[4th] Sad Movie

 

kai-krystal-2

Part: Part 1 – Part 2Part 3A – Part 3B

“Walapun kau tidak mencintaiku. Aku akan tetap mencintaimu karena itu satu-satunya pilihan—satu-satunya hal yang ku miliki.”

Penghargaan sebagai wanita tercanggung abad ke-21 sangat pas disematkan padaku. Serupa dengan wanita kehilangan akal sehat, aku hanya melengoskan diri, menyesapi untaian cinta dengan arogan. Tidak menghargai, terkesan percaya diri. Berulang kali Homunculus yang senantiasa menemaniku, menguarkan protes. Hai, Nara bukankah pernyataan seperti ini yang selama ini kau tunggu! Jangan hanya tertegun!

Segala seruan berkolaborasi mendobrak kebungkaman. Lamat-lamat aku mendorong diriku agar dapat menatap pria itu. Pria yang menjadi pujaan setiap helaan napas. Tak pernah kumelewatkan satu sekon pun untuk berhenti mencintainya. Dan, sekarang ketika ia meluruhkan segala egonya untuk berkata cinta, aku malah diam.

Diafragmaku naik turun, membelai kesunyian, seakan menjadi satu ritme, napas Sehun menyusul. Sebuah tarikan berat dan hembusan tak terlegakan.

“Kau tidak berubah ya, sikap salah tingkahmu itu sangat lucu,” kata Sehun akhirnya. Berusaha menetralkan suasana yang membelit.

Tangan kami tetap bertaut. Dia merombak raut serius menjadi jenaka. Tak berselang lama, tawa itu mengisi sepinya ruang makan.

Menggelegar.

Menipuku.

Aku dipermainkan! Sekali lagi, ia berbuat begitu!

Kemarahan yang menyala-nyala terasa telak, saat aku menghentakkan tangannya. “Berengsek!” Umpatku kesal. Seharusnya, aku sudah hafal bagaimana tabiat Sehun. Pernyataan cinta bukan hal baru untuknya, sekian banyak wanita di luar sana, aku yakini telah mendapat pengakuan kasih. Baginya, mempermainkan ketabuan cinta, menjadi hal yang biasa.

“Jika kau dapat bercermin sekarang, demi Tuhan ekspresimu itu seperti habis menelan pil raksasa,” Sehun menambahi olok-olokkannya. Pria itu kembali menekuni sarapan, meninggalkanku yang berambisi memuntahi makanan yang sedang ia lahap.

“Oh Sehun, bisa tidak kau pergi dari hidupku dan tidak usah kembali. Aku membencimu hingga ke urat nadi.”

Sehun berdeham. “Benci dan cinta memiliki batasan yang tipis, bahkan menerawang. Sebesar benci itu menggerogotimu, sama besarnya rasa cinta yang ada.” Pria itu, berdiri dari tempat duduknya. Berjalan santai menuju kamar Jino, tanpa menoleh lagi pada apa yang telah ia tinggalkan. Tidak mengindahkan.

Layaknya wanita kehilangan alur hidup, aku hanya tetap berdiri di sana, tak ingin mengejar untuk menghunuskan kalimat yang lebih tajam. Terlalu bosan dengan pertengkaran yang memiliki kemiripan dengan opera sabun.

“Ibu juga ikut mengantar Jino?” Tanya anak laki-laki yang tengah memakai seragam putih itu padaku.

Aku memberikan senyum sekilas—sebenarnya suasana hatiku sedang tidak baik, namun mana bisa aku marah pada anak laki-lakiku sendiri. “Eum, iya. Sekalian ibu kembali ke hotel.” Aku mengakatan itu sembari membuka pintu mobil untuk Jino, kemudian duduk di sampingnya.

Jino mengangguk semangat, jelas-jelas ia memiliki banyak ekspektasi untukku. Nah, anakku seharusnya belajar menerima kenyataan bahwa ibu yang berada di sampingnya, memiliki nilai minus dalam segala hal. Tapi tidak dengan perhatian yang merasuk menjadi sikap naluriah.

“Pelan-pelan makannya.” Kataku sembari mengusap remahan roti yang bertengger di ujung bibir putraku. Ia makan dengan lahap roti kacangnya, menunggh si pengemudi yang sangat terlambat.

Aku mendengar suara langkah tergesa-gesa memasuki garasi. Oh Sehun berlari kecil. Tangannya sibuk menyimpulkan dasi yang tak mau diatur, sedangkan matanya menunduk. Apabila, kalian ingin aku memberikan komentar singkat tentang bagaimana penampilan Sehun hari ini, aku hanya memikirkan satu kata. Tampan. Menawan dari segala sisi. Ia lebih mirip foto model yang sedang melakukan pertunjukan pakaian. Tahukan maksudku? Ketampanan yang dieksploitasi, membuat penonton ingin menalan saliva berulang kali.

Sehun duduk di kursi kemudi, membuat bibir ini siap menyelancarkan protes. Bukankah seharusnya paman Kim yang mengantar kami?

Jelas-jelas, sudah ada batas yang tidak terkonstitusi ketika pertikaian kami tadi pagi menjelaskan semua garis larangan. Oh Sehun tak diperbolehkan, berada di dalam satu ruangan dengan Jung Nara. Peraturan tidak tertulis yang mudah dipahami.

“Untuk apa kau di sini?” Tanyaku, menyelipkan intonasi meninggi selaras dengan mengusir.

Netra tajam itu melirikku sekilas, alisnya bertaut, dan bibirnya menyeringai. Tanda jika ia menginginkan sesuatu dariku, setengah menggoda. “Duduk depan. Kau pikir aku sopirmu!” Seru Sehun, tidak mengindahkan pertanyaanku sebelumnya.

Seperti yang dapat kalian tebak, hanya apabila dunia kiamat aku baru bersedia menurutinya. “Tidak mau,” timpalku, singkat, padat, dan saklek.

Sehun memutar bola mata jengah. “Kalau begitu keluar dari mobil.”

Aku hendak menyahut lagi, namun tangan Jino mengusap jemariku. Aku melupakan Jino sejenak, Sehun selalu membuatku melupakan apa pun. Menjengkelkan, sekaligus mengagumkan.

“Mom, duduk depan.” Perintah yang serupa tapi menggunakan nada yang tak sama. Penuh permohonan, pengharapan, dan tulus.

Aku mengehala napas panjang, mengalah dan kalah.

Jino duniaku, perintahnya adalah daulat yang harus dilaksanakan. Aku memujanya, selalu. Kasihku padanya tidak ada ujung atau pangkal yang dapat diukur.

Masih dengan lagak enggan, aku menuruti Jino. Duduk di kursi penumpang tepat bersampingan dengan Sehun.

Selang beberapa detik, aku mulai mengerutkan alis, mobil tetap tak bergerak. Penuh dengan tanda tanya, aku mencuri pandang ke arah Sehun. Mendapati tatapan yang acap kali mengundang permusuhan, pria itu malah tersenyum.

Sehun mendekat ke arah ku. Semakin dekat, sangat dekat, dan terlalu dekat.  Imbuhan sunggingan bibir yang merayu. Aku kehabisan napas ketika pria itu menarik sabuk pengaman, memasangkan dengan telaten.

“Sabuk pengamanmu, Darling.” Ucap Sehun tepat di telingaku yang tuli sementara.

Kekehan geli Jino membangunkankudari lambaian pesona Sehun yang tak pernah berkurang, selalu bertambah dari hari ke minggu. Memabukkan.

“Darling? So cheesy old man,” aku bergumam dengan volume keras yang dapat dipastikan telah mengalahkan dengungan mesin mobil yang dinyalakan.

Sehun tertawa sampai terbatuk-batuk sebagai tanggapan akan protes tidak penting dariku.

Perjalanan mengantar Jino menjadikan diriku kaum minoritas. Telinga ini hanya menjadi pendengar yang menarik informasi semampunya. Sehun dan Jino membahas persoalan yang tak pernah tersentuh di hidupku. Sekolah dan orangtua. Dua-duanya berakhir kurang menyenangkan, bahkan nol besar. Aku tidak memiliki pengalaman secuilpun sebagai seorang Ibu serta hal-hal apa saja yang pantas diberikan orangtua untuk menunjang peran di sekolah anaknya.

Masih berusaha tercampur di adonan mereka, aku secara seksama menyortir berita terbaru seputar Jino. Anak laki-lakiku mengikuti beberapa ekstrakulikuler, seimbang antara akademis maupun non-akademis. Serupa Sehun yang selalu memukul habis setiap bidang, Jino akan tumbuh dalam naungan itu. Sosok yang akan menjadi bintang, selalu di atas tak pernah menyentuh kesengsaraan dan kekalahan. Tentu saja, aku sangat bangga. Dua pria terpenting di hidupku menjadi bintang, menerangi tiap jengkal kehidupan, tetapi terlalu jauh diraih.

“Nanti jam sembilan, Jino akan evaluasi bulanan. Daddy selalu menonton Jino menyanyi, Mom ikutkan?” Jino bertanya penuh dengan semangat yang dapat membakar siapa saja. Anak laki-lakiku menatap lawan bicaranya sembari bersiap turun dari kendaraan.

Aku yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, belum menyiapkan jawaban yang dirasa selaras dengan keinginan itu. Lantaran menjawab, aku malah mengecek ponsel. Di layar itu terpampang beberapa agenda yang harus kuselesaikan, sedikit urusan kantor di tengah cuti.

Aku mencuri pandang melalui ekor mata ke arah Sehun, meminta bantuan. Berharap-harap ia mengerti posisiku yang serba serampangan. Mungkin ingatannya masih lekat akan sikapku dulu yang tak pernah merapikan jadwal kegiatan, akibatnya satu sama lain saling tumpuk-menumpuk.

Mobil itu berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah saat Sehun menimbrungkan diri pada pembicaran kami. “Jino, Mom punya banyak urusan yang harus diselesaikan. Kemarin Mom sudah menginap di rumah, jadi biarkan Mom beristirahat.”

Aku menggigit bibir. “Sebenarnya—”

“—Jadi Mom tidak bisa menonton Jino nanti. Tidak apa-apa.” Jino memotong penjelasanku. Suaranya terdengar lesu, seakan-akan api semangatnya terguyur berliter-liter air, membuatnya basah kuyup. Kedinginan kemudian kecewa.

Tanpa menggelontorkan salam perpisahan, Jino keluar dari mobil. Menundukkan kepala, berjalan menjauh.

Bodoh.

Jung Nara, kau tolol. Bukankah, anak itu merupakan tujuan utamamu tetap berada di Seoul?

Dia hidupmu, Jung Nara. Kau hidup untuknya. Kau hanya membuatnya kecewa sekarang, padahal ia hanya meminta hal sederhana. Hanya hadir. Dia menginginkan eksistensimu.

Bertubi-tubi semua suara protes kembali terdengar. Berunjuk rasa.

“Selamat,” sergah Sehun, kembali mengemudi. Kali ini keriangan yang ia gunakan untuk menanggapi obrolannya dengan Jino, lenyap. Terganti wajah keras. Dingin dan terlihat kesal.

“Kau boleh marah dan bertingkah sesukamu, tapi jangan menyalurkan kekesalanmu pada Jino.” Sehun masih mendominasi.

“Aku hanya berusaha realistis. Dia harus biasa dengan ketiadaanku. Kalau aku setuju, dia akan terbiasan dengan kehadiran seorang ibu.”

Sehun tertawa tawar. Ia meraup wajahnya dengan tangan kirinya. “Satu minggu saja Jung Nara. Berikan anakku seorang Ibu. Rubah pandanganmu menjadi seorang Ibu.” Nada Sehun seperti ombak yang mengirim hunusan air di dalam raga, setiap katanya merasuk menjadi buliran penyesalan.

Sementara perasaanku sedang memilih, pria itu berkendara dengan kelajuan amat cepat. Terlihat ia sedang dalam kondisi yang kurang cocok untuk diajak berdiskusi. Aku masih menimang antara satu keputusan dengan akibatnya. Banyak sekali kemungkinan, berusaha bersaing menjadi yang terpilih.

Ini masalah yang sederhana, Jung Nara.

Kau hanya perlu datang. Buang segala egomu.

Pekerjaan lain dapat menunggu.

Namun, tidak dengan Jino, Jung Nara.

Bagai terbelit menjadi benang merah, satu pemikiran membuatku memiliki peluang untuk setuju. Aku dapat menyenangkan Jino sekarang dan masalah anak laki-lakiku terluka atau tidak nanti menjadi nomer kesekian. Sedikit tidak sepakat, tapi pemikiran itu berlanjut. Siapa tahu, nanti aku tidak perlu kembali ke Paris. Keputusan akhir yang membuatku tetap tinggal. Bila waktu sudah bertindak, mana mampu aku mengendalikan?

“Aku ingin menghadiri acara evaluasi Jino,” kataku mantap. Tak mau dianggap sebagai orang paling plin-plan kutambahkan tatapan lamat-lamat pada Sehun. Pria itu hanya melirikku sebentar kemudian fokus kembali pada jalan. Aku mengikuti pergerakannya yang membelok gesit, memutar balik arah.

“Acaranya pukul sembilan. Aku punya beberapa dokumen yang harus kuperiksa. Kita ke kantorku terlebih dahulu sembari menunggu.” Sehun menjelaskan dengan senyum yang tersimpul sempurna.

Aku mengangguk.

“Dan kau perlu berganti pakaian.” Tambahnya.

Aku menurut. Mengingat apa yang kupakai—celana belel, kaos putih kebesaran, dan sepatu Nike merah menyala—tidak pas digunakan untuk orangtua yang akan pergi ke sekolah anaknya. Penampilanku lebih mirip dengan wanita yang akan pergi ke taman bermain.

“Jangan lupa menata rambutmu,” komentar Sehun. Ada nada jengah disana, refleks tanganku begitu cepat—melepas kuncir asal-asalan sebagai tatanan surai. “Begitu lebih baik,” pria itu berpendapat.

“Siapa wanita itu?” Tanya pegawai yang mengenakan terusan biru pada rekannya ketika aku dan Sehun merajut langkah melewati pintu masuk gedung Comm-Adv and Consultant. Bangunan yang tercatat secara sah milik mantan suamiku itu, terdiri dari tujuh lantai. Terletak di distrik yang rumornya menghasilkan pajak negara paling fantastis. Kawasan perkantoran dengan gedung pencakar langit. Sekedar info, Comm-Adv and Consultant menjadi salah satu gedung paling pendek daripada tetangganya. Namun, menjadi paling tinggi dan berkualitas dalam bidangnya. Konsultan dan biro iklan lain di seluruh Korea tidak memiliki kantor lebih dari dua lantai, apalagi bermimpi untuk bersaing dengan Comm-Adv and Consultant yang bercabang di setiap negara.

Kenyataan itu, tidak lantas membuat pegawai mereka puasa bergosip. Justru, keteraturan dan ketenaran membuat semuanya haus akan hal di luar akal sehat. Sesuatu yang dapat ‘dijual’.

Hm.

Misalnya, sewaktu Bos mereka yang tersohor akan kemampuannya menggaet wanita di berbagai level, menampakkan diri dengan mantan istrinya. Yeah. Mantan istri! Otak kreatif mereka mungkin sedang berputar-putar mencari berbagai informasi dan keunggulan. Kami dijadikan objek paling berpotensi untuk menjungkir balikkan dunia. Hebat.

Kali ini pria berkacamata dan bertampang serius ikut memertanyakan kehadiranku. “Kenapa Sehun menggandeng tangannya seperti balita yang rawan tersesat?”

“Apa dia kekasih baru Bos?” Pertanyaan itu tertangkap olehku ketika aku dan Sehun  menunggu lift.

“Apa benar itu mantan istri dari Bos kita?” Terdengar tanya mantap bermuara pada seorang wanita yang memakai gincu merah. Sepadan dengan lipstick yang ia pakai, keberaniannya perlu diacungi jempol. Ya, entah itu keberanian atau kebodohan yang mutlak. Ayolah, bagaimana bisa ia bergunjing dengan volume tinggi dari lantai satu pun aku dapat mendengarnya.

Ada sekitar dua puluh pertanyaan berlainan topik yang terdengar melalui gendang telinga.  Seakan-akan, Sehun membawa alien berbentuk songgokan wanita yang sengaja dipamerkan pada semua orang. Aku hanya berusaha tak acuh. Genggaman tangan Sehun memberikan jalur bebas hambatan yang menghantarkan aku memasuki dunia imajinatif. Dunia hangat dan menawan. Langkah tegas Sehun dan sikap manisnya pada setiap orang yang menyapa, membuatku melebur ke dalam kenyamanan. Belum pernah sekali pun aku bangga terhadap langkahku. Hanya dengan bersanding di sampingnya, aku dapat memberikan apresiasi bahwa diriku ini berharga.

Cukup berharga untuk menjadi buah bibir. Ha.

“Sojin, carikan pakaian semi formal,” perintah  Sehun saat kami memindahkan kaki dari lift ke lantai tujuh. Gadis yang sedari tadi sibuk di meja sekretaris berdiri, kemudian membungkukkan tubuhnya. Kira-kira gadis itu berusia awal dua puluhan, memiliki raut yang masuk dalam kategori good looking, dan ketepatannya dalam memoles diri. Sehun melirik ke arahku memberi tanda bahwa pakaian itu untukku.

“Bawakan semua dokumen yang harus  saya periksa,” ucap Sehun, sebelum ia kembali menuntunku untuk menuju ke pintu kaca yang berukuran dua kali lebih besar dari pintu wajar sebuah ruangan. “Kau mau minum apa?” Sehun kembali menyuarakan kartu dominan yang dimilikinya.

“Apa?” Aku menimpali pertanyaan dengan tanda tanya yang lebih besar. Oh tentu saja, aku tidak lupa mengimbuhi raut bodoh. Sedari tadi aku hanya menjadi pengamat, seperti kehilangan ribuan kata yang telah kupelajari semenjak kecil. Aku diam. Menikmati keseriusan Sehun dalam sisi yang berbeda. Sehun si pengusaha muda. “Apa kau bertanya padaku?” Aku menambahi.

Sehun tersenyum mengejek. “Bukan, aku bertanya pada dinding.”

Mengacuhkan Sehun, aku memindahkan pandanganku pada sekretarisnya. “Tidak perlu membawakan saya minum,” ucapku akhirnya. Penuh dengan harga diri.

“Dua bubble tea,” sambar Sehun menyelipkan kekehan, seakan menertawakan keangkuhanku.

Pintu itu terbuka setelah Sehun memasukkan kata kunci pada layar kecil yang berada di samping kanan. “Silahkan masuk,” kata Sehun. Pria itu memintaku mendahuluinya.

“Wow, versi mini dari rumah.” Aku terkagum-kagum pada ruangan yang disebut kantor. Tidak seperti kantor, lebih mirip taman bermain. Ruangan ini memiliki luas sekitar sepuluh meter. Kursi kerja lengkap dengan meja berada di sudut paling dekat dengan pintu. Sudut lainnya terdapat dapur mini bersekat dengan sofa panjang di kelilingi beberapa mainan. Mulai dari puzzle, mobil-mobilan, kubus rubik, PlayStasion, dan gitar listrik. Dinding dari ruangan  berlapiskan kaca yang aku yakini sebagai kaca dua arah. Bila aku memandang melalui satu sisi, aku mendapati pemandangan kesibukan kota Seoul.

“Kau bisa duduk di sofa. Well, Jino sering mengikutiku pergi ke kantor. Bahkan sampai menginap di sini, jadi aku membuatkan rumah kedua untukknya.” Sehun menjelaskan.  Ia sibuk membuka Macbook miliknya, masih dengan posisi berdiri.

“Kau juga membawa mainannya di sini,” tambahku. Aku mencoba menyamankan diri terduduk di sofa. Ruangan ini wangi lavender, siapapun akan ketiduran dengan mudah. “Untung aku tidak memiliki ruangan seperti ini. Pasti aku sudah jatuh tertidur di jam pertama masuk kerja.”

“Ini ruang utamaku, hanya orang-orang tertentu yang dapat masuk kemari.” Sehun mengikuti tubuku yang duduk di sofa warna hitam, tangannya membawa Macbook, dua bubble tea, dan kertas-kertas—secara bergantian—mirip seperti setrika. Pria itu menyodorkan Macbook, kemudian meletakkan bawaan lainnya ke atas meja.

Alisku terangkat ketika menerima Macbook itu. “Ini untuk apa?”

Sehun yang menekuni semua dokumennya, berhenti sejenak. “Bukannya tadi kau mengkhawatirkan pekerjaanmu.” Jawab Sehun.

Aku menepuk dahi. Adegan-adegan yang berjalan tiga puluh menit lalu, mengambil beberapa ingatan dan kewarasanku. Cekatan aku menyalakan benda elektronik itu, berikutnya disambut oleh wallpaper Sehun dan Jino yang sedang tertawa.

Hatiku ikut gembira. Semua yang gersang terasa diguyur susu pisang dingin. Ha, perumpaan konyol macam apa itu Nara.

“Kau selalu terpesona ya, walaupun itu hanya fotoku,” ledekkan itu menguar, membuat telinga panas. Sebal setengah malu, aku hanya mendengus.

Itu obrolan terakhir kami, hanya ada kesibukan pada jalan masing-masing setelahnya.

Aku berusaha menekuni setiap email yang muncul di layar Macbook. Tetap menghitung tarikan dan hembusan napas, agar tidak terlihat gerogi. Rasanya netra ini dapat bergerak sendiri. Ratusan kali semenjak bergeming di samping Sehun, mataku tidak pernah berhenti mencuri pandang.

Memuja. Memuja seperti orang gila akut.

Apapun yang dikenakannya ia layak disebut model tersohor. Dasi berantakan, surai yang kusut karena disisir berulang kali dengan jari, dan kacamata yang bertengger di hidung mancung itu-menambah efek serius serta elegan.

Aku membuang pandangan asal ketika mataku tertangkap oleh netranya. Kegiatan curi-curi pandang jelas dapat menurunkan sekian persen harga diriku.

“Dari tadi kau memandangiku. Apa kau perlu bantuan?” Sehun bertanya, lantas melepas kacamatanya. Ia memandangiku lamat-lamat. Tatapan serius. Benar-benar ingin membantu.

Yeah, kau dapat membantu dengan berubah menjadi buruk rupa atau semacamnya. Bantu aku! Jangan mengigit bibirmu seperti itu. Oh Sehun kau membuatku gila. Lantaran menjawab pertanyaannya secara gamblang, pikiranku malah sibuk berteriak liar. Hormon ini terus merambat naik. Gelombang itu bergerak signifiikan, dibumbui dengan aroma wangi dari pengharum ruangan. Suasana hening yang mendukung. Tajamnya tatapan netra coklat itu telah menyentakkan dorongan untuk mengucapkan hal yang lantas membuatku menyesal telah hidup selama 27 tahun.

Cepat, nekat, dan kuat dorongan itu bernegosiasi menjadi gilda yang berkhianat pada anggotanya, bibirku berucap. “Kiss me, please.

Alis Sehun tampak bertaut pada detik pertama dilanjutkan kerutan pada keningnya. Tak lupa, ia melebarkan pupilnya. Terdapat cahaya semu yang menyerupai korona di dalam raut Sehun. Pria itu tidak memiliki korelasi yang tepat untuk memahami alasan mengapa aku mengucapkan hal yang jelas-jelas melukai harga diriku. Astron pada diri Sehun, sekon demi sekon mengabur digantikan senyum seribu arti.

Aku tidak memahami apa yang ada dipikirannya, tapi senyuman itu membuatku melupakan berapa harga akan diriku atau akibat fatal dari permintaanku.

Sehun masih terus menyunggingkan sudut-sudut bibirnya ketika mengkungkung jarak diantara kami. Ia merengkuh daguku, lamat-lamat ia memerhatikan ekspresiku. Mencari-cari jawaban akan keyakinan atas permintaan ini. “Pasti karena efek Lavender dan neroli orange,” ucap Sehun penuh keteduhan di dalam suaranya.

Tenggorokanku terlalu serak untuk menimpali sebagai gantinya, aku hanya mengangguk. Membenarkan secara tersurat.

Tak ada aroma perangsang kenyamanan ini pun, kecupan Sehun selalu menjadi mimpi. Terlalu tinggi teraih. Terlalu mahal apabila ingin kubeli. Terlalu candu.

“Aku tidak peduli motif dari permintaanmu. Aku sungguh tidak peduli apapun di dunia ini selain dirimu Jung Nara,” ucapan itu berintonasi mantap.

Semantap Sehun berucap dengan cara itu pula, ia menghapus semua jarak yang telah kami bina selama bertahun-tahun. Kecupan itu bagai tsunami yang meluluh lantakan semua dinding  egoistik.

Hmm.

Lembab.

Bibir Sehun adalah hal paling lembab yang pernah menyetuh bibirku.

Aku tergagap, melambai-lambai untuk mencari pertolongan secara harfiah. Pria itu menuntunku dalam setiap lumatan. Menggiring, kapan aku harus membuka mulut, mengatup, dan mendesakkan lidah.  Tangannya merambat ke tengkukku memperdalam, menghanyutkan sesuatu yang telah tenggelam.

Aku tidak banyak berpikir, membuang logika ketika membalas setiap bara api yang terpancar dari kecupan Sehun. Kebekuan semakin mencair menjadi bulir-bulir keringat ketika Sehun beralih mengecup rahangku, merajut pada ujung bibir. Sehun bergerak cekatan saat mengecupkan bibirnya lama pada lekukan leherku. Seolah-olah bibirku menjadi magnet, ia kembali menautkan percikan api itu.

Samar-samar dalam setiap ketidaksadaran, aku mendengar pengakuannya. “I love you, I really do, Nara.”

Kemudian bibirnya mengerjap kembali.

“Saya, selalu penasaran siapa orangtua Jino. Putra anda sangat berbakat dalam bidang olah vokal,” sambutan itu  dilontarkan oleh seorang wanita yang berprofesi sebagai guru Jino. Ia menyalamiku bersemangat. Gincu merah yang dikenakannya seakan-akan menantang setiap orang yang akan berbincang dengannya.

Aku tersenyum kecil menimpali, ada rasa bangga.  Tidak hanya secuil, ribuan potongan kebanggan tersemai.

“Saya tidak pernah sekali pun melihat Anda. Ini kejutan yang hebat untuk Jino. Anak laki-laki itu memiliki mimpi sederhana, ia hanya ingin orangtuanya datang ke acara sekolah.” Masih belum cukup menambah ketukan di setiap perkataannya, Guru Choi menggelontorkan informasi lain.

Guru Choi hendak membuka mulut, tapi terganti oleh teriakan nyaring Jino. Ia melompat-lompat, tangan mungilnya mengandeng Sehun, mereka berdua menghampiriku.

“Mom datang! Jino tidak percaya waktu Jino di atas panggung lalu melihat Mom di sini,” kata Jino. Anak laki-lakiku itu tak henti-henti nyengir, memamerkan gigi gerahamnya.

Aku mengecup kedua pipi putraku. Memberikan raut bangga. “Jino sangat hebat tadi,” kataku gembira.

Sementara aku bercengkrama dengan Jino, Sehun berpamitan kepada Guru Choi. Wanita itu kecewa karena kami sangat terburu-buru pulang. Bahkan, aku sempat menyaksikan Guru Choi menarik tangan Sehun, lama-lama mirip adegan di salah satu drama melankolis. Sehun buru-buru menepisnya secara halus, raut tidak nyaman berusaha disembunyikan.

Sehun mengela napas lega saat kami sudah berada di kursi mobil masing-masing. “Dia mengejarku sejak Jino bersekolah di sini,” kata pria itu.

Jino tertawa keras sebagai respons akan ketakutan ayahnya. Aku masih berusaha mencerna. “Apa maksumu?” Tanyaku penasaran.

“Guru Choi menyukai Dad!” Jino menggantikan Sehun untuk menjawab. Jino teramat bersemangat dengan topik ini.

Guru Choi menyukai Sehun. Empat kata—satu kalimat—diolah oleh otakku. Guru Choi kira-kira berusia awal 40-an dengan lekukan tubuh mengembang—gemuk. Membayangkan Sehun bersama wanita itu, badan Sehun yang berukuran setengah dari Guru Choi—kilasan yang muncul dalam pikiranku adalah Sehun terjepit ketiak Guru Choi.

Tawaku menyembur.

“Pesonamu luar biasa Sehun.” Tersengal-sengal aku berusaha mengucapkan ledekkan itu.

Sehun mengerucutkan bibir. “Ya, semua wanita terpesona padaku.”

“Aku setuju, apabila berada pada tataran kau dan Guru Choi,” sergahku cepat.

“Tidak lucu sama sekali,” ia bergumam. “Hm, kalau dipikir-pikir pesonaku ini dapat menghilangkan ego seorang wanita yang merasa tangguh kemudian membuatnya berucap ‘kiss me, please’.” Kini berganti posisi. Sehun menyindirku. Aku hanya diam, tidak melawan karena kenyataannya memang begitu.

Aku menuangkan air dingin ke gelas. Terbangun di tengah malam sebab kehausan benar-benar menyebalkan, apalagi jarak satu ruangan dengan ruangan lain di rumah ini terlalu jauh. Terseret-seret aku melangkah ditemani penerangan minim—aku malas menyalakan lampu dapur.

Well, dugaan kalian tepat. Aku kembali ke rumah ini. Jino merayu untuk tetap tinggal di rumah, hingga sisa waktuku berada di Seoul habis. Jino memiliki kekuatan sihir yang selalu bisa membuatku mengabulkan permintaanya.

“Terbangun?” Pertanyaan itu berasal dari suara di belakangku.

Aku memutar tubuh, mendapati Sehun di sana dalam keremangan, menggunakan piama bergaris, wajahnya yang mengantuk dihiasi kacamata.

“Iya, aku haus jadi terbangun.”

Sehun merebut gelas yang kugenggam, gantian ia yang menuangkan air ke dalam gelas. Sehun meneguknya sedikit, setelah itu diletakkan. “Kembalilah tidur, besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

“Ke mana?”

“Rahasia.” Jawaban yang dapat kutebak.

Aku mendengus. “Beri aku petunjuk.”

Pria itu tampak menimbang-nimbang. “Tempat itu akan memberikanmu alasan kuat agar bersedia tetap tinggal di Seoul—membuatmu kembali.”

-oOo-

Advertisements

666 thoughts on “[4th] Sad Movie

  1. nara keknya udh putus asa bgtt nahan egonya haha sampe bilang “kiss me, please”. tapi aku seneng (?) wkwk. Cukup berharga untuk menjadi buah bibir. Ha. ‘ poor nara haha, jelebb nihh. Cepet nyatu kalian, semoga jadi Happy Family😊😊

  2. Haduh sehun baperin banget sih, semoga aja nara sama sehun balikan lagi, kasian jino kalo nggak happy ending 😦

  3. Huhu nara yg ngomong tapi jadi senyum senyum sendiri
    Ga sabar mereka bersatu kembali apalagi liat tingkah lucunya jino^^

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s