Memoar

Memoar

Track List

“I want to turn back the time and go back to the beginning.” ―Run, EXO

-oOo-

Basah.

Hujan.

Kelabu.

Ayahnya telah pergi… selamanya. Tetapi, tidak ada satu tetes air mata yang jatuh. Setidaknya, ia enggan menangis. Hatinya ingin ikut tersedu, tapi logikanya tidak. Mungkin, ayah akan tertawa senang melihat putri satu-satunya enggan berduka. Ia akan mengacungkan dua jempol lalu mengatakan ‘kau hebat’.

Masih segar diingatannya bahwa ayahnya selalu mengajarkan agar menyimpan air mata sebagai harta paling berharga. Tidak ada air mata, maka hidupmu akan bahagia. Lagi pula, gadis itu hanya sedikit memiliki kenangan manis dengan sang ayah. Kira-kira tiga belas tahun lalu ia terakhir kali bertemu ayah. Menurut gadis itu, ayah adalah pria berengsek yang gila kerja, membuang ia dan ibunya ke keranjang sampah—Amerika. Ada ingatan menyakitkan yang masih bercokol, sewaktu ayah membuat ibu menangis di bandara, meminnta ibu pergi dan mengingatkan untuk jangan pernah kembali. Padahal ibu sudah berlutut di hadapan ayah, namun pria itu malah memalingkan muka dan memintanya enyah.

Ibu memenuhi semua keinginan ayah. Perihal ayah yang tak mau tahu rupa si anak gadisnya.

Ibu gadis itu tersiksa batin. Setiap hari si gadis menjadi pelipur lara. Sang ibu mengatakan bahwa, mereka akan baik-baik saja tanpa ayah atau tidak memperbolehkan putrinya mengeluarkan kata-kata kotor untuk mengumpat ayah. Tetapi, ibunya tidak pernah melupakan suaminya. Ibu selalu marah ketika anak gadisnya menghardik foto ayah yang masih tergantung di ruang tamu rumah baru mereka.

Hidup ibu dan gadis itu luar biasa baik jika tidak menerima kabar dari negara kelahirannya. Waktu itu mereka sedang menyirami tanaman lalu si paman datang. Membawa kabar yang langsung membuat ibu pingsan. Gadis itu tidak peduli kabar buruk dari paman. Ia membenci ayah yang membuangnya. Gadis itu sudah berjanji untuk tidak kembali kepada ayah atau pergi ke negara yang ia kutuk sedari kecil. Rasa marah pada ayah sudah terlalu menumpuk. Apalagi, pria berengsek itu memisahkan ibunya dengan anak laki-laki yang dilabeli orang sebagai saudara kembar si gadis.

Akan tetapi, ibu memaksa dengan berlinang air mata. Mereka harus kembali untuk ayah. Mereka harus mengirimkan seribu cinta untuk penghormatan terakhir pada pria itu.

Jika bukan karena ibu.. gadis itu tidak akan sudi.

Berat hati, tapi gadis itu setuju. Demi ibu, bukan ayah.

Dan.. disinilah gadis itu sekarang.

Kembali ke negara kelahirannya, Korea Selatan.

Mengenakan pakaian serba hitam. Di tengah hujan. Kesedihan mendominasi atmosfir. Latar belakang suara tangisan ibu yang sudah beralun entah berapa lama, tertuju pada makam ayah.

Gadis itu menatap datar makam ayahnya, sama sekali tidak tertaik.

Pria tua itu membuangnya dan sekarang ia harus menangis untuknya?

Yang benar saja. Itu tidak akan pernah terjadi.

“Lula kau baik-baik saja?” Sebuah pertanyaan menyadarkan si gadis dari lamunan yang dimulainya karena rasa bosan mendengar orang tersedu.

Lula menatap wanita seumuran ibunya yang ia kenali sebagai adik perempuan ayah, bisa dibilang bibinya. Terakhir kali Lula bertemu bibi pada saat liburan musim panas di umurnya empat tahun. Lula canggung, di mata gadis itu bibinya seperti orang asing yang baru bertemu di jalan, lalu tiba-tiba menanyakan apa dia baik-baik saja.

“Tidak apa-apa, Bibi Tif.” Jawab Lula kaku.

“Syukurlah, ibumu sangat terpukul. Lebih baik kita membawanya pulang.” Kata bibi sebelum ia berlalu ke arah ibu yang sedang menangis di pelukan Luhan—saudara kembar Lula.

Baiklah, ibunya lebih memilih menghambur ke pria itu daripada Lula. Membuat gadis itu cemburu. Mungkin ibu terlalu rindu pada Luhan, pikir Lula menghibur diri.

Hari ini setelah tiga belas tahun meninggalkan rumah masa kecilnya, Lula kembali masuk ke dalam kenangan. Rumah keluarga bahagia mereka yang melekat diingatan Lula. Bangunan yang sangat dirindukan gadis itu jauh di lubuk hatinya. Aroma rumah enggan berubah. Perabotan tak bergeser. Foto-foto di rumah juga tidak hilang. Masih ada gambar Luhan dan Lula yang duduk memakan es krim dengan cengiran lebar. Foto pernikahan ayah dan ibu yang bahagia. Bahkan, foto Lula yang mencekik Luhan sampai menangis.

Tidak ada yang mengganti setiap benda mati di rumah ini. Hanya orang-orangnya yang berubah, seperti ayah yang sudah tidak ada dan Luhan yang tumbuh menjadi pria tinggi dan menawan, jauh dari cengeng lagi.

Lalu?

Jika, kehidupan mereka sempurna… Mengapa ayah membuang Lula dan Ibu?

Apa ayah tidak cukup bahagia dengan keluarga mereka?

Bagaimana ayah bisa menjalani kehidupan tanpa Ibu dan Lula?

Itu tetap menjadi teka-teki yang tidak tahu kapan terpecahkan.

“Kalau ingin beristirahat, kau tahu di mana kamarmu bukan?” Ucap Luhan sambil menepuk bahu Lula. Gadis itu sedang mengelus patung tanah liat hasil karyanya sewaktu sekolah dasar yang masih terpajang di ruang tamu.

Lula menepis tangan Luhan, ia merasa asing dengan saudaranya. Sebenarnya, tidak tepat untuk membenci Luhan. Tapi, hanya perasaan iri yang mendominasi. Gadis itu sangat iri, mengapa Luhan memiliki kesempatan tinggal bersama ayah sementara Lula dan ibunya dibuang?

“Tidak, aku ingin menemani ibu.” Jawab Lula dingin, bibirnya bergerak tipis.

Luhan tersenyum. “Sayang sekali, ibu sudah masuk kamar dan tertidur. Jadi jangan ganggu ibu.” Tidak ada nada sakit hati serta tertolak dalam suara Luhan.

“Ah ya, Lula pastikan kau mengumpulkan tenaga untuk mendengarkan surat wasiat ayah.” Sambung Luhan sebelum berlalu pergi. Lula mengernyit. Wasiat ayah? Memangnya aku peduli, sahut Lula dalam hati.

Luhan pergi meninggalkan Lula yang masih terpekur di ruang tamu. Tanpa menunggu respon saudarinya. Tidak ada pilihan lain, gadis itu melangkah ke kamar yang ia tempati sewaktu umurnya tujuh tahun, daripada harus bertemu dengan orang asing lain.

Hati Lula seakan melorot hingga ke dasar tubuhnya saat membuka pintu itu. Kamarnya berubah menjadi serba putih, tidak merah muda seperti dulu. Warna favorit Lula memang berganti dari merah muda menjadi putih sejak ia menginjak remaja.

Tetapi, foto-fotonya bersama ayah masih ada. Barang-barang hadiah ayah yang ia jejerkan lalu berlabelkan ‘Hadiah Ayah’ dulu jumlahnya ada tujuh, sekarang ada dua puluh hadiah. Ketiga belas hadiah masih terbungkus kertas kado warna putih.

Ranjang yang dulu hanya cukup untuk anak umur tujuh tahun, sekarang berganti dengan ranjang besar. Di dekat ranjangnya terdapat meja kecil yang memang sudah ada sejak dulu. Meja itu biasanya digunakan ayahnya untuk memberikan susu vanilla setiap pagi, cokelat saat Lula cemberut, dan hadiah Natal. Ada album berukuran A3 yang bertengger manis di meja kecil itu.

Lula meraih album itu, kemudian duduk di ranjang barunya. Ia membuka halaman pertama ada judul yang ditulis tangan oleh ayahnya, Putriku Lula.

Halaman berikutnya berisi potret dirinya. Satu minggu setelah kepindahan Lula ke Amerika. Ada gambar gadis berambut hitam kusut dengan mata bengkak sedang digandeng seorang wanita. Lula ingat foto itu diambil pamannya ketika Lula akan menuju ke sekolah baru.

Lembar berikutnya juga foto-foto Lula. Potret ketika gadis itu tertawa, cemberut, menangis, dan mogok makan. Sebagian foto memang Lula menyadari ketika ibu atau paman yang memotret, tetapi sebagian besar gadis itu tidak tahu-menahu. Anakku jatuh cinta, ia tidak mengatakan pada Jinri—Ibu Lula, tulisan itu dibarengi dengan foto Lula yang sedang berkencan. Lula masih sangat ingat kencan pertamanya dengan Kris, pria keturunan China-Kanada yang berakhir mengenaskan. Cinta monyet―tidak serius.

Ada banyak foto yang menunggu untuk dipindai, namun jari-jari Lula enggan membuka halaman selanjutnya. Ia takut persepsi buruknya pada ayah berubah seiring terbukanya halaman-halaman potret lain. Lula hendak menaruh album itu pada sisi paling usang lemarinya saat Luhan memasuki kamar.

Luhan duduk tanpa basa-basi di samping Lula. “Aku telah berjanji pada ayah untuk menyimpan rahasia ini seumur hidup dan melupakannya. Namun, hal itu tidak akan adil baginya atau pun dirimu.” Ujar Luhan, mengisi keheningan.

Paras Lula meragu. Ia hanya diam sebab tahu jika penjelasan Luhan tak berakhir sampai di sana.

Luhan menjelaskan koaran yang ia mulai. “Kau pasti membenci ayah, saudaraku. Aku pun juga seperti itu, ketika ayah memisahkan diriku dari ibu dan kau. Ayah berniat meniadakan alasan paling kuat yang menjadikan dirinya berperilaku seperti itu. Seiring waktu dan aku yang tumbuh dewasa, penyebab semuanya terkuak dengan tidak sengaja. Panjang ceritanya, tetapi bisa disarikan dalam satu baris. Kita bukan anak ayah.” Kelakar Luhan yang menjadikan kalimat terakhirnya menusuk ego Lula.

“Jangan konyol,” dengus Lula tidak terima. “Ayah memang tidak pernah memasukkan diriku sebagai putrinya hanya ada kau.” Lanjut Lula, ia menatap Luhan dengan pandangan terluka yang kentara.

Luhan membalas tatapan saudarinya, sorot berani nan mendominasi terkoarkan. “Jangan menyela penjelasanku. Ibu menjalin hubungan dengan pria lain, ia tidak pernah benar-benar mencintai ayah. Kita bukan darah daging ayah―”

“―tidak mungkin, jangan bicara omong kosong!” Seru Lula memotong ucapan Luhan.

Pria itu menarik tangan Lula yang hendak beranjak. “Dengarkan penjelasanku, aku mohon. Demi ayah, aku tidak ingin kesalah pahaman ini berlanjut hingga akhir.” Luhan memohon untuk atensi saudarinya.

Ia merasakan isakan Lula mulai menguar, namun tetap melanjutkan. “Ayah tidak ingin kita membenci ibu. Ayah menyayangi ibu dan kita, akan tetapi ia masih terbalut dengan harga diri seorang pria. Ia tak ingin melihat ibu―ayah muak pada ibu―tetapi, terlalu khawatir jika meninggalkan ibu terbuang sendirian. Ayah meminta ibu untuk membawamu karena aku sakit-sakitan dan butuh pengobatan. Ayah khawatir apabila ibu tidak sanggup merawatku.” Penjelasan Luhan menguap begitu saja bersama tangisan Lula.

“Aku tidak percaya padamu, Luhan. Kau pembohong. Kau sama saja dengan ayah.” Pekik Lula dalam derai air matanya.

Luhan memberikan lembar dokumen yang sedari tadi dibawanya. “Baca ini baik-baik, bukti DNA kita yang tidak sama dengan ayah.” Kata Luhan penuh kesabaran.

Lula menerimanya, kemudian membaca sekilas. Gadis itu terpaku. “Ayah seharusnya tidak melakukan ini. Bagaimana aku bisa membenci orang yang salah? Kenapa tidak ada yang memberitahuku mengenai hal ini.” Ujar Lula, rautnya menyelancarkan kesedihan pada saudara kembarnya.

“Ayah tidak ingin kita membenci ibu yang mengkhianati keluarganya. Ia tak ingin wanita yang ia cintai sampai napas terakhirnya menanggung rasa bersalah dan hinaan. Ayah menerima kebencian yang seharusnya ditujukan pada ibu.” Jawab Luhan sembari menenangkan saudaranya dengan pelukan hangat.

“Aku ingin bertemu ayah, Luhan. Kenapa ayah tidak memberiku kesempatan untuk mencintainya sebesar yang ia lakukan pada kita? Kenapa ayah membiarkan aku mengutuknya? Kenapa ayah membiarkan aku hidup dengan wanita jalang seperti ibu? Kenapa―”

Isakan Lula terpotong dengan tepukan lembut pria itu pada punggung saudarinya. “Jangan melakukan kebencian yang sama Lula. Kita tidak pernah bisa memutar waktu kemudian kembali pada masa lalu. Kita tidak perlu membenci siapa pun. Ayah ingin kita memaafkan dan mencintai ibu―sama seperti caranya―menjaga ibu dengan sepenuh hati.” Ungkap Luhan.

“Apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya?” tanya Lula retoris. “Aku tak bisa bertemu ayah pada masa ini.” Lanjut gadis itu.

Luhan menarik sudut bibir. “Waktu memang tidak bisa kita putar kembali, kemudian menghadirkan kehidupan ayah. Akan tetapi, kebencian dapat diperbaiki dengan cinta. Kita jaga ibu sama-sama di sini, kembalilah tinggal di rumah kita.” Luhan berkata menutup kesengauan suara lawan bicaranya.

Kebencian yang berlebihan hanya meninggalkan luka, jika kau mendapati fakta rasa bencimu ditujukan pada arah yang salah. Batin Lula berkelakar bersamaan dengan anggukan tanda persetujuan atas permintaan saudaranya.

Ayah aku berhasil mengembalikan keluarga kita, seperti keinginanmu yang tak pernah kau sampaikan sebab kalah oleh egomu. Pikiran Luhan bergumam.

-oOo-

a/n:

Cerita ini sudah tersimpan di draft sejak satu tahun lalu dan sewaktu saya buka folder ‘Tulisan Buangan’ menemukan ini. Malah tergerak untuk melanjutkan dengan alur yang sangat berbeda dengan pemikiran awal. Sebenarnya ini awal mula saya menulis Men In Black dari satu tahun lalu dengan OC saya namanya Lula pacar Kris yang udah pernah debut di cerita saya yang judulnya Rindu (berbulan-bulan/hampir satu tahun yang lalu)

Saya milih tema keluarga pada cerita ini karena lumayan bosan dengan romance antara pria dan wanita. Semoga ada yang berhasil baca hingga akhir hehehe.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca. Jika ingin memberikan review untuk cerita ini, silahkan klik di sini.

Advertisements