Outages: We Walk

outages-4

Credit Poster: ALKINDI DESIGN

Inspired  by Fifty Shades of Grey

Prev New Life

-oOo-

Matahari nampak tak malu-malu menunjukkan kekuasaannya. Setiap benda remang-remang berasap. Entah karena panas membara atau pun lahar yang bias. Api menjilat-jilat tubuh Nara secara konotasi. Gadis itu sedang teseok menggiring pikiran untuk menyesali alasannya tetap hidup. Beban Nara semakin terasa ketika suara gesekan tas plastik tersobek, sayup-sayup terdengar. Bola mata Nara yang besar mulai membulat waktu sebuah apel menggelinding jauh ke depan.

“Apelku!” Seru Nara, mengisi kesunyian jalan di samping apartemen bibinya. “Demi Tuhan, belanjaanku!” Imbuh Nara, setelah mendapati salah satu kantong belanjaannya yang ia jinjing sobek. Segala sayuran tumpah ruah mengotori trotoar.

Nara menghentakan kakinya kesal. Nasib baik sepertinya sedang malas menghampiri gadis itu. Nara sudah curiga ketika Krystal-bibinya, menawari tempat tinggal gratis. Sungguh, tak ada yang cuma-cuma di dunia ini, semestinya menempel di kening Nara. Agar gadis itu terngiang.

Lantaran memanjakan keponakannya yang minggat dari rumah, Bibi Krystal malah memperlakukan Nara serupa pembantu rumahtangga. Ugh. Nara diminta melakukan ini dan itu. Lihatlah! Bahkan Krystal menyuruh Nara untuk belanja kebutuhan dapur. Padahal, biasanya Krystal tinggal menelepon, kemudian menunggu layanan pesan antar.

Sibuk dengan kegiatan mencebik, Nara tak sadar jika ada seorang pria yang berjalan menuju ke arahnya. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu serta celana kain hitam. Surainya bewarna coklat, perawakannya proposional. Pria itu dikategorikan tampan, kalau kalian ingin tahu.

Nara melompat kecil ketika si pria mempesona, menepuk punggungnya. “Astaga, Paman Luhan,” ucap gadis itu. Nara mengelus dada, tanda jika ia kaget setengah mati.

Luhan tersenyum kalem. Ia mengamati penampilan Nara dari bawah ke atas, kemudian menggeleng. “Aku tahu rencana Krystal pasti gagal.” Gumam Luhan, mendeklarasikan betapa berantakannya Nara sekarang. Gadis itu mengenakan kaos bewarna putih kebesaran, celana pendek selutut, dan surai dikuncir kuda secara berantakan. Jangan lupa, wajah belum mandi Nara terlihat dengan jelas.

Nara menangkap maksud kalimat Luhan. Gadis itu mendengus, menimpali arti tatapan pria itu. “Kalau yang paman maksud adalah rencana perjodohan tolol, aku berharap bibi tak akan gagal.” Nara menanggapi, sembari berjongkok untuk memungut belanjaannya yang tumpah.

Luhan mengikuti kegiatan Nara, berusaha membantu. “Aku kira, kau akan menolak,” kata pria itu sembari terkekeh.

Nara mengigit bibirnya sebelum menjawab. “Sayangnya, tidak. Bibi selalu tahu kelemahanku.” Gadis itu memasukkan apel terakhir ke dalam kantong plastik yang masih utuh. “Aku butuh tempat tinggal dan ia memberikannya. Tentu saja dengan berbagai syarat serta ketentuan.” Lanjut Nara lemas, ditimpali anggukkan paham Luhan. Yeah, Luhan sudah paham sampai ke ujung kaki bagaimana cara Krystal menyikapi setiap hal. Terutama kecenderungan kekasihnya itu apabila terobsesi pada sesuatu, Krystal akan berusaha memperolehnya dengan cara apa pun.

Luhan membawakan belanjaan Nara, mereka melangkah menuju apartemen Krystal di lantai 20. Perjalanan yang cukup pendek untuk kembali mengobrol, namun Nara tetap mencoba peruntungannya. Kebetulan lift yang ditumpangi hanya berisi Luhan dan Nara.

“Paman, sejak kapan kau mengenal Sehun?” Tanya gadis itu. Netra Nara menantap Luhan yang berdiri di sebelahnya.

Luhan tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan Nara. “Beberapa tahun lalu saat aku kuliah,” ungkap Luhan.

“Sekitar tujuh sampai delapan tahun,” Nara menyimpulkan sendiri.

Luhan mengacak-acak surai Nara yang dikuncir kuda. “Benar anak pintar,” puji pria itu.

Nara mengelak kesal. “Paman pikir, aku anak kecil. Jangan mengacak-acak rambutku.” Keluh Nara.

“Kau tetap Jung Nara kecilku yang pernah memberi surat cinta padaku. Berapa usiamu saat itu?” Luhan mengejek calon keponakannya.

Pipi Nara bersemburat merah. Benar, Luhan itu cinta pertamanya. Usianya masih sangat muda, ketika Nara kecil nekat memberikan surat cinta pada teman kuliah bibinya.

“Jangan mengungkit kejadian memalukan itu, paman.” Nara menyilangkan tangannya di dada.

Luhan hanya tersenyum menanggapi tingkah gadis itu. “Sikap kekanakanmu ini pasti akan menjungkir balikkan Sehun.” Kata Luhan saat mereka memasuki lantai 20.

.

.

.

Apa kursus?” Tanya Nara, setelah menyemburkan jus jeruk yang baru saja ia minum.

Krystal yang ditanyai hanya nyengir memperlihatkan gigi putihnya. “Benar, agar rencana kita membuat Sehun jatuh cinta padamu berhasil. Kau harus kursus.” Ungkap Krystal semangat. Ia menggeser duduknya di sofa, meringsek ke dalam pelukan Luhan yang sedang menonton televisi. Luhan memutuskan untuk makan malam di rumah kekasihnya. Hm, bukan hanya itu sebenarnya. Luhan didaulat oleh Krystal untuk menjadi guru senior kursus Nara.

“Aku tidak mau. Kursus hanya membuat otakku meledak.” Elak Nara kontan.

Krystal menggelengkan kepala. “Bukan kursus yang membosankan.” Ia menghembuskan napas panjang, seakan ingin mengumumkan penemuan besar. “Kau akan kursus tentang Sehun. Belajar segala hal mengenai Sehun.” Tambah Krystal.

Nara menautkan alisnya. “Aku sibuk tidak sempat melakukan hal konyol seperti itu. Terima kasih tawarannya,” ucap Nara kemudian berlalu ke kamar.

Krystal mengikuti keponakannya. “Ini demi misi kita.”

“Masa bodoh,” balas Nara.

“Aku akan sangat bahagia jika Sehun benar-benar jatuh cinta padamu,” kata Krystal berusaha meyakinkan.

“Sungguh, aku tidak peduli mengenai kebahagian bibi,” gumam Nara. Gadis itu beralih menyumpal telinganya dengan earphone.

Krystal terdiam sebentar, berpikir. “Baiklah, 100.000₩.” Kata wanita itu menyerah.

Lantaran menjawab Nara malah bersenandung, mengikuti lagu yang mengalun memasuki gendang telinganya.

Krystal mendekati Nara, setelah itu melepas earphone keponakannya. “Dengarkan, bibi sedang berbicara,” sergah Krystal cemberut.

Nara menatap bibinya, jengah. “Aku mendengarkan,” kata Nara.

“Bagaimana jika bibi memberimu 100.000₩ setiap kau mengikuti kursus?” Tanya Krystal.

Nara mengerutkan dahinya, “Apa bibi pikir aku bisa dibeli dengan uang?”

“Tidak usah jual mahal,” bibi muda itu mengejek. “Ini penawaran terakhir 200.000₩, bagaimana?”

Nara menguap lebar menanggapi penawaran bibinya. “Jadi, wanita pemilik galeri lukisan terbesar di Seoul, hanya mampu mengeluarkan uang sebesar 200.000₩.” Nara mengejek bibinya.

“Oke, 300.000₩.” Putus Krystal akhirnya, berusaha mencuri minat dari Nara.

Call!” Nara menyambut ceria penawaran terakhir. “Aku bukan orang yang serakah, sungguh. Aku setuju karena bibi meminta,” lanjut gadis itu sembari tersenyum lebar.

Ujung dari proses tawar dan menawar itu adalah sebuah kegiatan konyol yang berlokasi di ruang santai apartemen Krystal. Ketiga tokoh itu, duduk di lantai membentuk lingkaran. Raut Krystal dan Luhan nampak serius, sedangkan Nara berkebalikan dari keduanya. Nara sibuk memakan es krim rasa cokelat super besar. Ia berdalih es krim dapat menghilangkan stres. Ya, gadis itu stres berat. Baru pertama kali di hidupnya, ia berurusan dengan seorang homoseksual.

“Sehun bukan seorang homoseksual,” Krystal memulai dialog mereka. Luhan mengangguk sebagai persetujuan.

Kendati menerima informasi itu secara khidmat, Nara malah terkekeh. “Oke, aku akan menganggapnya sebagai pria normal yang kebetulan memiliki orientasi seksual pada sesama pria,” kata gadis itu.

Luhan menghembuskan napas berat. “Tidak, dia sama sekali tak tertarik dengan pria. Sehun hanya memiliki trauma masa kecil,” ungkap Luhan. Nara hendak menyela, namun diam ketika Luhan melanjutkan topik yang mereka angkat. “Sehun tidak ingin menjadi dirinya sekarang, Nara. Dia mengutuk tubuhnya.”

“Luhan dan aku sudah berusaha membantu. Tapi, Sehun menginginkan kami untuk melangkah ke depan. Meninggalkannya sendirian. Sehun sama sekali tidak ingin menyulitkan kami.” Krystal berkata, ia menatap netra Nara lamat-lamat.

Nara mengangguk, merasa tidak nyaman diberikan sorotan meminta bantuan oleh Luhan dan Krystal.

“Terima kasih,” kata Luhan sembari tersenyum.

“Paman dan bibi jangan berharap terlalu banyak padaku. Aku tidak menarik, tidak pintar, dan tidak pandai menyimpan rahasia.” Nara membahas kekurangannya. Gadis itu mengigit bibir, melupakan es krim yang ada di tangannya.

Krystal tertawa kecil. “Bibi sudah tahu itu, young lady. Mangkanya kami ingin kau mengikut kursus singkat ini. Masalah penampilan fisik, kau aman di tangan Krystal Jung,” wanita itu mengakhiri perkataannya.

“Kau memiliki gen keluarga ‘Jung’ yang menawan, Nara. Jangan merendahkan dirimu,” kata Luhan sembari menepuk pundak gadis itu, lalu beranjak berdiri.

“Saatnya makan malam,” seru Krystal bersemangat mengikuti langkah Luhan ke dapur, meninggalkan Nara yang terduduk. Nara berpikir.

Gadis itu tak pernah menyatakan bahwa ia benar-benar merendahkan diri. Nara meletakkan kehormatan serta harga dirinya di atas segalanya. Ya, seperti itu. Dulu memang ia begitu. Perspektif waktu tidaklah mampu diukur Nara lagi. Ia lupa bagaimana menjadi dirinya yang lalu. Sejak luka yang dipepatkan itu menjadi permanen. Mulai Nara, menyadari jika ia hanya dijadikan barang taruhan oleh kekasihnya sendiri. Nara tak percaya lagi cinta. Kasih atau pun cinta hanya sebuah simbol yang dimaknai sebagai perenggut segalanya. Tak ada ketulusan dalam kamus Nara.

Semuanya telah jatuh menjadi berantakan, saat seluruhnya sudah direlakan. Kemudian, dikhianati. Ritmis yang hendak Nara lantunkan, tidak bersuara lagi.

.

.

.

“You are my downfall. You are my muse. My worst distraction. My rythm and blues.”

Sehun mengendorkan dasi. Ia menghempaskan tubuh pada kursi kerjanya. Ia ingin sedikit bersantai sebelum dipenjara dalam ruang rapat lain 30 menit lagi. Usahanya untuk meletakkan pikiran, ternyata terganggu. Sekertarisnya memasuki ruangan, tampak takut-takut menganggu bosnya.

“Saya minta maaf telah mengganggu waktu istirahat Anda. Namun, tamu kenalan Nona Jung sudah datang, Direktur.” Kata wanita itu.

Sehun meraup wajah. Sehun lupa ada satu hal lagi yang harus ia tangani hari ini. “Bawa dia masuk.” Perintah pria itu yang langsung dijalankan.

Sehun menegakkan tubuh. Menghormati gadis yang akan memasuki ruangannya. Tak berselang lama, netra Sehun menelusuri sosok yang baru saja merasuki hidupnya. Seorang gadis berkulit putih pucat, tidak seberapa tinggi, surai yang digerai bewarna coklat madu, dan paras yang tak asing. Mirip sekali dengan Krystal, hanya saja gadis itu tampak lebih muda. Sehun memperhatikan secara detail, lesung pipi yang terpatut di pipi kanan gadis itu, membedakannya dengan Krystal.

Gadis itu tersenyum manis pada Sehun. Ia menepuk terusan bunga-bunganya. Kakinya merajut langkah menuju Sehun.

“Jung Nara,” Katanya sembari mengulurkan tangan.

Sehun membalas uluran tangan Nara. “Oh Sehun,” ucap Sehun singkat. Ia mempersilahkan tamunya untuk duduk melalui isyarat tangan.

Nara memberikan berkas yang ia bawa sebagai syarat lamaran kerja, kemudian menjelaskan keperluannya. “Aku keponakan Krystal-“

“Ya, aku tahu.” Sehun memotong kalimat Nara.

Nara memutar otak. Sehun terlihat kurang bersahabat. Gadis itu mulai ragu akan misinya. Bahkan, Sehun sekarang malah sibuk membaca dokumen Nara. Mengacuhkan gadis di hadapannya.

“Aku ikut berduka,” kata Sehun setelah lama diam.

Nara mengerjapkan mata. Bingung. “Berduka untuk apa?” Tanyanya.

“Untuk rasa depresimu pada mantan kekasihmu.” Jawab Sehun ringan sembari meletakkan kertas yang telah selesai ia baca.

Nara tertawa kecut. “Aku baru tahu jika wawancara pekerjaan membahas topik pribadi.”

“Kita sama-sama tahu, pertemuan kita ini memiliki maksud lain.” Ucap Sehun tanpa basa-basi.

“Pria cerdas,” seloroh Nara. “Jujur saja, kalau tahu kau semenarik ini, aku tak perlu meminta bayaran.” Lanjut Nara.

“Seluruh wanita dari Keluarga Jung selalu bersikap blak-blakan,” puji Sehun yang menyerempet pada hinaan. “Apa yang Krystal berikan padamu sebagai bayaran?” Tanya Sehun. Pria itu sengaja menyinggung gadis yang duduk di hadapannya, agar Nara mundur teratur.

Lantaran terluka, Nara terkekeh. “Tempat tinggal dan uang,” ungkapnya. “Selain itu, aku setuju karena bosan mendengar rengekan bibi.”

Sehun tersenyum miring. “Aku juga seperti itu. Setuju meluangkan waktu untuk mewawancaraimu karena bosan mendengar rengekan Krystal,” kata Sehun.

Nara menautkan alisnya. “Bagaimana jika kita mengakhiri semuanya?” Gadis itu berusaha menawar.

Sehun mengetuk telunjuknya pada meja. “Sangat mencurigakan, apabila kita jatuh cinta pada pertemuan pertama. Hal itu hanya ada di opera sabun.”

“Tapi, aku tak menolak kalau harus jatuh cinta padamu,” ungkap Nara kemudian mendengus.

“Aku tahu,” balas Sehun. “Bagaimana jika kita berkencan?” Tanya Sehun.

“Eum,” Nara bergumam.

Sehun meggelengkan kepala. “Hanya pura-pura berkencan, agar Krystal tak merencanakan hal gila lain.” Kata pria itu.

Nara menggigit bibir. Apabila dirinya berdusta, maka ia bisa bebas dari kericuhan yang diakibatkan Krystal. Nara dapat menghindari Ibunya yang dengan senang hati akan menyeretnya pulang. Sehun akan menjadi teman kencannya, kemudian Ibu mengira jika Nara sudah melupakan mantan kekasih. Hidup Nara pun akan tentram.

“Kau harus mengakui diriku sebagai kekasih secara resmi.” Tandas Nara.

Sehun mengangguk, tanpa berpikir panjang. “Kita akan bertingkah sebagai sepasang pria dan wanita yang sedang jatuh cinta.” Sehun menyimpulkan.

Nara tertawa. “Sampai-sampai setiap orang mengira, kita pasangan serasi yang akan menikah.” Kata gadis itu.

“Bagaiamana jika kita menikah? Pura-pura menikah.” Tanya Sehun.

Nara mebulatkan matanya. “Tidak, itu gila.”

Sehun tersenyum mendapati respon Nara yang terkaget-kaget.

Perbincangan mereka meluruh ketika sekretaris Sehun mengetuk ruangan, kemudian masuk. “Rapat dengan Tuan Byun akan diadakan 10 menit lagi.”

“Minta dia menunggu,” jawab Sehun sembari membenahi dasi, hendak berdiri dari tempat duduk.

Nara merasa kehadirannya sudah cukup untuk menetapkan rencana mereka. “Kau sangat sibuk. Aku tidak ingin menganggu,” ucap gadis itu ikut beranjak.

“Sebenarnya tidak di hari yang lain. Namun, benar hari ini lumayan padat,” kata Sehun sembari menyalami gadis di hadapannya.

“Baiklah, sampai jumpa.” Nara mengucapkan perpisahan, disambut anggukan Sehun.

Pria itu tersenyum sebagai balasan. Netra Sehun mengikuti kepergian gadis itu. Ketika Nara telah menghilang dari jangkauan, bibir Sehun menyeringai. “Menarik, sangat menarik.” Sehun mengungkapkan pikirannya.

.

.

.

Genta angin bersiul ketika pintu kaca galeri terbuka. Tak banyak yang dapat dilakukan di galeri lukis itu. Selain beralama-lama menatap lukisan yang terpaku, ada kafe di sisi ruangan. Tempat makan kecil bergaya alam itu, mengikiskan kebisingan kota Seoul.

Nara duduk di salah satu kursi kafe. Berlembar-lembar kertas yang baru saja dicetak menemaninya menikmati susu cokelat. Waktu sengaja dilupakan, berhubung ini kesempatan terakhir untuk bersantai. Ini siang hari, besok di siang yang lain ia harus bekerja. Hm.

“Apa tempat ini kosong?” Tanya seseorang yang nada suaranya membuat Nara terpenjat.

Nara refleks meletakkan kertas yang ia baca cepat-cepat. Matanya yang dikawal oleh bulu lentik itu mengerjap, menatap penasaran si pria jangkung.

Sehun berdeham agak terkekeh. “Aku tidak menyangka, kau bakal kaget seperti ini.” Ia berkata, sembari duduk di hadapan Nara.

Nara nampaknya bisa menguasai diri. Gadis itu cemberut. “Siapa yang tidak kaget jika seseorang yang menjadi tokoh tulisan yang kau baca tiba-tiba memanggilmu?” Nara bertanya retoris.

Sehun mengernyit, tidak paham maksud Nara.

Gadis itu mengerti kebingungan Sehun. Ia mengayunkan selembar kertas yang sempat terabaikan, tepat di hadapan raut pria itu. “Kertas ini berisi semua tentangmu,” ujar Nara.

“Pasti Krystal yang memberikannya padamu,” kata Sehun ringan.

Nara mengangguk. “Sepertinya, kau dan bibi memiliki ikatan batin.”

Sehun tertawa ringan sembari menyingsingkan lengan kemejanya. “Tidak, aku sudah bisa menduga. Krystal juga yang memaksaku datang ke mari,” ungkap pria itu lembut.

Nara berdecak. “Bibi, sangat berusaha.” Gadis itu menanggapi.

Pembicaraan mereka tersela saat pesanan kopi Sehun datang.

“Kenapa kau memesan kopi? Bukanya kau lebih suka bubble tea?” Tanya Nara penasaran. Netra gadis itu mengamati secara seksama ketampanan Sehun yang dicecerkan melingkupi ruangan.

“Akan sangat kekanakan jika seorang pria berusia 27 tahun memesan bubble tea, di hadapan seorang gadis.” Sehun menjawab sambil menyeruput minumannya.

“Aku tidak keberatan. Pesan saja bubble tea kalau kau ingin,” tutur Nara acuh tak acuh.

Sehun melirik Nara sejenak. “Harga diriku yang keberatan, Jung Nara.”

Lantaran menimpali ungkapan Sehun, Nara malah menulis sesuatu di salah satu kertas. “Sehun, lebih memilih minum kopi daripada harga dirinya terluka.” Bibir Nara bergumam pelan, akan tetapi masih tertangkap telinga Sehun.

“Kelihatannya, semua mengenai diriku tertera di sana. Itu tidak adil.” Sehun memulai topik pembicaraan lain.

Nara mengetukkan pena ke meja, berulang-ulang. “Kenapa tidak adil?” Gadis itu bertanya.

“Kau mengetahui semua tentang diriku, tapi aku tak tahu apa-apa tentangmu.” Jawab pria itu.

Nara menegakkan tubuhnya. “Baiklah, kau boleh bertanya apa pun tentang diriku,” usul Nara.

Sehun menopang dagunya dengan tangan kanan. Menatap Nara lamat-lamat. Merasakan ketertarikan dalam kadar berlebihan. “Apa saja?” Bibir Sehun memastikan.

“Tentu saja. Hanya mengingatkan waktu makan siang berakhir 10 menit lagi.” Balas Nara.

Sehun melihat arlojinya sejenak. “Semua bisa terjadi dalam 10 menit,” katanya.

“Kalau begitu, jangan membuang waktu, Tuan Oh.” Nara mengerling ke arah Sehun.

Pria itu melipat bibirnya. Menampilkan ekspresi berpikir yang amat berat. “Apa yang kau pikirkan mengenai diriku, sewaktu kita pertama kali bertemu?” Sehun memberikan pertanyaa, tanpa ragu.

Nara terkekeh ringan. “Akan kujawab sejujur yang aku bisa.” Gadis itu menghembuskan napas ringan, sebelum berbincang. “Sebagai seorang gadis yang baru saja patah hati, aku merasakan hal aneh. Jantungku berdebar-debar. Kau tampan. Eum, sebagian hormon menuntunku untuk menyeretmu ke kamar dan bercinta denganmu.”

“Gadis konyol,” seloroh Sehun. “Aku tahu itu, semua gadis berpikir seperti itu setiap menatapku,” ia melanjutkan.

Nara mendengus. “Tetapi sayangnya kau tidak bisa meniduri seorang gadis.”

Kendati menganggap itu gurauan, Sehun mereganggkan rahangnya. “Aku rasa hal itu, bisa kau masukkan pada catatanmu. Aku tidak suka membahas ketertarikan seksualku di muka umum, Nara.” Pria itu berkata dingin.

“Hmm.. yang harus kutambahkan pada catatanku adalah Sehun tak memiliki selera humor yang bagus.” Cecar Nara, netranya membelai Sehun melalui tatapan. Mencari-cari kelemahan pria itu yang dapat ia bahas menjadi bahan olok-olokkan.

Kendati tersinggung, Sehun malah terpesona. Sehun merasa terbius ke dalam gelora lensa yang memantulkan parasnya. Pria itu melekukkan senyum yang tadinya hendak ia sembunyikan. “Karenamu, rasa marah yang naik menjadi surut.”

Nara tersenyum hingga matanya juga ikut melengkung. “Aku bisa menjadi kebahagianmu jika kau mau,” kata gadis itu.

Sehun melipat tangan. “Tawaran yang menarik.” Ia berdiri dari duduknya. “Kita akan jadi teman kencan pura-pura yang berakting sangat profesional.” Lanjut Sehun, kemudian mendekati Nara yang masih tertegun.

“Aku rasa seperti itu,” gerutu Nara gerogi. Ia merasakan tengkuknya memanas ketika jaraknya dengan Sehun menipis.

Sehun membisikkan sesuatu tepat di telinga Nara. “Sampai jumpa besok dan selamat datang di duniaku. Aku akan bersenang-senang.” Sehun mengakhiri ungkapannya dengan kecupan di pipi Nara. Singkat. Padat.

Membuat Nara kalut setengah mati.

.

.

.

Nara memijat kakinya. Ia merasakan nyeri di segala penjuru. Gadis itu bolak-balik mengumpat tidak suka, mencibir, dan menggunjingkan kantor barunya. Bayangkan, Nara baru bekerja empat jam, namun telah merasakan tekanan mental seperti ini. Nara masuk pada divisi pemasaran. Jangan berharap banyak, sedari tadi gadis itu hanya disuruh menjadi setrika oleh seniornya.

Istirahat makan siang merupakan surga bagi gadis itu. Ia duduk di restoran kantor yang berada di lantai tiga. Ternyata, ingin makan pun Nara harus kesulitan. Tas Nara ketinggalan di loker kerjanya. Demi semua koleksi buku dongeng yang ia simpan di London, Nara tak mampu menghamburkan tenaganya mengambil kembali si Tas. Ia lebih memilih menelungkupkan kepala di atas meja makan.

“Jung Nara, bangun.” Luhan menggoyangkan pundak Nara.

Gadis itu menegakkan badan. Ia menatap Luhan dengan haru biru. “Paman, aku lapar.” Rengek Nara sembari menggoyangkan jari Luhan.

Pria itu mendesah maklum, kemudian memberi isyarat pada sekretaris yang tadinya berada di belakang Luhan untuk mengambil makanan. Sementara Luhan duduk di samping Nara.

“Jangan tanya kenapa aku tidak makan siang!” Sergah Nara.

Luhan mengangguk. “Bagaimana hari pertamamu?” tanya pria itu, sedikit khawatir melihat penampilan Nara.

“Menakutkan dan menjengkelkan. Sepertinya, seniorku memiliki dendam tak terbalaskan pada Bibi.” Seloroh Nara. “Mereka cemburu berat akan kedekatan Bibi, kau, dan Sehun. Ha. Gen yang aku bawa mirip dengan Bibi, membuatku tidak beruntung. Bahkan, tadi ada yang terang-terangan mendengus ke arahku.” Nara melaporkan segala gundah pada Luhan.

Pria itu terkekeh, kemudian menyorongkan roti yang dibawa sekretarisnya ke arah Nara. “Tapi, mereka tidak tahu jika kau keponakan Krystal.” Sergah Luhan, santai.

Nara semakin membara. “Sudah kubilang, kemiripanku dengan Krystal membuat mereka cemburu berat! Pantas saja Bibi lebih memilih meninggalkan perusahaan ini. Penggemar kalian brutal.” Gadis itu masih mengoceh, mulutnya penuh roti. “Lihat saja jika aku bertemu Sehun hari ini. Aku akan protes serta meminta pertanggung jawaban atas perlakuan karyawannya yang telah menyuruhku dengan semena-mena.” Gumam Nara.

Keinginan Nara hanya sekedar bualan. Nyatanya, sewaktu ia secara kebetulan bertemu jalan dengan Sehun, gadis itu hanya diam. Mereka berjumpa di dekat ruang rapat. Sehun yang baru saja keluar dari ruang rapat, mendapati Nara yang sedang berjalan tergesa, menabraknya. Anggota direksi yang berjalan di belakang Sehun terkaget menatap kejadian itu. Berani-beraninya seorang karyawan magang menyundul direktur dengan kekuatan setara lima kuda nil. Ditambah sikap Sehun terhadap karyawan magang itu… Terlalu manis?

Sehun membantu Nara berdiri. “Kau tidak apa-apa?” Tanya Sehun.

Nara mengangguk setelah beberapa detik lebih lama terfakur. Netra gadis itu memindai setiap kertas yang ia bawa tadi, porak-poranda di lantai. Nara ingin sekali menangis. Padahal ia menghabiskan waktu 1,5 jam untuk menyortir semua berkas, sekarang malah kacau kembali.

“Kenapa membawa dokumen sebanyak itu?” Tanya Sehun kembali, mengabaikan semua tatapan yang berasal dari berbagai penjuru.

Nara menghentakkan kaki kemudian cemberut. “Tugasku,” gumamnya.

Sehun menyisir anak surai Nara yang berantakan. “Penampilanmu, jadi berantakan,” kata pria itu. “Wajahmu pucat, siapa yang menyuruhmu melakukan ini?” Sehun kembali bertanya.

Nara hendak membuka mulutnya, namun kembali ia bungkam ketika mendapati salah satu senior galak, ternyata berdiri di belakang Sehun. Sebagai pengganti jawaban, Nara menggeleng.

“Jadi pendiam,” gumam Sehun. Pria itu berbalik. Ia menghadap penonton yang kebingungan. “Dia Jung Nara, pegawai baru di perusahaan. Dia bekerja karena ingin, bukan untuk memenuhi kebutuhan. Jung Nara, calon istriku. Perlakukan dengan baik.” Sehun mengakhiri perkataannya. Ia menggandeng Nara menuju ruangannya, lalu menuntun gadis itu. Tidak mengacuhkan pertanyaan yang tersemai di belakang mereka.

“Calon istri, demi Tuhan,” sergah Nara ketika mereka sudah berdua di ruangan Sehun.

Sehun mengisyaratkan agar Nara duduk di sofa. “Di sana ada sekretaris kepercayaan Luhan. Kemungkinan dia akan mengadukan pada Luhan jika hubungan kita berkembang pesat,” ucap Sehun sembari memberikan susu kaleng ke arah Nara.

“Ternyata kau benar-benar serius soal ini,” kata Nara. Jemari gadis itu membuka kaleng susu, kemudian meneguknya.

Sehun melejitkan bahu. “Aku tidak pernah melakukan hal dengan setengah-setengah.”

“Baguslah, persentase kesempatanku untuk menikah dengan pengusaha muda terkaya bisa lebih besar,” kata gadis itu disertai nada jenaka.

Sehun tertawa ringan, “Kau akan jadi ibu rumah tangga terkaya nomer satu di Korea,” balas Sehun, sambil meneguk Cola.

Nara mengangkat gelasnya, mengajak Sehun bersulang dengan susu kaleng. “Demi menjadi gadis terkaya,” seloroh Nara.

Sehun mendentingkan botol Cola-nya. “Demi kebahagian kita,” kata Sehun. Mengakhiri.

.

.

.

Krystal menyerahkan gelas teh itu pada keponakannya. Mereka sedang menikmati akhir pekan di balkon apartemen sembari, menatap matahari tenggelam. Kegiatan melankolis favorit Nara.

“Bagaimana minggu pertamamu bekerja?” Krystal membuka pembicaraan.

Nara melejitkan bahunya. “Tidak ada yang istimewa.”

Krystal memutar bola matanya. “Maksudku hubunganmu dengan Sehun,” ucap wanita itu, gemas.

“Dia direktur yang baik.” Jawab Nara, sengaja membuat geram lawan bicaranya.

“Apa dia menunjukkan ketertarikan padamu?” Krystal belum menyerah.

Nara menggeleng.

Krystal menunduk, nampak putus asa. “Kau benar-benar tidak bisa diandalkan,” gumam Krystal.

“Bibi, apa kau bisa menyiapkan makan malam besok?” Nara tak menghiraukan kesedihan bibinya.

Krystal mencebik. “Tidak bisa, siapkan sendiri.” Jawab Krystal.

Krystal hendak meninggalkan Nara, namun berhenti saat keponakannya menggelontorkan satu kalimat. “Sayang sekali, padahal Sehun berniat makan malam bersama. Baiklah, jika bibi tidak sempat. Aku akan membatalkan-“

“-Astaga! Kalian sudah sejauh ini. Makan malam bersama, benarkah? Dia yang mengajakmu?” Wanita yang mengenakan kaos kebesaran dan celana selutut itu mengguyur Nara dengan pertanyaan.

“Semuanya harus melewati proses, Bibi. Bersabarlah.” Nara menyudahi perbincangan mereka dengan memejamkan mata. Berinisiatif untuk tak mengacuhkan wanita yang sedang melucuti semua benang kusut di dalam pikiran.

.

.

.

“You are crazy and I’m out of my mind.”

“Bibi sangat terkejut.” Lapor Nara kepada seorang pria yang sedang memegang kemudi kendaraan. “Ekspresinya saat kau menjemputku tadi, benar-benar lucu.”

Pria itu tertawa nyaring. “Dia pasti mengira rencananya berjalan mulus,” ucap Sehun.

Nara mengangguk. “Tentu saja. Satu minggu lalu kita makan malam bersama, kemudian minggu ini kita menonton teater berdua,” kata gadis itu sembari menyelipkan anak rambutnya. “Kita berkencan!” Cetus Nara.

Sehun menatap sekilas lengkungan senyum kekanakan gadis di sebelahnya. Tangan Sehun meraih puncak kepala Nara kemudian mengusapnya. “Kerja bagus,” puji Sehun.

Nara menatap pria berusia 27 tahun itu lamat-lamat, membuat Sehun meliriknya sekilas. “Kenapa?” tanya Sehun.

“Apa kau serius ingin mengajakku menonton teater?” Tanya Nara.

Sehun mengiyakan dengan anggukan kepala. “Tiketnya ada di dasbord.”

Nara mengambil tiket itu. Terlihat mahal. Kendati gembira, Nara malah memberengut. “Pasti membosankan. Jangan salahkan aku jika nanti ketiduran,” ungkap gadis itu.

Alis Sehun naik kemudian bertaut. “Aku kira semua gadis menyukai pertunjukan teater karena mahal dan-“

Nara menyela ucapan Sehun,”-aku tidak suka. Semua yang mahal tidak selalu menyenangkan.”

Sehun tersenyum miring. “Baiklah, young lady. Kau ingin kemana? Aku supirmu malam ini,” kata Sehun.

Nara mengacungkan jempolnya pada Sehun sembari berseru, “Hidup Sehun.”

Seharusnya Sehun berpikir ribuan kali, sebelum mengikuti rajukan Nara. Ya. Mestinya, terpatri di ingatan Sehun jika Nara adalah gadis berusia 22 tahun yang masih bersikap kekanakan. Andai saja, Sehun mengingat dengan benar, pastinya ia tak akan berakhir di sini.

Di toko kue tart pelangi segala rasa buah. Tidak begitu parah sebenarnya apabila mereka memakai pakaian yang benar. Masalahnya, Sehun memakai tuksedo, sedangkan Nara mengenakan gaun malam hitam berpotongan di atas lutut.

Sehun mengawasi dekorasi ruangan yang sangat bewarna. Pengunjung kebanyakan adalah pasangan suami istri dan balita mereka. Pelayang toko itu mengenakan bandana kelinci bewarna merah muda, konyol sekali. Raut kusam Sehun berbanding terbalik dengan gadis yang duduk di hadapannya. Nara melempar cengiran ke segala arah, memastikan agar aura geram Sehun dimanupulasi dengan baik.

“Dari dulu aku ingin datang ke tempat ini,” ucap Nara kegirangan.

Sehun memutar bola mata. “Aku jadi korbanmu.” Pria itu bergumam sembari membuka menu makanan. Ia berjengit, sudah lama sekali sejak Sehun terakhir kali memakan kudapan manis.

“Dasar orang dewasa,” seloroh Nara. “Kalian bertindak seakan-akan bosan dengan semua hal, tetapi kehilangan rasa gembira itu sendiri.” Nara menyindir.

“Aku sudah cukup bahagia dengan diriku sekarang,” kata Sehun. Netra pria itu mencuri pandang ke arah Nara yang sedang memindai menu makanan. Nara terkekeh mengejek. “Aku sebenarnya ingin percaya jika kau bahagia, Tuan Oh Sehun.” Gadis itu menggantungkan kalimatnya, sembari mengetuk dagu dengan jari telunjuk. “Namun, kerutan di pelipismu itu tak sanggup berbohong.”

Sehun memberengut, tangannya mengelus pelipis. Ia memastikan, apakah kerutan itu benar-benar ada atau hanya bualan Nara.

Nara berbisik sangat pelan, tapi masih dapat di dengar Sehun. “Kau mengalami penuan dini,” ungkapnya kemudian tertawa.

Sehun memperhatikan cara gadis itu tertawa. Pipi yang memerah, mata yang menyipit hingga segaris, dan hilangnya gravitasi di dalam dirinya. Semua fokus hanya tertuju pada gadis itu. Dunia memperhatikannya, Sehun merasa nyaman akan perasaan itu. “Kau hobi sekali tertawa, Nara.”

Nara memiringkan kepalanya. “Tidak tahu. Aku selalu ingin tertawa apabila bersamamu,” katanya. “Rasanya seluruh tubuhku meledak-ledak, seperti jatuh cinta kembali.” Lanjut Nara takut-takut, senyumnya luntur.

Raut Sehun menegang sebentar, “Kita hanya berpura-pura berkencan,” tandas pria itu.

Nara menggigit bibir. “Aku tahu, tapi ada beberapa hal yang tidak dapat kukendalikan.”

“Jangan konyol,” sambar Sehun.

Secepat kilat sunggingan membentuk senyum terukir di raut Nara. “Ekspresimu tadi benar-benar lucu, Oh Sehun. Aku hanya bercanda.”

Sehun merosot pada kursi yang di dudukinya. “Gadis ini benar-benar.”

“Kau selalu menganggap semuanya serius. Santai saja. Jangan khawatir, hatiku ini sudah kebal. Tidak mungkin jatuh cinta lagi,” ucap Nara.

Sehun hanya mendengus. “Awas jika kau sampai jatuh cinta padaku.”

“Hanya setelah kiamat, baru hal itu terjadi.” Nara membalas.

Sehun menggeser duduknya, tertarik dengan arah pembicaraan mereka. “Mari kita bertaruh,” tantang pria itu.

“Eum, baiklah.” Nara setuju tanpa berpikir panjang.

“Apabila kau jatuh cinta padaku, apa yang akan kau berikan?” Tanya Sehun, memastikan.

Nara diam sebentar, kemudian berkata, “Kau boleh meminta apa pun yang kumiliki dan tak akan ada pertanyaan, apalagi penolakan.”

Mata Sehun menyipit, menimbang. “Hanya itu saja?” Tanyanya.

Nara cemberut. “Aku gadis yang sedang minggat dari rumah, bahkan tidak punya uang satu won pun. Harus bekerja sebagai gadis bayaran yang berusaha membuat seorang pria jatuh cinta. Ha. Malah terjebak berpura-pura dengan pria itu. Aku melarat, Oh Sehun.” Nara menghembuskan napas berat, bersiap melanjutkan selorohan panjangnya lagi. “Aku hanya punya diriku, koper merah di apartemen Krystal, dan gulungan rambut. Kalau kau ingin tahu, baju ini milik bibiku.” Lanjut Nara.

Sehun menyemburkan tawanya. Seharusnya ia ikut berduka, apalagi ekspresi Nara yang terlihat begitu menderita. Akan tetapi, cara gadis itu mengucapkan dukanya, justru membuat perut Sehun tergelitik. “Baiklah, aku setuju,” gumam Sehun.

Call!” Seru Nara. “Kalau kau kalah, aku minta ditraktir seumur hidupku,” kata Nara.

“Maksudmu?” Tanya Sehun tidak paham.

“Jadi kapan pun, aku minta ditraktir kau harus menurut.” Jelas Nara.

“Oke. Itu mudah,” sambut Sehun.

.

.

.

“What’s going on in that beautiful mind.”

Krystal membuka pintu apartemen. Ia langsung menghembuskan napas lega, melihat siapa yang datang. Segera saja wanita itu mempersilahkan tamunya untuk masuk. Krystal sangat bersyukur, Sehun sudi untuk diganggu di jam kantor. Tapi, ini benar-benar mendadak.

“Aku minta maaf dan sangat berterima kasih padamu, Sehun,” ucap Krystal sembari menyampirkan tasnya. “Nara sedang sakit, ia tidak akan mau ditinggal sendiri. Sementara, aku harus mencoba gaun pengantin. Astaga, kurang satu minggu lagi. Aku merasa stress berat.” Lanjut Krystal, langkahnya buru-buru.

Sehun mengangguk paham. “Hati-hati di jalan, sampaikan salamku pada Luhan,” ucapnya sebagai salam perpisahan. Setelah Krystal meninggalkan apartemen, Sehun beranjak memasuki kamar Nara.

Netra Sehun langsung disuguhi gulungan selimut yang ia yakin berisi tubuh Nara. Ia menepuk gulungan itu pelan. “Nara, bangun,” ucapnya lembut.

Selimut itu hanya bergerak ganjil sebagai respon.

“Jung Nara, aku membawa ayam goreng.” Sehun merayu.

Selimut yang bergulung kumal, menggelepar terbuka. Nara muncul dengan rambut berantakan serta piama bergambar kucing. Nara terduduk di ranjang.“Aku ingin ayam,” rengek gadis itu.

Lantaran menuruti rengekan Nara, Sehun menempelkan telapak tangannya di dahi Nara. “Kau masih demam. Jangan memakai selimut seperti ini,” kata pria itu. Terdengar nada khawatir di dalam suaranya. Sehun duduk di ujung ranjang, mencoba melepaskan Nara dari kungkungan selimut tebal.

Nara hanya memberengut, lalu mengamati Sehun yang masih mengenakan jas hitam. “Kau bolos kerja, ya? Apa ini sudah waktunya pulang kantor?” Tanya Nara, suaranya serak akibat flu.

Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban. “Sekarang sudah pukul 12 siang. Apa kau sudah makan?” Sehun balas bertanya.

Nara menggeleng. “Bibi hanya membuatkan bubur jelek itu. Aku tidak mau makan bubur.” Nara merebahkan dirinya di ranjang, lagi. “Aku mau ayam goreng.” Nara berseloroh.

Sehun melangkah menuju dapur menyajikan ayam goreng yang tadi sengaja ia bawa, kemudian kembali ke kamar Nara. “Cepat makan, setelah itu minum obat,” perintah Sehun.

Nara menurut, senang hati. Gadis itu makan sambil menatap Sehun yang sedang melepas jas hitamnya. Pria itu mengendorkan dasi, kemudian menggulung lengan kemeja. “Kau tahu, Oh Sehun. Kau sangat tampan,” puji Nara di sela-sela gigitannya pada paha ayam.

Sehun hanya tersenyum miring. “Aku tahu,” katanya. Jemari Sehun menyusuri surai Nara yang berantakan. Merapikan anak rambut Nara yang tidak sejalur. “Makan pelan-pelan.” Sehun memperingatkan sembari mengelus pipi Nara, menghilangkan remahan tepung ayam goreng; menggunakan ibu jarinya.

“Kenapa tidak bilang kalau sakit?” Tanya Sehun, setelah memastikan Nara menghabiskan kudapannya.

Nara menyingkirkan piring ayam goreng yang ludes. “Kau sibuk akhir-akhir ini. Sewaktu di kantor pun, kau tak sempat menyapaku. Jadi, aku diam saja. Ini hanya flu.” Gadis itu memberikan penjelasan sambil meminum air putih.

“Pasti ini gara-gara kau hujan-hujanan di halte dua hari lalu.” Sehun mengambil kotak obat yang berada tak jauh dari nakas.

“Banyak pegawai wanita yang menunggu bus di halte,” sahut Nara.

Sehun memutar bola matanya. “Kau tak perlu mengikuti mereka. Nara, kau hanya perlu memberitahu Pak Kim untuk mengantarmu pulang,” kata Sehun.

“Aku hanya ingin-“

Sehun memotong ucapan Nara, “bisa tidak kau menurut?” tanyanya.

“Kenapa aku harus menurutimu?” Tantang Nara.

“Karena aku khawatir. Kau seharusnya mengerti. Aku sangat khawatir melihatmu sakit.” Ungkap Sehun, tangan pria itu meraup wajah.

Nara menghembuskan napas panjang. “Sehun, kau tidak perlu khwatir padaku, kecuali jika kau menyukaiku,” kata gadis itu sengau. “Jangan-jangan kau suka padaku-“

“-Tidak mungkin dan tidak bisa.” Sehun menyela ejekkan Nara. “Kita hanya berpura-pura, ingat.” Pria itu menegaskan.

Nara mengubah posisinya ia menelungkup raut Sehun. “Perasaan seseorang dapat berubah,” kata gadis itu.

Sehun mengenggam jemari Nara, kemudian mengecupnya. “Kita sudah tahu, bagaimana dampaknya jika kau bersamaku.”

Nara menggeleng. “Aku tidak peduli,” tolak gadis itu. “Hatimu memang beku, tetatpi pasti ada yang bisa mencairkan.”

Sehun melepaskan tautan tangannya. “Nara…” bisik pria itu. “Ada beberapa hal yang memang seharusnya tidak mungkin di dunia ini.” Sehun melanjutkan.

Nara mengabaikan penolakan eksplisit Sehun. Gadis itu, bertindak cepat. Ia menarik kerah kemeja Sehun, kemudian menelusuri. Mencari-cari magnet yang selama ini mengacaukan segala pikirannya. Menerkamnya. Menjadikan dirinya bergelut dengan api yang membara.

Kecupan lamat, diberikan gadis itu untuk pria yang tak membalasnya. Sehun tidak bergeming. Pria itu hanya diam, membiarkan Nara melumat bibirnya habis-habisan. Nara telah dibakar dimana-mana. Gadis itu menjangkau leher Sehun. Meninggalkan berbagai kecupan yang selama ini hanya dapat ia jadikan fantasi sebelum tidur.

Sehun tak berdaya di bawah kendali gadis itu. Ia tak membalas, tak juga pun menolak. Nara mengecup cuping telinga Sehun. Berbisik di sana, “Sehun please.” Sensual dan bergejolak, Nara belum bisa mengendalikan keinginannya.

Sehun memejamkan mata kemudian mengeram. Nada gelisah Nara membangkitkan segalanya. Pria itu mengambil alih kendali, ia membalikkan posisi menjadi menindih Nara.

Nara sempat terpenjat sesekon kemudian tersenyum, mengelus pipi Sehun. Tak ada dialog diantara mereka. Hanya sorot netra yang menerjemahkan bahasa mereka.

Sehun menelisipkan jarinya di dagu Nara. Mendekatkan jarak di antara mereka, lalu kembali mengecup gadis itu. Lamat dan dalam. Gigitan kecil sengaja, Sehun berikan untuk mempermudah jalinan lidah mereka.

Nara menggigit bibir, ketika Sehun melepaskan kecupan hangatnya. Menggantikan gerakan membara itu dengan percikan api lain. Kali ini pria itu tenggelam di dalam celah leher Nara. Mengecup setiap detail kulit yang dapat ia jangkau. Meninggalkan bekas kepemilikan di sana. Perlahan-lahan kecupan Sehun turun ke bawah. Tangan pria itu membuka satu persatu kancing Nara.

“Sehun,” desah Nara. Gadis itu menjambak surai pasangannya, Sehun menemukan tempat lain untuk melampiaskan hasrat. Nara menengadahkan kepala, tangan Sehun menelusuri bagian terdalam dirinya. Nara kehilangan akal sehat. Ini benar-benar kenikmatan yang membuatnya berani bertaruh akan segala hal. “Sehunnn,” desahan panjang itu menguar dari bibir Nara, seakan menjadi lonceng tanda selesai permainan. Sehun menyeringai, mengakhiri apa yang dia mulai. Sebenarnya, permainan belum usai. Akan tetapi, ia harus mengakhiri sebelum melakukan sesuatu yang dapat melukai gadis itu.

Sehun mengecup puncak kepala Nara yang sedang memejamkan mata. Jemarinya mengenyahkan buliran keringat di pelipis Nara. Tak berselang lama, ia berbaring di samping gadis itu, tak lagi menindihnya. “Akhirnya berkeringat,” ucap Sehun.

Nara bergumam, masih menormalkan napasnya yang memburu. “Bercinta bisa menjadi obat flu yang ampuh. Yeah, walaupun tak melakukannya sampai puncak.” Kata Nara.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Sehun. Pria itu, menarik Nara ke dalam pelukannya.

Nara menyembunyikan wajahnya di dada Sehun. Tangan gadis itu bermain di kancing baju yang sempat ia buka. “Seperti surga,” Nara mengaku. “Kulitku seperti terbakar. Aku menginginkanmu.” Lanjut Nara.

Sehun mengeratkan pelukannya. Mengusap dengan lembut punggung gadis itu. “Bagiku itu seperti neraka,” ujar Sehun. “Menyentuhmu membuatku seperti terbakar api. Menyakitkan.” Ia menambahkan.

Nara menatap raut Sehun yang penuh duka di sana. “Aku bisa membantumu. Kita bisa melakukan hal ini bersama-sama.”

Sehun bergeming. Ia menguarkan napas dalam-dalam sebelum menjawab, “Aku takut menyakitimu. Bercinta dengan cara normal bukan gayaku. Lucu sekali menyebut itu ‘bercinta’ padahal kita tak saling mencintai.”

Nara mengecup pipi Sehun. “Aku mampu melakukan apa pun, asal bersamamu. Aku rasa… Aku jatuh cinta.”

“Jangan konyol, bagaimana dengan mantan pacarmu? Siapa yang lebih kau pilih, aku atau dia?” Tanya Sehun sembari tertawa.

Nara mencebik. “Jangan bahas dia. Hidupku berubah sangat malang jika mengingatnya lagi,” katanya. “Itu tadi yang pertama.” Nara mengungkapkan kerisauan pikiran.

Sehun mengernyit. “Itu juga yang pertama bagiku.”

“Bohong,” sergah Nara.

Sehun tersenyum masam. Tangannya menyisir surainya yang berantakan. “Setidaknya, kau gadis pertama yang berani menciumku,” kata Sehun.

“Membuka kemejamu, kemudian menggigit lehermu,” Nara melanjutkan.

Sehun terus mengelus punggung gadis yang ada di pelukan. Tiba-tiba satu pemikiran tercetus di dalam benaknya. “Nara,” panggil Sehun.

“Hmmm.” Jawab Nara, setengah mengantuk.

“Menikah denganku, ya?” tanya Sehun mantap. “Agar kita bisa berlatih setiap hari,” lanjutnya.

-oOo-

a/n: Halo :D. Apa kabar? Cerita ini udah lama banget aku anggurin hehehe. Semoga kalian menikmatinya. Kemudian, cerita ini sengaja aku selipkan beberapa adegan dewasa pada nantinya, mungkin enggak aku protect, jadi lebih pada kesadaran setiap individu aja. Oh, ya terima kasih sudah membaca.

Eum, masalah Sad Movie aku minta maaf ya belum bisa ngelanjutin. Huhuhuhu. Jadi, gak usah ditanya ‘kapan dilanjutin’, udah aku lanjutin tapi masih bingung. Udah gitu aja. Hehehe.

  Sampai jumpa! ^^

Advertisements

545 thoughts on “Outages: We Walk

  1. yya pertamanya penasaran, tapi ko kaya pernah baca,, eh ternyata ada wattpad ya.. nunggu di wp nggak nongol nongol… oke great ff ini.

  2. ah astaga, dagdigdug aku bacanya. sehun duh why so gemesin haha. beneran mau nikah nih? hmmm. kyaaaaa makin excited bacanya hehe ><

  3. gilaaaaaa broooo ini Bulan puasa, & gua baru baca ff iniii huaaaaa.. maafkan akuu Yaa Allah 😦 habisnyaaa kagak nahannnn.. kerenn bgt ceritanya 😀
    seruuu nyaa ohh astagaa
    .sehun bisa ngmng kaya gitu..?? wkwkwk yakinnn mau latihan tiap hari..?? sama aku ajaaa yaaaaaa *ehh
    sukaa bgt sm sehun nara serius deh..

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s