[C] The Three of Us

k4

Twelveblossom’s

Prev:

The Two of Us – The Three of Us: [A]  [B] 

Kepala Soojung pusing ditambah demam, gejala flu mungkin. Terlalu lelah dengan pekerjaannya di Seoul, mungkin juga efek dari penerbangan belasan jam yang dilakukannya kemarin belum usai. Wanita itu menggerutu saat mendengar bunyi bel apartemennya berkali-kali, membuat pening kepala semakin menjadi-jadi.

Soojung melirik jam dinding yang berada di kamar. “Tidak sopan bertamu ke rumah orang pukul 1 pagi.” Seloroh wanita itu.

Butuh perjuangan untuk menyeret kakinya ke depan pintu utama. Ia melihat layar kecil di samping pintu yang menghubungkan dengan kamera di luar apartemen. Soojung mengucek mata berkali-kali memastikan jika ia benar-benar waras.

Ada Kim Jongin di balik pintu. Nampaknya pria itu sedang mabuk.

“Kim Jongin kau gila! Bagaimana jika wartawan menangkapmu mabuk-mabukan begini?” tanya Soojung lantang, setelah memapah pria itu menuju ruang tamu.

Jongin yang setengah sadar hanya tersenyum. Kemeja putih pria itu  berantakan. Jongin memakai celana panjang kain berwana hitam dan sepatu kets kelabu.

Soojung segera membuka sepatu Jongin dan membaringkan pria itu ke sofa.

Jongin menatap Soojung muram. Cengiran sinting Jongin menghilang. “Aku mencintaimu, Jung Soojung. Tapi kau malah menyakitiku. Kau jahat.” Kata Jongin.

Soojung memutar bola mata, jengah. “Diskusi masalah hati sudah usai. Aku tidak mau membahas itu lagi.” Ucap Soojung sembari mengangkat kepala Jongin sedikit dari sofa kemudian menyelipkan bantal diantaranya.

“Manajermu yang baru benar-benar bodoh ya? Bagaimana bisa dia membiarkanmu mabuk sendirian?” tanya Soojung, ia menempati karpet tepat di samping Jongin yang sedang memandanginya menggunakan tatapan tolol.

Jongin tertawa nyaring sebagai tanggapan dari celoteh wanita itu. Namun ia langsung terdiam ketika Soojung menyela, “Jangan tertawa terlalu keras nanti Jungkook terbangun.” Omel wanita itu.

Jongin malah melanjutkan tawanya, tapi kali ini lebih pelan.

“Aku dulu menurut padamu karena kau menarik.” Pria itu mengakui sembari terbatuk. “Hal lain di luar sana begitu membosankan. Dulu menjadi penurut jauh lebih mengasyikkan karena ada kau.” Sambung Jongin.

Soojung tersenyum. Ia suka melihat Jongin yang mabuk, pria itu akan berubah menjadi sangat jujur.

“Lalu kau kemari naik apa?” tanyannya lagi.

Jongin mendekatkan parasnya pada Soojung. “Naik mobil.” Jawab pria itu kekanakan.

“Kau menyetir dengan kondisi mabuk. Kau bodoh ya?” Kali ini intonasi wanita itu meninggi.

Netra Jongin berkilat-kikat aneh. Dia menangis.

“Aku memang bodoh.” Ungkap pria berkulit tan itu. “Bodoh karena memercayai ucapanmu. Kau belum menikah.” Lanjut Jongin.

Soojung hendak mengeluarkan argumennya, namun berhenti saat pria itu mengusap pipinya.

“Suho yang bilang, dia membocorkan rahasiamu.” Jongin mengaku dengan suara amat pelan. “Anak laki-laki itu-dia mirip sekali dengaknku-dia putraku. Bodohnya aku tidak mengenali darah dagingku sendiri. Pantas saja darah ini berdesir sewaktu melihatnya.“ Pria itu melanjutkan suaranya sengau dan terbata.

Soojung diam, jemarinya membelai surai coklat madu milik Jongin. Ia tak ingin mengelak. Sesungguhnya, wanita itu terlalu sakit kepala untuk dapat berpikir.  Soojung hanya ingin mendengarkan.

“Kau wanita jahat Jung Soojung. Jungkook putraku, bukan? Kau jahat sekali.” Racau pria itu semakin lama memelan.

Soojung membiarkan ada jeda yang panjang di antara mereka. Membiarkan dirinya dapat menjernihkan situasi.

Wanita itu melamatkan pandangannya pada Jongin yang kini mulai jatuh tertidur. “Aku melakukan itu semua karena mencintaimu.” Bisik Soojung pelan.

“Tolong jangan mencintaiku dengan cara tolol seperti itu, Jung Soojoong.” Gumam Jongin dalam lelapnya.

Soojung menghela napas berat. Bagaimana jika ia mulai menyerah?

Apa boleh dirinya memiliki kehidupan seperti wanita lainnya?

Bisakah kita selesaikan cerita rumit ini sampai di sini?

Bagaimana jika ia memilih untuk kembali kepada prianya, kemudian menutup telinga akan argumen yang lainnya?

Bisakah ia menjadi egois, mencintai Jongin dengan cara buta dan tuli akan hal di luar prianya?

Entahlah, lebih baik-atau mungkin-aku menyerah saja dan jatuh ke dalam pelukan pria ini, batin Soojung.

Kemudian, wanita itu meletakkan kepalanya ke sofa yang sama dengan Jongin. Tertidur sembari terduduk.

“Jungkook, sayang. Jangan mengganggu ibumu.” Suara yang sangat Soojung kenali itu membagunkannya. Kelopak netra Soojung mulai mengerjap. Tubuhnya meregang membuat ranjang berderit ringan. Ditambah sentuhan telunjuk mungil yang menyentuh pipi-yang diketahui Soojung sebagai milik anakya.

“Mommy, wake up!” Seru anak Soojung, tepat di telinga. Hal itu membuat Soojung tersenyum, tidak ada dering jam mana pun yang dapat mengalahkan keahlian putranya dalam membangunkan.

“Jungkook, ibumu masih perlu tidur.” Kata Jongin yang suaranya tertangkap indra pendengaran wanita itu.

“Kenapa ibu tidur terus, Crong?” tanya Jungkook polos.

“Ibumu sedang demam, sayang.” Jelas Jongin.

Refleks Soojung memeriksa dahinya yang ternyata memang demam.

“Kita makan sereal dulu, oke?” Rayu Jongin-yang Soojung tahu bukan ditujukan untuknya, namun untuk putranya.

Soojung merasakan Jungkook mengiyakan, kemudian merelakan diri untuk digendong. Wanita itu benar-benar membuka mata saat kedua laki-laki yang paling berarti dalam hidupnya meninggalkan kamar tempatnya berbaring.

-oOo-

Sudah ya? Apa masih perlu Sequel lagi? Sepertinya perlu.

Advertisements

136 thoughts on “[C] The Three of Us

  1. Untung ada suho. Jadi Jongin engga salah paham deh. Btw, Jongin manis banget sama Jungkook. Jadi mau punya anak sama Jongin *eehh

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s