Vampire’s Love Story

Vampire's Series

Track List

“The one that I had inside my head only you.” ―Heart Attack, EXO

Twilight!AU

Prev: Vampire’s RelationshipVampire’s Requirement

-oOo-

Kecanggungan mengungkung kedua vampir itu. Mereka duduk berdampingan, namun lebih memilih kesenyapan. Satu-satunya perkara yang membuat mereka bungkam ialah percintaan yang seminggu lalu dilakukan. Sebenarnya, tak ada yang perlu diungkit. Toh, mereka sama-sama suka. Apalagi yang perlu dicemaskan?

Eum.

Nara yang paling gelisah. Harga dirinya terus melambung ingin diakui. Ia malu setengah mati akan kelakuannya saat di ranjang. Bukankah, seorang wanita tak boleh terlalu agresif? Well, dia vampir sekarang―tapi tetap saja―rasa malunya sudah membara, menunggu merayap untuk membakar. Ia malu dan enggan dijuluki sebagai vampir murahan.

Nara ragu perbedaan ‘murahan’ atau ‘kemahalan’ versi manusia dan vampir serupa atau tidak. Pastinya, Nara tidak ingin Sehun memandangnya sebelah mata. Nara suka Sehun, gadis itu tidak rela kelihatan buruk di netra Sehun.

Selain itu, kegelisahan Nara bersumber pada dahaganya yang mulai meneyerang. Nara berusaha menghindari Sehun dan aromanya. Ia takut tubuhnya bergerak tidak terkendali ketika tatapan mereka berbenturan.

Argumen yang berbeda tercetus oleh pemikiran Sehun. Sikap diam Sehun merupakan dampak dari keengganan Nara berinteraksi. Sehun memilih memberikan ruang pada gadis itu untuk sendiri. Naluri Sehun menyatakan bahwa Nara menyesali kegiatan bercinta yang mereka lakukan. Ada rasa khawatir yang mencuat, pria itu takut Nara akan kabur dari Sehun. Pemikiran, bodoh. Tapi sumpah, Sehun rindu akan Nara.

Daripada Sehun ditenggelamkan oleh ketidakpastian, maka pria itu meminta Nara menemuinya di beranda rumah. Sehun beralasan jika matahari tenggelam di sana amat cantik, ia ingin Nara menemaninya menunggu si matahari menghilang.

Nara tidak menolak, tentu saja. Matahari tenggelam merupakan kesukaannya. Jadi, jangan salahkan jika kedua lensa Nara tertuju pada eloknya langit sore.

“Nara, maaf.” Ujar Sehun. Ia bersandar pada dinding di sebelah Nara yang sedang mengagumi semburat oranye di sana.

Gadis yang memiliki surai coklat madu itu mengernyitkan alis. “Maaf untuk apa?” tanyanya, penasaran.

Sehun mengamati Nara yang masih tidak mau memandangnya. Gadis itu mengenakan celan jins, kaos kebesaran berwarna biru tua, dan bertelanjang kaki. Sangat cantik, lebih cantik daripada kanvas langit. “Soal memaksamu bercinta denganku.” Gumam pria itu.

“Oh, soal itu. Kau tidak perlu minta maaf, Sehun.”

“Aku bersalah, Nara.”

“Tidak.” Nara mengelak.

“Aku memaksamu dan tidak seharusnya―“

“―Jangan konyol Sehun. Aku juga menginginkannya. Aku menikmatinya, kau seharunya tahu itu.” Potong Nara kesal, parasnya berhadapan dengan Sehun. “Cukup membahas hal itu, sangat memalukan. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlalu… Err, agresif?” Lanjut Nara.

Sehun tersenyum. Ia menghela napas lega―walaupun paru-parunya telah lama menghilang, namun kebiasaan itu tetap melekat. “Seperti katamu, tidak ada yang perlu dimaafkan, Nara.” Kelakar Sehun, menarik tangan gadis itu agar mendekat. “Aku suka vampir agresif.” Ucap Sehun.

Nara merengkuh jari-jari Sehun sembari memindai pria itu dalam balutan pakaian serba hitam, melekat sempurna pada tubuhnya. Sehun sangat tampan, apalagi jika ditelusuri menggunakan indera penglihatan yang tak bercela. Telunjuk Nara bergerak menyentuh surai kelabu Sehun yang bergoyang tertiup angin. Gadis itu tersenyum, geli.

“Ternyata rasa rinduku terlalu besar daripada harga diriku.” Aku Nara.

Sehun meraih jari si gadis kemudian mengecupnya. “Aku sudah lupa apa itu harga diri, sejak bertemu denganmu.” Sehun terkekeh. “Kau haus.” Lanjutnya, mengamati kegusaran sorot Nara.

Nara mengangguk. “Iya, tapi mengingat kembali perkataan Suho saat kau pingsan membuatku bisa mengendalikannya selama beberapa saat.” Kelakar gadis itu.

Sehun mengernyitkan alis. “Memangnya dia berkata apa?” tanya Sehun ingin tahu.

“Soal aku yang tidak boleh meminta minum terlalu sering.”

Sehun mendengus. “Konyol, seperti dia tak pernah jatuh cinta saja.” Jawaban Sehun membuat kebingungan baru muncul di raut si gadis. “Pasangan Suho, mereka bertemu tidak sengaja―sesama vampir, namanya Irene. Irene vampir pemburu karena ia tidak pernah merasa puas sampai gadis itu bertemu dengan Suho. Suho membeku hampir satu bulan gara-gara terlalu baik hati pada pasangannya. Ia membuat kami panik.” Jelas Sehun, mencoba mengurangi benang menjadi jawaban.

“Lucu sekali. Apa semua vampir seperti itu?”

“Iya, Nara.” Sehun menjawab pendek.

Nara terkekeh. “Selalu punya kisah cinta. Lalu, bagaimana dengan yang lain? Seperti Baekhyun dan Chanyeol?” Keingintahuan gadis itu menggerakkan pada percakapan lebih dalam.

Sehun tersenyum menyisir surai Nara. “Kau sudah bertemu dengan dua vampir aneh itu ternyata.” Ungkap si pria, kemudian melanjutkan. “Baekhyun belum memiliki pasangan, dia terlalu dingin pada wanita. Sedangkan Chanyeol, baru saja mendapatkan Liv sebagai vampir. Chanyeol tergila-gila pada Liv sejak gadis itu balita―sudah kubilang ini akan jadi cerita abnormal.”

“Balita, apa maksudmu?” Nara bertanya ada kengerian di sana, gadis itu membayangkan Chanyeol menjadi vampir pedofil.

Sehun mengerling. “Liv masih berusia tiga tahun sewaktu Chanyeol membawanya pada kami. Chanyeol sedang berburu, lalu menemukan mobil yang ringsek jatuh ke jurang. Ia menyelamatkan Liv, membesarkan gadis itu, kemudian jatuh cinta padanya. Dulu semasa Liv di fase manusia, Chanyeol jarang sekali tinggal di hutan ini. Chanyeol lebih sering berbaur dengan manusia untuk menemani Liv, membiarkan Liv berinteraksi dengan yang lainnya. Jangan tanya aku bagaimana cara Chanyeol bertahan, mungkin efek dari ketertarikan pada pasangan absolud. Kasih seorang vampir tidak beralasan, vampir dapat menjadi apa saja yang kasihnya perlukan.” Perkataan Sehun ditutup dengan kecupan lembut pada pipi kanan Nara.

Nara meringsek kepelukan prianya. Membenamkan diri untuk mendapatkan aroma kehidupannya. “Aku tidak menyangka Chanyeol memiliki cerita cinta yang pelik. Wajahnya selalu tersenyum, aku kira hidupnya biasa dan menyenangkan.” Nara bergumam.

“Dia serupa idiot, namun kenyataannya tidak. Chanyeol sangat bijaksana apabila membicarakan segala hal mengenai Liv.” Balas Sehun.

“Kemudian, bagaimana cerita cintamu?” tanya Nara kembali menengadah untuk menatap lawan bicaranya.

Sehun melejitkan bahu. “Ceritaku besok, kemarin, dan lusa adalah kau.” Seloroh pria itu yang membuat Nara tidak puas.

“Jangan merayu, cepat ceritakan. Siapa gadis yang pernah mengisi hati kosongmu itu sebelum diriku?”

Sehun mengeratkan pelukannya pada Nara. “Gadis itu ialah dirimu versi manusia.” Sehun tak menyerah.

“Baiklah, bagaimana kronologisnya hingga kau bisa jatuh cinta padaku?” Nara memutar pertanyaan, memaksa Sehun bicara.

Sehun menghela napas kesar, enggan. “Aku bertemu denganmu saat menjenguk Chanyeol dan Liv, ingin memastikan keadaan mereka. Kau dulu teman Liv yang sedang berkunjung ke apartemen mereka. Aku menyelamatkanmu dari…” Sehun tidak meneruskan ucapannya. Ia bergeming.

“Kau menyelamatkan diriku dari apa?” Nara tak sabar.

Sehun enggan langsung menjawab. “Penjahat. Ia merusak tubuh manusiamu. Aku sendiri tidak menyangka jika dirimu adalah pasanganku. Dorongan mencintai itu menjalar secara naluriah.” Kata pria itu pada akhirnya.

“Kau mengubahku menjadi vampir setelah itu?”

Sehun menggeleng. “Aku membawamu pada Yixing. Dia menyembuhkanmu. Yixing memiliki kemampuan untuk itu. Aku merawatmu dan kau tidak pernah bertanya soal asal-usulku, semuanya baik saat penjahat itu mulai kembali mencarimu dan Liv. Sekali lagi kau diambang kematian. Kau memohon untuk menjadi sama sepertiku.”

Nara mulai menyimpulkan, hatinya terenyuh menatap raut penyesalan pada Sehun. “Jadi, kau membuatku jadi vampir karena permintaanku?” tanyanya.

“Tidak, menjadi manusia jauh lebih baik daripada vampir. Akan tetapi, satu-satunya cara agar kau tidak terluka dan melindungimu dari kejaran mereka ialah membuatmu bertransformasi menjadi sama sepertiku.” Sehun menyeringai. “Paling tidak kau dapat mencabik.” Lolong pria itu geram.

“Aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana bisa diriku yang dulu menjadi bulan-bulanan mafia atau semacamnya.” Nara memutar bola mata, jengah dan prihatin atas masa lalunya.

Sehun tertawa. “Itu akibat dari rasa ingin tahu yang besar dari dirimu dan Liv.”

Nara memukul ringan bahu Sehun. “Apa aku bisa bertemu Liv? Bagaimana keadaannya?”

“Liv baru saja bertransformasi dan dia masih belum sadar. Kalau saja Liv tidak melahirkan bayi Chanyeol, mungkin gadis itu akan tetap menjadi manusia.” Ungkap Sehun, ada kekesalan dalam intonasinya. “Chanyeol memang bodoh, mudah terprovokasi dengan rayuan gadisnya itu.” Lanjut Sehun.

Mata Nara membulat mendengar ucapan Sehun. “Apa vampir memiliki peluang untuk punya anak secara biologis?”

“Liv masih manusia sewaktu mengandung dan melahirkan. Anak perempuan mereka setengah vampir, sangat cantik seperti ibunya.” Seloroh Sehun.

Nara mendapati pujian Sehun untuk Liv sebagai rasa suka. “Kau pernah menyukai Liv?” Nadanya waspada.

Sehun mengangguk. “Persepsi kita mengenai rasa suka berbeda. Aku menyukai Liv, dia keluarga. Kami semua menyayangi Liv, ia serupa dengan adik termuda kami.”

Nara bergumam tanda mengerti. “Berapa jumlah anggota keluargamu?”

Sehun membelai surai Nara yang mulai kusut. “Keseluruhannya ada 13 vampir―termasuk Liv. Setiap vampir dari keluarga kami memiliki kemampuan.” Jelas Sehun. “Kemampuanku mendatangkan, mengatur, menaklukkan angin atau semua yang berada di udara dapat kukendalikan.” Sehun mengimbuhkan.

Nara mengangguk paham, berusaha mencerna keterangan yang diberikan oleh prianya. Hal itu menjadi sesuatu yang baru bagi Nara dan membingungkan. Ingatan manusianya hanya samar-samar, sedangkan pengetahuan mengenai dunia barunya dangkal. Namun, ada satu pemikiran yang sedari tadi bergelayutan menunggu untuk ditangkap.

“Sebenarnya, aku tidak percaya jika vampir hanya memiliki satu kisah cinta dalam eksistensinya.” Kelakar Nara, sedikit berhati-hati.

Sehun memutar bola matanya, mulai menerka topik yang akan Nara gelontorkan selanjutnya.

Nara masih bersikukuh dengan opininya. “Tidak ada satu pun vampir wanita yang menunjukkan ketertarikan padamu? Keluarga kalian memiliki kekuatan yang tentunya hanya dimiliki sebagian vampir―ingatan manusiaku menyatakan, sesuatu yang berbeda akan menarik minat yang lain.” Gadis itu berkata sembari menatap netra Sehun, menunggu kejujuran dari pria itu.

Sehun membalas pandangan gadisnya dengan lembut. “Ada, salah satu saudari Irene tertarik padaku.” Aku Sehun, nadanya menginformasikan seakan hal itu bukan masalah penting.

“Apa dia seorang vampir pemburu?” tanya Nara, suaranya tercekat. Gadis itu benar-benar tak menyangkan bahwa di luar sana ada seorang vampir wanita yang menjadi saingannya.

“Iya―”

“―Apa dia cantik?”

Sehun tersenyum berusaha menenangkan Nara yang berada di pelukannya. “Karakteristik utama kita adalah rupawan. Mungkin manusia akan berpikir dia cantik, tetapi di mataku dia biasa saja, serupa yang lain.”

“Kalian telah melakukan apa saja. Sehun?”

Lantara menjawab bibir pria itu malah beranjak menelusuri rahang gadisnya. Kecupan memabukkan sengaja ia berikan agar dapat menetralisir kecemburuan Nara. “Kami mencoba bertukar darah.” Sehun merasakan tubuh Nara menegang. “Tidak Nara―kami tidak bercinta, hanya kecupan biasa. Itu pun akibat dari percobaan kecil yang dilakukan Suho, ia berpendapat bahwa teman Irene bisa saja pasangan absoludku.” Jelas Sehun.

“Dan ternyata bukan,” balas Nara―lega.

“Hmm.” Gumam Sehun sembari melanjutkan kecupan pada sudut bibir gadisnya. “Rautmu itu lucu sekali jika sedang cemburu.” Seloroh Sehun di bibir Nara.

Nara melengos, menghentikan tautan. “Aku tidak sedang cemburu,” gerutu gadis itu.

Sehun tertawa. “Tapi, terlihat jelas.” Sehun kembali menarik tengkuk pasangannya.

“Tidak, Sehun. Aku hanya penasaran.” Ujar nara sebelum terpenjara dalam tautan yang lain.

Sehun melepaskan kecupannya, hanya sekedar untuk mengoarkan ejekkan. “Ada banyak hal yang mendorong keingintahuan seseorang, salah satunya ialah perasaan terancam, cinta, cem―”

“―Oh hentikan!” Seru Nara, berusaha melepaskan diri dari kungkungan prianya. “Aku memang sedikit―banyak cemburu, tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya. Terasa sangat naluriah.” Ucap si gadis memotong ejekan Sehun.

“Jung Nara dengar, tidak ada yang perlu kau khawatirkan dan jangan pernah merasa terancam. Satu-satunya hal yang mengisi pikiran, eksistensi, dan jiwaku yang telah rusak ini adalah dirimu. Tidak ada yang dapat menandingimu, Nara.” Kata Sehun ketika Nara menghentak-hentakkan kaki meninggalkan dirinya untuk memasuki rumah kayu.

Nara terus melenggang, pura-pura tak menghiraukan ungkapan pria itu. Namun pada akhirnya ia berbalik juga. “Sehun, cepat masuk. Aku sangat haus!” Seru Nara, menurunkan tingkat gengsinya pada titik terendah.

Sehun berlari kecil menuju gadisnya sembari tertawa―menang.

-oOo-

a/n:

  • Gak nyangka seri vampir ini bakal lanjut hahahaha.
  • Selamat kamu sudah berhasil membaca hingga akhir seri vampir ini dan semoga kamu baik-baik saja setelahnya.
  • Tinggalkan jejak kamu di sini ya, siapa tahu dengan itu seri ini bakal ada lanjutannya lagi.

Have a nice day!

Advertisements

One thought on “Vampire’s Love Story

Comments are closed.