[After Story – Chronicles of Perfection] The Two of Us

Two of UsChronicles of Perfection: [A] [B] [C] [D] [E]

Twelveblossom’s story line

Soojung menghela napas dalam-dalam. Matanya terpejam, kepalanya menengadah. Seakan-akan sedang tertidur, namun gadis itu masih dapat merasakan semilir angin menerbangkan helaian surainya. Terduduk di bangku yang beralaskan pasir pantai kecoklatan, sudah empat bulan ini menjadi kegiatan favoritnya.

Ia tak menaruh rasa suka banyak-banyak pada suara ombak yang membelah lautan. Kegemarannya juga bukanlah berjemur. Apalagi, menghabiskan waktu untuk membangun istana pasir. Soojung membenci pantai.

Akan tetapi, ada satu alasan yang menjungkir balikkan kebencian itu, menjadi pengikis rindu.

Setiap sepoi angin yang menyentuh kulit dan membelai surai merahnya, menuntun ingatan gadis itu menuju ke prianya. Kelembutan yang memabukkan. Soojung masih mengingatnya layaknya potongan puzzle yang baru terpasang.

Deburan ombak bertalu tertangkap oleh pendengaran, mengalunkan syarat kehilangan yang besar. Bekas tawanya, kelakarnya, rajukannya, seruannya, dan rintihannya terbawa ombak menenggelamkan gadis itu.

Oh, sekujur tubuh Soojung semakin merindu, setalah ia mengijinkan bola matanya memindai. Butiran-butiran pasir coklat sewarna dengan kulit prianya ternyata bekerja ganda. Obat rindu itu bekerja, menyelesaikan keinginan hati untuk bertemu. Tetapi, melipat gandakan apa yang telah ia selesaikan.

Soojung menyukai kehangatan pantai, layaknya mencintai belenggu prianya. Pelukan itu masih terasa menghangatkan setiap inci tubuh. Namun, tak sehangat dulu. Telah empat bulan berlalu. la tidak lagi berjumpa dengan prianya, kehangatan itu mulai pudar. Akan tetapi, belum benar-benar hilang. Apa jadinya diri Soojung jika ia kehilangan jejak pria itu? Kehilangan tujuan hidupnya.

Soojung memiliki pilihan yang membuatnya tidak perlu menderita. Ia seharusnya bahagia. Kegembiraan yang menyakiti orang lain. Dan itu membuat tonjokkan aneh pada perut.

Sudahlah. Lagi pula, salah satu dari pilihan itu telah merelakan. Ia hanya perlu lari ke dalam pelukan yang lainnya. Sanggupkah? Masa depan apa yang ia harapkan dari hubungan itu?

“Hai,” sapa seorang pria sembari menyampirkan jas pada Soojung. “Terlalu dingin di sini, kau bisa sakit.” Lanjut pria itu.

Tanpa menoleh pun, Soojung paham betul siapa pria yang kini tengah duduk di sampingnya. Pengetahuan mengenai identitas pria itu, membuatnya enggan bersuara. Ia hanya melejitkan bahu, kemudian menggulung kaos lengan panjang berwana birunya.

“Jung Soojung,” panggil pria itu.

Soojung menolehkan kepala, mematut senyum manis. “Iya, Kim Suho?” Ia menjawab dengan pertanyaan.

“Aku rasa tingkat stresmu bertambah. Lihatlah kerutan di wajahmu,” kata Suho. Jemari pria itu mengukir pelipis Soojung.

“Padahal tempat ini rekomendasi darimu,” ujar Soojung. Tangannya bergerak terampil menguncir surai, sebelum meneruskan ucapan, “Tempat paling indah untuk dikunjungi.”

Suho tersenyum kecil. “Aku ralat, memang indah untuk dikunjungi, apalagi berlibur. Tetapi hal itu tidak berlaku jika tujuanmu kemari ialah kabur.” Kelakar Suho.

Raut Soojung mulai muram. Ia tak lagi menjawab.

“Saatnya kembali Miss Jung. Waktu yang kau miliki untuk lari sudah habis,” ujar Suho. Ia menatap Soojung lamat-lamat.

“Aku belum siap,” kata Soojung sembari membalas tatapan pria di sampingnya.

Giliran Suho yang menghembuskan napas keras-keras. Pria berkemeja putih dengan setelan celana kain hitam itu merespons, “Aku sendiri ragu dengan alasan ketidaksiapanmu.” Suho memberi kesenjangan akan ucapannya. “Kau sudah tidak terbebani dengan hubungan kita. Kau dan Jongin akan sempurna.” Lanjut pria itu.

Soojung tertawa. Lucu sekali, ia seakan mengulang kembali adegan film atas dialog yang Suho ungkapkan satu bulan lalu. “Kesempurnaan hanya membuatku bosan,” bisik Soojung.

Suho menangkap pelannya suara Soojung. “Hey, kalimat itu milikku!” Seru Suho, penuh nada bercanda.

“Aku hanya tidak bisa memprediksi betapa senang diriku jika kami benar-benar berjumpa. Membayangkan saja membuat sesak napas.” Perkataan Soojung menghentikan tawanya.

“Gadis aneh.” Ejek Suho. “Kau bahkan mengundurkan diri dari pekerjaanmu, hanya demi pelarian yang sama sekali tidak perlu ini.” Suho menggelontorkan segala opini.

Soojung memutar bola mata. “Memang aku sangat bahagia, jika bertemu dengan Jongin. Menjadi sepasang kekasih, kemudian menikah-jika kami beruntung kami akan memiliki anak. Tetapi, predikat Jongin sebagai perebut kekasih saudara kandungnya akan tersemat selamanya. Satu lagi, obsesi Jongin akan karir, tidak akan membuat hubungan kami benar-benar lengkap. Aku harus terus bersembunyi. Aku harus berjalan di belakang atau di depannya. Bukan di sampingnya sebagai kekasih.” ujar Soojung. Tatapan gadis itu mulai menerawang, memandangi matahari yang hampir tenggelam.

“Omong kosong apa yang sedang kau anut, Jung Soojung!” Suho menginterupsi.

Soojung memfokuskan netra pada mata pria itu. Menyelami kecoklatan yang pernah membuatnya jatuh hati. “Kalian berdua adalah masa laluku, Kim Suho. Saat kau merelakan diriku dengan segala kebaikan hatimu itu, bersamaan aku juga menghukum diriku. Kebahagianku dengan Jongin sudah berakhir, aku memutuskan kehilangannya sebagai hukuman.” Soojung mengungkapkan keputusan.

Suho menggenggam tangan gadis itu, berusaha meyakinkan. “Berhenti menjadi gadis tolol-“

Soojung menepis genggaman Suho, “Tidak ada harapan lagi. Kalau saja aku hanya sendirian, mungkin masih bisa bersembunyi menjadi bayangan Jongin yang setia. Namun…” Soojung memutus suara, tangannya secara refleks membelai perut.

“Soojung dengar, kau akan kembali kepada Jongin. Kau tidak tahu betapa hacurnya adikku sekarang. Bayimu akan baik-baik saja―“

“―Tidak akan baik-baik saja.” Tolak Soojung, Ia kemudian berdiri menghadap Suho. “Dia akan melukai dan menyakiti impian ayahnya. Kami seharusnya tidak memilikinya. Diriku yang tidak bisa mengendalikan diri malah bercinta dengan Jongin. Anak ini semestinya belum ada, paling tidak untuk sekarang. Dia tak diinginkan.”

Suho hendak mendebat Soojung. Mulut Suho kembali terkatup setelah mendapati buliran air mata menggenang di sana. “Jung Soojung― “

“―Berjanjilah untuk tidak pernah mengatakan apa-apa pada Jongin. Terutama mengenai anak ini. Bersumpahlah atau aku akan benar-benar menghilang.” Potong Soojung, sembari berjalan melebarkan jarak dengan Suho. Ia merajut langkah menuju rumah bercat putih yang tak jauh dari tempat duduknya.

-oOo-

Lanjut atau sudah sampai di sini?

Advertisements

117 thoughts on “[After Story – Chronicles of Perfection] The Two of Us

  1. Ini sequel ya, ak blm baca yg sblmnya. Tp kykny cerita ini complicated bgt ya. Suho kok baik bgt nyerahin pcrny ke adeknya? Trs nasib anakny gmn? Ak pnsrn bgt. Ijin baca y kak^^

  2. I2 yg abc d atas crita sbelum nie pa gmna,gk twu mwu komen pa cuz d stiap ff d tlis dngn sempurna, cirikhas dr kk titis,bhsa dengan kta2 yg tesusun rapi

  3. Jadi gimana nih? Masih agak bingung (atau aku yg kelewat lemot)
    Soojung punya anak dari Kai tapi gak nikah, sebelumnya Soojung punya hubungan intim sama Suho, Suho merelakan Soojung demi Jongin, Jongin menyakiti Soojung (pls explain) dan Suho tetap ada slalu di samping Soojung dan bla bla bla …..
    Bnyk banget yg aku perlu kejelasannya *apaan sih* haha

  4. Oo ini lanjutannya Chronicles for Perfection yaa??
    Soojung kayanya masih ragu ama keputusannya buat nglepas Jongin, tapi disatu sisi Soojung gamau Jongin terhalangi buat nggapai mimpinya cuman gegara tau kehamilannya 😦 poor Soojung

  5. suho baik banget dah masih peduli sama soojung
    itu anaknya kai yaa? soojung seharusnya ga sembunyi dari kai
    kai kayanya cinta bet sama soojung

  6. Uh-oh.soojung hamil?aduh kenapa pgen pergi dari kehidupan JOngin. wlopun sebnernya soojung perhatian sih sma mimpi Jongin. tp kan kasian.JOngin jg katanya hancur.
    ini soojung yg pesimis apa gimana?

    yah, aku salut sama sikap Suho yg tetep ngasih perhatian ke Soojung.

    keep writing!

  7. ooo~ soojung?dia baikkah?atau jahatkah?
    baik karna gx mau ngebebani jongin tpi…….*tuutttttt….
    ugh!gni deh efek kalo bacanya mundur dan gx maju..jd bingung sendrii!!!!
    tpi btw..aq bakal baca chap slnjutny kok kak titis^^ soalny aq tauny ff ini dr chap brkutny..hehe..

  8. Hamillll *bingung. Mantan kekasih selingkuh sama adiknya sendiri. Tapi masih tetap baik banget. Ini bagaimana ceritanya? Soojung pergi ya dr Jongin? Kenapa anak yg dikandung tidak diinginkan untuk saat ini? What the hell?? What happen??

  9. lah kok jadi kayak gini?aku kira Kai sama Soojung akan jadi sepasang kekasih dan apa? Soojung hamil?dan Suho aduh kamu baik banget ya,mantan selingkuh bahkan sampai pacarnya hamil malah tetep baik .aduh kamu memang angel :3 .Ah ff kakak emang susah ditebak :3

  10. Ah… Sebenernya aku enggak pernah mau baca diloncat” begini, tapi karena udah penasaran dan belom dapet password buat fic yg E jadi aku baca loncat aja deh 😀 hehehehe
    Jadi suho udah tau, dan dia juga ngerelain soojung buat jongin. tapi kenapa soojung malah pergi dari jongin, dan anehnya kenapa suho disitu? Untuk alasana soojung ninggalin jongin kayaknya aku tau deh, soojung hamil tapi dia enggak mau ngerusak impian jongin, seperti kata soojung, jongin masih terlalu terobsesi sama karirnya. Tapi alasan suho bisa disitu aku bener” belom paham?

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s