Datum: Tuesday

Datum_tuesday

Author

Twelveblossom

Cast

Sehun & Jung Nara

Genre

School Life

Length Series

Rating PG-13

This storyline is mine, please don’t copy paste.

-oOo-

Nara menghembuskan napas berat. Suasana hatinya sedang buruk. Sesuatu yang dinamakan perasaan itu terhempas angin tornado, menjadi remahan sebesar partikel. Jangan tanya, seberapa besar partikel. Nara sedang tidak mood menjawab pertanyaan.

Berulang kali gadis itu melakukan pernapasan ibu hamil. Huh. Hah. Huh. Tak kunjung berakibat pada keadaan emosinya, begitu pula dengan perutnya. Yap. Nara sedang sakit perut. Sakit sekali hingga gadis itu tidak dapat membedakan warna sepatunya. Lihatlah sepatu yang dikenakan Nara sekarang. Sisi kanan berwarna merah menyala dan sebelah kiri bewarna hijau neon. Hebat! Kakinya mirip lampu lalu lintas.

Andai saja, minggu lalu ia tidak melemparkan bola basket tepat di wajah Kim Seonsaengnim—guru olahraganya. Mungkin Nara tidak sudi masuk sekolah. Apalagi dengan perut yang terasa bergejolak. Neraka dunia. Celaka yang lebih sial, Nara harus berlari keliling lapangan basket indoor ditemani peluit Kim Seonsaengnim yang melengking. Cuit. Nara ingin pingsan atau menggali tanah, kemudian bersembunyi di dalamnya.

Selasa minggu lalu, Nara diancam habis-habisan oleh gurunya. Apapun yang terjadi Nara diharuskan masuk sekolah pada pelajaran olahraga minggu depannya. Ia didaulat untuk membenahi kemampuannya mendribel agar tidak membahayakan segala makhluk hidup serta perabotan.

Terseok-seok, Nara berusaha mengejar bola basket yang seakan-akan punya kemauan sendiri. Ia memekik kesal sembari mengomel-ngomel ketika dirinya terpleset tali sepatunya sendiri hingga terjembab.

“Aku bersumpah akan membuangmu setelah ini!” Seru Nara, ia menunjuk-nunjuk tali sepatunya.

“Tali sepatu itu tidak bersalah, kau saja yang kelewat bodoh.” Suara serak mendominasi pendengaran Nara tiba-tiba.

Sehun.

Pria jangkung yang memiliki tinggi se-menara Eiffel itu mengulurkan tangannya—berusaha membuat Nara berdiri.

“Kim sonsaengnim dipanggil kepala sekolah. Mendadak. Jadi, aku yang akan mengawasimu menyelesaikan lima putaran lagi,” Sehun menjelaskan.

Nara terbengong-bengong. Lima putaran. Gila. Apa Kim seonsaengnim mengira bahwa Jung Nara adalah renkarnasi dari Catwoman, begitu? Jangankan lima putaran, satu putaran pun perut Nara akan anjlok dari tempatnya.

Sehun berhasil membuat Nara berdiri. Pria itu merapikan anak rambut Nara yang berhamburan dari kuncir kuda. “Kenapa wajahmu pucat?” Tanya Sehun disertai alis yang bertaut tanda ingin tahu.

Nara memegangi perutnya yang semakin sakit. Ugh. “Perutku sakit,” rengeknya.

“Apa kau ingin ke kamar mandi?” Sehun kembali bertanya, kali ini bibirnya menyungging membentuk senyum.

Nara mengangguk.

“Kalau begitu selesaikan lima putaranmu lagi,” kata pria itu sembari mengedikkan kepala—memberi isyarat Nara agar segera mengayunkan langkah.

Gadis itu hendak menyorongkan protesnya, namun ia sedang tidak mood berbicara. Rasa kesalnya sudah membuncah hingga ubun-ubun. Perutnya bergejolak percampuran perih dan pedih. Nara mulai berlari kali ini dibumbui dengan akting terseoknya yang sangat dijiwai.

Sehun memberikan instruksi. “Berlari yang benar, Jung Nara!”

“Cerewet tutup mulutmu!” Balas nara tak kalah lantang.

Nara memegangi perut, lama-kelamaan aktingnya surut menjadi sakit betulan. Demi apapun di dunia, Nara rela menukar tambah semua kucing piaraannya dengan kupon bebas dari kelaknatan lari memutari lapangan basket. Nara menghentikan larinya, gadis itu membungkuk, mencoba mengatur napasnya.

“Kenapa?” Tanya Sehun, ia mengusap punggung Nara.

“Kau sudah berapa kali bertanya seperti itu?” Gadis itu menjawab dengan pertanyaan.

“Cuma memastikan.” Sehun mendengus. “Ayo lanjutkan,” perintah pemuda bersurai hitam itu.

Nara menghentak-hentakan kaki. “Aku sakit, Oh Sehun. Sungguh! Demi Tuhan! Perutku sakit.” Gadis itu menunjuk hidungnya, “Aku bersumpah, kalau sampai aku berbohong, hidungku akan memanjang seperti Pinokio.” Nara mengambil ikrar untuk mendaptkan simpati Sehun.

Sehun terkekeh datar. Ia mencubit hidung Nara. “Ya, semoga hidungmu benar-benar panjang. Hidungmu itu terlalu pendek untuk disebut hidung.” Seloroh pria itu sambil lalu.

“Oh Sehun! Laki-laki tidak berperasaan!” Nara berteriak, setelah memahami sepenuhnya penghinaan yang diungkapkan Sehun.

“Berhenti berisik, cepat lari. Sebentar lagi istirahat makan siang, jika kau tidak mau makan siangmu berakhir di lapangan basket, cepatlah!” Balas Sehun sembari meniup peluit. Siulan peluit itu bagai sirene kematin bagi Nara.

“Bagaimana kalau aku pingsan?” Tanya Nara, tak kunjung beranjak mengayunkan kakinya.

Sehun memutar bola matanya. “Suaramu masih sekeras itu, mana mungkin kau pingsan.” Pemuda itu menjawab, tangannya mendorong Nara pelan.

“Bagaimana kalau bocor?” Nara kembali bertanya, namun kali ini Sehun tak lantas menjawab. Sehun mencerna.

“Bocor? Kau tahu kita sedang berada di gedung olahraga paling mahal di Seoul—”

“—Bodoh bukan itu maksudku.” Nara memotong ocehan Sehun.

“Kau ini banyak alasan.” Sehun menghardik gadis itu.

Nara masih memegangi perutnya dengan tangan kanan. “Anak laki-laki memang selalu bertindak seenaknya. Coba kalau kau merasakan rasa sakitku,” ucapnya sembari mengepalkan tangan kiri.

“Anak perempuan hanya bisa mengeluh. Setiap pria bisa menanggung semua beban dan rasa sakit, apalagi cuma sakit perut.” Sehun tak mau kalah berdebat.

Nara menyunggingkan senyum mengejek. “Andai saja, kau menstruasi,” bibir Nara bergerak pelan.

Netra Sehun membulat. “Apa kau bilang?” Tanya pemuda itu.

“Menstruasi. Aku sedang menstruasi dan perutku kram,” celoteh Nara. Suaranya yang lantang memikat perhatian teman-teman sekelas mereka. “Dan kau, laki-laki brengsek malah menyuruh perempuan yang sedang kram perut karena menstruasi berlari mengitari lapangan sebanyak lima kali. Jahat sekali.” Sambung gadis itu, kalimat panjang memberondong Sehun. Nara mulai terisak-isak. Tidak, gadis itu tak benar-benar menangis. Ia hanya menambahi efek visual untuk para penonton—teman satu kelas mereka.

Sehun yang sekan-akan menjadi tersangka perampas hak wanita hanya bisa tertegun saat seluruh tatapan menghujatnya. Hai! Sehun hanya menjalankan amanat dari Kim seonsangnim yang memintanya untuk mengawasi Nara menyelesaikan lima putaran. “Hentikan, Jung Nara. Mereka mengira kita membicarakan hal yang tidak-tidak.” Bisik Sehun tepat di telinga teman sekelasnya itu.

“Kau harus bertanggung jawab.” Nara berkata tegas, sambil memegangi perutnya.

Hm. Sekarang, mereka nampak layaknya pasangan kekasih. Si Wanita meminta pertanggungjawaban dari prianya yang telah menghamili dirinya. Si Pria seakan-akan tersengat jutaan ribu volt, ia melongo menangkap satu-persatu kicauan lawan bicaranya. Namun, di sisi lain mereka membicarakan soal menstruasi. Ibu hamil tidak lagi mendapatkan kegiatan bulanan itu. Dua hal fokus pembicaraan Nara dan Sehun membuat penonton mulai bingung.

“Cukup, Jung Nara. Apa kau ingin menambah gosip tentang kita lagi?” Sergah Sehun dengan bibir tipisnya.

“Mereka menggosipkan kita berpacaran, sekalian saja agar mereka puas. Gosip Jung Nara dihamili Sehun pasti akan segera menyebar.” Gumam Nara, lalu tertawa kecil,

“Gadis gila,” umpat Sehun.

Pemuda itu menarik tangan Nara. Sehun menggandeng Nara meninggalkan gedung olahraga. Beberapa kali ia mengomel masalah ‘kenapa Sehun harus selalu berurusan dengan Nara?’.

“Aw, perutku. Aku benar-benar mau pingsan.” Nara mencengkram lengan Sehun.

Pemuda itu mendengus. Ia menghentikan langkahnya, begitu pun tarikan tangannya pada Nara.

“Koridor ini sedang sepi, kau tidak mau kan jika aku pingsan? Apalagi jika aku sampai koma, kau pasti jadi tersangka utama.” Nara memberengut.

“Baiklah apa maumu, Jung Nara?” Tanya Sehun gemas, sambil mengacak-acak surai.

Nara melejitkan bahunya, “Milktea hangat.” Sembur Nara tergesa-gesa.

Sehun berdecak kesal. “Benarkan sakit perutmu hanya pura-pura. Dasar gadis merepotkan.” Gerutu pemuda itu tidak rela, namun tetap menerima uluran tangan Nara yang membimbingnya ke kantin sekolah.

 -oOo-

Advertisements

124 thoughts on “Datum: Tuesday

  1. Bacaannya ringan tp nuansa yg tercipta dari ffnya luar biasa and mendalam 😄😂🔫namja oh namja👻ternyata udh ada gosip ttg mereka berdua, hihihi…

  2. “Andai saja, kau menstruasi,”

    Bener tuh Hun coba aja lu menstruasi, rasakan gimana sakit perutnya… sakit atuh, sakit😂😂

  3. ih sehun gak peka banget sih. yakali digedung bocor wkwk. hun coba kamu ngerasain sakitnya pas menstruasi, itu tuh rasanya kek mau makan orang.g wkwk

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s