[B] The Three of Us

images

Twelveblossom’s

Prev: The Two of Us – The Three of Us: [A]

Kim Jongin tidak pernah mengira jika hari ini ialah peruntungannya. Datang juga saat yang ia tunggu-tunggu. Akhir dari pencarian selama empat tahun ini. Energinya tersulut kembali, ia sudah lupa kapan terakhir kali kepalanya membara karena menaruh minat akan sesuatu.

Jongin menyalurkan api itu pada ujung kaki yang menginjak pedal gas Audi manajernya. Ia sedang berada di tengah-tengah fan meeting ketika Jo-manajernya, terburu-buru menyerahkan ponsel kepada Jongin. Tentu saja, kelakuan itu disambut dengan naiknya satu alis Jongin. Tidak biasanya manajer yang sangat disiplin, menyela pada saat ia sedang bekerja.

“Suho menghubungi ponselmu, ada urusan sangat penting.” Ujar Jo waktu itu.

Pendengaran Jongin rasanya kebas saat Suho mengungkapkan beberapa rentet kalimat. Jongin hanya mendengar awal dari obrolan, kemudian kehilangan fokus.

Kira-kira begini ucapan Suho ketika itu, “Soojung akan kembali ke Seoul, jika kau masih menaruh minat padanya datang ke apartemenku di Jeungsan-dong. Sekarang!”

Cukup ucapan dengan satu tarikan napas, mampu membuat Jongin kalang kabut. Ia meninggalkan tempat kerja, sebelumnya pria itu telah merebut kunci mobil Jo. Jongin tidak peduli dengan kontrak kerja, apalagi ganti rugi. Uangnya sudah lebih dari cukup untuk membayar hal remeh tersebut.

Ada sesuatu lebih penting-sangat penting-yang tidak bisa menunggu dan menentukan hidupnya.

Jung Soojung, manusia yang menyandang definisi sebagai sosok paling istimewa di hidup Jongin. Jung Soojung yang mengajarinya bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Maka dari itu, Jongin memakan umpan Suho tanpa berpikir-pikirannya sudah rusak, sejak kepergian wanitanya.

Kemudian, di sinilah pria itu berada. Duduk di sofa hitam sebuah apartemen mewah, berhadapan dengan seorang wanita yang baru saja memutar engsel pintu. Jongin melihat dengan jelas respons terkejut dari wanita yang mengisi seluruh pikiran dan hatinya. Soojung agaknya mundur satu lagkah, sangking tidak percaya apa yang sedang dihadapi. Sebenarnya  keadaan Jongin juga sama terkejutnya, oleh sebab itu ia memilih duduk. Jongin menutupi lututnya yang lemas. Tak percaya wanitanya benar-benar ada.

“Kim Jongin,” kata Soojung. Ia mengucapkan nama Jongin dengan bibir tipis. Sorot netranya yang terkejut berubah menjadi kesal, kemudian muram.

Jongin terus mengawasi perubahan ekspresi Soojung, kentara sekali. Bagi Jongin, wanita itu tidak berubah. Soojung tetap seperti buku yang terbuka.

Jongin menunjukkan senyum miringnya. “Kita harus bicara,” ujar Jongin.

Lantaran menjawab dengan verbal, Soojung malah menoleh ke belakang. Pandangan Soojung itu langsung diikuti Jongin. Di sana Suho berdiri dengan seorang anak laki-laki yang sedang terlelap dalam gendongan. Darahnya berdesir ganjil saat menatap anak laki-laki itu, Jongin juga tak dapat mengerti kenapa refleks tubunya memilih bertingkah seperti itu. Ia belum bisa mengalihakan fokus netra pada si anak laki-laki, ada ketertarikan khusus padanya.

Soojung terbatuk kecil, ia berusaha mematahkan pengamatan Jongin pada anak laki-lakinya. “Baiklah, kita bicara tapi jangan di sini.” Soojung berucap, menyetujui.

Jongin mengikuti langkah Soojung yang cepat-cepat keluar dari apartemen.

Mereka duduk saling berhadapan di gerai kopi yang masih termasuk dalam area gedung apartemen. Jongin mengenakan kacamata hitam dan topi yang menyamarkan paras. Sementara Soojung memberikan pandangan maklum.

Obrolan mereka diawali dengan pertanyaan mengenai kabar masing-masing pihak. Dilanjutkan basa-basi mengenai kehidupan mereka selama empat tahun ini. Kemudian, menginjak pada hal yang lebih serius.

Jongin sendiri mengangguk seadanya saat Soojung menjelaskan mengenai alasannya pergi. Jongin mendapati  wanita itu memasang raut datar ketika berucap, tampak bosan. Jongin sama-oh, bukan bosan pada Soojung-tidak akan pernah. Pria itu hanya tak ingin mengungkit masa lalu. Masa bodoh dengan berbagai hal yang sudah-sudah. Pikiran Jongin sedang berputar untuk membuat wanita di hadapannya tetap tinggal-bukan mengungkit-ngungkit.

“Aku ke Seoul untuk mengurus pekerjaan.” Kata Soojung sembari menyicipi kopi hitam.

Jongin tersenyum, “Kau bekerja dimana?” tanyanya.

Sudut bibir Soojung terangkat sedikit. “Nylon, aku bertanggung jawab untuk project pemotretan model kami dengan salah satu artis dari negara ini. Sekitar dua minggu atau lebih, sembari menunggu dokumen perpanjangan izin tinggalku di Perancis,” jelas wanita itu.

Raut Jongin mendadak gelisah, lalu datar kembali. “Apa kau akan pergi ke Paris lagi?” Pertanyaan itu meluncur sangat terkendali.

Soojung mengangguk. “Tentu saja,” balasnya. Ia melihat arloji sekilas. “Tentu saja aku harus kembali. Well, paling tidak di sana aku punya tujuan.” Lanjut Soojung.

Jongin menghela napas. “Aku merindukanmu,” kata Jongin. Ekspresi pria itu tetap dingin, tidak melunak. “Aku masih mencintaimu Jung Soojung.” Kelakar Jongin, kali ini rautnya menghangat.

Jongin menunggu dengan sabar pendapat Soojung mengenai perasaannya. Ia tak peduli lagi soal kalimat opera sabun yang baru saja ia ungkapkan. Asal semua orang tahu, bahwa kosa kata Jongin tiba-tiba menipis. Ia hanya dapat memikirkan kata yang tepat untuk menggambarkan wanita itu adalah cinta dan rindu, tidak ada yang lainnya.

Lamat-lamat Soojung mengarahkan lensa netra pada pria yang dulu pernah menjadi satu-satunya. Seseorang yang dulu lebih berharga daripada hidup Soojung sendiri.

Tatapan itu disambut oleh Jongin. Jongin sangat sabar, mengamati pergantian raut lawan bicaranya. Aku hanya perlu menunggu beberapa detik, beberapa detik tidak berarti setelah melewatkan empat tahun, pikir Jongin.

Pria itu menelaah Soojung yang sedang membuka mulut, hendak berkata.

“Jongin, cinta dan rindumu… terima kasih sudah melakukan dua hal istimewa itu untukku.” Ujar Soojung.

Jongin belum menanggapi, pria itu yakin bahwa ucapan Soojung belum berhenti di sana.

“Tetapi, kau harus menghapusnya. Aku sudah melupakanmu.” Kata Soojung tenang dan dalam.

Jongin paham jika wanita itu akan menolak-wanitanya terlampau keras kepala. Namun, hatinya masih saja nyeri mendengarkan keengganan Soojung. Pria itu kemudian berkata sembari menyimpan emosi, “Jangan bercanda. Aku tidak mudah dibohongi. Kau tidak mungkin-“

Soojung memotong ucapan Jongin. “Lepaskan aku Kim Jongin. Aku hanya masa lalumu.” Tandas wanita itu kaku.

Jongin membuka bibir hendak menimpali, tetapi ia kalah cepat. “Aku sudah menikah, Kim Jongin.” Pengakuan Soojung melalui intonasi lembutnya, membuat Jongin terdiam.

Tertegun. Runtuh seketika.

Suara di dalam sana yang lebih dulu merespon. Brengsek, batin pria yang kini kehilangan alasan untuk hidup.

-oOo-

Masih mau jadi pembaca diam-diam?

Advertisements

133 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s