Se Recontrer

1 se-recontrer

Poster Credit: Ken’s @ Indofanfictionsart

Track List

“You shined bright for a short time like lightening.” ―Thunder, EXO

Aku meletakkan tumpukkan belanja itu secara tergesa. Berunglang kali netraku memindai ponsel, menghitung menit yang tersisa.

“Mom, sudah ya. Aku ada janji 30 menit lagi,” ucapku separuh kesal.

Ritme tinggi itu berderai bersamaan dengan apel yang menggelinding dari kantong belanja.

“Shannon, apa kau ingin merusak buah-buahan ini?” Sindir wanita berusia awal 50 tahunan, tanpa memikirkan kegelisahan yang menyelimuti ucapanku. Aku segera memungut buah merah itu, kemudian menjejalkannya pada kantong belanja. Secepat kilat aku kabur dari dapur, sebelum petuah lain menusuk gendang telinga.

Tanganku hendak memutar engsel pintu ketika Oliv―ibuku, kembali berseru dari arah dapur. “Mau kemana?” tanyanya.

Aku menghembuskan napas keras-keras berharap ibuku mendengar. “Queen Street, Mom.” Jawabku sekilas sembari membuka pintu.

Oliv melongokkan kepalanya, tangan wanita itu mengacungkan spatula ke arahku. “Hati-hati di jalan,” ucapnya. Ia membasuh keringat dengan apron merahnya sebelum melanjutkan ucapan. “Bisa aku titip buah Kiwi?” Selorohnya yang langsung membuatku mencelos.

“Mom, kita baru saja belanja Kiwi sebanyak itu. Aku sudah muak dengan Kiwi. Aku pergi dulu. Bye, Mom.” Aku segera melesat ke balik pintu menuju halaman rumah, menolak segala argumen mengenai khasiat buah Kiwi dari Oliv.

Kakiku melangkah lebar-lebar menuju halte yang terletak beberapa blok dari kediamanku. Aku bersyukur tadi pagi memilih jins dan kaos bertuliskan ‘I Love Auckland’ sebagai material untuk membalut tubuh. Auckland sedang memasuki musim panas dan keringatku terus mengucur. Setidaknya kaos merah jambu ini dapat menyerap aroma badan yang dapat membuat orang muntah.

Sesampainya di Queen Street aku segera memasuki sebuah mini market, hanya sekedar meminjam toilet. Kupatutkan diri di depan kaca. Jemariku menyisir surai hitam yang begitu kusut dan berusaha menata paras yang tidak cantik. Aku sedikit menyesal karena lupa meminjam peralatan make up Mom.

“Memangnya kalau ada alat-alat itu, kau bisa apa Shannon?” tanyaku pada diri sendiri. “Kau wanita gua tolol yang tidak bisa berias. Gadis bodoh.” Aku melanjutkkan hujatan pada diriku.

Merasa tidak ada yang dapat diperbaiki lagi, aku menatap lamat pantulanku di cermin. Alis mata bertautan, kebingungam atas sikapku yang tiba-tiba bereaksi sepanik ini.

Memangnya, kenapa sekarang aku harus lebih cantik daripada sebelum-sebelumnya?

Oke, baiklah.

Andai saja, orang yang kutemui bukan pria itu, mungkin aku akan membiarkan tubuhku berantakan. Akan tetapi, aku tidak ingin memberikan persepsi padanya bahwa diriku berubah menjadi perempuan dekil yang tak tahu cara merawat diri.

Hah.

Aku sudah cukup muak dengan segala aspek yang membentuk lekuk tubuhku dan bentuk lain dari parasku. Well, tinggi badanku hanya 159 cm, jauh berbeda dengan teman-temanku yang menyerupai tiang berjalan. Wajahku apalagi, ada kesenjangan di antara diriku dan perempuan lain yang seusiaku. Parasku tidak kebarat-baratan, layaknya 80% orang yang tinggal di Auckland―ayahku keturunan Asia, tepatnya Korea Selatan dan Ibuku blesteran Auckland­ plus Jepang. Tentu saja, bukan masalah besar sebenarnya. Namun hormonku sedang berkembang pesat, menjadikan darah siapa yang mengalir di tubuhku menjadi hal pantas untuk dibahas.

Aku hanya ingin seragam seperti teman-temanku lainnya, bertubuh molek, surai pirang atau coklat, dan surai bergelombang cantik―tidak lurus khas gadis Asia.

Oh, sebenarnya banyak tetanggaku yang berasal dari berbagai negara dan ras. Tapi, tetap saja mereka berpenampilan sama. Mereka memiliki satu hal yang tak mungkin bisa kudapatkan, selama masih terkungkung dalam tubuh mungil ini dan ideologi primitif milik Oliv tetap menjadi konstitusi paling tinggi di rumah.

Okay, mereka―para wanita di tempat tinggalku memiliki lekuk tubuh yang seksi―baju super ketat―cara berdandan yang elegan. Penampilan yang hanya dapat kuimpikan―sambil berdoa di dalam bunga tidurku agar Oliv tak muncul sambil membawa gada kemudian mengomel-ngomel seperti monster.

Bahkan mimpi indah pun bertransformasi menjadi mengerikan.

Aku menyentakkan kepala, berusaha menghentikan imajinasi tolol. Setelah kesadaranku penuh, aku segera menyimpan baik-baik rutukan tidak penting itu di sudut pikiran yang paling usang. Selanjutnya, memerintahkan kaki ini untuk cepat-cepat merajut langkah kembali.

Sebenarnya, sore hari ini dijadwalkan pertemuan dengan teman lamaku. Kami tidak pernah berjumpa selama lima tahun. Entah kebetulan darimana, sewaktu registrasi pendaftaraan di Auckland University, aku melihat namanya di deretan daftar mahasiswa baru. Selang bebehari, aku menerima surel dari dirinya yang membuatku cukup terkejut. Beberapa kali berbincang melalui tulisan, ia memberikan nomor ponselnya―katanya agar lebih mudah bertukar kabar. Tiga hari lalu ia memintaku mengosongkan jadwal di akhir pekan. Temanku akan berkunjung ke downtown selama beberapa saat sebelum kembali ke North Island.

Terburu-buru aku menapaki jalan menuju Aotea Square, tempat pertemuan kami. Berulang kali diriku mengecek detik yang berjalan tanpa kompromi, berpacu bersamaku. Menghitung berapa menit keterlambatan yang kubuat.

Aotea Squere ialah taman terbesar di distrik utama Auckland. Lokasinya yang luas dan hijau dibelah oleh trotoar abu-abu yang biasa digunakan remaja bermain skateboard atau sepatu roda. Kursi-kursi kayu berjejer rapi di sepanjang taman bunga yang berhadapan langsung dengan siluet Auckland Library.

Aku memilih duduk di bangku taman dekat papan penunjuk jalan, agar mudah memberi arahan pada teman lamaku. Napas ini masih terengah-engah, walaupun diri ini berusaha mengaturnya.

Terlalu panik, mungkin?

Atau―entahlah―yang jelas aku tidak datang tepat waktu―kesan pertama yang buruk.

Aku terlambat lima menit dari waktu yang disepakati. Pandangan kuedarkan di sekitar bangku. Hanya ada tiga pasang kekasih sedang bercengkrama, beberapa orang yang sibuk melukis, dan seorang ibu bermain dengan kedua anaknya. Sudut taman yang aku pilih memang tak seramai bagian lainnya.

Dimana dia? Bagaimana kalau aku melewatinya dan tak mengenali wajahnya?

Lima tahun, waktu yang cukup membuat anak laki-laki berubah menjadi pria, bukan?

Decakan terdengar beberapa kali dari bibirku, tidak sabaran mengirimkan pesan singkat padanya daripada terus menduga. Aku sedang menunggu pesan balasan darinya, ketika tiba-tiba bahuku ditepuk ringan.

“Shan, senang bisa berte—”

“—Oh my god!” Ucapannya terpotong, kekagetanku. Aku terlonjak dan berbalik dengan cepat. Ponselku hampir jatuh, kalau saja ia tidak menangkapnya. “Anda siapa?” tanyaku masih dengan keterkejutan. Ada seorang pria atletis, memiliki bentuk mata, hidung, dan telinga yang membuatnya masuk dalam kategori tampan―sangat Asia―seksi dengan kulit tan. Seperti belum cukup menonjolkan kerupawanannya, pakaian yang membalut tubuh atletis itu terpasang tepat. Kaos hitam bertuliskan ‘Heartbroken Feedback Orchestra’, celana Levi’s biru tua, dan sepatu Adidas yang selaras dengan warna jaket hitamnya, berhasil melengkapi kesempurnaan penampilan si pria.

Paras pria itu berubah sedih. Namun tak berlangsung lama, kembali menampilkan cengiran lebar. “Shan, perkataanmu menyakitkan. Aku mengerti jika diriku berubah menjadi sangat tampan, tetapi bukan menjadi alasan untuk tidak mengenalikukan?” Seloroh pria yang sekarang menatapku lamat-lamat.

Seakan alat kejut menyentuh kulitku―netra coklat itu memberiku sepotong kenangan. Dia Kai Kim―teman lamaku.

“Mr. Kim, kau membuat jantungku hampir melorot dari tempatnya,” kataku, setelah menyadari idenstitasnya. Beberapa kali aku berusaha untuk mengingatkan mataku agar tidak terlalu lama menatapnya. Debaran jantung ini dapat kelewat antusias memberikan efek atas keindahan raut Kai.

Pria itu tertawa mendapati respons meriah dari diriku. “Shannon Lee, tubuhmu saja yang bertambah tinggi, tetapi kebiasaanmu tetap serupa.” Kai mengambil tempat di sampingku. “Aku menunggumu di pintu masuk Aotea Squere. Tadi aku memanggilmu, kau malah terus berjalan tanpa menoleh.” Selorohnya dengan nada kesal.

Mataku menatapnya menjalarkan kebingungan. Aku tak mendapati sosok jangkung Kai saat berjalan kemari. Bahkan tanda-tanda pria berjaket hitam dan mengenakan celanan jins biru juga lepas dari bidikan. “Aku tidak melihatmu, mungkin aku terlalu fokus berjalan,” belaku.

Kai tersenyum, “Bukan salahmu. Aku saja yang terlalu bisa mengenalimu dari jarak sejauh apa pun.”

“Memangnya aku sebesar itu sampai terlihat dari jarak bermeter-meter jauhnya?” Tanyaku sembari mencebik.

Temanku itu tertawa lagi. “Kau dinosaurus,” ucapnya asal.

“Maaf, aku terlambat dan tidak mengenalimu.” Aku mencoba membenahi kesalahanku. “Kau berubah sangat banyak. Bertambah tinggi dan―wow! Kau menjadi pria sekarang. Bukan lagi anak laki-laki ingusan yang menangis karena mengompol.” Kulanjutkan leluconku.

Derai tawa itu memasuki telingaku bagai lonceng kecil yang saling bertubrukan. Susah untuk dilupakan. Caranya tertawa masih sama. Matanya akan menyipit sedemikian rupa hingga membentuk bulan sabit yang mempesona. “Aku tidak suka dengan ingatanmu yang terlalu tajam itu,” ucapnya di tengah kekehan.

Aku melejitkan bahu, serampangan. “Bawaan dari lahir, tidak bisa dirubah.” Balasku tak mengindahkan.

Kai berdehem beberapa kali sebelum memintaku untuk menemaninya, “Shan, kau mau tidak melakukan Pizza Break denganku hari ini?”

Aku menyugar suraiku yang kemana-mana dibelai angin. “Pizza Break?” tanyaku, kebingungan.

Kai menggaruk tengkuknya. “Orang North Island menyebut Pizza Break sebagai sinonim dari ajakan berkencan.” Jelas pria itu, kemudian berusaha mencerna ekspresiku―sepertinya dia takut ditolak―gadis bodoh mana yang mampu menolaknya. “Ajakan berkencan antara sahabat,” Kai mengimbuhkan.

Aku tersenyum ringkas. “Boleh sebagai ganti reuni kita yang telah terlewat beberapa kali,” ujarku kemudian menonjok ringan bahunya.

“Aww,” pekiknya dibuat-buat, kemudian berdiri sembari merengkuh tanganku agar bisa berjalan bersisihan dengannya, berlatar belakang tawa kami yang berdenting ringan.

-oOo-

a/n:

  • Sebenarnya sudah pernah saya post di blog sebelah dengan cast dan beberapa hal yang berubah. Ini versi revisinya.
  • Terima kasih untuk posternya yang cantik ini. Akhirnya, cerita saya bisa punya poster :”).
  • Kotak komentar di sini.
Advertisements