On Rainy Day

Poster on rainy day

Author

Twelveblossom

Main Cast

Kyungsoo & Kim Jisoo

Support Cast

Kai & Sulli

Length One shot

Backsound

On Rainy Day – Beast

Prev It’s Gonna Rain Tomorrow

This storyline is mine, please don’t copy paste.

-oOo-

I erased all of you. I emptied out all of you. But, when the rain falls again all the memories of you I hid with effort. It all comes back, it must be looking for you.

Bulir-bulir air menuruni langit, tidak ada kompromi disana. Basah. Dingin. Menjengkelkan. Perasaan itu tiba-tiba menguar di hati seorang gadis yang sedang merenungi kebodohannya. Kim Jisoo mengetahui dengan pasti bagaimana efek hujan pada dirinya.

Oh, yeah. Selain berakibat flu. Kesintingan masa kecilnya juga perlahan-lahan kembali merasuki Jisoo. Dulu, sewaktu masih suka mengenakan gaun-gaun putri salju, Jisoo sangat menunggu-nunggu datangnya hujan. Hanya menunggu bukannya suka.

Jika hujan tiba, teman masa kecilnya—Kyungsoo akan mengajaknya melihat hujan di halaman rumah. Jisoo menyukai hujan karena Kyungsoo juga suka.

Aku mencintai Kyungsoo, bukan hujan, pikiran Jisoo meluruskan.

Hah. Jisoo menghela napas kuat-kuat. Memikirkan pria itu di tengah hujan hanya membuatnya semakin terjerumus.

Terjerumus semakin dalam ke lubang kenangan. Oh picisan sekali, batin Jisoo. Gadis itu benar-benar tidak ingin menambah kemalangan cerita hidupnya di usia 21 tahun.

Hidup Jisoo sudah mirip seperti opera sabun.

Bagaimana tidak?

Jisoo putus dalam kondisi perang dingin dengan Kyungsoo enam bulan lalu. Well, mereka masih saling mencintai, hanya ada sedikit kesalahpahaman. Jisoo menuduh Kyungsoo berselingkuh, sedangkan pria itu mengelak. Ego yang besar beserta sikap tidak mau mengalah—Kyungsoo lelah dengan semua tuduhan tidak masuk akal kekasihnya—memutuskan hubungan mereka.

Hebatnya, Jisoo menyesal pada detik berikutnya saat kalimat, “Lebih baik kita mengakhiri semuanya.” Terucap secara gamblang dari bibir. Biasanya, Kyungsoo hanya menganggap main-main keputusan serantanan Jisoo, akan tetapi selalu ada yang berbeda untuk kali pertama.

Jisoo mengingat dengan jelas bagaimana raut Kyungsoo yang mengeras, seperti batu. Ekspresi dingin yang tak pernah ditunjukkan Kyungsoo menjadi latar belakang persetujuan pria itu atas gagasan Jisoo.

Menyesal?

Jelas, Jisoo selalu menyesal.

Hm.

Jari telunjuk gadis itu sedang bergerak melukis sesuatu di jendela yang terkena embun. Do Kyungsoo, gerakan refleks. Jisoo menulis nama mantan kekasihnya dengan uap-uap air yang menempel di jendela.

“Alam bawah sadarmu tidak bisa berbohong, Kim Jisoo.” Kalimat mengejek berasal dari seorang pria, mengisi pendengaran Jisoo. Pria itu—Jongin tengah meletakkan kopi hitam di atas meja sembari memindai penampilan muram Jisoo, kemudian berdecak prihatin.

Jisoo mendengus sebelum menimpali humor tidak lucu dari Jongin, “Jaga bicaramu, Kim Jongin.” Jisoo mendelik tidak suka karena ditelanjangi oleh tatapan pemuda berkulit coklat itu.

“Satu minggu lalu, aku melihatmu berciuman dengan seorang pria di gerai kopi ini. Siapa dia?” Jongin bertanya penuh nada selidik, ia belum menyerah mengganggu kedamaian Jisoo.

“Bukan urusanmu,” jawab gadis itu tak acuh sembari menyesap kopi hitamnya. Ia memejamkan mata, mencoba menolak kehadiran Jongin yang lumayan berisik.

Jongin duduk di kursi, berhadapan dengan Jisoo. Ia mengetuk kepala gadis yang menjadi lawan bicaranya dengan nampan yang sedari tadi dibawa-bawa. “Kau gadis bodoh. Berkencan dengan pria lain padahal masih mencintai seseorang.”

Jisoo bergeming. Jongin benar-benar terlalu gemar mencampuri urusan orang lain. Lantaran menjawab, gadis itu malah menelungkupkan wajahnya di atas meja.

“Kim Jisoo!” Seru pria itu tak sabaran, menatap Jisoo yang bertingkah seolah-olah tertidur.

“Kau ini berisik sekali, sepupuku. Pergi layani pengunjung lain sana. Bibi akan sangat marah jika melihatmu bermalas-malasan.” Jisoo memperingatkan pria itu, menyinggung masalah bos Jongin yang suka marah-marah, biasanya membuat sepupunya gentar.

Jongin si pekerja paruh waktu itu, mulai  mengalah. Bukan karena gertakan, si bos yang gemar memarahi bawahannya. Lebih pada simpati dengan suara bernada putus asa milik sepupunya. Ia paham benar bahwa yang dihadapinya sekarang bukan gadis waras. Jisoo telah kehilangan akal sejak enam bulan lalu. Sepupunya itu, melampiaskan kerinduan pada Kyungsoo dengan mengencani beberapa pria. Bergantian.

Sejujurnya, Jongin terlampau khawatir, jika sepupunya itu dimanfaatkan oleh pria yang hanya menginginkan seks. Jongin pria brengsek. Tentu saja, ia mengerti bagaimana jalan pikiran pria brengsek lain.

“Dia menciumu di tempat umum, Jisoo. Dengar, aku tidak ingin—”

“—terimakasih, Jongin. Aku ingin sendirian sekarang. Tolong.” Jisoo memotong perkataan Jongin dengan suara memelas. Sepasang mata coklat itu menatap dalam-dalam manik sepupunya.

Pria itu membalas tatapan Jisoo, kemudian mendesah. Menyerah, ia beranjak dari tempat duduknya. Jongin meluruskan apron lantas berucap singkat. “Aku mencemaskanmu, Kim Jisoo.”

Gadis itu meraih tangan Jongin, meremasnya lembut. “Aku tahu. Soal pria yang kau maksud, aku sudah putus dengannya. Dia mengajakku tidur bersama—”

“Bedebah itu perlu…”

Jisoo memotong amarah Jongin dengan kekehan. Aku tidak sanggup jika harus mencari-cari masalah lagi.

Jisoo mencoba berakting tertawa untuk mengurangi niat apapun yang ada dipikiran Jongin, seperti mematahkan leher atau memberikan pukulan. “Jongin jangan mengeluarkan ekspresi seperti itu. Sungguh, hidungmu mengembang dan mengempis seperti pantat gajah.” Keras-keras Jisoo menyelesaikan leluconnya, membuat pengunjung gerai kopi yang lain menoleh lalu menjelajahi gestur Jongin.

“YA!” Jongin membuang muka. “Kau ini tahu benar bagaimana cara mengusirku.” Pria itu melangkah lebar-lebar meninggalkan Jisoo yang berusaha tertawa. Bukannya nampak gembira, tawanya malah lebih mirip simpanse yang sedang tersedak.

“Jongin selalu sensitif dengan topik yang berkaitan mengenai hidung.” Gumam Jisoo mengakhiri tawa tololnya, ia kembali menatap ruas-ruas kaca yang menghubungkan pada jalanan kota Seoul.

Tidak ada yang istimewa disana selain tetesan air yang membasahi petak-petak yang tak terlindung. Keburu bosan, pikiran Jisoo melalang ke hal-hal yang membuatnya sakit kepala. Mulai dari diri yang tidak pernah bisa mengendalikan perasaannya sendiri sampai rutukan penyesalan berulang-ulang atas keputusannya.

Semuanya terasa sia-sia, Jisoo tak memiliki keberanian untuk sekedar meminta maaf. Kebenaran yang diyakininya bahwa, aku tidak bersalah, seharusnya Kyungsoo yang memohon agar aku kembali padanya. Jika dia mencintaiku, Kyungsoo tak akan membiarkan ku pergi.

Keyakinan pada dirinya membuat darah Jisoo berdesir. Setiap desiran berubah layaknya jarum yang menusuk organ dalam. Kyungsoo tidak mencintaiku, lagi. Kalimat-kalimat penolakan akan dirinya sendiri membuat Jisoo ingin sekali berdebup ke tanah, menghilang di telan bumi.

Jisoo terlalu tergantung pada Kyungsoo.

“Kalau dipikir-pikir. Kau sangat menyebalkan Do Kyungsoo. Berlarian seenaknya di pikiranku, bahkan saat kita sudah tidak bersama.”

Tangan yang menopang dagunya melorot begitu saja, ketika bunyi lonceng gerai kopi itu berdentingan. Jisoo membuang muka, menyadari siapa yang baru saja memasuki gerai kopi itu. Seorang pria berambut hitam—basah karena hujan, mengenakan kemeja hitam dan celana hitam. Serba hitam, khas Kyungsoo.

Jantung Jisoo yang awalnya berdetak kencang karena canggung dan berpikiran macam-macam seperti Kyungsoo datang kemari karena merindukan ku, mencelos begitu saja. Jisoo menggigit bibirnya, tangannya bergetar saat berusaha meraih cangkir kopi yang sempat ia abaikan. Jisoo menangkap dengan jelas pemandangan, bahwa Kyungsoo tidak sendirian datang ke gerai kopi. Jemari mantan kekasihnya itu, menggenggam tangan gadis lain. Kyungsoo mengelus dengan lembut kepala gadis lain itu, kemudian membimbing ke meja paling ujung menghadap ke jendela—satu deret dengan Jisoo.

What can I do about something that already ended?

Semuanya telah berakhir, Jisoo tidak berhak marah. Haknya telah dicabut. Toh ia juga membawa pria lain—minggu lalu, tepat di muka Kyungsoo. Lebih parahnya lagi, Jisoo memperbolehkan pria lain itu mengecupnya. Akan tetapi, Jisoo tidak dapat berlapang dada. Perasaan marah itu merajut hingga ke ubun-ubun. Apalagi, ketika gadis itu menyadari siapa yang tengah bercengkrama dengan Kyungsoo. Seorang gadis yang menjadi penyebab rusaknya hubungan mereka. Choi Jinri.

Jisoo mendengus, “Dulu dia membela diri, menolak mentah-mentah argumenku tentang perselingkuhannya dengan Jinri. Lihat saja sekarang, siapa yang berbohong.” Jisoo bergumam sembari meneguk habis kopi hitamnya. Gadis itu tidak tahan lagi menyaksikan semua adegan picisan yang dibintangi Kyungsso-Jinri. Hatinya terbakar sampai hangus.

Nampaknya, Kyungsoo juga tidak menyadari kehadiran Jisoo yang berulang kali melotot ke arah mereka. Daripada Jisoo melakukan hal-hal ekstrim. Eum, melempar kursi atau membalik meja, misalnya. Lebih baik ia bergegas meninggalkan gerai kopi terkutuk.

Jisoo beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah lebar-lebar melewati pasangan Kyungsoo-Jinri sembari menghentakkan kaki. Seakan-akan baru tersambar perit, Kyungsoo menoleh, tatapannya mengikuti tubuh Jisoo yang bergerak menjauh—keluar dari gerai kopi—menembus hujan deras.

“Bukankah dia Jisoo, Oppa?”

Kyungsoo kembali fokus ke arah Jinri, “Benar.”

Jinri tersenyum, “Dia tidak berubah.”

“Hanya tubuhnya yang semakin meninggi, tetapi tingkah lakunya sama seperti gadis berusia lima tahun,” ujar Kyungsoo. Pria itu bersedekap, matanya menelusuri hujan lewat kaca.

“Dia cemburu,” Jinri terkekeh menyadari betapa lucu ucapannya.

“Tidak, minggu lalu dia berciuman di gerai ini dengan pria lain.”

“Kau cemburu, Oppa.”

Kyungsoo menyipitkan mata, tidak terima dengan ucapan Jinri, namun juga mengakui kebenarannya. “Sedikit,” timpal pria itu.

Jinri menggelengkan kepalanya, jengah. “Kalau begitu, kenapa kau masih disini, Do Kyungsoo Oppa?”

“Menemanimu, menemui Jongin.”

Jinri berdecak. “Sungguh aku terkesan dengan kepandaianmu. Tapi, aku sama sekali tidak terpesona dengan keodohanmu dalam memahami perasaanmu ataupun perasaan orang lain.” Gadis itu mengambil napas sejenak. “Kalau Jisoo, mencintai siapapun yang ia kecup minggu lalu. Jisoo tidak mungkin keluar dari gerai kopi ini dengan air mata yang hampir menetes, mendapati kita berduan seperti ini.”

Kyungsoo tidak menanggapi, pria itu masih sibuk memandangi derai air yang jatuh, semakin deras.

“Kau sangat cemburu. Kau masih sangat menyukainya, Oppa. Terlihat jelas dari matamu yang bulat itu.” Jinri terkekeh.

“Tutup mulutmu, Choi Jinri.” Kyungsoo memperingatkan.

Jinri nampaknya tidak takut dengan gertakan Kyungsoo. Ia malah bersemangat melanjutkan ucapannya. “Aku yakin kau sekarang sedang gelisah.”

Kyungsoo menaikkan alis matanya, “Jangan berspekulasi macam-macam.”

“Jisoo alergi dingin, pasti kau sangat cemas karena Jisoo tadi menembus hujan. Kenapa tidak kau kejar saja, sih?”

Kyungsoo menatap Jinri dalam-dalam. Ia tidak dapat menyembunyikan apapun dari Jinri, selalu seperti itu. “Aku tidak habis pikir, gagasan Jisoo mengenai aku yang berselingkuh denganmu. Pasti gadis itu menyesal kalau  mendengar semua ucapanmu ini.”

Jinri mengedipkan matanya. “Kejar dia, Oppa. Dulu kau dan aku memang sepasang kekasih, kemudian putus. Aku tidak berniat sama sekali berpacaran lagi denganmu. Bilang padanya, aku tidak pernah mengunakan barang yang sama dua kali.”

Kyungsoo terkekeh. “Senang mendengarnya.”  Pria itu menghela napasnya dalam, seakan sedang memikirkan beban hidup. “Aku tidak akan mengejarnya.”

“Oh, katakan itu saat kau dapat menghilangkan kecemasan pada rautmu, Oppa.” Jinri berucap kesal. Gadis itu ingin sekali menampar pipi Kyungsoo agar otaknya dapat bekerja dengan benar.

-oOo-

Jisoo kedinginan. Gadis itu menyesali kebodohannya. Ia tak seharusnya melakukan kegiatan berhujan-hujanan. Kaos putih dan jeans biru yang dikenakan telah basah kuyup. Sebenarnya, agak terlambat, ketika ia menyadari tubuhnya mulai mengigil kemudian berteduh di salah satu halte bus. Tetes-tetes air menggenang di lantai yang ia pijak. Kondisi lingkungan di sekitarnya sedang sepi, hanya satu atau dua mobil yang melewati jalan raya.

Gadis itu menggosok-gosok tangan sembari menunggu bus datang. Awalnya baik-baik saja, semua menjadi buruk saat ia merasakan pusing—terasa berputar-putar.

Alergi dingin, sialan. Benak Jisoo menguarkan aksi protes. Rasa gatal yang sudah ia kenal mulai menjalar ke tangan dan kaki. Gadis itu jatuh terduduk di kursi halte. Ia merogoh tas coklat yang terselempang di bahu. Berusaha menemukan ponsel. Paling tidak ia harus menghubungi seseorang, jaga-jaga kalau pingsan.

Jisoo menghembuskan napas kesal menatap layar ponsel, meredup. Baterai ponsel itu habis. “Sial sekali aku hari ini,” keluh gadis itu sembari mengambil ancang-ancang hendak melempar ponselnya.

“Kau sudah merusakkan lima ponsel tahun ini, Kim Jisoo.” Suara yang sangat dikenal, berasal dari seorang pria yang memiliki tinggi standar dan sedang menggenggam gagang payung.

Mulut Jisoo membuka. Semakin terkejut ketika pria itu menutup payungnya, mengambil posisi duduk di sebelah Jisoo.

“Kau seperti melihat hantu.”

Jisoo menggelengkan kepala ragu. “Kau terlihat seperti hantu.”

Kyungsoo tersenyum. Pria itu tidak menimpali, hanya menatap jalan yang ada di hadapannya. Jisoo yang bingung harus mengisi keheningan mereka dengan topik seperti apa. Kepala gadis itu terlalu pusing memikirkan hal berat. Well, Kyungsoo salah satu dari sekian banyak yang memeratkan hidupnya—meringankan juga.

Gadis itu menempelkan telapak tangannya di dahi, berusaha mengurangi efek pusing. Tubuhnya membeku saat ia merasakan Kyungsoo menarik telapak tangannya, kemudian mengusapnya.

“Kau kedinginan,” ucap Kyungsoo. Terselip nada panik di dalam suaranya.

Belum sempat Jisoo menanggapi, pria itu telah melepaskan tautan jemari mereka. Beranjak dari bangku kemudian melepaskan jaket yang ia kenakan.

“Kau bodoh atau bagaimana, sudah tahu alergi dingin, malah hujan-hujanan,” kata Kyungssoo. Pria itu menyampirkan jaket ke pundak Jisoo.

Kyungsoo mengataiku bodoh, geram Jisoo di dalam hati,

Pria ini benar-benar ingin memulai pertikaian. Sedari tadi Jisoo sudah mengira-ngira apa yang akan membuat mereka tersulut kembali—memulai pertengkaran. Ayolah, seharusnya ia dan Kyungsoo sedang perang dingin! Bukannya saling serang mereka malah berbagi kehangatan.

“Aku tidak bodoh,” Jisoo mengatakannya. Ia mengerucutkan bibir.

Seperti biasa, bukannya meminta maaf, Kyungsoo malah melakukan hal yang membuat jantung Jisoo kehilangan kendali. Pria itu menarik Jisoo ke dalam pelukannya. Ia menggosok punggung Jisoo, berusaha menularkan kehangatn suhu tubuhnya. Jemari Kyungsoo menyisir surai coklat Jisoo.

“Jangan memberontak,” bisik Kyungsoo.

Demi semua cokelat yang ada di lemari es Jisoo, tidak ada satupun niat yang tercetus dipikiran gadis itu untuk menolak pelukan hangat ini. Bahkan ia hampir saja berniat memejamkan mata lalu tertidur, saat Kyungsoo mengecup puncak kepalanya.

Jisoo sinting. Ia seharusnya menolak. Ia seharusnya marah. Mereka sudah putus.

Kalau begini akhirnya, apa arti pertikaian mereka selama ini?

“Kim Jisoo, jangan ketiduran.”

“Hmm..” Jisoo bergumam.

“Kau lupa kalau kita sedang bertengkar?”

Gadis itu menggeleng dengan cepat. “Tidak, tapi aku mau pura-pura lupa sebentar.”

Jisoo merasakan tubuh Kyungsoo bergerak, pria itu tertawa. “Kenapa begitu?”

“Aku lelah membencimu. Hatiku sudah melakukan persekutuan denganmu, seberapa besar usahku untuk marah selalu berakhir mengenaskan.”

Kyungsoo melepaskan pelukannya. Pria itu menatap dalam-dalam netra Jisoo yang kembali hidup, beberapa menit yang lalu ia hanya mendapati seorang gadis yang mengigil hampir pingsan.

“Seharusnya, aku melakukan ini sedari enam bulan lalu.” Sesal Kyungsoo.

“Kenapa? Kau menyesal sudah berselingkuh dan baru sadar kalau aku lebih cantik.”

Kyungsoo memaklumi, “Kau masih menuduhku seperti ini. Asal kau tahu, Kim Jisoo. Jinri menyukai sepupumu itu, Kim Jongin”

Jisoo melotot. Matanya hampir keluar karena kaget. “Gadis secantik Jinri menyukai, pria paling cerewet sedunia seperti Jongin. Kau pasti bercanda.”

Kyungsoo melejitkan bahu, tanda tak peduli. “Begitu adanya mau diapakan lagi.”

“Dunia sudah mulai tidak waras.”

“Kau sudah tidak waras dari bertahun-tahun lalu,” Kyungsoo mengeluh.

Jisoo memberengut, “Aku tidak waras, tapi kau suka.”

Kyungsoo mengangkat tangannya. “Jika masalah itu, aku tidak dapat mengelak.”

Good boy,” ujar Jisoo cepat-cepat. Gadis itu, tanpa berpikir panjang beranjak mengecup pipi Kyungsoo. Secepat kecupannya, secepat itu pula Jisoo menyadari ia telah melakukan hal yang memalukan.

“Kebiasaanmu mencium sembarang pria tidak pernah berubah,” ujar Kyungsoo datar. Lantaran gembira dengan kecupan gadisnya, Kyungsoo malah tersinggung.

“Aku hanya pernah mencium satu orang pria, selain daddy.”

“Siapa?”

“Kau, Do Kyungsoo.” Jisoo menjawab sembari menghentakan sepatu.

“Kemudian, pria yang seminggu lalu. Apa kau lupa?”

Jisoo menggaruk hidungnya yang tak gatal—kebiasaa jika ia gugup. “Dia bukan siapa-siapa. Aku hanya, eum.”

“Hanya apa?”

Sembari menggigit bibir bawah, perlahan-lahan menatap mata bulat Kyungsoo, gadis itu berkata. “Aku hanya ingin membuatmu cemburu.”

Kyungsoo serta merta merekahkan senyum, “Sudah ku duga.” Pria itu mengelus pipi Jisoo lembut, menelusuri semburat merat yang muncul disana. Ia benar-benar merindukan gadis yang membuatnya selalu khawatir. Gadis yang tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar tanpanya—gadis yang telah menyita semua yang ia punya serta inginkan.

“Aku merindukanmu,” rengek Jisoo dengan menggembungkan pipi.

“Kau kira aku tidak?”

“Aku mencintaimu.”

Pengakuan cinta Jisoo tidak dibalas balik dengan ucapan.

Untuk apa kata-kata jika dapat langsung membuktikan?

Kebiasaan Kyungsoo, tidak pernah berubah.

Kyungsoo mengecup dahi gadisnya, beranjak pada kedua kelopak mata gadis itu, kemudian pipi Jisoo. Berujung kecupan manis di sudut bibir, Jisoo.

Manis seperti gula.

Jisoo suka gula.

Jisoo suka Kyungsoo.

Daripada gula, Jisoo lebih menyukai Kyungsoo.

Oh, berhenti memikirkan gula, Kim Jisoo. Gadis itu berseru di dalam benaknya. Disela-sela kecupan Kyungsoo, Jisoo memikirkan banyak hal.

Mereka hanya membuang waktu selama enam bulan untuk berusaha saling melukai. Tapi, takdir tidak pernah kehabisan jalan. Hujan menjadi media penghantar pesan takdir. Melalui hujan mereka mengingat apa yang telah kandas disebabkan oleh amarah. Melalui hujan mereka berhenti saling melukai.

“Untung ada hujan,” bisik Jisoo ketika Kyungsoo menggosokkan hidung mereka—kebiasaan sedari dulu, sukar hilang.

“Untung ada halte ini,” ujar Kyungsoo membuat tawa Jisoo menguar.

Mereka tertawa.

Tertawa bersama hujan.

-oOo-

a/n:

Hai, ini lanjutan dari It’s Gonna Rain Tomorrow, nah pertanyaan masalah ‘kenapa Jisoo sama Kyungsoo bertengkar?’ sudah terjawab. Kemudian ada yang bilang, gak rela Jisoo-Kyungsoo bertengkar. Nah, sudah aku damaikan disini.

Maaf kalau ada typo, baru sempat dibaca ulang sekali. Hehehe.

Oh ya, untuk lanjutan Sad Movie, tolong bersabar ya. Aku masih berusaha menulisnya.

Terimakasih sudah membaca <3.

-Twelveblossom-

Advertisements

54 thoughts on “On Rainy Day

  1. Wiw wiw kirain beneran kyungsoo bawa yeoja yg kukira pacarnya … Ternyata… Akhirnya mereka kembali bersama lg… Bahagianyaaaaaaaa

  2. Manis, seperti senyum kyungsoo semua terasa manis. Kamu hebat aku ga ngerti harus komen apa, dan hai aku reader baru, emmm enggak sih sebenernya aku pernah baca beberapa ffmu dan meninggalkan jejak, tapi untuk masuk di wp pribadi mu aku baru sempet, dan aku suka. Aku mau masuk lebih dalam, dan tolong sediakan map, aku takut saat aku masuk aku ga nemuin jalan buat keluar karena terlalu nge-fly dibuat sama kamu, salam manis dari fansnya kyungsoo oppa ya:)

  3. Couple yg bodoh tapi sweet.. favoritku di ff km tis..

    Aduh kan cuman krn salah paham aj, untung kyungsoo ngejar jisoo kalo gak psti ud pingsan tuh.. akhirny bersatu kembali.. jangan2 ngambek2 lg yah soo-soo couple..

  4. ugh! so sweetttttt >< paling suka kalo baca kisahnya jisoo sama d.o, rasanya pengen punya pacar macem d.o gtu deh xD muehehehe xD
    keren bgt ka fanfictnyaa😄😄 semangat ya ka,semoga bisa lbh banyak buat cerita ttg soo kapel ini🙌🙌

  5. Hello tweleve blossom:) saya reader baru disini and i love your ffs seriously hehe its really entertaint me. Dan maaf baru comment di ff ini karena too excited to read all of yours.

  6. Uhhh so sweettt!! Ternyata kesalahpahaman yg bikin hubungan mreka jadi ‘putus sementara’
    Hohooo… Untung ada Jinri, Jongin, ‘hujan’, ‘halte’… Clearr! Yeayyy! Lope2 kaa 🙂

  7. Akhirnyaaaaa… Kyungsoo-Jisoo 😍
    aku baru nemu blogmu hari ini, Author. Dan langsung jatuh cinta sama isinya. Apalagi sama pasangan ini. Kyaaaaa… Aku bookmark loh wpnyaa. Biar gampang. Hihii..
    Sukaaaaaaaa 😄😄😄

  8. Akhirnya Happy Ending,,,,
    Gak nyangka Jinri suka sama Kai hahaha :3 awalnya aku kira Kai itu namja yang diajak kencan sama si Jisoo, eh ternyata bukan ya :3

  9. oh ini lanjutannya toh. kkkk lucu deh mereka padahal saling cinta tp malah ngelukain satu sama lain gara2 salah paham doang 😀
    tp untungnya mereka balikan lg, yeay!!!!
    gue mau deh jd jisoo lol
    ditunggu cerita kyung-ji lainnya 🙂

  10. h̲̣̣̣̥υ̲̣̥jɑ̣̣̝̇̇n̤̈ cerita yang keren, karna h̲̣̣̣̥υ̲̣̥jɑ̣̣̝̇̇n̤̥̈̊ , yeee, ini bagus binggo, suka deh 😀

  11. alah keren banget sih aduhhhh :”) bikin iriiiii ! kata”nya bagus banget rangkaianyaa! kayak baca cerita dari seorang sastrawan terkemuka wkwkwkwk , ditunggu karya selanjutnya sama kelanjutan sad movie hihihihi

  12. Aaahh seperti biasa ff kakak bsa bkin aku deg deg duar, nebak nebak trus gk rela klau udh mau habis hahaha, sukaa bangeet
    Apalagi cast nya kyungsooo aaaa
    Trus note trakhirnya itu lucuu “gk rela mereka berantam nah sudah aku damaikan” hahahaha

  13. Akhirnya mereka baikan..:-)
    Kyungsoo n Jisoo. soosoo couple?
    Ini tinggal nunggu cerita selanjutnya gimana pas mereka married, bakalan seru kayaknya..hha
    Sikap Jisoo kalau lagi manja gitu ya, bikin gemes. Kyungsoo juga akhirnya ngejar Jisoo, akhirnya..lega..

    Ditunggu juga kelanjutan ff sad movie. Cepet dipost ya.
    Ok, keep writing n fighting!! 🙂

  14. wah mereka udah baikan nih, jisoo lcu jga kalo marah, nggak bayangin jg kyungsoo klo lg manja sm pacar gitu ya? hahaha.
    aku kngn sad movie eon, duh kangen sehun ini, cepet lanjutin ya, jngn lpa juga post cerita eon yg lain krn aku suka bgt tulisan eon, pamit *bow

  15. hahah kak kamu srlalu berhasil membuatnya fluff pada akhirnya ekwk si jisoo kayaknya rada manja gitu haha tapivakhirnya jrng jeng jrng mereka bersatu hooray! 😀

  16. akhirnya balikan lagi kyungsoonya sama jisoo hahaha
    Seperti kata kyungsoo dia bakalan dapet lagi jisoo di hujan berikutnya kayanya bener dah hahaha
    Jisoo nya salah paham 😦
    Keep writing yah 🙂

  17. Halo kak titis!!! *guling2 abis baca ff ini*

    Aduh gak ngerti lagi, ini tuh emang campuran antara manis, sakit, lucu dan gemesin. Mereka sama2 gengsi dan sama2 gak bisa mupon ampe nyakitin diri sendiri. Dan menurutku sifat jisoo ini sedikit childish(?) Karena dia terlalu mengagungkan ego. Tapi kalo gak gitu mereka gak akan belajar dari kesalahan sih yaaa

    Well ternyata bukan aku aja yg ngakak di bagian ‘pantat gajah’ hahaha dan bagian simpanse tersedak? (Kalo gak salah). Itu ngakak banget *salah fokus*

    Yup, aku juga menemukan beberapa typo di kata yg ada di sini. Tapi tetep aja sih gak ngaruh karena bisa ketutup sama diksi kakak.

    Epic! Next time aku dateng lagi! Keep writing kaaak! ♡

  18. Yeay! Baikan yeay! Sukaaaa, sifat kyungsoo knapa baik sekali sih, dewasa banget mau nyamperin duluan hihi. Sukaaa! Sukaaa! Akhirnya mereka baikan, akhirnya manis2an lagi merekanya hihi. Sukaa! Dilabjutin ya series jisoo-kyungsoo nya hihi

    Sad movienya ditunggu! Ditunggu hihi

  19. Alhamdulillah ada lanjutannyaaaa yeay!
    Ini adalah salah satu pasangan tercute di duniaaaaaaaa imajinasiku.-.

    Oiya, yg catch me if you can gak dilanjutin yaa?

    Sad Movie ditunggu selaluuuuu!

  20. ngga tau kenapa suka banget ama karya eonni ,, kata2nya itu yg bikin aku betah baca ulang baca ulang ,,, suka ama sifatnya kyungsoo mereka itu yah ah gemesinnn banget , semoga di ff kyungsoo jisoo selanjutnya ada konflik , seneng liat mereka berantem gtu , eon love love

  21. hidung kim jongin mcem pantat gajah kembang kempis, ngakak author cinta gajah slalu ada gajah, author alaay aku suka ff ini kyk suka sad movie, thor bekyun sudah break up skrg sama krystal ayo lanjutkan :)))

    1. Baekhyun break up trs skrg sm krystal mksdnya gmn? Hehe apa itu dr fanfic atau apa? Hehe maaf ya aku kepo. Klo dr fanfic ksh tau dong fanfic apa aku mau baca wkwk

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s