[Bagian 2] EXO’s Valentine

exo's valebtine

Author

Twelveblossom

Cast

Baekhyun, Kyungsoo, Luhan, and OC

Rated PG-13

Broken

Sue menatap Baekhyun. Kilatan-kilatan yang terpatri pada sepasang netra pria itu menyerukan amarah. Bahkan, Sue tidak mampu lagi merenungkan apa saja yang sedang berkecambuk di benak sahabatnya.

“Dia menolakku kemudian pergi.” Akhirnya, Baekhyun bersuara. Ia menendang kerikil. “Aku kira, menyatakan cinta padanya sewaktu valentine, membuat hatinya luluh.” Pemuda itu kembali berseloroh.

Lantaran prihatin, Sue malah bernapas lega. Gadis berusia delapan belas tahun itu, tadinya cemas mendapati Baekhyun membisu di bangku taman paling ujung.

“Hatiku sakit bagai ditusuk sembilu,” kata Baekhyun.

Sue menautkan alis.

Baekhyun menatap Sue lamat-lamat. “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.” Baekhyun mulai menggenggam tangan Sue.

Gadis itu tidak merespon.

“Oh, hatiku. Remuk sudah menjadi remahan roti diolesi Nutella.” Baekhyun mendekap tangan Sue di dada.

Membuat Sue berguman, “hmmm.”

“Aku sudah tak punya hati, remuk. Sue, apa kau tahu dimana membeli hati yang baru?” Tanya Baekhyun. Ia menirukan gaya penyair patah hati yang ingin berganti profesi menjadi koki.

Sue mendengus. Tiba-tiba gadis itu menarik tangannya dari dekapan Baekhyun lalu berdiri. “Demi Tuhan aku tidak tahan mendengar puisimu yang aneh. Pantas saja kau ditolak.” Kata Sue, tegas.

Baekhyun mengigit bibirnya. “Sue, aku tidak-maksudku hatiku-“

“Aku muak dengan hati. Beli saja hati di pasar atau di toko daging. Selamat tinggal.” Sue memotong ucapan Baekhyun, kemudian pergi dengan langkah lebar-lebar.

.

.

.

Cookies

Do Minho memasang raut datar. Bocah berusia enam tahun itu bersedekap sembari puluhan kali mendengus. Surai hitamnya bergaya mangkuk, tampak layu disebabkan asap yang mengepung dapur. Mata bulatnya mengedip beberapa kali, perpaduan antara pedih dan bingung.

“Halo, sayang. Bagaimana tidur siangmu?” Tanya wanita yang menjadi pemain utama dalam kekacauan ini. Wanita itu tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya. Walaupun, rautnya nampak berantakan—dipenuhi tepung beserta telur yang menempel pada apron, semangatnya tidak luruh.

“Kita akan membuat kue untuk appa, bersiaplah!” Seru wanita itu, sambil mengepalkan tangan.

Minho hanya menggeleng, matanya yang sudah bulat semakin membulat. “Tidak mau, Minho takut appa keracunan.” Balas anak laki-laki itu. “Ibu sangat tidak suka dapur. Jadi, lebih baik jangan dekat-dekat dapur, nanti meledak.” Tambah Minho penuh penekanan.

“Ugh, cara bicaramu benar-benar mirip Kyungsoo. Baiklah, Kyungsoo kecilku, ayo bantu ibu.” Jisoo merengek pada anaknya yang masih berusia dini. Ya, Jisoo sudah menjadi ibu!

“Tidak mau, kue buatan ibu keras seperti batu dan jelek. Tidak mau. Tidak mau. Tidak mau!” Minho meronta-ronta ketika Jisoo menarik anaknya untuk mendekat.

Jisoo menyentil hidung Minho yang mirip sekali dengan miliknya. “Jangan terlalu mirip appamu. Kau perlu sedikit bersenang-senang.” Wanita itu mengolesi pipi Minho dengan adonan kue yang super lembek. “Lagi pula ini valentine pasti appamu akan sangat senang jika kita membuatkan sesuatu untuknya.” Lanjut Jisoo.

Do Kyungsoo gembira dengan kue buatan Jisoo—yang benar saja.

Apa dia bercanda?

Ha. Pasti. Lihat saja ekspresi Kyungsoo sekarang.

“Kau membuat batu sebagai hadiah valentine?” Tanya Kyungsoo, netranya memindai bulatan sebesar jempol kaki berwarna coklat dan hitam di beberapa sisi.

Jisoo keluar dari kamar Minho, mendekati Kyungsoo yang berdiri di samping meja makan. “Sebenarnya tidak sekeras itu kalau kau datang enam jam lebih cepat.” Jawab Jisoo, tidak lupa menyelipkan cebikan pada akhir kalimat.

“Sudah kubilang jika ada rapat mendadak.” Kyungsoo menggeser kursi, kemudian duduk.

Jisoo menghembuskan napas berat. “Tadi Minho juga ikut membuat kue itu. Dia menunggumu sampai ketiduran.”

Kyungsoo menautkan alisnya. “Secara fisik Minho memang sangat mirip denganku, tapi urusan dapur ia serupa denganmu. Tidak suka berada di dapur kecuali— “

“—kecuali untuk orang yang benar-benar kusuka,” potong Jisoo. Ia beranjak menuju belakang tubuh Kyungsoo lalu memeluk pria yang sedang terduduk itu. “Benar-benar menyebalkan, kau tahu. Lihat jariku jadi sakit. Tadi sewaktu aku mengeluarkan kue ini dari oven, aku lupa memakai sarung tangan.” Wanita itu mencurahkan semua keluhannya.

Diam-diam Kyungsoo menarik bibirnya, membentuk lengkungan senyum. “Bodoh,” pria itu menanggapi.

“Menyebalkan!” Jisoo melepaskan pelukannya. Ia mengambil tempat di kursi—berhadapan dengan Kyungsoo. “Kau tidak pernah perhatian padaku, sama sekali.”

Pria itu menatap istrinya sebentar, kemudian mengambil kue berbentuk aneh itu. Ia mengigitnya sedikit. “Aku takut gigiku patah,” Kyungsoo berkomentar.

“Sudah jangan dimakan.” Jisoo mengigit bibirnya. “Aku memang tidak dapat diandalkan.”

“Dari dulu, kau memang tidak bisa diandalkan.” Kyungsoo setuju.

“Karena itu kau tidak pernah benar-benar mencintaiku.” Jisoo mulai terbawa perasaan menanggapi selorohan Kyungsoo.

Kyungsoo meletakkan kue itu. Ia menyadari jika suasana mulai memburuk. “Aku tidak perlu semua hal ini, Do Jisoo. Melihatmu berada di sekitarku saja sudah membuatku bersyukur. Melihatmu tetap menjadi dirimu sudah membuatku hidup. Melihat raut yang sangat suka merengek itu, membuat jantungku tetap berdetak. Apalagi, mata abu-abu milikmu, membuatku tidak dapat berhenti memikirkanmu.” Pria itu meraih jemari Jisoo yang terpasang plester. Mengecupnya satu persatu. “Ini bukan gayaku, tapi dengar aku tidak akan mengulangnya. Do Jisoo, aku mencintaimu, walaupun kau hanya bisa membuat batu, bukan kue.”

.

.

.

The White Rose

14 Februari 2015

Aku melihat kalender ponselku, menunjukkan tanggal hari ini. Ayolah, aku hanya sekedar memeriksa, bukannya menandai. Apalagi, sampai hati berharap adanya suatu perayaan valentine. Aku bukan lagi gadis belasan tahun yang baru saja mengalami pubertas. Aku telah berusia 25 tahun dan menjadi wanita matang. Eum, sebenarnya masih ada sisi kekanakan. Hanya sedikit. Sedikit sekali. Misalnya, pada saat ini. Sewaktu aku berjalan menuju pelataran kantorku. Sifat kikuk kembali muncul ketika, rekan kerjaku secara terang-terangan mencuri pandang. Tatapan itu pencampuran antara rasa iri, kagum, dan jenaka. Aku menyisir surai. Siapa tahu ternyata aku masih memakai bandana kelinci milik keponakanku? Ha.

“Apa ini untukku? Ini dari siapa?” Tanyaku bertubi-tubi saat seorang anak perempuan berpakaian seragam sekolah menengah pertama memberiku mawar putih.

Di dalam pikiranku tercetus kemungkinan. Mungkin di kantor sedang mengadakan acara bagi-bagi bunga untuk seluruh kariyawan. Namun, opsi itu aku enyahkan saat melihat sekeliling, tidak ada yang mendapatkan mawar. Aku satu-satunya.

“Han Jiwon, halaman 14.” Lantaran menjawab pertanyaan, anak perempuan itu malah mengatakan hal lain kemudian pergi begitu saja.

Aku menggelengkan kepala, melanjutkan rajutan langkah. Tak mau berpikir terlalu banyak. Hari ini tumpukan artikel menunggu untuk dibaca sebagai inspirasi pembuatan rubik baru, majalah tempatku bekerja. Tidak ada waktu menanggapi keisengan seorang remaja.

Menginjakkan kaki di lantai lima, aku diberhentikan oleh seorang pemuda berseragam sekolah menegah atas. Ia memberiku mawar putih sembari berucap, “Bacalah, setelah itu jawablah.” Seperti sebelum-sebelumnya pemuda itu juga segera pergi. Aku menghembuskan napas. Sudahlah mungkin ini bagian dari kejahilan anak-anak yang berkomplot, aku membatin.

“Wah, eonni pagi-pagi sudah mendapat mawar, cantik sekali. Apa itu dari Luhan Oppa?” Tanya Jung Nara, rekanku.

 Aku tersenyum kecut. “Luhan baru pulang dari London dua hari lagi.”

“Sayang sekali,” balas Nara sembari mengerling. Kentara sekali gadis itu sedang menggodaku. Ia mengibaskan majalah yang sedari tadi dibacanya, lalu terkekeh. “Aku iri sekali denganmu, eonni. Sampai dunia kiamat pun, Sehun tidak mungkin seromantis ini.” Lanjut Nara, gadis itu bergegas pergi dari ruangan, ia meningalkan majalah itu di mejaku.

Aku semakin kebingungan. Kuraih majalah yang kelihatannya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bernaung di dalam otakku yang belum panas. Halaman 14 dan bacalah, batinku mengulang kembali semua pesan pemberi mawar. Aku mebalik halaman pada majalah itu, menemukan halaman yang dimaksud. Aku hanya bisa tertawa pelan.

“Luhan bodoh,” ucapku, setelah membacanya.

Mawar putihku

Terima kasih kedatanganmu

Kedatangamu, ke duniaku

Aku bukan aku, tanpa mawar putihku

Mawar putihku, aku mencintaimu

Kita berkenalan sewaktu sekolah menengah pertama. Apa kau masih ingat, Han Jiwon? Kemudian, secara tidak sengaja kita bertemu lagi di sekolah menengah atas. Apa kau masih ingat? Apa kau sadar, Han Jiwonn? Sejak saat itu kau menjadi duniaku. Walaupun, aku tidak yakin apa yang kau pikirkan tentang diriku. Aku tidak peduli tentang itu. Aku hanya ingin kau selalu ingat, tidak akan ada pria yang mencintaimu sebesar aku mencintaimu. Mangkanya, menikah denganku, ya?

-oOo-

Halo, oke ini pengujung bulan Februari. Huhuhu dan EXO’s Valentine ngaret banget. Apalagi, topik valentine akan jadi basi kalau sudah Maret, Jadi, aku putuskan untuk posting ini, yah cuma ini. Anggota EXO yang belum kebagian edisi valentinenya relakan. Oh ya, aku juga mau ijin hiatus. Tugas kuliah semakin banyak dan cara menulisku juga sudah tidak menarik. Jadi, sampai jumpa di lain kesempatan ((tapi kalau ada mood nulis pasti langsung ngepost kok)).

Terimakasih sudah membaca :D.

Advertisements

45 thoughts on “[Bagian 2] EXO’s Valentine

  1. Ceritanys fluff2 drh tp baekhyun aneh bgt ya masa mau bli hati yakali dipasar ada hati tp hati hewan deng 😂

  2. Chanyeol Baekhyun kasian banget sih tapi aneh lagi si Baekhyun, yakali tanya orang mau beli hati dimana ya pasti jawabannya di toko daging lah

  3. Eonni ini bagusss!!! Tapi aku sedikit ngerasa ganjal sama katakata “mangkanya” hehehe kalo menurut aku mungkin bisa diganti jadi “makanya” aja ^^ hehehehe cuma sekedar saran ko eonni

  4. gak chanyeol gak baekhyun kkkk~ kalian senasib nakkk wkwkwk
    keep writing kaka semangat ya ^^ btw punya ff tntang lay gk? aku mau baca dong hehehehe

  5. huwahhhhh kangenn eonni hahaaha 4bulan gak baca ff eonni. 😭 kangenn but sudah dicicil baca ff eonni lagi hehe paling bikin melting punya kyungsoo subhanallah bgt deh hahaha

  6. ini cerita soal valentine nya mereka.yang paling aneh bin konyol ya si baekyun itu,emang aneh tuch anak.Tapi lucu,ngomongnya aja udah ngawur,pantes gak di terima,bener kata sue.hahaha

  7. Yang Baek lucuuuuuu. . . .
    Bener kata Sue. . Nyairnya jelek banget
    Coba deh kalo Baek nyanyi lagu romantis pasti langsung diterima daripada nyair. .
    Terus aku paling suka disini yang bagian Kyungsoo. . .
    Manissss banget. . .
    Kagak biasanya si soo soo romance2 getho walau ujungnya sihh tetep ngatain juga
    Terusss kenapa mau hiatus kak
    Aku kan suka banget ff kaka apalagi Se-Na couplenyaaaa
    Siapa yg bilang tulisan kaka udah gak bagus lagi. . .
    Bagus kok. . Seriusss kak
    Tapi janji yaaa kaka tetep bakalan nulis?
    Janji ya kak?????

  8. Kereeenn, pass bagiannnya d.o unyuuu bgt. Lahhh kenapa hiatusssss??? Padahal aku nunggu sad movienyaaa. Semoga tugasnya cepet selesaiii terus nulis lagi yaa kakkkk🙏

  9. ngga kuat yg kyungsoo xD asli itu mau romantis tapi gagal “…….. aku mencintaimu,walaupun kau hanya bisa membuat batu, bukan kue.” jahaaat! wkwkwk

  10. wah.. kak, ini ff so daebak..
    yah.. mau hiatus y kak..
    yaudah, smoga tugas”x cpt kelar y kak,
    hwaiting kak☺

  11. huaaaaaaaa… kenapa baek dinistaiiinnn??? wae wae waeyo?!!!! huks, tapi yang luhan, gilak, itu romontos banget! hiatuuuuuuuuuuuuuuuuuuuus??? whaaat?! oke tapi jangan lama lama kakaa.. nanti kangeen, wkwkwk

    semangat! (buat tugas kuliahnya terutama)

  12. Wahhh kurng Sehun sma Kai dn Chen wkwkwkkwkw
    Tp aq suka bngettt smua d part ini manisss aq bner2 sukaaaa heeee

  13. aaaaa jangan hiatus pliss.kalo mau hiatus sehari aja jangan lama lama u.u
    ffnya tetep keren koo. aku selalu nunggu ff dari blog ini terutama sad movie
    tapi semoga tugas kuliahnya cepet beres deh terus jangan nambah nambah lagi.
    blog ini tuh udah sangat favorit banget sekali
    tapi itu baekhyun sama chanyeol apes banget ya di cerita ini wkwk

  14. tidak menaarik ?? tulisan eonni selalu menarik , ga pernah bosen aku bacanya , walau pun udah berulang2 kali baca :d

  15. setelah sekian lama ternyata ff ini di posting jugaa ahhh kangen ama ceritaa2 nya ,, yah eonni , kabar burukk 😦 yaudah semoga tugas kuliahnya cepet selesai yah ,, cepet2 jadi sarjanaa ,, di tunggu terbit novelnya , dengan senang hati aku bakal beli karya2 eonni :))) semangatttttttttt

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s