[5th-A] Sad Movie

Sad Movie

Part: Part 1 – Part 2Part 3A – Part 3BPart 4

.

Lengkungan awan terbentuk tak simetris terlukis di sana. Langit serupa kanvas yang telah terwanai biru muda serta semburat kuning cerah matahari, memanjakan netraku. Sekilas, aku mencuri pandang pada latar yang menjadi tempat kejadian perkara. Ya, aku sedang duduk di pelataran rumah Sehun. Taman luas menghiasi sekitar hunian, lengkap dengan lampu khas taman serta beberapa permainan milik Jino. Kursi kayu yang menjadi tempat dudukku berderit ringan, ditimpali oleh ketukan tak sabaran yang berasal dari jemari.

Raut ini tampak kusut, menunjukkan protes bahwa aku tak suka bangun pagi. Setidaknya, hal itu berlaku saat aku kekurangan waktu tidur. Jam kuterlelap berkurang, kemarin malam aku tak dapat memejamkan mata. Terlalu sibuk berspekulasi mengenai tempat yang akan aku dan Sehun kunjungi esok hari. Baru sekitar dua jam tertidur, Sehun sudah membangunkan.

Aku tak akan mengelak, jika menguar gagasan bahwa diriku terlalu gugup menghadapi teka-teki Sehun. Aku benci menjalani sesuatu yang tidak dapat diprediksikan. Hah, sudahlah. Nampaknya kekhawatiranku memasuki tahap konyol menuju ke tolol.

Suara mesin mobil memasuki area rumah, menginterupsi atensiku.

Kuedarkan pandangan. Menemukan seorang wanita tengah keluar dari Audi merah marun. Wanita itu menyandang kemeja bergaris merah, celana kain hitam, dan tas kontras kuning menyala tersampir di bahu. Poros tubuh bagai model itu sedang meniti langkah menuju ke mari. Aku kenali si wanita menawan sebagai Soojung―adikku.

Soojung melambaikan tangan ke arahku yang segera disambut ekspresi bertanya-tanya. Saat wanita itu dapat mencakup rentangan suara, aku memulai percakapan. “Untuk apa kau ke sini?” tanyaku.

Soojung tersenyum sekilas, “Mengambil Jino dari kalian para orangtua tidak bertanggung jawab.” Ia mejawab sembari meletakkan dirinya di bangku yang sama denganku.

Aku memutar bola mata. “Yang benar saja.” Aku berseloroh.

“Kau dan Sehun akan tamasya, bukan? Aku ditugasi menjaga Jino selama kalian pergi,” kata Soojung. Wanita itu menyugar surai hitam panjangnya.

“Kami tidak bertamasya!” Tiba-tiba saja aku berseru mengelak. “Hanya pergi ke suatu tempat dan Jino bisa ikut.” Aku menambahkan.

Soojung terkekeh. “Sayangnya, Jino harus bersekolah. Jadi, keponakanku yang paling manis itu tak dapat ikut.”

Aku tak menimpali ungkapan Soojung. Berpikir sejenak. Menghabiskan waktu berdua dengan Sehun bukan hal yang mudah bagiku. Tentu saja, banyak hal yang tak ingin aku ungkit dengan pria berego tinggi. Bukan hanya itu kendali pikiran sehat terhadap tubuhku menjadi sangat lemah, mengingat insiden kecupan yang kami lakukan kemarin. Menyadari akan segala aspek yang berlalu-lalang di pikiran, membuatku menghembuskan napas berat. Soojung menyadari perubahan raut di wajahku. Di matanya aku tampak terlalu canggung. “Tenang saja. Tidak akan terjadi sesuatu. Sehun sudah jinak.” Soojung menyelesaikan kalimatnya, dibumbui semburan tawa.

Aku sengaja membuang muka untuk menanggapi humor yang tak lucu itu. “Tertawa saja sepuasmu,” kataku kesal.

Kendati menyadari suasana hatiku yang sudah mulai menyulut, tawa wanita itu malah semakin kencang. Masih tersisa kerutan geli ketika Soojung  beranjak dari tempat duduk. “Keponakanku semakin tampan,” ujar Soojung menyambut kedatangan Jino yang sedang memberengut digendongan Sehun.

Aku tersenyum simpul pada Jino. Putraku nampak tidak nyaman berada di suasana pagi hari. Bangun pagi bukan menjadi favoritnya. Aku menghampiri Jino yang kini telah turun dari gendongan ayahnya. Berusaha mengabaikan pesona Sehun, namun gagal di awal percobaan.

Seperti yang sudah ratusan kali diduga. Kemunculan Sehun, selalu membuat perhatianku termakan olehnya seratus persen. Lihatlah, cara berpakaiannya sangat santai. Ia mengenakan kaos hitam polos, celana training, dan sepatu kets abu-abu. Jangan lupakan rambut berantakannya, terasa lembut di dalam imajinasiku.

“Ibu, selamat pagi. Bibi Soo selamat pagi.” Sapaan Jino yang lumayan keras, membangunkan diriku dari pesona Sehun. Anak laki-laki itu menarik ujung kaos merahku.

“Selamat pagi, sayang.” Aku membalas sapaan Jino sembari mengecup pipi kanan dan kirinya.

Soojung menyelingi dengan mengusap surai Jino.

“Jino, ingin ikut,” pinta anakku ke arah Sehun.

Sehun terkekeh sebentar menanggapi rengekkan putranya, kemudian menggendong tas ransel hitam yang sedari tadi tergeletak di lantai. “Percayalah, Jino tidak akan suka ikut ayah dan ibu.” Pria itu membujuk, ia menyamakan tinggi dengan Jino lalu berbisik di telinga anaknya. “Kami akan mendaki.”

Aku pura-pura tak mendengar, mencuri pandang ke arah Soojung. Ia nampaknya menyadari kode yang aku kirimkan. “Mendaki gunung bukan kegemaran Jino, bukan?” tanya Soojung, berusaha mengambil atensi Jino.

Anak laki-laki itu mengangguk tanpa berpikir. Bibirnya yang mencebik berubah jadi senyuman. “Jino tidak mau ikut, tapi Jino ingin mengirimkan salam pada nenek dan adik.” Anakku berseloroh, membuat kebingungan yang lain muncul di permukaan.

Kali ini tautan alisku, tertangkap oleh Sehun. Pria itu mengecup pipi Jino sekilas, kemudian kembali berdiri. “Ya, tentu saja,” jawab Sehun sekilas. Ia terlihat enggan membahas topik ‘Jino titip salam’. Terburu-buru, Sehun menggiring Jino masuk ke mobil Soojung. Bibinya Jino memerankan kolaborasi yang epik dengan Sehun, Soojung menggandeng tangan Jino sembari berkata-kata. “Lebih baik kita cepat berangkat, nanti terlambat.” Kata Soojung disusul persetujuan Jino.

Aku melambaikan tangan ketika Soojung dan Jino berlalu menggunakan kendaraan itu. Netraku mengikuti langkah Sehun yang sibuk membenarkan ujung tali ransel. Aku menghampirinya yang kini berdiri tepat di depan kap mobilnya.

“Kita akan kemana?” Aku bertanya langsung.

Pria itu bahkan tak menatapku saat menjawab, “Rahasia.” Ungkap Sehun singkat dan tidak jelas.

Aku bersandar di mobil. “Kita akan mendaki? Aku tak suka gunung, lebih suka pantai.” Pernyataan itu sanggup membuat perhatian Sehun tertuju padaku.

Pria itu memasang raut tidak percaya. “Kau dulu sangat suka mendaki gunung.” Ujar Sehun pelan.

“Aku dan Suho pernah satu kali mendaki di Lyon dan berakhir tersesat selama dua hari. Menyeramkan sekali.” Entah mengapa, mulutku malah berdialog memberikan penjelasan. “Mulai dari itu aku lebih menyukai pantai.” Aku melanjutkan.

Sehun melejitkan bahunya sembari membuka bagasi, lalu meletakkan tas ransel itu. “Dulu kau tidak seperti itu,” ungkap Sehun.

“Semua orang dapat berubah, Sehun. Delapan tahun itu, waktu yang cukup untuk mengubah seseorang.” kataku. Aku menekankan ucapanku melalui tatapan pada pria itu. “Dan sayangnya, kau melewatkan delapan tahun itu,” ujarku.

Sehun menyeringai, “Benar. Hal-hal seperti itu hanya berlaku untuk sesuatu yang tidak penting.” Pria itu membuka pintu penumpang depan untukku. “Tetapi, dirimu adalah barang yang penting. Terlalu mahal untuk dilewatkan.” Sehun memperpanjang olokkannya.

Tawa sinis menggelontor dari bibirku, “Hanya sebuah barang.” Aku berucap sembari masuk ke dalam mobil, kemudian membanting pintu lebih kerasa dari seharusnya.

Sehun mengikuti gerakanku. Ia memegang kemudi. “Kau selalu menganggap dirimu adalah barang koleksiku, Nara. Daripada kita berdebat, lebih baik aku langsung menghinamu.” Ungkap pria itu.

Benar juga, pikiranku berjalan tak selaras dengan Sehun. Asumsi hidupku hanya satu bahwa, Sehun mendefinisikan tubuh ini sebagai barang kepemilikannya. Andai, aku bersedia menghapus kenegatifan itu. Pasti kami akan hidup damai. Akan tetapi, bukan Jung Nara namanya jika tidak mudah sakit hati. Segalanya berlangsung kurang membahagiakan bila perasaan campur tangan.

“Terserah, kau.” Aku merajuk, dilengkapi kegiatan membuang muka.

Tawa renyah Sehun terdengar.  Aku merasakan pria itu memasangkan sabuk pengaman padaku. Mesin mobil menyala menjadi musik selanjutnya. Tetap mengantarkanku pada kesunyian yang entah kapan dipecahkan.

Sehun seperti enggan bergulat dengan kecanggungan yang kami ciptakan. Ia menekan tape di Mercedez itu, mencari-cari lagu yang pas untuk didengarkan telinga. Sehun menambatkan pilihanyan pada instrumen piano klasik, aku tak tahu apa judulnya.

“Kalau mengantuk, kau bisa tidur.” Ucap Sehun tanpa memandang ke arahku. Matanya sibuk berkonsentrasi pada jalanan yang dilalui.

Aku menegakkan kembali kepalaku yang tadinya sempat bersender. Mengacuhkan perkataan Sehun tadi.

“Jadi, kau sekarang lebih suka laut?” tanya Sehun, mencoba memulai pembicaraan.

Aku mengangguk.

“Yang benar saja, bahkan kau tidak bisa berenang. Jangankan berenang mengapung pun tak bisa.” Pria itu berujur, nada menggoda menjadi bumbu.

Secara refleks kepalaku menoleh ke arahnya, kemudian mata ini menyipit. Tanda kesal.

“Aku bisa berenang.” Ungkapan itu berupa pembelaan diri dariku.

Sehun tertawa, sangat kencang. Seakan aku mengungkapkan fakta paling tidak mungkin terjadi di dunia.

“Suho mengajariku berenang sebagai ganti dia membuatku tersesat di hutan,” ujarku.

Tawa Sehun berhenti seketika. Nampaknya nama Suho seperti mantra yang dapat menjadi senjata ampuh―paling tidak, cocok untuk membuat Sehun diam.

“Tidak terlalu kaget jika kalian tersesat di hutan. Mengingat tingkat kecerdasan kalian di bawah rata-rata,” kata Sehun. Ia berucap seolah-olah itu adalah kebenaran umum.

Aku melengoskan kepala, berusaha tidak menanggapi kail yang ia pancingkan.

Telingaku mendengar kekehan kemenangan Sehun. Rasanya hal itu menjadi topik terkahir yang kami bahas. Selanjutnya, tak ada perbincangan. Aku sibuk melucuti segala aspek yang dapat kupandang melalui jendela mobil, sementara Sehun berkonsentrasi pada stirnya.

Pikiranku mulai bereaksi ketika papan penunjuk jalan terlewati oleh kendaraan kami. Aku menatap Sehun kemudian berucap, “kita akan ke gunung Jiri.” Pernyataan yang menyerupai pertanyaan.

Pria itu melejitkan bahu, “tebak saja.”

Sungguh, tak perlu menebak lagi kemana arah tujuan perjalanan konyol ini. Pendakian ke gunung Jiri adalah ide bodoh. Setidaknya, kami perlu waktu 6-7 jam berjalan kaki hanya untuk sampai kaki gunung. Hari sudah menjelang siang, bisa-bisa kami sampai malam hari. Gunung Jiri dalam kondisi gelap ditambah suhu yang merendah di malam hari, itu mimpi buruk!

Aku mengetahui secara detail gunung Jiri. Dulu aku gemar mendaki, beberapa gunung biasa menjadi tempat liburan menyenangkan. Dari sekian banyak, gunung Jiri memiliki kenangan tersendiri karena…

“Kita akan bertemu Ibumu?” tanyaku pada Sehun.

Sosok Ibu Sehun adalah tokoh yang diidamkan setiap anak. Penyabar, penuh kasih, dan dermawan. Aku, Sehun, dan Ibunya memiliki agenda tak tertulis untuk menyediakan waktu mendaki. Aku selalu menunggu liburan bersama itu, Ibu Sehun memberikan banyak waktu bagiku dan Sehun agar dapat berduan. Membagi segala hal serta melupakan apa yang ada di belahan tempat lain.

Kendati meretakkan teka-teki, Sehun malah menikmati segala rasa penasaranku. “Lihat saja nanti,” ujarnya.

“Kita akan ke rumah kayu?” Tanyaku lagi, tak kunjung pupus pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan.

Ia melirikku dengan ekor mata, kemudian kembali fokus pada jalan di hadapannya.

“Sehun, jangan bertingkah seperti anak sekolah dasar.” Aku berbicara sembari memutar bola mata.

“Lebih baik kau diam, Nara. Hemat tenagamu karena sebentar lagi kita akan melakukan hal yang sangat melelahkan.” Ungkap pria itu.

Aku meresponnya dengan hembusan napas panjang. Mencoba diam dan cuek, aku menutup mataku seolah-olah sedang mengantuk.

“Begitu lebih baik, tidurlah.” Sehun bergumam.

Aku tidak mengindahkannya, malah sibuk membuat diriku pura-pura tidur. Namun, keadaan itu berlangsung singkat, saat aku benar-benar jatuh ke alam mimpi. Mimpi itu terasa begitu nyata. Dalam gulungan film mimpiku, terasa jemari Sehun yang sedang membelai wajahku. Perlahan, tapi pasti kulitku merasakan kecupannya. Sentuhannya, seringan kapas membuatku ingin tertidur lebih lama. Sayup-sayup aku mendengar suaranya yang berderai halus memanggil namaku.

“Nara, bangun.” Lantang ia berucap. Aku membuka mataku, mendapati rautnya tepat di samping. Sehun tersenyum kecil. “Kita sudah sampai,” ujarnya sembari mengelus suraiku. Belum sempat aku membalas, ia sudah beranjak turun dari mobil.

Aku masih berusaha mengumpulkan nyawa yang tertinggal, ketika Sehun membukakan pintu untukku sembari menyandang tas punggungnya. Tangan pria itu meraih jemariku, membantu turun. Aku sedikit oleng dan hampir terjatuh kalau saja Sehun tidak segera menangkapku.

Hal pertama yang aku rasakan saat berada di pelataran luas ini ialah kesegaran udaranya. Padang rumput yang hijau di kawal ketat dengan pohon-pohon pinus. Di ujung tempat ini ada jalan lain yang nampak bergeronjal serta tidak rata. Cerahnya matahari belum mampu memberikan penerangan yang memadai untuk ujung jalan itu.

Aku mengenali tempat ini sebagai pos pertama pendakian Gunung Jiri. Semuanya tampak sama, kecuali beberapa jeep yang terparkir, dulu tidak ada. Apalagi, jeep berwarna hitam yang nampak lebih mengkilap dan besar daripada kawannya, mencuri perhatian.

“Itu milikmu?” tanyaku pada Sehun. Aku bisa menebaknya dengan mudah karena di samping jeep itu ada Paman Kim yang mengenakan kemeja serta celana kain berwarna hitam-tidak selaras dengan jeep angkuh itu.

Sehun mengangguk sebagai jawaban, kemudian meraih tanganku, menggandengnya. Aku tidak melawan, sewaktu pria itu menuntunku menuju jeep. Aku tidak ingin terpleset, menjadi bahan lawakan pria itu.

“Selamat siang, tuan muda dan nona muda,” sapa Paman Kim.

Aku membalas salamnya melalui anggukan kepala.

“Semuanya sudah siap, Paman?” tanya Sehun.

“Logistik yang Anda inginkan telah siap digunakan,” ucap pria paruh baya itu.

Sehun mengangguk. Ia belum melepaskan tautan tangan kami. Sehun membantuku naik ke atas jeep, ia menikmati kepasrahan yang kini aku pilih menjadi tingkah lakuku.

“Gunakan sabuk pengamannya, Nara. Aku berbincang sebentar dengan Paman Kim.” Ucap pria itu sebelum meninggalkanku yang telah terduduk di kursi penumpang.

Aku tercengang dengan sabuk pengaman yang harus kugunakan, sangking banyaknya aku tak dapat memastikan pasangannya. Aku menghembuskan napas berat, mulai menyerah. Ekor mataku melirik Sehun yang tengah berbicara dengan Paman Kim.

“Demi semua bintang-bintang di langit, kenapa harus menggunakan sabuk dan jeep brengsek ini?” aku mulai menggerutu, tanganku menghentakkan sabuk pengaman yang terlihat tak berujung.

Tawa Sehun tiba-tibai beralun. Aku kaget ketika pria itu menyodorkan tangannya dengan lihai mengambil alih segala permasalahan mengenai sabuk pengaman. Rautnya yang masih menampilkan kegelian akan rutukkanku, kini serius memecahkan pola.

“Kau membuatku kaget. Sudah selesai bicara dengan Paman Kim?” aku bertanya.

“Sudah,” jawabnya singkat. Ia menautkan kait sabuk pengaman yang terakhir ketika mengimbuhkan, “Paman Kim sudah kembali ke Seoul.”

Perkataan Sehun membuatku mengedarkan pandangan. Mobil Sehun sudah tidak ada di padang rumput, yang pastinya dibawa Paman Kim.

“Lalu, bagaimana cara kita pulang?”

Sehun melejitkan bahu, “Kalau Paman Kim ingat dia akan menjemput kita.”

“Kalau tidak?” Aku bertanya dibumbui kekhawatiran yang kentara.

“Kita akan berada di Gunung Jiri selamanya.” Ujar Sehun, suara rendahnya mengesankan suasana mencekam.

“Dasar gila,” seruku sembari memukul pundaknya. Ia mengaduh pelan, namun bibirnya tetap tertarik.

“Gila karena dirimu,” katanya cepat selaras dengan kecupan di pipiku yang ia berikan kilat. Sehun serantanan melenggang ke kursi pengemudi, sebelum terkena pukulan ke dua.

Jeep kami telah memasuki medan sejak beberapa menit yang lalu, akan tetapi kecupan Sehun di pipiku masih sama panasnya dengan kue yang baru saja di panggang. Entah diriku yang terlalu berlebihan atau memang efeknya begitu dahsyat, aku yakin pipiku merona. Sedari tadi aku hanya diam, tubuhku kaku, dan netraku menatap lurus ke depan. Layaknya orang yang tersetrum.

“Kita menggunakan jeep untuk menghemat waktu,” kata Sehun memecahkan keheningan. Ia masih sibuk menaklukkan jalur yang rumit di hadapannya.

Aku yang terbengong-bengong hanya menatapnya, hambar.

“Delapan tahun lalu jalur ini belum ada.” Sehun tetap menjadi satu-satunya komunikator.

Bibirku mengeluarkan ‘ooh’ yang lumayan panjang. Sehun kelihatannya tidak sabaran dengan diriku yang tiba-tiba menjadi sosok pendiam. Ia berdecak keras. “Kau tidak apa-apakan?” tanya Sehun.

“Aku sedang dalam keadaan tidak baik,” jawabku acuh.

“Kenapa?” Sehun masih ingin tahu lebih dalam.

Bibir ini kugigit secara tak sadar. “Aku takut gunung.” Kataku mencoba jujur. Sedikit kebohongan menjadi bumbu, sebenarnya. Aku memang memiliki trauma kecil pada gunung, namun hal itu tidak menyita perhatianku terlalu banyak. Aku lebih takut pada pria yang berada di sampingku. Takut separuh gugup, sisanya kepanikan yang sebenarnya tidak perlu. Aku sedang dalam kondisi salah tingkah disebabkan oleh keadaan yang tak dapat kuprediksikan.

Sehun memiliki persepsi yang berbeda mengenai jawabanku, ia menanggulanginya dengan kekehan. “Tenang saja, jangan takut. Aku tidak akan membiarkan kita tersesat,” ujar pria itu, nadanya menenangkan.

Aku berusaha mengatur napas, seharusnya diriku lebih mampu menjaga ekspresi paras, agar tak menjadi pusat atensi. “Aku percaya padamu,” putusku, akhirnya setelah sekian menit kembali terdiam. Berpikir dalam keadaan jeep yang bergoyang-goyang kurang stabil membuat perutku mual. Berusaha mengalihkan perhatian, aku mulai mengangkat topik ringan yang tidak memancing pertengakarn selanjutnya. “Apa ibu tidak naik ke Rumah Kayu bersama kita?” Kumulai mengajukan pertanyaan.

Raut Sehun berubah. Garis-garis wajahnya tertekuk, memberikan sinyal bahwa pertanyaanku datang pada waktu yang salah. “Iya, ibu sudah pergi ke sana terlebih dahulu,” jawabnya.

Aku berusaha memulihkan kekacauan yang kubuat. Berusaha merajuk, “Ibu curang, padahal ia sudah berjanji padaku jika suatu saat aku kembali ke Seoul, kami akan ke Rumah Kayu bersama.”

“Ibu menunggu di sana, lama sekali ia ingin bertemu denganmu.” Sehun merespons.

Aku mengernyit, pikiranku berputar berkeinginan mengubah topik. “Pasti ibu terlihat lebih muda. Semangat ibu bahkan mengalahkan kita.” Sengaja aku meninggalkan jeda sejenak, mendengarkan alunan napas kami. “Ibu memperlakukan kau dan aku setara.” Aku melanjutkan.

“Tidak, ibuku lebih menyayangimu daripada diriku. Ia lebih mengakui dirimu sebagai anak.” Ungkap Sehun, ritme kekanakan dalam suaranya membuatku rindu masa lalu.

“Aku merindukan ibu,” ucap kami bersamaan.

Sehun tertawa mendengarkan kebetulan yang baru saja kami buat. Aku meringis meladeni tawanya.

“Kau tak perlu merindukan ibumu. Kalian tinggal tidak lebih dari 20 kilometer jauhnya,” protesku.

Sehun tidak serta merta menjawab. Ia mengimbuhkan senyumnya yang memabukkan. “Andai saja seperti itu.” Kata Sehun penuh maksud.

-oOo-

a/n: Author’s note di sini gak bakal panjang-panjang. Semua aku jelasin di bagian B. Maaf aku bagi ini jadi dua, soalnya untuk mengurangi ‘pembaca diam-diam’ biar mau meninggalkan komentar dan berkenalan denganku hehehe. Jika, ada typo tolong segera beritahu aku ya. Terima kasih sudah membaca :).

Advertisements

736 thoughts on “[5th-A] Sad Movie

  1. Aku juga gila karena mu mas sehun 😂😂😂
    Super penasaran apa yang bakal sehun lakuin ke nara dan apa respon nara 😁😁

  2. akuu readers baru ): awalnya baca di wettped tp gaada chapter selanjutnya jd aku coba baca di wordpressnya hehe buat dapet pasword chapter 5Bnya gimana ya?

  3. Kangen cerita ini, makanya jadi baca ulang. Udah lama ga baca FF dan yg pertama dibaca FF-nya author favorit. Ugh, feel-nya masih ngena aja walaupun udah pernah baca sebelumnya. Apalagi yg paling aku suka itu cara kak Titis memertahankan karakter keras kepala Sehun-Nara, keren deh. Aku selalu kagum sama kamu, kak… keep fighting yaa…!!!

    Regards,

    Sehun’Bee

  4. Sehun ngajak Nara me gunung buat ngunjungin makam ibunya sama anak perempuannyakan. Biar Nara nggak balik lagi ke Paris. Ntar kasian jinonya.. Huhuhu

  5. mereka pergi ke gunung buat mengunjungi makam ibunya sehun sm adik perempuan nya jino kan? aku mau nangis bacanyaa😔 chapter selanjutnya pasti bikin mewek😭 aku penasaran… minta password ya kak🙏

  6. Pasti sehun bawa nara ke makam ibu sama anak perempuannya. Biar nara mikir-mikir lagi buat balik ke paris. Udah nara gausah pergi lagi kasian jino sama sehun

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s