehun, aku melakukan trik.

Pura-pura memesan makanan, menampakkan aku memang sering datang ke restoran pagi-pagi sekali untuk sarapan, bukan khusus berkunjung agar dapat memenuhi janji pada Sehun.

Selang beberapa lama, aku menikmati sarapan pagi. Yeah, roti panggang dengan krim vanila pas sekali merenggut perhatianku dari lingkungan sekitar yang memang sepi. Lama tidak membaca koran lokal juga membuatku terpekur beberapa saat, sampai sebuah suara familiar dan mendesirkan darah terdengar tepat di hadapan.

“Kenapa kau suka sekali memakai pakaian minim seperti itu? Tidak sadar, mata pria di sekitarmu hampir keluar?”

Aku nyaris terjungkal atau memang sudah? Bersyukur pegangan tangan pada ujung meja cukup erat untuk tidak menjatuhkan citra di depan Sehun.

Belum cukup ketidakberuntungan lengket pada tubuhku. Masih dengan kecanggungan aku malah tersedak roti panggang. Cepat-cepat mata ini melirik ke arah Sehun, ekspresi janggal pencampuran antara tegang, menahan tawa, dan prihatin tertaut jelas di wajah pria itu.

Pada menit berikutnya, aku membuka pembicaraan dengan pertanyaan basa-basi.   “Baiklah, apa yang perlu kita bicarakan Oh Sehun?”

Pria itu menyilangkan tangannya. Menambah kesan tampan dan elegan yang tak perlu diragukan. Sehun mengambil nada sengit yang membuatku yakin akan menambah daftar panjang pertengkaran kami.

Pembicaraan tidak penting dan perhatian sopan santun ditunjukkan oleh pria itu. Misalnya saja, sekarang ia meletakkan jasnya yang mahal di pundakku. Berusaha menutupi kulit yang terekspos.

Sehun tidak pernah meninggalkan tatapannya padaku. Demi apapun, hanya melihat sorot matanya saja, dapat membuat jantung ini bekerja ganjil. Bukan hanya itu saja, aku juga dengan gampanya menyetujui permintaan Sehun yang berbunyi, “Kau bisa menginap di rumah?” Tanya Sehun. “Menginap di tempat tinggal kita dulu,” lanjutnya.

Sehun dengan surai coklatnya yang mirip coklat kesukaanku. Kulit seputih susu vanila dan tegap tubuh Sehun membius dengan obat terampuh di dunia. Sampai kapan aku harus terpesona? Apa aku tidak lelah jatuh cinta pada pria ini?

Pertanyaan akan candu Sehun semakin di ujung tanduk dan meledak, ketika pria itu menutup pertemuan kami dengan kalimat panjang yang mencekik.

“Dan kalau kau lupa, awal mula kita membuat Jino juga gara-gara krim vanila di ujung bibirmu.” Ujar Sehun, sembari melangkah pergi, berlalu seperti foto model. Meninggalkan bunga yang terus tumbuh di hati.

Jino pulang sekolah pukul tiga sore. Dia bersekolah di Gangnam Elementry School. Jangan tersesat dan jangan buat dia menunggu.

Lagi-lagi, aku membaca pesan singkat dari Sehun dengan setengah hati. Pesannya selalu datang di saat yang tidak tepat—aku sedang menyelesaikan creative brief  untuk klien—mengambil cuti dan bersahabat dekat dengan bos, bukan berarti membuatku bebas dari pekerjaan.

Aku mencuri pandang pada jam dinding pukul 02.15 siang, kurang 45 menit lagi dari kepulangan Jino. Sebenarnya, masih ada waktu. Perjalanan dari hotel tempatku bernaung sekarang, ke sekolah Jino hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit. Akan tetapi, ‘kalimat jangan tersesat dan jangan buat dia menunggu’, membuatku merasa direndahkan. Memangnya aku gadis delapan belas tahun yang bisa dengan mudah tersesat atau memiliki kebiasaan membuat orang menunggu. Ugh yang pantas mendapatkan kalimat itu Sehun sendiri. Dia gemar sekali membuat orang menunggu untuk hal yang tidak penting!

Berbekal motivasi untuk membuktikan kredibilitas sebagai orang yang tepat waktu, aku segera bersiap untuk menjemput Jino. Ada beberapa persiapan kecil yang aku lakukan, mengemas beberapa pakaian dan peralatan mandi—gagasan menginap di rumah lama kami membuatku sedikit canggung. Tidak terasa, aku mengemas dua ransel besar. Ayolah Jung Nara, kau bukan hendak mendaki gunung. Lagi pula, Sehun pasti akan menyiapkan akomodasi.

Akomodasi?

Yang benar saja, bahkan untuk menjemput Jino dia tidak menyediakan mobil atau semacamnya sebagai penunjang transportasi.
“Dasar pria pelit—tidak berkemanusian—arogan.” Aku terus saja menggerutu sembari berjalan menuju lobi hotel. Semakin merajuk saat menyadari dua ransal menggelantung di tubuhku. “Sehun si kaya raya yang kikir—aku yakin kotoran hidungnya juga tidak dibuang—“

Aku melemparkan tatapan sengit pada pegawai hotel yang sedang lewat dan menatapku, seakan-akan aku adalah alien. Apa salah seorang wanita berusai 28 tahun terseok-seok menjinjing ransel, tidak bukan?

“Nona muda,” suara berat itu mengehentikan gerutuan beserta langkahku yang menuju pintu keluar hotel.

“Jaman sudah semodern ini, masih ada yang memanggil nona muda,” sindirku pada seseorang yang entah siapa sembari meneruskan langkahku—tidak peduli—cenderung mengolok-olok.

Langkah cepat, berlari terasa mengejarku. “Nona muda, Oh Nara.” Sekali lagi aku berhenti, kali ini menolehkan kepala dengan enggan. Seorang pria kira-kira berusia awal lima puluhan, berjas hitam rapi, bersurai putih, dan berpawakan tinggi, menuju ke arahku.

Tidak sabaran, rautku sudah ingin menyemburkan pertanyaan. “Anda siapa?”

“Saya, Kim Jiyong. Asisten pribadi tuan muda,” ucap pria tua itu formal.

“Paman! Aku benar-benar bodoh, tidak mengenalimu!” Kegirangan itu tidak dapat kututupi. Pria ini bisa dibilang sebagai saksi hidup, bagaimana Sehun memerlakukanku dulu. Ia menemaniku duduk menyendiri di salah satu galeri kopi, saat ulang tahun ku ke sembilan belas—menunggu Sehun yang barang sekali saja tidak pernah mengucapkan selamat. Paman Kim juga yang dengan panik menemaniku melahirkan Jino, di saat Sehun malah sibuk merawat Soyeon yang sedang terkelir. Dia adalah orang pertama yang tahu aku hamil. Di saat aku harus menampakkan kebohongan manis hubungan rumah tangga kami pada orang lain, bahkan keluargaku hanya dengan Paman Kim, aku bisa terbuka atas perlakuan Sehun.

“Paman kau banyak berubah—tunggu rambutmu tidak seputih ini dulu.” Aku melanjutkan sembari tertawa. Merasa bersalah akan volume otakku yang tidak dapat mengingat banyak hal.

Paman Kim menyambut senyumku, ia mengambil alih dua ransel besar dari tanganku. “Tentu saja, Nona. Saya bertambah tua dari tahun ke tahun. Sudah delapan tahun nona tidak melihat saya. Tapi, anda tidak terlihat banyak berubah kecuali riasan yang anda pakai.”

Aku mengikuti Paman Kim berjalan, “Menjadi lebih cantik?”

“Sangat cantik,” ucap Paman Kim.

“Eh, untuk apa paman kemari?” Tanyaku setelah sadar, aku sekarang sudah duduk di kursi belakang mobil hitam mengkilat ini, barangku sudah di masukkan ke bagasi. “Dan untuk apa aku masuk ke mobil ini?”

Paman Kim tertawa sampai hampir tesedak, ia menjalankan mobil yang kami tumpangi sebelum menjawab pertanyaan konyol dariku. “Saya ditugaskan tuan muda untuk mengantar nona kemana saja, selama di Seoul.” Ia berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaan ke dua, “Saya pikir, nona sudah membuat perjanjian menyediakan waktu untuk menjemput Jino.”

“Ah—“

“—Anda pasti telah berpikir bahwa tuan muda memiliki sifat kikir dan—“

“—Tentu saja pengalaman yang dulu-dulu dia selalu bersikap seperti itu.”

“Saya rasa, tuan muda tidak akan melakukan kesalahan yang sama.”

Aku menghembuskan napas berat, berdebat dengan Paman Kim sama saja mengganjalkan urusan dengan batu. Pasti kalah, “Baiklah Paman aku menyerah.” Kataku sembari mengangkat tangan.

“Saya harap anda benar-benar menyerah, kemudian kembali ke rumah, nona. Bersama tuan muda dan Jino. Anak laki-laki anda dan tuan muda sudah seperti cucu saya. Anda tahu bagaimana kekuatan seorang kakek, tidak akan membiarkan cucunya menangis atau terluka. Saya harap anda paham.”

Teguran itu seperti menjatuhkan ku dari lebih sejauh 100 meter. Aku mengawang mendengarnya. Bingung akan menimpali apalagi karena memang itu kenyataannya. Nanti, jika perjanjian satu minggu ini selesai seseorang yang akan tersakiti, bukan lagi aku atau Sehun, tetapi Jino. Anak laki-laki yang sudah disia-siakan sejak dulu—Sehun tidak—aku yang membuangnya.

“Lalu Paman, apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan penuh keputusasaan mengurai begitu saja. “Aku menginginkan Jino—dan Sehun, tapi mereka tidak menginginkanku.”

Pria tua dengan berbagai pengalman hidup itu tidak langsung menjawab. Bibirnya bergerak ketika matanya juga fokus pada jalan raya. “Anda hanya perlu menurunkan gengsi. Tidak ada yang benar-benar dapat dibeli dengan gengsi yang berlebihan.”

Aku mendengus keras-keras tanda menghina jawabannya, “Gengsi bisa diatasi—”

“—Jika itu yang ada di pikiran anda, tentunya anda tidak akan mengatakan Sehun dan Jino tidak menginginkan anda, nona. Apabila tuan muda tidak menginginkan anda, Jung Nara tidak akan duduk di mobil ini atau bahkan anda telah berada di Paris. Anda sudah meninggalkan dunia ini dengan gengsi di hari pertama pelarian ke Paris.”

Oh tidak, aku tidak akan tersinggung mendengar penghinaan itu. Sudah aku katakan Paman Kim terlampau baik. Aku terlalu banyak berhutang budi padanya, tidak akan mampu. Sial, ini salah satu trik Sehun untuk membuatku mati kutu.

“Paman Kim, tidak ada yang bisa diperbaiki lagi—”

“—Bahkan orang lain telah melihat takdir Anda, nona. Mereka membawa anda pada kesempatan kedua. Mempertemukan Anda dengan Jino dan tuan muda yang benar-benar mencintai Anda. Telah terlihat jelas. Namun, hanya karena gengsi, cinta keluarga itu tertutupi. Anda hanya ingin pengakuan agar orang lain tahu anda dicintai. Anda tidak sadar, menunggu pengakuan itu hanya membuat anak laki-laki Anda tersakiti.”

“Bagaimana denganku, Paman? Bagaimana jika aku tidak bahagia tanpa pengakuan itu?”

Paman Kim memelankan laju mobilnya, memasuki gerbang sekolah mewah itu. Tidak perlu dipertanyakan bagaimana kondisi orangtua yang menyekolahkan anaknya di sini. Kalangan elit dan berpengaruh.

“Apa anda sekalipun pernah tidak bahagia di dekat putra Anda? Apa mendapati Jino tertawa bukanlah definisi kebahagian itu sendiri, Nona?”

“Aku—”

“—Tidak perlu memberikan jawaban pada saya, Nona. Berilah jawaban pada orang yang tepat, kemudian buktikan.” Paman Kim berucap, memotong kilahan yang lebih lemah dari argumennya. Ia membuka pintu penumpang, mempersilahkan aku keluar dari mobil.

Aku berjalan linglung. Memahami. Memaknai.

“Nona.”

Kutolehkan kepala, gamang.

“Lurus, lalu belok kiri. Kelas yang bewarna biru.” Pria tua itu membuat alisku bertaut.

“Apa?”

Paman Kim melanjutkan, “Kelas Oh Jino.”

“Ini ibuku, cantikkan? Sudah kubilang Sooji, aku punya Ibu.”

Kalimat itu berdengung-dengung di telingaku. Aku berada di tengah-tengah gerombolan anak berusia sekitar enam sampai delapan tahun yang siap dengan tas punggung mereka. Totalnya ada lima anak, satu perempuan dan empat laki-laki.

Ketika sampai di depan kelas biru laut itu, tanganku langsung dibimbing Jino menuju ke teman-temannya. Istilah kekanakannya ia seperti memamerkan mainan baru. Halaman sekolah yang luas dan hijau menjadi saksi bagaimana mata Jino kegirangan, menunggu respon dari teman-temannya.

“Ibumu seperti princess. Wow! Rambutnya bewarna coklat dan kulitnya seputih kapas.” Anak perempuan yang dipanggil Sooji maju selangkah dari tempatnya berdiri. Ia mengulurkan tangan, “Boleh aku menyentuh rambutmu yang indah, Nyonya Oh?” Gadis kecil itu, bertanya penuh harap. Matanya yang bulat mengingatkanku pada seseorang.

Aku tersenyum kemudian mensejajarkan tinggi dengan Sooji, tidak memedulikan panggilan Nyonya Oh dari gadis itu. “Tentu saja boleh. Siapa nama ayahmu, Sayang?”

Tangan mungilnya mengelus ujung rambutku. “Do Kyungsoo, Daddy nomer satu di dunia.” Jawab Sooji sembari menyunggingkan senyum, menunjukkan gigi kelinci.

“Daddyku yang nomer satu. Daddy bisa menahan napas selama satu menit. Tidak ada yang sehebat Daddy Baekki,” sambar seorang anak laki-laki berukuran lebih kecil dari Jino. Aku menimpali dengan tawa, keturunan Baekhyun tidak jauh berbeda dengan dirinya.

“Daddyku bisa membelikan jet dan Spiderman.”

“Tidak, ayahku yang paling pandai menari.”

Sambar menyambar, ke empat anak laki-laki itu membuatku mengingat bagaimana ayah mereka dulu berdebat mengenai hal sepele.

“Nyonya Oh, aku akan membisikkan satu hal. Tapi ini rahasia.” Sooji, si gadis kecil dengan bandana merah muda berbicara amat pelan. Nampaknya satu-satunya gadis dalam persahabatan ke lima anak itu sudah jengah mendengar perdebatan mereka. Aku menyodorkan telingaku ke arahnya. “Kau bisa beritahu aku apa rahasianya.”

Sooji berbisik dengan penuh kehati-hatian, sorot matanya mengawasi Jino yang sedang sibuk berdebat, “Sooji senang Bibi datang. Soalnya, Jino suka sekali iri kalau Kim Jongseo, Kim Baekho, dan Park Chanyeong membawa bekal buatan ibu mereka. Jadi, Jino bisa makan bersama kami dan tidak cemberut lagi.” Aku hendak membalas bisikan gadis itu, namun ia melanjutkan. “Sooji juga senang, sekarang Jino punya Ibu. Kaos kaki Jino bau, dia tidak suka ganti kaos kaki, katanya itu karena Jino tidak punya Ibu.”

Perkataan Sooji, berhasil membuatku merana sepanjang perjalanan menuju rumah kami—mantan rumah. Bukan masalah mengenai Jino tidak berganti kaos kaki—Sehun dulu berganti kaos kaki menunggu kaos kakinya berlubang. Akan tetapi, lebih pada apabila aku memenuhi semua keperluan Jino sekarang—seberapa rasa kehilangan yang akan ia terima jika aku pergi nanti?

“Mommy, ayo masuk.” Rengekan pelan itu menyadarkan dari lamunan. Aku membimbing Jino untuk memasuki pintu rumah, secara tidak sadar tangan memasukkan kode kunci kami dulu dan…”Kodenya tidak berubah.”

Jino mendorong pintu tidak sabar. Ia meletakkan tas sekolahnya di sofa ruang tamu. “Dad sangat marah sewaktu, bibi Soojung mengganti kode pintu.”  Jino dengan lincah berlari kecil menuju dapur, sementara aku masih meneliti ruang tamu. Pigura-pigura yang tersusun rapi membuatku ingin ditelan bumi sekarang juga. Terbingkai disana, foto ukuran paling besar—terdapat gadis muda yang tersenyum lebar dipelukan seorang pria beraut dingin—dengan busana pernikahan mereka.

“Mom cantik sekali di foto itu, Jino belum ada waktu mommy dan daddy menikah. Jino belum lahir.” Perkataan Jino, cukup membantingku lagi ke tanah. Aku menyamakan tinggi dengan Jino, ia sibuk mengunyah coklat yang diambilnya dari dapur. “Jadi, kenapa daddy memasang foto mom di ruang tamu?”

Jino berdeham-deham, suaranya agak di besar-besarkan meniru gaya Sehun. “Agar semua orang tahu kalau Jino dan Sehun punya Nara.” Setelah mengatakannya, anakku tertawa.

“Mommy sayang Jino, sangat menyayangi Jino.” Ucapku sembari mengecup puncak kepalanya. Aku kembali berdiri, lalu tersenyum. “Jadi, bukannya anak mommy harus mencuci tangan dulu sebelum makan?”

Jino cemberut, “Mommy meninggalkan satu hal. Mom, sayang Dad juga, iyakan?”

Aku nampak berpikir sebelum menjawab. Menatap kembali beberapa pigura yang terpampang.      “Tentu saja.” Jawaban itu meluncur.

Berulang kali menghembuskan napas melalui bibir, membuat poniku bergerak ke atas. Benar-benar berpikir cermat, mengurut-urut kira-kira sifat keras kepala Jino ini diturunkan oleh siapa. Yeah, pasti dari Sehun.

Okay, kami sedang berada di ruang santai di mana luasnya tidak kira-kira, ada sofa merah yang berhadapan langsung dengan televisi. Pada sisi kanan yang berbiku-biku dilapisi oleh kaca yang langsung menghubungkan dengan taman belakang. Jino duduk sembari cemberut memangku buku gambarnya. Berulang kali, anak laki-laki itu mengeluh soal, “Jino lapar. Mau makan.” Tentu saja, memanfaatkan keahlian dalam bidang kuliner, aku memasak sesuatu. Kemudian, keluhan selanjutnya yang meluncur dari bibir mungil itu, “Jino tidak mau makan, pancake-nya tidak bulat.” Percobaan kedua hasil memasak ku diberi selorohan pedas juga oleh Jino, “Mom, omeletnya hitam. Jino, nanti sakit perut.”

“Ini bukan nasi goreng. Ini seperti makanan si Bolu!” Seru Jino masih bertahan dengan raut cemberut, ditambah menyilangkan tangan di depan dada.

Percobaan memasak ke enam kali dan tidak ada yang sesuai selera. Tapi sungguh, menurutku makanan ini sudah terlampau layak untuk dikonsumsi. Aku menghela napas keseribu kalinya. Tanpa berpikir—mengajukan pertanyaan konyol, “Siapa Bolu?”

Jino mengernyit, raut mengejeknya menyerupai milik Sehun. “Bolu adalah nama anjing Paman Kyungsoo—ayah Sooji.”

Aku mengangguk-angguk, tanda mengerti. “Eum—bagaimana kalau kita pesan pizza?” Pertanyaan penuh harap—belum menyerah. Benar-benar sudah tidak mampu kembali ke dapur, lalu ditolak. Lagi pula ini  hampir pukul delapan malam.

Jino menghetikan tangannya yang sedang menggoreskan pensil warna ke buku gambar. “Tidak mau.” Jawabnya singkat, setelah itu meneruskan kegiatannya.

Aku menggeser duduk mendekati Jino, berupaya merayu. “Tapi, sayang. Kau harus makan. Bahkan ini, sudah lewat jam makan malam.”

Jino tidak merespons.

“Bagaimana kalau kita memesan burger ditambah Cola dan kentang goreng?”

Jino menggelengkan kepala.

“Mommy rasa, ayam goreng ditambah saus tomat juga keren. Kita pesan ayam?”

“Beberapa hari lalu Jino sudah makan ayam. Jino bosan makan ayam.”

Demi Tuhan, sifat menjengkelkan milik Sehun, kenapa harus menurun pada anakku?

“Bagaimana kalau kita membuat ramyun? Pasti enak sekali, kuah hangat—”

“—Tapi di dapur tidak ada ramyun.”

Naluriku tidak menyerah, menawarkan makanan kesukaan. “Mommy bisa membelinya di supermarket sekarang.”

“Kata Dad,  tidak boleh—makanan instan.” Jino menimpali dengan kepolosan.

Tanganku beranjak menyubit pipinya pelan, “Bisa tidak, kita melemparkan ayahmu ke jurang atau menguncinya di lemari pendingin? Mommy merasa, Jino sudah terlalu mirip dengan daddy dan itu membuat mommy geram, jika harus mendapatkan dua Oh Sehun sekaligus.”

Jino memberikan tatapan bingung, tidak terlalu paham dengan perkataanku. Anak laki-laki itu melejitkan bahunya dengan acuh sembari berucap, “Restoran Paman Kyungsoo. Biasanya dady membeli makan malam disana. Bisa pesan melalui telepon, delivery order.”

Cekatan tanganku meraih ponsel, “Berapa nomornya? Kita harus menyelesaikan rasa laparmu segera, sebelum mommy membakar rumah ini.”

Jino tekekeh pelan, jari telunjuknya mengarah pada sticky note di depan meja yang terletak tidak jauh. “Di situ.”

“Jino, kenapa tidak memberitahu mommy jika kita bisa memesan makanan dan Mom tidak perlu memasak?” Tanyaku ketika menunggu nada sambung berganti sapaan di ujung telepon.

Jino melirikku sebentar. Ia tersnyum lalu berkata, “Kata Dad, masakan Mom bisa membuat pasukan khusus Amerika pensiun dini. Jino ingin tahu, itu benar atau tidak.”

Jangan salahkan aku jika ada keinginan kuat dari diri untuk benar-benar melempar Sehun ke jurang, sekarang. Ya benar, sekarang!

“Aku mencintaimu.”

Kira-kira bisikan itu yang terdengar nyaring di mimpiku. Entah, pikiran telah bergeser ke sudut paling absurd mana yang membuatku mengingat sebuah mimpi—biasanya terlupakan saat mengelap liur.

Sesuatu itu tidak akan berbekas jika bukan hal yang menarik, bukan?

Yeah, mimpi itu menarik. Jika, orang lain yang melantunkan dua kalimat itu maka tidak menjadikan sesuatu yang berarti. Namun dalam mimpi, Sehun mengucapkan dengan nada penuh penyesalan, rasa kasih, dan pengharapan. Perasaan terenyuh dan larut menjadi cairan paling encer saat membuka mata.

Pagi hari, rumah kenangan, di ranjang anak laki-laki yang tidak dibesarkan dengan tangan seorang ibu, dan terbenam masa lalu—pengharapan atas cinta pria egois. Alasan-alasan seperti itu, mungkin dapat membuat halusinasi aneh—pernyataan cinta dari Sehun, sampai dunia kiamatpun tidak mungkin didapatkan.

Aku mengecup puncak kepala Jino yang masih terlelap. Senyum melengkung di bibir secara naluriah saat mengingat kembali bagaimana perdebatan alot kami kemarin malam karena  topik ‘Jino ingin tidur sendiri’.  “Jangan dewasa terlalu cepat, sayang.” Ucapku pelan, kemudian melangkah menuju pintu kamar.

Keluar dari kamar Jino yang didominasi warna hitam dan wallpaper Batman, aku mendapati suara dentingan aneh. Bukan dentingan suara piano—bedanya jauh, aku tahu! Persis suara seseorang sedang beradu dengan penggorengan dan spatula. Waspada, tentu saja. Bukannya, aku hanya berdua dengan Jino?

Apa itu asisten rumah tangga?

Tidak mungkin, aku tahu pasti bagaimana cara Sehun memperkerjakan mereka. Sehun lebih suka asisten rumah tangga datang pada saat ia di kantor atau tak ada keluarga di rumah. Mereka tidak akan datang tanpa dipanggil.

Aku menelusuri suara itu hingga ke dapur. Terperangah beberapa detik saat menangkap melalui mata seorang pria jangkung, berpunggung lebar, tampan, dan—sexy. Ia memakai apron hitam tangannya lincah berpindah memotong daging panggang.

“Beberapa gadis jatuh cinta pada saat menatap Oh Sehun memasak. Aku penasaran, bagaimana efeknya akan bekerja jika gadis itu telah jatuh cinta pada ku lebih dari sembilan tahun?” Sehun berucap acuh, seakan-akan ia sedang melaporkan perkiraan cuaca pagi hari yang cerah.

Aku menggigit bibir, berusaha tidak terpengaruh dengan ucapannya yang memancing kekesalan. “Kapan kau pulang?”

Sehun melewatiku sambil membawa dua piring berisi daging panggang yang wangi dan menggungah perut untuk merengek. “Beberapa jam lalu, dini hari.” Jawab pria itu, ketika meletakkan hidangan di meja makan.

Aku menulusuri wajah kuyunya yang tersenyum miring—tampan—berapa kali aku mengatakan jika, pria ini tampan?

“Seharusnya tidak perlu memasak. Kau tampak lelah.” Aku bersender pada lemari pendingin. Mengamati Sehun yang hilir mudik dari dapur ke meja makan.

“Lalu, siapa yang akan menyiapkan semuanya?”

“Aku bisa.”

“Melihat apa yang ada di tempat sampah. Aku rasa kau belum berhasil mengatasi selera makan Jino.” Sehun tertawa mengejek.

Aku memutar bola mata, “Dia mirip sekali denganmu.”

“Mungkin, masalah selera, benar.” Sehun melangkah mendekat. “Kami tidak suka sesuatu dibawah standar.” Ia terus melangkah mendekat—ini terlalu dekat. Membuatku mundur dan terjepit.

Rautnya serius, ia menggerakkan tangan ke samping kanan. Selamatkan jantungku—buat jantung ini diam—suara debarannya memalukan.

Sehun membisikkan sesuatu yang sukses membuatku menyingkir dan menepiskan tangannya. Kira-kira ia berbisik seperti ini,“Minggir Jung Nara. Aku ingin membuka lemari pendingin ini—dan kenapa pipimu bersemu merah? Kau berpikir yang bukan-bukan, ya?”

Kesal beserta langkah lebar, aku menjauh darinya menuju kursi di ruang makan. Serantanan menggeser kursi, menimbulkan suara berderit—ngilu.

“Wow, Jino bisa terbangun.”

“Bagus! Hari ini dia sekolah. Jino harus bangun pagi.”

Sehun menggeser kursi di hadapanku. Ia duduk dengan santai kemudian mengiris kecil-kecil daging panggang buatannya. “Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi, sebelum ia terbangun dan meraung-raung. Habiskan sarapanmu, kau butuh banyak tenaga untuk memaksanya mandi.”

“Dia tidak rewel. Kemarin Jino mandi dengan semangat—“

“—Bagaimana jika ceritanya berbeda. Bayangkan saja ketika kau diharuskan bangun pagi, kemudian diminta langsung mandi. Apa yang akan kau lakukan?”

“Menolak keras. Mandi di pagi hari bukan hal yang menyenangkan.” Tanpa sadar menjawab pertanyaan Sehun dengan jujur.

Sehun berdecak, “Jadi, aku tahu sekarang darimana sifat pemalas Jino di pagi hari. Ah, tunggu, bahkan kau tidak mencuci muka dan langsung menyantap makan pagi.” Sehun menambahkan raut jijik di ujung kalimatnya.

“Itu bukan urusanmu.”

Sehun berdiri ketika ia menghabiskan setengah makanannya. “Mau minum apa, jus jeruk atau air putih?”

Orange juice, please.

“Tidak ada. Air putih saja.” Katanya, ia menuangkan penuh-penuh air putih pada gelas,  setelahnya menyodorkan padaku.

Aku menerimanya setengah hati. “Begini, Oh Sehun. Kau tadi menawariku untuk memilih minuman, bukan?”

Yes! That’s true.

“Kau membuat tawaran padahal kau hanya punya satu hal untukku. Kenapa kau memintaku memilih?”

“Bukan memilih, tapi bertanya soal pendapatmu. Aku tidak berjanji untuk memberikanmu apa minuman yang kau pilih.”

Oh my god. Can you just go to hell!”

Sehun terkekeh hingga matanya tertinggal satu garis. “Kau benar-benar seribu kali lebih memesona pada saat kesal—marah, apalagi.”

“Aku tidak mau lagi berbicara denganmu.” Ucapku, hendak berdiri.

Sehun mencegah. Ia menggenggam tanganku erat, membuatku terduduk kembali. “Analogi itu sama denganku, Jung Nara. Jika, aku bertanya apa kau mencintaiku atau tidak, apa jawabanmu?”

Terpekur.

Kehilangan kosa kata.

Aku mencintaimu itu jawabannya. Kau tidak perlu bertanya, batin ini menjawab lebih cepat daripada bibir.

“Seperti aku memberimu air putih, padahal kau menginginkan jus jeruk. Walaupun, jawabanmu tidak mencintaiku—“

“—Sehun.”

“Walapun, kau tidak mencintaiku. Aku akan tetap mencintaimu karena itu satu-satunya pilihan—satu-satunya hal yang ku miliki.”

-oOo-

Advertisements

1,059 thoughts on “[3rd – B] Sad Movie

  1. Aaaaa 😳😳😳 Sehuuuun manis bgt bgt..
    Jadi Nara tau Sehun selalu ngejaga dan perhatiin Dia semenjak Nara pergi? Tapi kok bisa gak peka sama perasaan Sehun? 😕
    “Agar semua orang tahu kalau Jino dan Sehun punya Nara.” Fall in love with that word 😍😍😁😂
    Alda next lagi, yaaaakk…

  2. Bisa ae cangkang rexona-Sehun-. Aku sempet bingung loh pas awal, kirain partnya ketuker sama yg 3A, tapi ternyata ada beberapa bagian yg emang gak dijelasin dipart 3A sih
    Lanjukan! 😁😁😁

  3. Ini kenapa aku yang senyumsenyum sendiri waktu sehun nyatain perasaannnya. Haha
    Ini part yg bikin baper banget akhirnya!

  4. pliss.. semoga nara sama suho ga ada apa2 . . semoga mrk cuma pengen ngebuat sehun sadar doang😔
    sehun udah nyatain perasaanya tuh… kapan nara bakal nyatain perasaanya?? 😌

  5. Berapa kali coba aku bilang feelnya dapet banget. Segala gengsi dua duany. Jino jadi korban kan. Semoga cepat membuka mata deh

  6. Aduhh gw nangis pas bagian jino idup tanpa emakk .. Dasarr sma2 egois bgt kasian jinonya ayo dong kpan rujuk…

    Ini cerita keluarga markumm nihh suka gw .tapi ditutup dg scene yg manis kek gulali 😱😱😍

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s