Princess and Her Nightmare

Princess and Her Nightmare

Track List

“It was a night where nothing special was going on.” ―EXO, The Star

“Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang putri di sebuah kerajaan bernama Maximillian. Putri itu memiliki surai coklat bergelombang yang berkilauan, paras cantik nan pucat serupa pualam, dan sayap kecil yang menandai dirinya separuh bidadari.

Sayangnya sang putri menginjak ganas konstitusi bangsanya. Putri anggun yang piawai bermain harpa itu meletakkan mahkota emasnya, abdikasi dari segala gemerlap yang dimilikinya.

Kredibilitas sang putri semakin tak diakui ketika ia melongokkan tubuh di antara langit yang paling ujung. Sekali lagi sang putri enggan mendengarkan peringatan dari para emban. Putri yang keras kepala, terlalu dalam melihat dunia. Lalu terjungkalah putri bersama mahkotanya.

Terbang?

Putri tidak bisa terbang―sayapnya kecil kalau kamu lupa.

Kilauan yang membalut sang putri dan mahkotanya, memancar hingga ke bumi kemudian disebut sebagai bintang jatuh.”

Junmyeon menutup dongengnya dengan helaan napas panjang. Ia agaknya enggan setuju perihal cerita tidak masuk akal―merusak kewarasan balita saja. Namun ia mengunci bibirnya agar tak protes keras-keras.

Junmyeon memang kurang suka, akan tetapi gadis cilik berusia empat tahun ini menaruh minat pada si buku dongeng. Buktinya si gadisLiv menantap Junmyeon dengan mata bulat tanpa berkedip.

“Tidurlah, sweetheart.” Ujar Junmyeon lembut sembari membelai surai hitam dan mengamati Liv yang sedang memeluk boneka beruang coklat.

Liv tersenyum manis, jenis lekukan bibir yang serupa dengan milik ibunya. “Kenapa Liv harus tidur sekarang, Dad? Ini baru jam sembilan malam?” tanya gadis cilik yang sedang memainkan telunjuk ayahnya.

Agar Daddy bisa segera pergi ke ranjang bersama ibumu dan membuatkan adik baru untukmu, batin Junmyeon menjawab amat jujur. “Biar Liv bisa cepat besar dan tinggi seperti Paman Jongin.” Umbar Junmyeon―berdusta, sengaja menambahkan nama paman favorit Liv.

Liv mengangguk semangat, termakan retorika ayahnya. “Baiklah, Liv mau tidur. Good night, Daddy. I love you.” Gumam si gadis kecil sambil bersembunyi di balik selimut bergambar kura-kura.

Junmyeon tersenyum, mengecup puncak kepala putrinya. “Selamat malam, sayang. Daddy, love you too.” Derai pria yang masih mengenakan setelan kemeja dan celana kain hitam sebelum beranjak dari kamar Liv.

“Jun, pelan-pelan.” Irene memperingatkan pria yang sedang menggerayangi lekuk lehernya.

Ada gerakan mencurigakan di gelapnya kamar mereka.

Junmyeon tersenyum―mengabaikan. Ia malah memindai pasangan hidupnya yang sangat berantakan. Surai hitam Irene kusut, tubuh yang berpeluh, dan gaun tidur yang tak tahu dimana Junmyeon melemparkannya tadi. Irene yang menjadi titik fokus memutar bola mata, jengah tapi mau.

Mau namun malu, daripada malu wanita itu memutuskan menarik kerah kemeja Junmyeon mencari tautan. Junmyeon pasrah sekali, mana bisa ia menolak?

Bukan kecupan manis ala remaja. Juga tidak masuk dalam kategori ciuman panas seperti film porno. Hanya lumatam ringan, sedikit memaksa, dan banyak lenguhan.

Junmyeon benar-benar hebat soal hal-hal ‘malam’. Dia menghapalkan teori dengan serebrumnya yang superior dan gerak motorik untuk mempraktekkan. Keselarasan Junmyeon membuat rumah tangganya harmonis. Urusan naluriah mereka berjalan fantastis.

Hm.

Mereka hampir sampai puncak ketika pintu kamar terbuka lebar, bunyi benturan hampir menjungkirkan Junmyeon dari posisinya.

“Daddy! Mommy!” Teriak Liv, setengah tersedu.

Irene segera mendorong jauh-jauh tubuh Junmyeon.

“Sayang, kenapa menangis?” tanya Irene lembut sembari sibuk meraih kemeja putih suaminya yang berada di samping tempat tidur. Buru-buru Irene memakainya, lalu serantanan turun dari ranjang―mengabaikan Junmyeon yang cemberut―plus mengumpat pelan.

“Nightmare,” ungkap Liv hampir tersedak air matanya.

Irene menggendong gadis kecilnya, mengelus lembut punggung Liv berusaha menenangkan. “Ada Mommy di sini, tidak ada lagi mimpi buruk.” Kata Irene, mengecup kelopak Liv.

Junmyeon yang sudah terbebas dari tingkah kekanakan telah memakai jubah tidur. Pria itu mendekati kedua perempuan pemilik hatinya. Berusaha berpikir waras.

“Princess Daddy yang paling cantik. Jangan menangis, sayang. Kalau menangis nanti―“

Ucapan Junmyeon menambah isak tangis Liv. Gadis kecil itu menatap Junmyeon takut-takut, kemudian mencelos―bersembunyi di bahu ibunya.

Junmyeon keheranan. Begitu pun dengan Irene. Liv biasanya langsung memilih berhambur ke gendongan Junmyeon daripada Irene.

“Liv marah pada Daddy?” tanya Junmyeon sedih.

Liv menggeleng.

“Lalu kenapa Liv tidak mau melihat Daddy?” Junmyeon berusaha medapatkan atensi dari gadisnya.

“Liv tidak mau jadi princess. Liv bermimpi soal princess yang Daddy ceritakan.” Ucap gadis kecil itu sambil sesenggukan.

Raut Irene berubah muram mendengar pengakuan putrinya. “Kau menceritakan soal hantu pada putrimu, Jun?” tanya Irene skeptis. Belum sempat Junmyeon menjawab, istrinya mengimbuhkan. “Aku tidak percaya kamu berbuat seperti itu, Jun. Jangan menakuti anakmu.” Irene geram.

Junmyeon memutar bola mata, “Tidak Irene. Aku bercerita soal bintang jatuh dan Princess Maximillian.” Jelas pria itu putus asa.

“Benar begitu, sayang?” Irene bertanya memastikan pada gadis yang berada di gendongannya.

Liv mengangguk. “Liv mimpi soal princess yang jatuh. Princess datang ke kamar Liv dengan gigi berlubang dan mata melotot. Katanya princess mau makan Liv. Liv takut.” Ia menceritakan mimpinya.

Junmyeon bernapas lega. “Sayang maaf. Lain kali tidak ada princess lagi ya. Daddy berjanji.” Ucap Junmyeon sembari membuka tangan lebar-lebar, hendak menggendong Liv.

Liv mulai mau melihat Junmyeon. Netranya berkedip, ada kantuk di sana. Junmyeon menunggu dengan sabar, berbuah baik saat Liv bergerak masuk dalam rengkuhannya.

“Baiklah sekarang kita kembali ke kamarmu. Daddy antar ya?” Rayu Junmyeon, mendengar sedu Liv menghilang.

“Huaaaa. Liv mau tidur sama Daddy dan Mommy saja.” Isakan Liv menjalar ke seluruh ruangan. “Ada princess jelek di kamar Liv. Liv tidak mau ke sana. Daddy jahat.” Rengek si gadis berpipi gembil yang nampaknya akan bertahan sepanjang malam.

Irene mengambil alih. “Liv tidur sama Mommy dan Daddy, sudah jangan menangis lagi ya, sayang. Daddy memang tidak peka.” Ulas Irene, merebut Liv dari gendongan Junmyeon.

Liv mengangguk semangat, menghentikan tangisnya.

“Bagaiaman dengan yang tadi? Kapan kita melanjutkannya, Darling?” Keluh Junmyeon saat Irene menidurkan Liv di ranjang mereka yang berantakan.

Setengah mengantuk Irene menjawab. “Lanjukan saja dengan dinding!” Serunya nyaring.

-oOo-

a/n:

  • Ini gagal banget. HAHAHA tolong yang di bawah umur jangan baca ya.
  • Salam kenal Liv keponakan Jongin, anak perempuan dari Junmyeon & Irene, dan tergila-gila sama Chanyeol si robot gara-gara kebanyakan kemakan cerita fantasi sebelum tidur dari Dad & Mom-nya.
  • Klik di sini untuk meninggalkan review.
  • Terima kasih <3.
Advertisements