Tatto

Tatto

Author

Twelveblossom

Cast

Oh Sehun & Nara

a/n

Terinspirasi dari novel karya Dee Lestari berjudul Akar

PG-15

-oOo-

Aku menatap seksama kegiatan Sehun. Pria itu hendak melukis Mandelbrot set berkanvas kulit—kulit seorang gadis yang terkikik. Mata gadis itu berkilat-kilat kegirangan merasakan sentuhan Sehun yang sedang mengoleskan lap kertas alkohol 70% di tangan.

“Saya suka dengan outline yang kamu kirimkan kemarin,” ujar gadis itu memulai percakapan.

Sehun yang sedari tadi menunduk, akhirnya mendongakkan kepala. Oh, mereka sudah cukup dekat dengan posisi berhadapan, apalagi sekarang  saling bertatapan.

“Bagus, kita bisa menyelesaikannya lebih cepat,” ujar Sehun sembari tersenyum.

“Tidak perlu cepat-cepat. Saya suka berlama-lama denganmu,” kata si gadis bersurai merah menyala, ia tidak lupa menyelipkan kerlingan nakal ke arah Sehun.

Aku tidak sanggup lagi berdiam diri, bergeming atau pura-pura menjadi hantu di siang bolong. Dengusan keras yang sengaja ku ambil untuk merebut perhatian keduanya. Ayolah, di ruangan ini tidak hanya ada mereka, tapi ada aku juga!

Sang gadis, nampaknya tersingung dengan dengusanku. Tatapannya seakan-akan ingin mengusirku sekarang juga. Ia mengoreksi diriku mulai dari atas hingga bawah, menelanjangi. Gadis berpakaian kekurangan bahan itu tertawa meremehkan. Ia mencuri pandang pada jus jeruk yang tinggal setengah isinya, tersaji di hadapanku.

“Selama ini saya menjadi pelanggan kamu dalam pembuatan tato, tapi kamu tidak pernah membawa seseorang untuk ikut.”

Sehun menempelkan stensil di kulit si gadis yang akan dibor, masih terfokus dengan pekerjaannya ia menjawab seadanya. “Dia memaksa ikut,” jawab Sehun.

“Siapa dia?” Benar-benar gadis itu sangat ingin tahu. “Sepertinya dia tidak biasa ke club. Maksudnya, kamu tau sendiri jika The Cornwall terkenal dengan mecisso yang dapat membuatmu melayang. Dia malah memesan jus jeruk.” Lanjutnya, mengimbuhi dengan segala kekampunganku.

She is my girlfriend,” lagi-lagi Sehun berkata tanpa nada tertarik di suaranya.

Gadis yang entah masih gadis atau tidak, hendak menimpali lagi, akan tetapi suaranya tertelan desingan. Mesin yang bergerak dengan gesit di tangan Sehun mulai merajut membentuk garis-garis yang sudah dirancang jauh-jauh hari.

Menunggu pembuatan torehan kulit selesai, aku hanya menghabiskan waktu untuk mengecap jus jeruk yang tadi dihina kampungan. Bergerak tidak nyaman di kursi sofa ekslusif, seharusnya aku menikmati suasana VVIP yang sengaja dipesan untuk membuat tamunya terlena hingga lupa diri.

Aku memang tidak terlalu menyukai pekerjaan Sehun sebagai tukang tato. Lebih pada manusia-manusia yang ada di sekitarnya seperti gadis itu. Terlalu menggoda, seksi, dan mengundang untuk dibawa ke ranjang semalaman. Ah, entahlah pikiran-pikiran liar seperti ini hanya membuat kepala pusing. Lebih baik aku memuaskan mata dengan pemandangan yang langka ini—Sehun terlihat jauh lebih tampan dengan jarum dan resevoir.

“Wow, ini indah sekali!” Pekik si gadis, menatap pantulan tato barunya pada cermin mungil yang senantiasa ia bawa.

Sehun mengangguk, “Saya ikut senang. Saya rasa pertemuan kita hari ini perlu disudahi.” Tanpa banyak basa-basi, Sehun menguarkan pengusiran pelanggannya setelah memperban lengan yang ditato tadi.

“Kamu selalu terburu-buru. By the way, saya selalu terpesona dengan tato-tato yang kamu buat. Tapi, untuk urusan memilih kekasih, kamu perlu menuntut ilmu lagi.” Ucapnya keras-keras. Aku heran dengan gadis itu, apa dia buta atau memang tebal muka, jelas-jelas Sehun sudah mengeluarkan ekspresi ingin menendangnya, tapi ia dengan percaya diri tetap bertengger di tempat.

“Aneh sekali, seorang Oh Sehun the most charming guy memiliki kekasih sepertimu. Kamu terlalu biasa. Terlalu bersih.” Ucapan terakhir, gadis itu sebelum angkat kaki.

Benar.

Aku terlalu biasa.

Terlalu bersih.

Pacar seorang tukang tato.

Tapi memiliki kulit semulus jalan tol di Jeungsan-dong.

Tidak ternoda layaknya kaos kaki putih baru.

Sama seperti, makan bulgogi tanpa daging sapi.

Ganjil

.

.

.

 

“Dari tadi kamu cemberut terus,” ujar Sehun akhirnya setelah sepersekian menit kudiamkan. Ia membereskan peralatan perangnya, kemudian mengangsurkan tubuh ke sofa. Duduk di sebelahku.

“Aku juga ingin ditato,” timpalku dengan intonasi datar, tidak bernyawa. Sebenarnya, penuh rengekan.

Lantaran terkejut atau melarang seperti biasanya, ia malah menunjukkan ketertarikan dengan mengaitkan sepasang alisnya. Jika kamu tahu, Sehun selalu melarang sesuatu yang berkaitan dengan dunia malam—begitu ia menjulukinya. Tidak perlu ada bir jika masih ada jus jeruk. Tidak diperbolehkan mengenakan pakaian ketat ataupun memamerkan bagian tubuh kalau ada jaketnya yang super besar masih dapat menutupi tubuku. Yeah, tidak boleh satu bendapun menggores kulit pucatku-termasuk jarum tatonya.

Malam ini berbeda, Sehun melangkah lebih maju. Dia memberikan sedikit harapan saat mengatakan, “Baiklah.”

Aku memamerkan senyum termanis. Meringsek ke dalam pelukannya. Bertemu jaket kulit hitam super wangi itu, aku hampir ketiduran. Tidak. Tidak ini bukan saatnya menjadi anak polos lagi.

“Aku mau ditato sekarang,” kataku mantap. Aku mendongak untuk menyelami kedalaman netranya. Mendapatiku telah terhanyut ke dalam luasnya pancaran mata itu, ia menyentil hidungku.

“Bukan ide buruk. Jadi, Nara-ku kamu mau ditato disebelah mana?” Tanya Sehun, menegakkan posisi kami agar profesional.

Aku memainkan jemarinya, meletakkan jemari indah itu tepat di leher bagian kanan. “Disini!”

Pria itu tertawa, matanya hilang tinggal segaris. Ia mengusap lembut leherku kemudian pipiku. “Kira-kira tato apa yang cocok untukku?” Pertanyaan itu sebagai tanda jika aku ingin dipilihkan oleh Sehun. Tidak mau kalah dengan gadis pengganggu kekasih orang tadi.

“Ouroboros,” jawab Sehun.

Aku mengangguk, “Kedengarannya keren.”

“Simbol keabadian,” katanya sembari membongkar kembali perkakasnya yang telah dirapikan.

Aku mengamatinya memungut selembar kertas yang ada disana. Menit berikutnya, ia sibuk memoles kertas itu. Tangannya dengan terampil bergerak seperti tarian lincah suku di Vallegrane dekat Amazon.

“Bagus tidak? Jangan bilang tidak.” Sehun memamerkan karyanya yang seperti biasa membuat semua orang—pada saat ini hanya aku, melongo seperti orang bodoh. Kertas itu menjadi kanvas, seeokor naga memakan ekornya sendiri. Naga itu memiliki tubuh yang diruncingkan. Lekukan naga berposisi segala rupa membentuk Yin dan Yang. Korelasi antara dua filosofi berbeda, satunya dari Yunani sedangkan lainnya Tionghoa.

Aku mengembalikan kertas pada telapak tangannya. “Apa yang kita tunggu? Cepat!” Seruku riang. Lebih cepat, lebih baik, sebelum Sehun berubah kembali menjadi kekasih yang over protective.

Sehun merajuk sebentar, tidak ada jeda lama sewaktu ia menyambar cairan alkohol 70% dan mengusapkannya pada lekukan leherku. Tangan ahli masih bergerak menuangkan beberapa cairan pada kanvasnya, memastikan jika arena gambar benar-benar mulus. Rasa dicubit-cubit menunjukkan bahwa cairan ini bekerja. Pria itu bergerak untuk menyibak surai panjangku ke belakang, membelai puncak kepalaku sekilas kemudian melanjutkan.

“Akan sedikit sakit,” ujarnya.

Dan aku percaya. Bukankah ditato memang sakit?

Sehun mempertemukan jarum itu pada kulitku. Hanya mengawangkan, dari gerak-geriknya ia belum berencana menekan—mengebor—menorehkan.

Aku menyentuh pipinya yang tirus itu bermediakan tangan kiri yang bebas. “It’s okay, Oh Sehun.”

Pria berpawakan tinggi itu terkekeh sebentar, menatap ekspresiku yang penuh tekad. Menyelesaikan tawanya, Sehun lantas meletakkan jarumnya. Ia mencabut tisu meja yang berbentuk persegi terletak tak jauh dari kami. Lima lembar tisu terambil, mengelapkan pada leherku yang tercampur beberapa cairan kimia.

Alih-alih menembuskan jarum pada kulit pucat ini, Sehun malahan melakukan hal yang mendebarkan.

Kejadian itu sangat cepat, seakan-akan aku baru saja jatuh dari jungkat-jungkit. Kamu tahukan bagaimana rasanya jatuh? Melayang tinggi, setelah itu terhempas ke tanah.

Ingin perumpamaan lebih fantastis?

Agar cerita ini lebih konyol. Hm.

Aku seperti jatuh dari bianglala setinggi sepuluh meter, cukup tinggi untuk membuat tulang patah menjadi beberapa bagian. Bedanya, sensasi jatuh ini hanya perumpaan virtual dari kecupan Sehun dileherku.

Lantaran menggunakan jarum sialan, Sehun malah menggunakan bibirnya untuk membentuk tatonya sendiri. Lama dan dalam. Semakin merasuk pada pompa darah, jantungku anjlok hingga lambung.

Memangnya bisa, jantung berpindah tempat?

Kalau memang ditato rasanya seperti ini, aku rela semua bagian tubuhku ditato. Tunggu dulu, Nara. Kamu sekarang sudah dibodohi oleh Sehun. Dia mengalihkan perhatian! Pikiranku yang tidak ikut-ikut sinting, mulai menggedor.

“Sudah sadar?” Tanya Sehun sembari tersenyum mengejek ketika aku melepaskan diri dari kecupannya. “Tatonya sudah jadi,” sambungnya bangga. Ia membawakan cermin kecil, agar aku dapat menatap garis-garis kosong yang menjadi ilusinya.

Tidak ada apa-apa di leherku.

Masih mulus, malah mengkilap karena alkohol. Hebat sekali!

Aku memukul bahunya sekuat tenaga. “Kamu mengerjaiku, ya!” Masih memukul-mukul—separuh marah, separuh kecewa, aku mengumpat. “Aku membencimu sampai kiamat.”

“Benci saja, paling-paling juga kamu tidak kuat, keburu rindu.” Kata Sehun, tangannya sibuk mengelak semua pukulan tak bertenaga dariku. “Rasanya seperti menato leherku sendiri, jika melihatmu digores dengan jarum-jarum ini.” Sehun berucap kalem, sekali hentakan mendiamkan kelakuanku yang brutal.

“Aku tetap membencimu.”

I would kill myself if I drew this kind of picture on your skin.”

Aku membuang muka jauh-jauh. Berpura-pura marah. Pada dasarnya tubuh ini tidak dapat marah, benci, dan rasa-rasa lain yang dapat menyakiti Sehun—jadi aku hanya bisa berpura-pura. Memasang topeng.

“Hai, hai. Dengar, Nara. Kamu tahukan, tato adalah seni paling rumit dan kompleks. Tidak semua tato dibuat menggunakan benda silver itu.” Sehun berusaha membuatku menoleh ke arahnya, sekedar memperhatikan pembelaan diri. “Salah satu dari tato yang tak perlu jarum untuk membentuknya adalah jenis Ouroboros. Apa kamu tahu makna yang tersimpan di dalamnya?”

“Simbol keabadian,” simpulku singkat, padat, dan enggan.

Sehun meraih daguku, agar mendongak. Menyamakan netra kami yang sama-sama berbola coklat. “Gagasan kesatuan dan primordial tidak hanya digoreskan pada jarum untuk membentuk luka berlekuk seni, Nara. Kamu yang asli, tanpa tato. Tanpa goresan di kulitmu justru melambangkan keabadian yang lebih nyata.”

“Tapi, gadis berambut merah menyala tadi bilang jika aku tidak cocok denganmu karena—”

“—Berhenti memenuhi kepalamu dengan pendapat orang asing yang bahkan tidak tahu, jika kamu pengagum berat susu stroberi.” Potong Sehun. Pria itu mengecup pipiku cepat-cepat, takut mendapat tonjokan lagi. “Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Cukup seperti itu. Aku menjagamu agar kamu selalu murni. Tidak tertular segala hal yang kubawa walaupun kita sepasang kekasih.”

“Itu seperti dialog opera sabun yang tayang di televisi kemarin.”

“Terlalu cheesy, ya?” Tanya Sehun, pria itu merentangkan ke dua tangannya lebar-lebar—minta dipeluk

“Bukan hanya cheesy, tapi seperti Hello Kitty,” kataku sembari menyambut pelukannya.

“Nara?”

“Hm?”

“Aku mencintaimu.”

Aku terkekeh sebentar, “Aku tahu, kalau tidak kamu pasti sudah menerima pelanggan potensial sepertiku. Sedari dulu aku menguntitmu ingin ditato, tapi kamu menolaknya dengan berbagai alasan.”

“Menggoreskan jarum di kulitmu, seperti menyakiti diriku sendiri.”

“Sehun, lebih baik kita hentikan dialog membosankan ini. Aku jenuh dan ingin muntah.”

“Baiklah.”  Ucapnya menyerah, mungkin sedang menyimpan rayuan lain buat nanti, sewaktu-waktu jika aku merengek minta ditato lagi.

Okay.

Sehun mengakhiri versi lain drama kolosal kami.

Satu lagi tambahan cerita yang dapat ku tuliskan di buku harian.

Aku harap kalian tidak mual setelah membaca ini.

-oOo-

 

Terimakasih sudah membaca. ❤

Advertisements

82 thoughts on “Tatto

  1. Ini lebih nge feel lagi lagi lagiiii 😍😍😍
    Btw, Sehun juga gk di tato, kan? Udh takut aja kulit Nara terluka, seindah apapun seni tato, itu tetap melukai 😣😂.
    Sukaaaaa bgt, Ka Titis ^^

  2. seandainua sehun jadi pacar aku romantis, baik hati. ouh kata²nya bikin anak perawan meleleh. oh sehun terlalu kuat dalam menyebarkan pesonanya. intinya ngebayangin aja udah bikin ngefly

  3. Romantis banget. Sehunn patut di acungi jempol euy cinta tak harus membuat kita menjadi oranglain hanya agar kita dianggap pantas menjadi sepasang kekasih..

  4. Sweet, romantis bgt..
    Pengin punya pacar kayak oh sehun, idaman bgt >< beruntung bgt kalo emang punya pacar kayak sehun gt

  5. “Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Cukup seperti itu. Aku menjagamu agar kamu selalu murni. Tidak tertular segala hal yang kubawa walaupun kita sepasang kekasih.” sukses bikin diabetes lagi uhuk.
    akhirnya semua storiette kak titis dgn cast oh sehun jung nara sukses terbaca semua /yeayyyy/ (atau mungkin tidak-.-). ini sekalian nunggu sahur karena insomnia dan beneran gak bisa tidur, jadi deh baca2 disini wkwk

  6. Owww so cheessy, kalo orang yg tatto secakep sehun mahh gue juga mau ditatto bila perlu setiap hari gue ke tempat tatto nya, bilang aja mau ngecek tatto nya padahal mahh alibi doang biar bisa terus ngeliat sehun wkwk

  7. Kakak tau, aku nangis bacanya 😥 bukan karena sedih, bukan itu. Aku cuma ngerasa sehun itu idaman banget 😥 dia bener” bisa buat klepek-klepek. Bagiku dia enggak cheesy tapi romantis 🙂 peluk cium buat bang ohse ({}) :* *plak* saking romantisnya bang ohse aku bacanya sampe senyum” gila gitu 😀 hahaha

  8. soo cheesy.. yaampun aku ampe pegel pipi karna senyum mulu. bayangin punya pacar kek sehun barokah banget keknya hidup gue. haha
    keliatan banget kan sehun cinta banget sama nara. dia bahkan jgain nara sampe segitunya. dia punya dunia sendiri tapi nggak mau nyeret nana kedalamnya. dia tetep mau nara murni. jaga keindahan alami yg dia bawa. ceilah.. bahkan sehun nggak ngjinin nara pake baju ketat terbuka. selalu ngebalutin pake jaketnya. ya ampuun mau banget deh satu aja cowok kaya sehun d sini.
    nara nggak mau d gombalinn. haha
    padahal aku bersedia deh jatuh terus melayang layang dalam gombalannya sehun.
    eh bdw aku lebih suka sehun bikin tatto alami ke leher nara. ngahahaaaa
    duh udah ah jadi pengen juga kan d tatto gitu sama sehun(?)

  9. Ya ampuuun sehunnn bkin klepek2…
    Cowo kek gini nih yg dicari.. Ahay..
    Tp sehun ga cocok jd tkg tatto akh. Keknya badan dy kemulusan wkwkwkw…

  10. sehun-nara couple kesyangan, haha. Nara pengen muntah digombalin trus sama sehun, kkk tapi lucu karakter nara dsni masih polos2 gt.

  11. Sehun sejak kapan berubah jadi manis kaya begitu/?
    Aku mau juga dong ditato kaya begitu.kkkk 😀

    ini bener2 cheesy, ohmai, ora nahan, senyum2 gaje bacanya, nge feel banget 😀

  12. Sehun sukses bikin aku nge fly :3 jadi pengen punya namjachingu yg kayak gitu dehhh,,,, //ngarep tinkat dewa// Na Ra sungguh beruntung punya namchin yang tampan dan baik,,,

  13. ugh ini asli sehun nara masuk list couple favorit aw>< walaupun job sehun ala2 nakal tp dia gamau pacarnya masuk ke dunia begituan(?) ugh chessy aww ff sehun nara lainnya ditunggu ;))

  14. “Kamu
    hanya perlu menjadi dirimu
    sendiri. Cukup seperti itu. Aku
    menjagamu agar kamu selalu
    murni. Tidak tertular segala hal
    yang kubawa walaupun kita
    sepasang kekasih.”
    Aku selalu berharap punya seseorang kyak gitu. Ah, Oh Sehun.

    Nice story, kak. Ada amanat yg bisa aku ambil. 😀

  15. waaahhhh… pacar idaman tuh si sehun,,, kekasih yang baik adalah yg menjaga kekasihnya bukan yang merusaknya,, biarpun profesinya kyak gitu, idiiihhhhh bikin ngiri,, #gaje…

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s