Glück

tumblr_nm1ukkh8Bg1tmkhhxo3_500

Track List

“So lucky to have you. So lucky to be your love, I am.”―Lucky, EXO

Jarum pendek jam berhenti pada angka sembilan, sedangkan yang panjang berada di angka dua belas. Tidak ada suara gaduh di sana hanya ketukan sepatu manusia yang berlalu dan bunyi sekon berdetak. Hening.

Namanya juga perpustakaan, tentu saja hening.

Tak urung dengan manusia lain yang tengah beraktivitas―seperti membaca buku, menulis laporan, dan lain sebagainya―Jisoo malah mendengkur dengan kepala ditaruh di meja kayu. Gadis itu asyik berpetualang bersama bajak laut di awang-awang. Berbeda lagi dengan pria yang duduk di sebelah Jisoo, Do Kyungsoo sedang sibuk. Kyungsoo berkutat khusyuk dan parasnya tertimbun buku setebal bantal ditumpuk dua. Dari raut Kyungsoo ia tidak seberapa peduli dengan dengkuran gadis bermarga Kim yang amat berisik.

Kalau Jisoo bosan berada di perpustakan, lalu kenapa gadis itu masih di sini?

Begini penjelasannya.

Perpustakaan bukan tempat favorit Jisoo. Mood Jisoo langsung turun melihat rak buku yang berjejer rapi―tidak ada seninya terlalu tertata, begitu argumen si gadis. Ditambah lagi debu yang membalut buku-buku, membuat Jisoo tidak bisa berhenti bersin. Kesunyian perpustakaan mengajak Jisoo untuk menguap terus, menjadikan hasrat tidur Jisoo meluap―ayolah Jisoo capek terlelap.

Well, perpustakaan memang bukan kesukaan Jisoo. Akan tetapi, perpustakaan yang ada Kyungsoo-nya menjadi kesenangan Jisoo.

Tak hanya perpustakaan sih, bisa juga gerai kopi, kelas, kamar, ruang tamu―ugh! Pokoknya yang ada Kyungsoo-nya, titik.

Lain halnya dengan Kyungsoo. Perpustakaan jadi tempat yang kerap ia kunjungi. Mengingat ujian akhir sudah dimulai dan ia harus belajar. Kyungsoo menerima dengan lapang dada seberapa pun berdebunya buku-buku tebal. Pria itu juga sangat nyaman memindai rak yang tertata rapi, ia suka semua hal ditaruh pada tempatnya. Apalagi keheningan yang disuguhkan tempat luas di tengah kota Seoul yang bising.

Intinya Kyungsoo suka perpustakaan. Tapi, tidak dengan perpustakaan yang ada Jisoo-nya. Ruangan yang hening bisa jadi gegap gemita jika Jisoo berada di sana. Misalnya saja tadi, gadis itu sudah tersandung tiga kali kala membantunya mengambil buku, menimbulkan bunyi berdebum keras. ‘Aku mengantuk, mangkanya jatuh’ alasan itu yang diberikan Jisoo, padahal Jisoo lebih banyak tidurnya daripada bangunnya.  Belum lagi rengekkannya yang terus menguar seperti bayi.

Hah. Memikirkannya membuat Kyungsoo menghela napas dalam. Lelah.

Oh, ada satu yang terlewat! Jisoo menyanyikan beberapa album Girls Generation keras-keras―kata Jisoo, perpustakaan terlalu sepi dan ia bisa mati kalau terus-terusan begitu. Gadis aneh, dia kira sedang di tempat karaoke―imbuh benak Kyungsoo.

Memutar kembali kelakuan Jisoo membuat Kyungsoo pusing, refleks pria itu memijat kepala.

“Apa kamu sakit kepala?” tanya Jisoo. Netranya sudah membuka, namun kepalanya masih menelungkup di meja―menghadap Kyungsoo.

Kyungsoo hanya menggeleng. Matanya masih terfokus pada buku bacaan yang judulnya terlalu susah untuk diucapkan bibir Jisoo.

Jisoo meregangkan badan. Mulai terduduk dengan benar. Raut Jisoo kebingungan mendapati jaket hitam Kyungsoo bertengger manis di bahunya.

“Jaketnya jangan dilepas. Nanti kamu sakit.” Omel Kyungsoo, mendapati Jisoo hendak menanggalkan jaket yang sengaja ditambahkan pada tubuh gadis itu.

Jisoo cemberut. “Kan aku sudah pakai jaket.” Gadis itu menunjuk pakaiannya.

“Udaranya dingin, nanti kamu sakit. Sudah pakai saja jangan cerewet.” Ujar Kyungsoo, kali ini disertai tatapan tajam pada gadis di sebelahnya.

Jisoo tersenyum manis. “Hmm.. Udaranya sudah dingin.” Gadis itu bergumam, menarik ujung kemeja putih Kyungsoo. “Bagaimana kalau kita pulang?” Lanjut gadis itu.

Kyungsoo hanya menggeleng sebagai jawaban. Jari-jari pria itu sibuk mencatat pada buku tulis.

Jisoo menopang dagu dengan sebal. Surai coklat nan lurus milik gadis itu kusut, kaos biru mudanya juga lepek, dan celana jin Jisoo berkerut-kerut. Material yang melingkupi tubuh Jisoo berujar keras-keras jika gadis itu bosan setengah mati.

“Ayo pulang, lingkaran matamu sudah setebal eyeliner Baekhyun yang meluber.” Rayu Jisoo.

“Tidak mau, aku harus belajar.” Respons Kyungsoo enggan memuaskan Jisoo.

“Besok bisa belajar lagi. Kamu ‘kan pintar.” Jisoo mencoba peruntungan. Kali ini diimbuhi tatapan memelas.

Kyungsoo membalas sorot Jisoo sekilas, kemudian mencelos. “Kalau kubilang tidak berarti tidak.” Geram pria itu.

Hm. Jisoo sungguh-sunggu kesal dengan sikap keras kepala Kyungsoo. Jisoo hanya ingin mereka pulang, kemudian istirahat. Gadis itu tidak mau Kyungsoo begadang lalu sakit.

Kyungsoo tahu gadis di sebelahnya sedang melancarkan aksi diam bertajuk marah. Sebelum bertambah keruh kemudian Jisoo berpikir untuk meledakkan perpustakaan, maka Kyungsoo mulai menawarkan opsi lain. “Kamu pulang duluan saja, nanti aku menyusul.” Kata Kyungsoo kalem.

Jisoo mengigit bibir. “Kamu tega membiarkan aku pulang sendiri? Bagaimana kalau aku diculik?” Seru Jisoo keras-keras, membuat mereka mendapatkan tatapan sinis dari pengunjung lain.

Kyungsoo mendengus. Berusaha memelankan intonasi bicaranya. “Tidak ada yang sudi menculik gadis manja sepertimu. Penculikmu bakal takut tidak balik modal.” Sindir Kyungsoo.

Pipi Jisoo menggembung. Kalau saja Jisoo tidak ingat dia sedang berada di tempat umum, gadis berusia delapan belas tahun itu sudah menjambak surai hitam pria yang sebaya dengannya―Kyungsoo.

“Kamu itu sudah mengantuk, Do Kyungsoo. Aku juga ingin tidur. Tapi masalahnya, aku tidak bisa tidur―“

“―Kamu sudah tidur berjam-jam lamanya di bangku ini. Lihatlah meja kayu itu sampai basah―untung tidak banjir, kasihan mereka harus dapat air liurmu yang bau.” Potong Kyungsoo mengolok.

Jisoo melotot sembari menyilangkan tangan di depan dada. “Bisa tidak sih jangan memotong ucapanku? Dan jangan membahas soal kebiasanku saat tidur.” kelakar Jisoo marah. “Aku ‘kan cuma ingin kita pulang. Kamu susah sekali menurut. Kamu tidak pernah mengabulkan permintaanku!” Gerutu Jisoo.

Kyungsoo memutar bola mata, jengah. Ia menutup buku yang sedari tadi dibaca, membiarkan menjadi songgokan. “Aku besok ujian dan harus belajar. Kapan aku tidak menurutimu? Kapan aku tidak pernah mengabulkan permintaanmu? Kamu selalu merengek minta ini dan itu. Menyebalkan sekali, telingaku sakit mendengarmu menggerutu. Lebih baik kamu pulang, tidak usah di sini. Mengganggu saja.” Ucap Kyungsoo tanpa jeda, dalam satu tarikan napas. Segala tindak-tanduk pria itu menguarkan api yang meledak karena terlalu lama disimpan.

Bibir Jisoo terbuka, tidak menyangka jika Kyungsoo bakal berkata seperti itu. Pendengaran Jisoo mendefinisikan ucapan Kyungsoo sebagai penolakan yang menyakitkan hati. Jisoo sudah kelewat biasa dengan sikap dingin, tidak peka, dan omelan Kyungsoo… Namun penolakan Kyungsoo―Jisoo belum terbiasa.

Jisoo beranjak dari tempat duduk, sengaja menyentak agar timbul suara keras dari benda coklat itu. Kemudian serta merta, Jisoo menyampirkan tas ransel merah jambunya di bahu. Oh, tidak lupa melemparkan jaket Kyungsoo ke lantai.

Kyungsoo geram setengah mati mendapati tingkah Jisoo. Kyungsoo melotot marah, ditambah tekukkan wajah. Pria itu hendak protes, tetapi kalah cepat dengan gadis―yang amat sangat disukainya sampai membuatnya rela jungkir-balik dari Bumi ke Uranus.

Jisoo tidak mau kalah, ia balas melotot pada Kyungsoo―mata segaris Jisoo dilebarkan dengan semena-mena oleh pemiliknya. Baiklah, Jisoo menyukai Kyungsoo hingga ia rela berguling dari Bumi ke Neptunus! Akan tetapi, Kyungsoo menolaknya. Kyungsoo tidak tahu maksud baik dari segala rengekkannya. Kyungsoo tidak mengerti bagaimana gelisahnya Jisoo kalau sampai Kyungsoo kenapa-kenapa. Itu membuat Jisoo murka, sekaligus sedih.

“Aku pulang duluan. Kamu tidak usah mencariku, apalagi menangis kalau sampai aku diculik!” Ujar Jisoo, lalu melangkah lebar-lebar sambil menghentakkan kaki.

Kyungsoo merutuki kepergian gadisnya yang manja. Menalikan sepatu saja tidak bisa. Komentar Kyungsoo ketika melihat kepergian gadis itu dengan sepatu Adidas merah yang tali sepatunya tidak tersimpul. Ada persaan khawatir yang menggelayuti Kyungsoo. Ia cemas Jisoo terserimpet tali sepatu kemudian terjembab―okay, kekhawatiran Kyungsoo sama sekali tidak relevan dengan pertengkaran mereka.

“Katanya mau pulang duluan. Kenapa masih di sini?” tanya Kyungsoo pada gadis yang duduk bersila di tangga, tepat depan perpustakaan kota.

Si gadis yang diajak bicara, malah memalingkan wajah.

Tangan Kyungsoo mendekatkan gelas karton yang dibawa tangan kanannya ke pipi Jisoo.

“Aww, panas!” seru Jisoo kaget. Namun tak berselang lama, gadis itu kembali berseru tapi kali ini dengan nada gembira. “Wah, susu cokelat!” Tangan Jisoo refleks akan mengambil minuman yang disuguhkan Kyungsoo, tetapi tangan lainnya menampik―seakan mengingatkan kembali jika dirinya sedang marah pada Kyungsoo.

Kyungsoo tertawa renyah, tidak pundung mendapatkan penolakan dari Jisoo. Pria itu duduk di samping Jisoo sembari mengelap peluh. Ia berlari menggunakan tangga dari lantai lima perpustakaan. Serebrumnya berkali-kali memutar kejadian buruk yang dilakoni oleh Jisoo, tali sepatu si gadis, dan penculikan. Well, otak pria itu menelan dengan sempurna fantasi Jisoo soal penculikan. Padahal Kyungsoo tahu jika itu konyol.

Daripada Kyungsoo gila karena kekhawatiran yang berlebihan, lebih baik ia mengalah.

“Kenapa tidak jadi pulang?” Kyungsoo mengulang pertanyaannya, sambil menunduk untuk mengikatkan tali sepatu gadisnya.

Jisoo masih bergeming, menyamakan Kyungsoo dengan hantu yang tak perlu digubris.

Gadis itu sedikit tersentak sewaktu Kyungsoo meraih telapak tangan kirinya, menautkan jari-jari mereka kemudian memasukkan pada kantong jaket Kyungsoo.

“Maaf, sudah membuatmu tersinggung. Aku menarik ucapanku. Kalau kamu diculik, penculikmu bakal tidak mau mengembalikanmu. Mereka akan merasa senang menculikmu. Mangkanya, aku panik setengah mati sewaktu kamu berdiri dan pulang duluan. Takut kamu benar-benar diculik.” Aku Kyungsoo sambil menyodorkan gelas karton yang berisi susu coklat.

Kali ini Jisoo tak menolak minuman hangat itu, favorit Jisoo.

Kenapa?

Kalian sudah tahu alasannya―karena susu cokelat itu ada Kyungsoo-nya.

“Tidak ada bus jadi aku tidak bisa pulang.” Ucap Jisoo, setelah mengecap susu cokelat. “Aku tidak mau diculik. Aku takut kalau diculik, nanti tidak bisa bertemu kamu.” Gumam gadis itu, netranya menatap Kyungsoo.

Kyungsoo langsung menarik sudut bibir membentuk senyum manis, menjawab mata Jisoo. “Kalau begitu, ayo kuantar pulang.” Ajak pria itu, sembari berdiri. Merengkuh jemari Jisoo ke dalam gandengannya.

“Kenapa tidak dari tadi kamu mau diajak pulang. Seharusnya kita tidak perlu bertengkar.” Jisoo mencebik, berjalan di samping kekasihnya.

Kyungsoo mengusap puncak kepala Jisoo. “Habisnya kamu tadi benar-benar berisik, sayang. Jadinya aku kesal. Kepalaku pusing harus menghafal semua materi dan kamu malah tidur pulas.” Kata pria itu.

Jisoo terkikik. “Kamu iri sama aku? Karena tertidur?” tanya gadis itu main-main. Jisoo memainkan jari-jari Kyungsoo. “Nanti di bus kamu bisa tidur di bahuku, kok.” Lanjut Jisoo.

Mendengar ocehan Jisoo, Kyungsoo menghentikan langkahnya. Ia merubah posisi menjadi berhadapan dengan gadisnya. “Mana bisa aku tidur, kamu ‘kan berisik.” Kelakar Kyungsoo, alisnya bertautan. Pria itu mengimbuhkan kalimat lain. “Tumben kamu baik, biasanya tidak ada yang boleh tidur di bahumu.”

Jisoo menggaruk tengkuk, tingkah laku yang muncul ketika gadis itu salah tingkah. “Aku cuma ingin kamu merasa beruntung karena punya aku. Jadi kamu bisa menggunakan bahuku―mengandalkan diriku.” Ujar gadis itu sembari menepuk bahu Kyungsoo, plus semburat merah yang muncul di pipi.

Kyungsoo kembali tertawa nyaring. Sepertinya ia mulai lupa akan beban ujian esok hari. Malamnya akan menyenangkan.

Jisoo cemberut mendapati Kyungsoo yang tertawa. Jisoo hanya mencoba romantis. tapi Kyungsoo malah menertawainya.

Memamgnya Jisoo sedang melawak?

Atau wajah Jisoo seperti pelawak?

“Menyebalkan,” seloroh Jisoo. Ia melanjutkan langkah, meninggalkan Kyungsoo yang masih sibuk tertawa.

Kyungsoo buru-buru mengayunkan kaki. Ia mengejar Jisoo, lalu menarik tangan gadis itu. “Kamu meninggalkan aku lagi,” kata Kyungsoo.

“Aku ingin cepat pulang.” Sambar Jisoo dengan intonasi tinggi.

Kyungsoo tidak mengindahkan cebikan Jisoo. Pria itu memperkecil jarak yang terpaut. Kyungsoo sengaja menyisir surai Jisoo yang tertiup angin musim gugur. Kyungsoo menatap lamat-lamat netra Jisoo. “Terima kasih, sudah hadir dalam hidupku yang tenang dan menjadikannya lebih meriah.” Pria itu berucap sambil membelai semburat yang ada di pipi Jisoo. “Aku beruntung, menjadi kepunyaanmu.” Seloroh Kyungsoo.

Paras pria itu beranjak meniadakan spasi. Kyungsoo hendak mengecup gadisnya dan Jisoo tahu apa yang harus dia lakukan. Ngomong-ngomong Jisoo sudah berpengalaman menghadapi gerilya Kyungsoo, kenyataannya pria itu telah sepuluh kali mengecupnya di bibir―Ya, benar Jisoo menghitung dengan teliti. Jisoo hanya perlu memejamkan kelopak mata, menunggu kelembutan dan kelembaban Kyungsoo di bibirnya.

Lantaran menerima kecupan super manis. Jisoo merasakan sentilan pada kening. Kontan membuat gadis itu meringis. “Aduh!” protes Jisoo sambil membuka mata.

Kyungsoo menyeringai. “Kenapa kamu menutup mata seperti itu? Memangnya apa yang akan kita lakukan?” tanya Kyungsoo, menggoda Jisoo.

Jisoo menggoyangkan kaki. Malu setengah mati, sumpah!

Gadis itu bergumam panjang sekali, tidak berani membalas tatapan Kyungsoo. “Mataku kemasukan debu, mangkanya aku menutup mata.” Sergah Jisoo tergesa, mumpung ia punya keberanian untuk berbohong.

Kyungsoo hendak kembali menggoda kekasihnya yang kelewat salah tingkah, namun gadis itu sudah berlari meninggalkannya. Sayup-sayup Kyungsoo mendengar rutukan Jisoo yang berbunyi, “aduh memalukan. Dasar mesum, Kim Jisoo.” Lantas membuat Kyungsoo terkekeh sepanjang jalan.

-oOo-

a/n:

  • Aku sayang banget sama SooSoo couple ini <3. Nulis soal mereka bisa ringan sekali, kayak mereka ada di depanku terus lagi ngobrol terus aku yang jadi notulennya. Makin akur ya, Kyungsoo-Jisoo―jangan ngambek-ngambekkan lagi :D.
  • Kolom komentar di sini.
Advertisements