[B] Chronicles of Perfection

large (1)

[Twelveblossom – Ficlet (+/-600 wc) – Romance & Slice of Life – Series – Kai/Kim Jongin, Soojung, Irene, etc – PG 15]

Prev: [A]

Soojung melangkah cepat melewati lorong gedung stasiun televisi itu; roknya mengembang sesuai dengan kecepatannya berjalan. Ia membawa tas jinjing hitam. Ketika langkahnya terkantuk pada salah satu pintu bertuliskan ‘Kai’—nama panggung Jongin, gadis itu berhenti untuk membuka engsel pintu. Jongin telah duduk di depan meja rias. Ruangan itu hanya terisi mereka berdua, tak lantas membuat keduanya menghambur berpelukan.

“Selamat siang, Kim Kai.” Sapa Soojung sembari meletakkan bawaanya.

Kai hanya mengangguk ringan, ia memijat kepala, lelah.

Soojung mendekati Kai, “Apa kepalamu sakit?” tanya gadis itu.

Kai menegakkan badannya, kemudian tersenyum. “Sedikit, kemarin malam aku terlalu banyak melakukan olahraga malam, tidak sempat tidur.” Nada yang dipilih Kai beralun, kentara ada maksud lain di dalam suranya.

Soojung berdecak acuh. Gadis itu mengabaikan godaan Kai dengan cara membalikkan tubuh.

“Kim Jongin, lepaskan.” Perintah Soojung saat merasakan pelukan Jongin dari belakang. Bukannya menurut Jongin malah semakin mengeratkan dekapan.

“Aku merindukanmu,” rayu Jongin seduktif.

Soojung memutar bola mata, kalau saja Jongin tidak tampil sehabis ini, pasti ia sudah menonjok pria itu. “Kau kira aku akan termakan rayuanmu,” kata Soojung, kesal.

Derai tawa Jongin terdengar, pria itu menyugar ke samping surai gadisnya kemudian mengecup leher Soojung, lama dan dalam. “Begini saja sudah membuat rasa lelahku hilang,” ucap Jongin bertepatan dengan tanganya yang melepaskan Soojung.

Gadis itu tertawa hambar. “Senang bisa membuat Jongin kembali menjadi Kai,” sindir Soojung.

Kai hendak meladeni, namun terinterupsi oleh pintu ruang ganti yang kembali terbuka. “Kai siap panggung dua menit lagi.” Wanita itu mengumumkan, lalu pergi.

Kai mulai merajut langkah meninggalkan ruangan, tetapi dihentikan oleh deheman Soojung.

“Jangan lupa kau ada janji dengan kekasihmu setelah acara ini di Cornwall,” ucap Soojung kemudian ujung bibirnya naik. “Sebagai road manager, aku hanya mengingatkan.” Lanjutnya.

.

.

.

“Sudah kubilang, aku tidak menginap di rumah Soojung. Aku hanya membantunya mengangkat barang kemudian pulang.” Kelakar Kai, santai. Tangannya meraih gelas krystal berisi wine. Bagi Kai, berdusta bukanlah hal yang sukar, ia mengesampingkan beban mental dari efek kebohongan itu sendiri. Semua orang pernah berdusta, cuma masalah waktu, kapan seseorang itu mendapatkan kesempatan.

Gadis yang menyandang status sebagai kekasih Kai di media itu cemberut. “Aku tidak suka kedekatan kalian. Lebih baik kau meninggalkannya.” Gerutu si Gadis.

Kai memutar bola mata, ia bersedakap. Tingkah pria itu menampilkan lagak tak tertarik. Ia sudah jenuh dengan gadis semacam kekasihnya, model semampai, lekuk tubuh bagai gitar, paras semulus pualam, dan surai blonde.

“Aku bertemu dengan Soojung terlebih dahulu, Irene. Yang ada aku meninggalkanmu, bukan aku yang meninggalkannya,” ungkap Kai santai.

Mata Irene membelalak tidak terima. “Soojung hanya kotoran—”

Kai memotong umpatan si gadis cantik, “Perlu kau ingat, kita menjadi kekasih hanya untuk kontrak agensi. Kau tidak memiliki hak kepemilikan apa-apa atas diriku,” sergah Jongin, malas. Pria itu beranjak dari tempat duduknya, ketika menangkap siluet Soojung mendekati meja mereka.

“Kai kau ada jadwal wawancara, kita harus segera berangkat,” kata Soojung. Ia berusaha tidak peduli akan suasana meneganggakan yang diciptakan oleh Kai dan Irene.

Lain hal dengan Soojung yang bersikap tenang, Irene bersungut-sungut. Serantanan, Irene meraup gelas yang masih terisi, kemudian melayangkan cairan itu ke kemeja Soojung.

“Gadis murahan,” seru Irene belum puas mengakhiri kegaduhan.

Kejadian itu begitu cepat, saat Kai menampar Irene, kasar. Membuat Irene terpelanting ke samping.

Soojung hanya diam menggigit bibirnya. Sudah terlalu marah akibat kelakuan anarkis dua pesohor ternama itu.

Soojung benar-benar tak ambil pusing atas sikap Irene yang menghujaninya dengan wine. Kepala Soojung akan lebih sakit, apabila insiden mereka terendus media. Walaupun ruangan yang dipesan benar-benar privat, kuli tinta dapat mencium kelakuan mereka melalui berbagai petunjuk.

“Jangan sampai kau menyulut amarahku,” hardik Kai. Netranya berkilat-kilat api, tidak ada rasa kasihan melihat Irene yang tersungkur. Pria itu menarik Soojung yang sedari tadi diam, meninggalkan ruangan.

-oOo-

a/n: Hai, semoga kalian gak bosen baca FF ini yang bakal update lebih sering dari biasanya :”) hehehehe. Terima kasih sudah membaca.

Advertisements

179 thoughts on “[B] Chronicles of Perfection

  1. Wth irene kena swing tangannya jongout😂 Serem euy “jangan sampai kau menyulut amarahku” iya kang iya siap atuh ampun😂

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s