Vampire’s Requirement

Vampire's Series

Track List

Now Playing: Wolf-EXO

Prev: Vampire’s Relationship

“I can’t get enough of you. I’m in trouble.” –Wolf, EXO

WARNING! PG17

Aku mengangguk sebagai tanda mengerti wejangan mereka. Kakiku ikut beranjak saat mereka mulai melangkah menuju pintu keluar dari rumahku–maksudku kediaman Sehun.

“Sampai jumpa,” ucap salah satu dari yang tertua. Namanya Suho.

Yang paling tinggi dari kami, tersenyum lebar. “Jangan sering-sering membuat Sehun lelah. Kau harus bisa menahan ‘nafsu’.” Kelakar vampir yang bernama Chanyeol.

Aku mendengus sebagai jawaban.

Ada satu lagi, namanya Baekhyun. Tubuhnya mungil, suka melompat. Baekhyun lincah sekali. “Jangan khawatir sebentar lagi Sehun akan siuman.” Baekhyun menepuk bahuku.

Aku mengangguk, lalu mereka pergi begitu saja. Secepat angin.

Rumah ini terasa sangat besar dan senyap tanpa kehadiran Sehun.

Sehun masih ada, sih. Tapi dia pingsan.

Ini serius, ternyata vampir juga bisa pingsan. Kata Suho begini, “Dia terlalu sering menjadi pelampiasan dahagamu. Kekuatannya terkuras habis.” Ia seperti hendak memarahiku, tapi mengurungkannya dan kembali berkata. “Seharusnya hubungan kalian tidak satu arah. Bukan hanya kau saja yang berhak menadapatkan tetes darah dari pasanganmu, tapi Sehun juga. Kau menghisapnya setiap hari selama satu bulan ini. Ditambah lagi dia sama sekali tidak berburu karena harus menjagamu.” Butuh waktu lama agar aku dapat mengerti bahwa kelemahan Sehun adalah diriku.

Awalnya aku sungguh-sungguh tidak tahu. Aku pikir Sehun sangat kuat, selama ini dia bisa hidup dengan baik tanpa diriku. Jadi, aku kira dia baik-baik saja.

Baekhyun dan Chanyeol memperkuat dugaanku, mereka mengatakan jika Sehun memang yang paling kuat di antara vampir lain. “Sayangnya, Sehun tumbang juga karena wanita.” Kelakar keduanya tadi.

“Kau harus cepat sembuh.” Ucapku sembari mengusap surai kelabunya. Sehun bergeming di ranjang. “Aku merindukanmu, padahal baru satu hari kau membeku.” Lanjutku, kemudian mengecup pelipis Sehun.

“Aku juga merindukanmu.” Suara Sehun terdengar serak. Paras yang tadinya kosong, kini tersenyum. Sehun membuka kelopak mata. Menatapku. Tangannya meluncur untuk membelai kulit ini. “Hai,” sapanya.

Aku memeluknya saat Sehun bergerak untuk duduk. “Hai,” ucapan singkat terlontar begitu saja, sebab terlalu banyak kelegaan yang merayap di pikiranku.

Sehun membelai surai coklat milikku sembari  memasang wajah was-was. “Kau haus?” tanyanya.

“Tidak,” aku menjawab cepat. “Kenapa kau tidak memberitahu jika dirimu juga membutuhkan darahku?” Aku bertanya, ada nada marah terselip di sana.

“Aku sudah memberitahumu.” Ungkap vampir itu sembari menggeser duduknya, memperkecil jarak kami. “Awal kau berubah. Aku mengatakan jika, kita saling menginginkan nantinya.” Lanjut Sehun melakukan pembelaan.

“Tapi aku tidak mengerti. Maafkan aku.” Kataku penuh penyesalan. “Kalau begitu, kau harus cepat-cepat mengatasi dahagamu.” Aku segera menggigit tangan ini, memunculkan bercak merah yang segera kusodorkan pada Sehun.

Sehun menghindar. Ia mengernyit.

“Tidak,” tolaknya.

Aku merasa terhina. Apa aromaku tidak berefek banyak pada diri Sehun?

“Jangan merasa terluka. Aku sangat menginginkanmu, Nara. Terlampau ingin.” Sehun segera menjelaskan. “Tapi, akibat dari cairan itu akan dua kali lipat bila masuk ke dalam tubuhku.” Ungkap Sehun.

“Maksudmu?” Aku bertanya.

Sebelum menjawab, Sehun meraup parasnya dengan gemas. Seakan obrolan kami akan berakhir memalukan. “Jika darah kita sudah saling tertukar. Keinginanku bukan hanya mengakhiri dahaga. Namun, ada hal lain.” Pelan-pelan Sehun menjelaskan secara gamblang.

Aku tak langsung merespons. Tatapanku memindai raut Sehun yang tertegun. “Apa kau takut tidak bisa berhenti dan membuatku beku, begitu? Aku kuat, jangan khawatir.” Aku menghiburnya, berusaha memahami kegelisahan vampir pria itu.

Sehun tertawa. “Sudah kubilang bukan hanya masalah dahaga. Aku bisa menahannya berkali lipat lebih baik daripada dirimu,” kelakarnya.

“Lalu apa?” Desakku.

“Saat darah kita bercampur. Aku akan menginginkan segalanya darimu eksistensimu, cintamu, hidupmu, jiwamu, dan… tubuhmu,” kata pria itu pelan dan dalam.

Aku menahan napas. Memikirkannya saja sudah membuat perut ini tergelitik. Apa vampir juga merasakan malu? Oh yang benar saja.

“Jadi… Kita akan melakukan apa?” tanyaku memastikan.

Sehun mengeram sedikit kesal, kebanyakan gemas oleh sikap pura-pura tidak tahu yang kuperlihatkan. Pria itu–vampir–menarik tengkukku dengan kasar. Ia mencari, bibirnya menemukan.

Oh ciuman pertamaku sebagai vampir!

Ternyata, rasanya seperti ini.

Dingin dan eumm… lembab?

Sehun bernapas di bibir ini membuat segala bentuk keinginan untuk mengungkung dia selamanya, tercetus begitu saja.

Perlahan netraku menutup, melahap habis kelembutan yang ia tawarkan.

Dia milikku, cuma punyaku.

Nyatanya, penawaran Sehun akan kelembapan bibirnya tidak berlangsung lama. Pria itu mengakhiri tepat setelah aku membalas beberapa lumatan.

Sehun berdeham, ia menjauh dariku. “Jadi itu maksudku, ratusan kali lipat lebih mendalam dan… Err liar. Keinginanku pada tubuhmu,” kata Sehun, tatapannya mengarah pada jendela yang menghubungkan pada danau di depan hunian kami.

Aku tertawa melihat tingkahnya yang begitu manusiawi. Sehun berperilaku layaknya remaja belasan tahun yang sedang malu-malu tapi mau.

Tawaku membuat Sehun mencebik, “Hey, jangan tertawa!” Seru si vampir rupawan, intonasinya kesal.

Aku tahu Sehun tidak benar-benar dongkol. Ia hanya ingin menutupi rasa malunya. “Baiklah,” ucapku sembari menahan tawa. “Lalu, apa yang kau tunggu?” Aku melanjutkan.

Tatapan Sehun berpindah dengan cepat langsung terfokus pada diriku. “Maksudmu?”

“Ayo kita lakukan.”

“Gadis gila.” Ejek Sehun.

Aku mengecup pipinya. “Ternyata vampir juga bisa bersemu merah seperti ini. Lucu sekali.” Selorohku sembari membelai parasnya. “Terima kasih sudah memberiku kehidupan yang baru. Memberikan yang terbaik untukku. Mengorbankan dirimu dan menyukaiku. Sekarang, giliranku membalasnya. Aku punyamu. Jadi lakukan apa yang ingin kau lakukan pada tubuh ini.” Aku menjelaskan.

Sehun tersenyum. Ia mengecup jemariku. “Sudah jangan dipaksa, aku baik-baik saja. Setelah ini aku akan pergi berburu dan bertenaga kembali.” Pria itu berusaha menghibur.

Penghiburan yang penuh dengan kebohongan. Dari caranya duduk saja setiap makhluk hidup bisa tahu jika Sehun tersiksa.

Dasar keras kepala!

Apa harus aku yang memulainya duluan?

Walaupun aku bertransformasi menjadi vampir, namun diriku masih punya harga diri.

“Kau baik-baik saja?” Kucoba memastikan.

“Iya, Nara.”

Aku merubah raut menjadi begitu tersiksa, bukan akting sebenaranya. Entah mengapa, kecupan Sehun terlanjur mengisi setiap ruang di pikiranku. Ada suara lain di dalam sana yang menuntutku untuk meminta lebih. Seperti film hitam putih, sudut lain dalam benak ini menyuguhkan potongan gambar mengenai diriku dan pria itu. Mulai menyulut api yang sedari tadi belum menjalar.

Masa bodoh dengan harga diri.

Harga diri bisa dipikirkan nanti, setelah bara api ini pada dan tak menyabit sebagian dari logikaku.

“Tapi aku ingin melakukannya,” bisik bibirku tepat di indra pendengarannya.

Aku merasakan tubuh Sehun menegang. Raut datar, alisnya bertaut. Sehun sedang berpikir.

“Sehun, please.” Tubuhku beranjak menepel erat pada dirinya. Kemudian kupejamkan mata sejenak, memberi perintah naluriku untuk memimpin. Tak berselang lama aku merasakan diriku bergerak menindih pria itu. Mengecup rahangnya. “Tolong aku,” desahanku mulai mengalun, sembari mengigit bibir hingga anyir darah mengurai.

Sehun tidak melawan.

Artinya dia hendak menolak, namun tubuhnya ingin. Aku paham betul keadaannya.

Pasti tak berselang lama.

Tautanku pada dirinya akan membinasakan pertahanannya.

Geraman Sehun mengisi ruangan ketika bibir kami bertautan. Darah kami bertukar. Sehun mengulum bibirku kasar. Menghisapnya-cairan merah yang berasal dari tubuhku.

Sehun bergerak cepat memporak-porandakan apa yang ada di dalam sana. Membuatku melenguh hebat.

Aku melampiaskan dengan menarik surai kelabunya. Rasanya indah, menggairahkan, dan candu.

Sehun membalikkan posisi kami. Ia berada di atasku. Serantanan pria itu merobek kemeja putih kebesaran yang sedang kukenakan. Ia memberikan kecupan di sepanjang leherku.

Desahan itu meluncur begitu saja, saat Sehun menghunuskan taringnya pada leherku. Aku menengadah memperluas ruang untuknya. Ia memberikan tanda di sana kemudian mengecupnya kembali dengan lembut. Sehun mengulangi kegiatan panas itu berkali-kali, ia membuatku gila. Mau mati rasanya.

“Buka matamu Nara.” Sehun berbisik, suaranya berat dan seduktif.

Aku menuruti permintaannya, netra kami bertemu. Matanya terlihat teduh dan tak ada lagi siksaan di dalam sana.

“Sehun,” aku memanggilnya. Oh, aku benar-benar seperti gadis murahan. Bahkan caraku memanggil Sehun serupa rayuan. Belum cukup kegilaan yang kumulai, bibir ini meluncurkan kalimat lain. “Aku menginginkannya. Aku mohon.”

“Brengsek, Jung Nara. Tidak ada jalan kembali setelah kita melanjutkan ini,” seloroh Sehun sebelum menghujamku dengan sentuhan lain yang lebih membara daripada bara api.

Aku rela tak kembali. Toh aku sudah tersesat dan sama sekali enggan memikirkan jalan pulang. Karena tubuhku tak pernah dianggurkan. Banyak pekerjaan yang dilakukannya, mengecup, menggigit, mengeram, mendesah, dan melenguh.

Aku terlalu sibuk menangani Sehun dan gairahnya.

By the way, kalian tidak perlu tahu apa yang kami lakukan sampai puncaknya.

-oOo-

a/n: Saya ngakak setelah selesai nulis ini. Sehun konyol, pakai acara pingsan segala malu-maluin ah. Daripada Sehun versi vampir jadi lebih nista, saya sudahi cerita dengan tema vampir-alay-ini. HAHAHA.

Makasih sudah baca, kolom komentarnya di sini. Kalau gak mau berkomentar ya gakpapa, bebas (khusus project FF ini). ❤

Advertisements

One thought on “Vampire’s Requirement

Comments are closed.