The Harmony of Love

Harmony of Love 1

Author

Twelveblossom

Cast

Kim Jongdae & Jo (OC)

Length Ficlet

Genre Romance

Rated PG-13

This story line is mine, please don’t copy paste.

Prev: Best Luck

-oOo-

Harmony is pure love, for love is a concerto.

.

.

.

Jo mengetuk meja berulang kali. Jari-jarinya tak dapat diam. Seakan-akan berada pada kubu yang sama, bibir ranum Jo ikut memberengut. Menjalin kesatuan, menegaskan jika ia sedang kesal.

Netra kelabunya menyipit. Lamat-lamat mengamati kotak kado berbentuk hati dan berpita merah jambu. Manis. Semanis penampilan Jo hari ini. Gadis itu mengenakan kaos putih bergambar hati, rok mengembang berwana merah muda, serta bandana hitam menghiasi surai coklat madu sebahunya.

Kotak itu berisi cokelat yang tentu saja berbentuk hati. Yeah, semua harus berbentuk hati sebab hari ini valentine. Apabila, Jo mampu, gadis itu berencana mengubah lekuk wajahnya menyerupai hati. Namun, ia sadar kalau itu menjadikan dirinya tampak semakin konyol. Hm.

“Jongdae sialan,” gumam Jo untuk ke seribu kalinya. Ia memadankan nama Jongdae dengan umpatan sialan, seakan-akan sialan adalah nama tengah Jongdae.

Jo menghembuskan napas berat, “Kim Sialan Jongdae.” Bibirnya lelah sekali mengeluh. Jo sudah menunggu hampir satu jam di gerai kopi ini, akan tetapi yang ditunggu tak kunjung datang.

Mungkin Jongdae dimakan dinosaurus atau diculik ibu peri agar bisa jadi kudanya kereta Cinderella. Batin Jo terus berkhayal.

Gadis berusia delapan belas tahun itu akan mengangkat pantatnya dari kursi, tetapi tindakan tersebut diurungkan. Sepasang mata Jo menangkap sosok Jongdae yang tersengal-sengal memasuki gerai kopi.

Serampangan, Jongdae menarik kursi di depan Jo, menimbulkan derit yang memekakan telinga. Tanpa peduli betapa panjangnya cemberut yang dihasilkan bibir Jo, Jongdae malah menyeruput latte milik gadis itu.

Tidak ada sapaan ‘hai’ atau kalimat ‘maaf’. Jongdae masih sibuk dengan kegiatan pribadinya seperti, mengelap keringat, membetulkan gaya rambut hitamnya, dan kaos merahnya.

Jo yang tidak sabaran memulai percakapan melalui nada sengit. “Sekedar mengingatkan, kau belum jadi bos, Kim Jongdae. Seenaknya saja membuat orang lain menunggu dan malah fashion show di sini.

Si pelakuJongdae, malah memberikan cengiran lebar pada kekasihnya itu. “Maaf, tadi ada urusan penting,” Jongdae membalas. Tak ada sebutirpun penyesalan di dalam suaranya. Menegaskan jika keterlambatannya menyerupai remahan roti busuk. Patut dilupakan.

Ugh. Jo semakin menguap, sangking kesalnya. Seharusnya ia tak berekspektasi terlalu banyak mengenai acara valentine mereka. Jo merasa menjadi orang paling tolol. Bayangkan saja, Jo rela menghabiskan waktu berminggu-minggu agar dapat membuat cokelat layak makan untuk pemuda itu. Sekarang? Lihatlah bahkan Jongdae tidak membawa apa-apa. Tangan kosong. Jo membenci cokelat, bukan bearti ia menolak cokelat tanda cinta. Ayolah ini valentine!

Padahal, aku telah rela membuang waktuku untuk membuat cokelat ini. Ya! Belajar memasak makanan yang bahkan tak kusukai sedikitpun.

“Ini pasti untukku.” Jongdae meraih kotak kado menggemaskan itu. Cekatan ia merebut dari teritorial Jo. “Sepertinya, lumayan,” ungkap Jongdae sembari membuka kado dengan perlahan. Jemarinya menari-nari, menggoda Jo.

“Kau ini sangat menyebalkan. Sudah datang terlambat tiba-tiba mengambil kado tanpa seijin pemiliknya.” Jo menyilangkan tangannya, kepala sedikit ia angkatbiar tampak angkuh.

Jongdae melejitkan bahunya. “Untuk apa aku meminta ijin? Bungkusan ini milikku.”

Pupus sudah harapan Jo akan valentine romantis mereka. Sampai gajah bisa salto, Jongdae tak mungkin berperilaku normal. Misalnya, membawakan Jo rangkaian bunga. Bisa-bisa, kekasihnya itu malah membawakan bonsai. Astaga!

“Wah, cokelat! Berebentuk hati. Ini sangat menggelikan,” Jongdae berseru kegirangan setelah berhasil menemukan isi kadonya.

Jo mengangguk. Bibirnya yang memberengur tiba-tiba membentuk simetris yang lain. Gadis itu tersenyum, mengikuti lengkungan bibir Jongdae. Benarkan pria itu dapat menjungkir balikkan perasaannya.

“Apa ini bisa dimakan?” Tanya Jongdae. Ia menyelipkan tatapan polos serta berkedip-kedip, menyerupai balita yang masih menyusui. Dia lebih mirip Chocho, anjingku yang mati dua hari lalu, Jo membatin…err… Sedikit sadis.

“Memangnya, kau siapa sehingga aku sudi meracunimu?” Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Sinyal jikalau Jo mulai kesal kembali.

Jongdae tersenyum hingga matanya tinggal segaris. “Terimakasih,” ucapnya singkat, tak menggubris kekesalan Jo. Jongdae menggigit cokelat buatan kekasihnya banyak-banyak. “Ini enak,” lanjut pemuda itu sembari mendekat untuk mengelus puncak kepala Jo.

Gadis itu mencibir. Sebenarnya hati Jo sedang ditumbuhi bunga matahari, mendengar pujian dari kekasih sekaligus sahabatnya. “Kau tahu, aku butuh perjuangan sangat keras demi membuat cokelat itu.”

“Aku tahu,” kata Jongdae yang mulutnya masih penuh dengan cokelat.

Jo tercengang, menatap Jongdae melalui mata bulatnya. Di opera sabun yang ia lihat kemarin, seorang pria menyimpan cokelat dari kekasihnya sebagai kenang-kenangan. Sedangkan Jongdae, melahap cokelat itu sekali gilas. Dasar tidak romantis!

“Cokelat ini akan membusuk kalau disimpan. Lebih bermanfaat masuk ke dalam perutku,” Jongdae mengoceh, menjawab semua pertanyaan Jo.

Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Pria seperti ini yang Jo cintai. Ia tak ingin berharap terlalu banyak. Jongdae yang begini saja sudah membuat hatinya kalang kabut.

Jo mencoba bersyukur. Siapa tahu ia bisa mendapatkan yang lebih baik?

Kekasih yang lebih baik. Jo tertawa sendu di dalam hati.

“Cokelatnya sudah habis. Cepat antarkan aku pulang.” Jo berucap setelah mendapati cokelatnya hanya tertinggal butiran-butiran kecil. Gadis itu menyingkirkan remahan cokelat di bibir Jongdae.

Jari-jari Jo yang berada di ujung bibir Jongdae berhenti ketika pria itu mengecupnya.          “Hai, aku belum memberikan kado valentine untukmu, Jo.”

“Tidak apa-apa kalau kau tidak memberiku hadiah,” sambar Jo.

Jongdae mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku punya, hanya saja-“

kau lupa membawanya,” potong gadis itu. Jo, kelewat lelah akan sikap teledor kekasihnya.

“Tidak, aku sangat ingat. Bahkan aku terlambat karena ini.” Jongdae mengeluarkan ponselnya beserta earphone, kemudian menyorongkannya pada Jo.

“Kau memberikanku ponselmu?” Tanya Jo bingung, sambil menerima benda itu.

Jongdae menggeleng. Ia memberikan bahasa isyarat pada kekasihnya agar memasang earphone.

“Dengarkan saja,” kata Jongdae mengantarkan Jo pada dunia yang berbeda.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Tujuh menit.

Sepuluh menit.

Jo melepas earphone.

Gadis itu tercengang. Matanya berkaca-kaca, menatap Jongdae lamat-lamat. Ia meminta pertanggungjawaban.

Sementara, Jongdae…

Menggigit bibirnya takut.

“Kim Jongdae. Bisa tidak aku meminjam flashdiscmu?”

Jongdae tersenyum lega. Ia bergeser memajukan parasnya, mengecup kekasihnya. Cepat, kilat, dan malu-malu.

Jo menyentuh pipinya, tempat bibir Jongdae sempat bertengger. Ia lalu terkekeh, diikuti Jongdae yang terkikik.

Jongdae mencintaiku dengan caranya. Ia tidak memberikan apa yang menjadi tren tetapi apa yang aku butuhkan, ucap Jo melalui batinnya.

Untunglah, setidaknya berakhir menyenangkan. Ha.

.

.

.

Dalam suara Jongdae memberikan cokelat valentinenya.

Jo, ini aku Kim Jongdae. Err maaf. Aku pasti terlambat hari ini. Yeah karena aku begadang untuk merekam semua ini. Aku baru ingat kalau besok valentine. Aku memang bodoh, pelupa, idiot, tolol, tapi aku mencintaimu. Sungguh. Aku sedang serius kau tidak boleh tertawa.

Aku tahu kau membenci cokelat. Uh. Kau gadis aneh. Kau membuatku pusing memikirkan hadiah apa yang cocok untukmu. Sesuatu yang menggantikan cokelat, namun bisa semanis cokelat. Walaupun, aku sudah manis. Melihatku saja kau bisa terkena diabetes. Hahaha. Hm. Jangan tertawa, aku serius.

Aku bernyanyi untukmu, oke? Karena suaraku menjadi modal paling menguntungkan. Selain itu, jika kau rindu padaku kau bisa mendengarkan suara merduku. Jangan mengelak! Suaraku memang indah.

 

I don’t know but I believe

That somethings are meant to be

And that you’ll make a better me

Everyday I love you

I never thought that dreams came true

But you showed me that they do

You know that I learn something new

Everyday I love you

‘Cos I believe that destiny

Is out of our control

(don’t you know that I do)

And you’ll never live until you love

With all your heart and soul.

It’s a touch when I feel bad

It’s a smile when I get mad

All the little things I am

Everyday I love you

Everyday I love you more

Everyday I love you

‘Cos I believe that destiny

Is out of our control

(don’t you know that I do)

And you never leave until you love

With all your heart and soul

If I asked would you say yes?

Together we’re the very best

I know that I am truly blessed

Everyday I love you

And I’ll give you my best

Everyday I love you—Boyzone

Bagaimana suaraku? Pasti tidak mengecewakan.

Hm. Biasanya seorang gadis akan menyimpan baik-baik pemberian kekasihnya jika gadis itu mencintai kekasihnya.

Kalau kau mencintaiku, seharusnya kau meminta file rekaman ini. Aku sarankan untuk menduplikat, agar yeah jika terhapus di ponselku, masih tersimpan di yang lainnya.

 

Aku bawa flashdisc, sekedar mengingatkan. Aduh, kenapa aku mengatakan ini?

 

Seharusnya kau tau maksudku. Sudah ya, aku mengantuk.

 

Jo, aku mencintaimu.

-oOo-

a/n: Halooo~ ini aku buat ficlet untuk valentine. EXO edisi valentine hahaha. Semoga gak ada typo, ngetiknya tadi malam. Terimakasih sudah membaca. 😀

Advertisements

46 thoughts on “The Harmony of Love

  1. ASDFFJNJFT. INI KEREN BANGET.

    aku uda lama banget nyari FF cast utama Jongdae. Ini keren sweet geli gimana gitu.
    Dan so Chen. Kim Sialan Jongdae. Hahaha
    Kriuk-kriuk romantisnya. Unyu manis kayak aku. Lalalalala
    XOXO
    GAL

  2. Aihh ini maniss bgt. Tiap org pny karakterny sendiri2, trmasuk couple ini. Walopun ga umum caranya, tapi maniss bgt. Suka
    Eonni daebak

  3. romantisnya jongdae gitu yaa 😀 ugh awalnya pengen jambak ternyata kejutannya berhasil.. romantis tak bermodal tuh 😀

  4. Pingback: [1] EXO’s Valentine | SAY - Korean Fanfiction

  5. Aku sangat sangat berterima kasih kpd author soalnya di sini jongdae sifatnya romantis banget >.<
    Jarang banget loh yg bikin seorang kim jongdae itu romantis biasanya selalu homo atau endingnya dia meninggal…

  6. Pingback: [1] EXO’s Valentine | SAY - Korean Fanfiction

  7. sweet banget siiihh…. jongdae sweet dengan caranya sendiri. asik yah valentine udah punya gaetan, ada yg merhatiin. /curhat/ /no/
    btw jadi pengen cokelat masa……. /apaini/ /tolongabaikan/
    kak lanjutin sad movie kak wkwkwk aku gemes pengen tau lanjutannya hehe

  8. aaaawww… kim sial*an dae kok jadi sweet banget gini siih.. bikin mesam mesem nggak jelas. hmm, ngomong omong aku juga mau copy-annya dong.. flashdisc mu kesiniin sinih! hehe

  9. DUH GATAO MAU TULIS APA YG JELAS SI TROLLMAN SATU INI KELEWAT MANIS DAN DASAR EMANG KIM JONG DAE YG SOMPLAKNYA NAUZUBILLAH NEMPELNYA (PENYAKIT AKUTNYA KALI YA?) SEKIAN!

  10. aku suka rangkaian kata2 kaka. kapan ya aku bisa buat ff yang penuh kata bermakna#cieeeee# . . . kak kalo exo edisi valentine berarti ada member yang lain dong? hehehehe ngarep. btw . . . bgs kak ffnya benar2 hanya seorang ‘Kim Jongdae’

  11. aaaaaaaaaa jongdae~ bisa romantis juga eh? meskipun ttp dgn stylenya yg troll, haha. Btw chen narsisnya ga ketinggalan “Walaupun, aku sudah manis. Melihatku saja
    kau bisa terkena diabetes. Hahaha. ” member lain jg dibuatin?

  12. romantis ,,* jongdae punya cara sendiri untuk mengungkapan perasaannya * ahhh idenya itu loh , mau ih jadi pacarnya ,, eonni di tunggu ff selanjutnya ,, eonni semaangat ,,eonni daebakkk

  13. aw.. Jongdae sweet banget. Emang hadiahnya Jongdae adalah cokelat termanis lah.
    Pastaslah Jo ga bisa berpaling haha
    Keep writing and fighting^^

  14. kak!!! ini romantis bgt. Bikin iri aja pasangan ini. Jongdae bisa romantis jga ckck buatin edisi valentine member lain kak ihi ditunggu^^

  15. aiihh ini malah pengen nangis baca yang beginian 🙂 sampe bingung mo komen apa kak. aku dari tadi subuh bolak balik buka blog kakak, serius. semua karyanya itu bener” WAH!! cepet update sad movie ya, thanks

  16. Pingback: Perpustakaan | Twelveblossom

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s