Datum: Wednesday

Datum_wednesday

Author

Twelveblossom

Cast

Sehun & Jung Nara

Genre

Romance & School Life

Length Series

Rating PG-13

This storyline is mine, please don’t copy paste.

-oOo-

Dengan ini cerita kita dimulai, Oh Sehun

Berawal dari kebodohanmu, Jung Nara.

.

.

.

‘Aku benci hari Rabu’. Kalimat itu bercokol di pikiran Nara seharian ini. Sekolah baru, teman baru, dan lingkungan baru. Hari-hari gadis itu diwarnai dengan keluhan serta umpatan. Semua ini bersumber dari ibunya yang menikah lagi. Katanya, ia menikah dengan pengusaha terkenal yang bergerak di bidang elektronik. Oh, Nara sungguh tidak peduli dengan kehidupan percintaan Ibunya. Seharusnya sang Ibu juga tidak menaruh minat pada kehidupan Nara. Gadis itu cukup bahagia tinggal dengan nenek di Busan. Menjadi gadis biasa dan kadang urakan. Namun, masa remaja yang menyenangkan pupus dua minggu ini. Di akhir liburan, Nara diberitahu jika ia harus pindah ke Seoul. Bukan, Ibu kalau semua keinginannya tidak dapat terturuti. Perintahnya adalah daulat.

Lalu, beginilah jadinya. Gadis delapan belas tahun itu punya sekolah baru di tahun akhirnya sebagai pelajar.

Sekolah yang dipenuhi dengan orang kaya. Siswa-siswi yang memiliki sopan santun berlebihan. Nara yakin, jika ayah tirinya bukan orang terpandang, ia tak mungkin dibolehkan memasuki gerbang sekolah. Apalagi dengan sepatu dan tas kusam miliknya dulu. Well, dulu. Sekarang yang ada hanya tas dan sepatu—jumlahnya dua lemari dengan merek terkenal. Ayolah, ini berlebihan Nara tidak perlu begitu banyak pernak-pernik. Itu pemborosan!

Hari ini ketiga kalinya Nara masuk ke sekolah barunya. Sudah tiga hari dan Nara masih menggerutu. Bagaimana tidak? Teman satu kelas hanya membicarakan naik turunya saham, produk baru atau hal-hal lain yang terdengar seperti investasi. Usia Nara terlalu dini untuk memahami hal membosankan itu… atau memang Nara kelewat bodoh?

Nara rindu sekolah lamanya. Dulu ia suka berlarian di lorong-lorong tanpa diberi pandangan sinis. Sekarang? Ah, mereka berjalan terlalu anggun. Tidak ada yang bermain kucing-kucingan. Sekali lagi membosankan.

Gadis itu menghabiskan jam makan siang hanya dengan menopang dagu. Menatap jendela. Teman-teman satu kelasnya sedang makan di kantin sekolah. Menurut Nara itu bukan kantin. Bangunan mewah dengan makanan super mahal, tidak layak disebut kantin. Sebenarnya,            Nara mampu membayar, yeah kartu kredit tanpa batas yang ada di saku roknya tentu bisa membeli apa saja. Tetapi, Nara tidak tertarik bergaul dengan mereka.

Semua terlihat berlebihan di mata Nara. Ruang kelas itu juga seperti ruang rapat perusahaan yang biasa ia lihat di drama televisi. Lihatlah sekelilingnya dilapisi karpet. Tidak ada sampah sama sekali. Ini terlalu bersih dan Nara tidak suka.

Nara bosan menatap jendela. Ia mengalihkan perhatian, menelanjangi kelas. Siapa tahu ada yang bisa ia ejek dari kelas ini. Seperti atap yang bolong atau karpet yang sobek.

Mata Nara menangkap seorang siswa laki-laki yang tertidur pulas di bangku. Seragam pria itu kusut sekali. Bahkan jas biru—seragam wajib sekolahya ditanggalkan begitu saja. Digunakan sebagai alas tidur. Nara terkekeh pelan. Jadi, masih ada manusia normal di sekolah ini.

“Kalau tidak salah namanya Oh Sehun. Bukankah dia yang tadi pagi terlambat?” Tanya Nara pada dirinya sendiri. Ia masih mengamati. Ini rasanya menemukan makhluk yang satu spesies di antah berantah. Nara menganggukkan kepala. Gadis itu sedang memahami bagaimana perasaan astronot yang menemukan manusia di bulan. Hush.

Apa sih yang Nara bicarakan?

Tidak tahu. Otak gadis itu terlalu menukik aneh jika berusaha dipahami.

BRAK!

Jantung Nara hampir copot, ketika mendengar gebrakan pintu. Tiba-tiba saja muncul dua anak laki-laki berpakaian kumal. Ah, pasti mereka bukan murid Taejun—nama sekolah Nara. Eum, mereka memang memakai jas yang sama dengan Nara. Akan tetapi, lihatlah jahitannya jelek. Jelas itu bukan seragam satu juta won yang asli. Seragam tiruan. Apa mereka semacam penyelundup?

“Bangun Oh Sehun! Ikut kami!” Seru salah satu dari mereka. Sehun tidak bergeming. Ia malah mengeluarkan suara aneh mirip kucing yang ekornya terjepit pintu.

Tidak berselang lama salah satu dari si kumal mendidih marah. Mereka mendaratkan satu tendangan ke bangku Sehun yang membuatnya bergeser.

Nara hanya membekap mulut agar tidak berteriak. Sekolahnya dulu memang konyol, tapi tidak ada kegiatan brutal seperti sekarang. Darimana berandalan ini masuk? Bagaimana cara mereka masuk?

Pertanyaan dalam pikiran Nara berhenti saat salah satu dari mereka melotot ke arah gadis itu. Demi Tuhan. Apa Nara perlu bersembunyi di bawah mejanya yang mahal?

Akan sangat canggung kalau tiba-tiba Nara menelusup di bawah meja. Belum lagi jika gorong-gorong meja yang terlalu sempit malah membuatnya tidak dapat masuk. Pasti akan memalukan.

“Jangan pura-pura tidur, Oh Sehun atau kami akan menyeret gadis cantik itu ikut bersama kami,” kata si anak laki-laki yang paling gemuk. Seakan-akan membenarkan ancamannya si gendut itu berjalan ke arah Nara.

Tapi… Tersendat? Perutnya yang buncit itu terjepit rentetan meja. Kasihan.

Medapati insiden tersebut Nara bersumpah akan diet setelah ini, agar tidak memiliki nasib yang sama seperti si gendut. Ia hampir terpingkal-pingkal saat si gendut yang terjepit berusaha menahan napas, berharap perutnya mengempis. Kesal karena perutnya tak kunjung menciut, si gendut itu menendang bangku secara brutal. Mungkin ia tersinggung dengan tawa Nara yang bercicit. Si gendut mulai berbuat kurang ajar.

Nara melengos tidak suka ketika si gendut itu memaksanya untuk berdiri dengan menarik lengannya. “Sakit, lepaskan!” Ujar Nara jengkel.

Kemana penghuni sekolah ini? Apa mereka makan siang dan melupakan segalanya? Kenapa sepi sekali?

Astaga! Sehun bahkan masih kukuh dengan drama tidurnya yang buruk. Ayolah, apa pria itu tidak berpikir kalau ada gadis yang akan diapa-apakan?

Nyatanya, tidak. Sehun mendengkur semakin keras. Nara ingin sekali menyopot sepatu enam ratus ribu won yang dikenakannya lalu melempar tepat di kepala Sehun.

Ya, Nara menyalahkan Sehun bukan si gendut.

Tidak, Nara tidak memiliki keinginan untuk menyakiti si gendut. Toh, dia sudah memujiku cantik, pikir Nara.

Si kurus memberikan ancaman yang aneh, setelah tidak ada perkembangan dengan sikap Sehun. “Atau kami akan menelanjangi dia disini sekarang,” ujar si kurus santai.

Pelecehan ini benar-benar tindak asusila, Nara menjerit dalam hati.

Ternyata ancaman si kurus yang santai seperti mengajak Sehun bermain lempar tangkap bola, lebih manjur. Sehun menyembulkan kepala yang tadi ia letakkan. Sehun bangun! Pria tanggung itu memasang raut tak tertarik, menatap Nara yang bergandengan dengan si gendut. Yeah, bukan bergandengan sebenarnya, hanya terlihat. Bukan secara nyata.

“Bawa saja dia. Aku bahkan tidak mengenalnya,” kata Sehun tak acuh sembari menguap lebar.

Nara melotot, apa dia gila? Tidak kenal katanya? Bahkan, Nara sudah menjadi santapan lelucon karena setiap guru yang masuk selalu memintanya memperkenalkan diri di depan kelas.

“Ya! Oh Sehun! Bahkan aku sudah memperkenalkan diri 21 kali.” Nara kelepasan bicara. Seharusnya ia bungkam. Gadis itu sedang berurusan dengan berandalan, namun tetap saja tidak bisa menahan diri.

Sehun memutar bola mata, “Salah yang benar 22  kali, ditambah pada kelas memanah.” Kata Sehun lalu melangkah pergi keluar dari kelas, meninggalkan kami yang terfakur.

Si gemuk dan si kurus masih mengerjap-ngerjap mencerna kalimat Nara dan Sehun.

“Kalian tidak jadi membawaku?” Tanya Sehun melongokkan kepalanya lagi ke kelas. Serta merta kedua kumal itu berlari mengikuti.

Nara hanya melongo. Sehun ternyata memperhatikan. Dia tidak tidur saat Nara memperkenalkan diri. Kalau begitu seharusnya mereka berteman karena saling mengenal. Namun, Nara malah membiarkan Sehun dibawa dua berandalan itu.

“Aku bukan teman yang baik. Pasti nenek akan marah jika mendapati aku tidak menjadi teman yang baik,” ungkap gadis itu linglung. Ayolah, Nara seharusnya ia bersyukur karena tidak terjerat ke dalam lumbung masalah.

“Aku harus menolongnya,” gumam Nara. Ia hendak mengejar mereka, tetapi berhenti setelah mendengar bel tanda makan siang berakhir—kelasnya dimulai lagi. Ya Tuhan, keberuntungan masih dimiliki gadis itu!

.

.

.

Sehun membenarkan kerah kemejanya yang habis ditarik-tarik gerombolan pemuda. Ia sekarang seperti gula yang dikerumuni semut. Tentu saja, Sehun tidak semanis gula. Bukan. Pemuda kotor itu hanya ingin menghabisi Sehun. Sederhana.

Apa masalahnya?

Terlalu panjang jika harus dijelaskan sekarang. Mungkin seperti biasa, Sehun mengacaukan tempat pesta mereka atau merebut pacar dari ketua geng sekolah kumal itu. Pokoknya, terlalu banyak masalah yang Sehun buat beberapa tahun terakhir.

“Brengsek, kau menidurinya!” Kata pemuda yang memukul telak wajah Sehun hingga tersungkur.

Hebatnya, Sehun tidak melawan. Ia malah menyunggingkan senyum manis. Terlihat mengejek bagi lawannya.

“Kenapa? Kau tidak terima? Jinah lebih memilih tidur denganku daripada berpegangan tangan denganmu, Yoon Dujun.” Kata Sehun sembari mengusap darah di ujung bibir. Jadi, masalahnya memperebutkan seorang gadis.

“Hajar dia,” ucap Dujun—si ketua geng kumal.

Lima pemuda lain yang mengepung Sehun memberikan tendangan dan tonjokan bertubi-tubi kepada Sehun. Diremangan bunyi hantaman, Sehun masih saja sempat menyulut amarah Dujun. “Dengar, sampai bumi berubah menjadi trapesiumpun. Aku tidak akan sudi meniduri Jinah. Gadis murahan itu—”

BUK!

Tamatlah riwayatmu, Sehun! Kenapa kau tidak melawan?‘ Berulang kali Nara merutuk ketika menatap pemandangan tidak senonoh itu. Nara sedang bersembunyi di dinding rusak, bangunan dekat sekolah.

Gadis itu, iseng memutuskan lari dari mobil jemputan ayah tirinya. Ia ingin pulang naik bus. Nara bosan dengan aturan yang menjeratnya.

Tidak sengaja, ia melihat Sehun diseret oleh beberapa remaja laki-laki, saat Nara menunggu bus di halte. Ia kira urusan mereka telah selesai. Bukankah, peristiwa di kelas tadi sudah terjadi tiga jam lalu? Kenapa Sehun baru dipukuli sekarang? Kemana saja mereka?

Sebenarnya, ini bukan urusan Nara, sungguh.

Apalagi, sewaktu gadis itu muncul bagai pahlawan yang sok sekali saat melihat Sehun dikeroyok. Nara hanya berpikir bahwa ia dapat melakukan beberapa gerakan seperti Spiderman.

Gadis itu tidak berpikir panjang, hidupnya hanya dihabiskan untuk menonton serial superhero. Payah.

Dujun terkejut saat ia mendapati seorang gadis berlari seperti sapi mengamuk ke arahnya. Di tangan gadis itu tergenggam semprotan merica yang menyerang Dujun tiba-tiba.

“Mataku, ah!” Jerit Dujun sambil lari putar-putar tunggang langgang.

Mendengar ketua geng mereka kesakitan lima pemuda yang sedang menghajar Sehun berhenti. Serempak mereka menoleh, tepat ketika Dujun terpleset batu kerikil. Mata Dujun perih dan tidak tahu kalau ada kerikil di depannya. Dujun terjungkal.

“Hahahaha,” suara tawa menggelegar di lapangan gersang itu. Bukannya menolong, anggota Dujun malah terpingkal-pingkal. Sungguh, tidak setia kawan.

Nara menatap lugu Dujun yang jatuh, “Maaf aku tidak sengaja menyemprotmu. Maksudku, kau terlihat menyeramkan jadi…” Gadis itu menggantungkan kalimatnya, ia kikuk sekali. Apalagi, setelah mencuri pandang ke arah Sehun melalui ekor matanya.

Sehun cemberut, nampak tidak suka atas kehadiran Nara. Ia memberikan pandangan jika Dujun marah lalu menyuruh gengnya menghajar Nara, Sehun tidak sudi menolong.

Celaka dua belas!

Gerombolan itu menuju arah Nara. Mereka meninggalkan Sehun yang masih terduduk. Hebat!

Otak Nara berputar, berusaha mengingat bagaimana biasanya Spiderman mengalahkan musuh yang lebih dari satu.

Nara menggelengkan kepala. Ia harus berpikir rasional. Dia bukan laba-laba dan tidak bisa mengeluarkan jaring untuk menjerat lawan. Gadis itu mengerling pada kaleng semprot merica miliknya.

Nara sudah mengangkan-angkan menyemprotkan senjatanya, namun ia malah dipiting terlebih dahulu oleh si kurus. Nara, baru sadar jika mereka tidak lagi memakai seragam Taejun. Berganti dengan seragam coklat. Ceongdam—nama sekolah mereka.

“Aduh sakit, dasar tidak tahu malu. Kalian mengeroyok seorang gadis yang tidak berdaya!” Seru Nara. Kalimat yang ia ucapkan mirip sekali dengan dialog opera sabun favoritnya.

Gadis itu menendang-nendang ngawur, sewaktu si kurus dan si gendut mengangkatnya. “Siapa kau? Pacar baru Sehun, ya?” Tanya Dujun. Ternyata ketua geng sudah tidak sakit mata lagi.

Kesal dengan pengaruh semprotan merica yang tidak efektif. Nara melemparkan kaleng itu. “Dasar tidak berguna,” cemooh Nara.

Dujun tampak tersinggung, ia kira ejekkan Nara tadi untuknya. Bukan, bukan untukmu Dujun, tapi itu untuk kaleng merica. Percayalah.

Dujun tetap kukuh.

Dujun tetap marah-marah.

Kemarahannya salah arah.

 “Apa kau bilang?” Tanya Dujun lagi. Benar-benar tidak tahu malu, Dujun menjambak surai hitam Nara yang dikuncir pita hijau. Kuncir kuda gadis itu terlepas, rambutnya terurai. “Gadis sialan, cantik tapi mulutmu itu tajam.” Kata si kurus.

Sehun menghembuskan napas kasar saat gadis kelewat ceroboh itu mendapatkan tamparan telak dari berandalan Cheongdam. Sebenarnya, ia tidak seberapa peduli. Tetapi, saat lawannya mulai melepas jas sekolah gadis itu. Lalu mulai merobek kemeja putih lengan panjangnya. Sehun mulai geram. Putaran ingatan yang hampir sama terbesit kembali. Perilaku sama, namun dengan tokoh yang berbeda.

“Brengsek,” gumam Sehun serak sembari menyisir surai coklatnya yang berantakan dengan jemari. Ia bangun mendekati gerombolan. Gadis yang menjadi sasaran mereka, malah mengomel yang kedengarannya seperti kutukan untuk pemuda-pemuda penawan. ‘Semoga hidung kalian bertambah panjang sampai bingung bagaimana cara masuk ke rumah dan semoga bulu hidung kalian tumbuh sepanjang rambut Rapunzel.’

Mau tidak mau, Sehun tertawa di dalam hati. Ia melangkah mendekati mereka yang sedang asyik mengancam gadis itu. Sehun dengan gerakan tiba-tiba menendang punggung si pria kurus. Perkelahian terjadi diantara mereka.

Berhasil melepaskan Nara dari kerumunan, Sehun menggeret Nara ke belakang punggungnya. Menggunakan Sehun sebagai perisai, sekilas ia mencuri pandang pada raut gadis itu. Nampak bibir Nara yang berdarah karena tamparan Dujun tadi.

“Lari, kita harus lari,” bibir Nara bergerak mengisyaratkan. Sebenarnya Sehun bisa menghadapi mereka semua, namun melihat tatapan takut yang tersirat di mata gadis itu Sehun memutuskan setuju.

Sehun menarik tangan Nara untuk berbalik, “Lari secepat yang kau bisa.” Ucap pria itu sembari mengaitkan jemarinya pada lengan Nara. Mereka berlari seperti dua kancil yang dikejar lima buaya, okay itu bukan perumpamaan yang bagus. Tapi, percayalah memang begitu adanya.

Nara berlari hingga terengah-engah kalau bukan tangan Sehun yang terus menariknya, mungkin gadis itu sudah menyerah di belokkan pertama. Ia mendengar teriakan Dujun dan anggotanya yang semakin megap-megap kehabisan napas.

Nara jadi ingat kalau dulu ia memelihara simpanse, rombongan yang sedang mengejar mereka sama seperti simpanse yang ingin kawin. Melihat mereka berdua sebagai betina menggemaskan. Nara menggeleng-gelengkan kepala, bulu kuduknya berdiri membayangkan ia dipadankan menjadi simpanse betina. Berbulu. Berkutu. Bau. Ugh.

Sementara Nara merenungi nasib simpanse. Sehun sibuk menyusun alur langkah mereka.

Sehun menyeret Nara, berbelok dari kanan ke kiri kembali ke kanan lagi, terus berkelok-kelok melewati bangunan-bangunan. Kepala gadis itu pusing, dia seperti diajak menaiki wahan ekstrim. Berputar-putar. Tidak tahu sekarang sedang berada dimana, Nara hanya pasrah.

Di tengah kelelahan Nara, tiba-tiba Sehun berhenti. Ia hampir terjungkal dan mencium aspal. Nasib berpihak pada Nara, Sehun membantu tubuh gadis itu agar seimbang.

“Mereka sudah jauh,” kata Sehun.

Nara hanya mengerjapkan mata. Mentalnya masih berusaha membenahi kerusakan berat di dalam otak akibat berlari. Nara lama sekali tidak berolahraga. Dia hanya melakukan aerobik jempol—Nara yakin itu dapat membakar kalori.

“Hai, Jung Nara! Apa kau baik-baik saja?” Tanya Sehun sembari melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.

Nara bersin.

Sehun terkejut. Melompat mundur.

Nara mengelap ingusnya. “Aku baik-baik saja hanya flu.” Gadis itu akhirnya menjawab.

Sehun menghela napas lega, bukan karena mendapati gadis itu baik-baik saja. Akan tetapi, lebih pada syukur karena tidak terciprat ingus Nara.

“Dimana rumahmu?” Sehun kembali bertanya, kini dalam jarak aman. Tidak terlalu dekat. Takut Nara menyemburkan api atau sinar laser.

Mata Nara yang bulat, semakin bulat menanggapi pertanyaan Sehun. “Kenapa kau menanyakan rumahku? Kau menyukaiku, ya? Jujur saja, banyak kok yang suka padaku.” Gadis itu menimpali. Ia mendekati Sehun satu langkah. Sehun mundur dua langkah. Dua langkah Nara mendekat, lima langkah Sehun menjauh. Begitu seterusnya sampai kiamat.

Hm.

Sehun memutar bola mata. Pria itu malas berdebat, sungguh. “Iya, terserah. Cepat katakan  dimana rumahmu?”

Nara mengedipkan kelopak matanya—berusaha menggoda, namun gagal. Sehun malah mengira Nara sedang sakit mata dan kelilipan.

“Dari semua anak laki-laki cuma kau yang langsung mengajak kencan di hari pertama berkenalan secara formal.” Nara berkata dengan penuh percaya diri dan suara lantang seperti berpidato pada hari kemerdekaan.

Sehun memasukkan kedua tangannya pada saku celana. Pria itu berlagak layaknya foto model. “Iya, terserah.” Kalimat yang sama diucapkan Sehun.

“Kau membuatku takut,” cicit Nara. Koar Ketakutannya tidak sesuai dengan bahasa nonverbal yang ia gelontorkan. Gadis itu malah memasang raut bersemangat. “Eum, tapi tidak apa-apa. Ini kencan pertama kita. Ayo!” Nara melanjutkan, kini ada seruan diselipkan cengiran masa bodoh. Tidak lupa tangan Nara, menggenggam jemari Sehun menariknya agar berjalan.

‘Seharusnya aku takut dari sekian gadis yang pernah kukenal di dunia ini, hanya gadis ini yang sangat tidak tahu malu. Terlalu optimis. Terlalu percaya diri. Menarik.’  Sehun membatin. Kecut. Asam. Semua campur aduk.

Sehun hanya ingin mengantar gadis itu sampai ke rumahnya dengan aman. Memastikan jika komplotan kumal tidak mengejarnya.

Ternyata terjadi ketidaksinambungan antara niat baiknya dan interpretasi Nara.

Nara mengira Sehun mengajak kencan. Ha. Terserah.

Sementara Sehun masih dengan kemauan setengah hati.

Nara bersiul-siul. Gembira. Menyala-nyala seperti kembang api di tahun baru.

Horray teman kencan baru!

 

Dasar naif kau Jung Nara.

Huft.

-oOo-

a/n:

Sebenarnya fanfiction ini berjudul Emergency Marriage tapi aku ganti karena sudah ada yang pakai judul itu. Terimakasih sudah membaca J.

 

Salam hangat,

Twelveblossom

Advertisements

167 thoughts on “Datum: Wednesday

  1. Beneran nih ff terunik yg kubaca🐰
    Namjanya cool tp ternyata, wow
    Biasanya Ff yg bertemakan seperti ini tuh, namjanya cool terus si yeoja gk mau peduli gitulah … Tp ini lain… D ff ini Si namjanya cool dan si yeoja kepedean bgt… And d ff ini jg ada comedynya?/ d tengah tengah ketegangan si yeoja malah ngedumel+masih mikir movie movie kesukaannya 😄😄daebaklah nih cerita… Seruuuuuuu…. Mau baca nextnya 😂
    Ohh iya hampir kelupaan hai minmin^^ aku new reader, salken minmin^^

  2. Hai hai, aku sukaaaaa bgt sm cerita ini. Lucu. Menghibur. Aku sampe ngakak saat bacanya, duh, semangat trs nulisnya, author~~ \^•^/

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s