Vampire’s Diary: Olivia Park

vampires diary

Track List

“If we’re together, I won’t be afraid.”―El Dorado, EXO

Atensi Chanyeol terfokus pada manusia di hadapannya. Satu-satunya manusia yang ia kenal dekat dan menyerupai dunianya, kehidupannyaeksistensi. Manusia yang memiliki kepala batuagaknya dibuktikan dengan keseringan si manusia untuk berkecimpung dalam mara bahaya.

Lihatlah sekarang bagaimana si manusia pemberani dan tolol itu berhadapan dengan makhluk penghisap darah yang sedang dalam keadaan berburu, tanpa rasa terancam sedikit pun. Mungkin urat syaraf takut si manusia sudah putus atau semacamnya.

Asal si manusia tahu!

Hanya ada Chanyeol dan si manusia di hutan ini, apabila pria itu lepas kendali tak kan ada yang sudi untuk mengulurkan tangan. Nampaknya, kenyataan itu tidak lantas membuat gentar si manusia―ia malah mengeluarkan cengiran manis plus angkuh yang menjadi ciri khas si manusia berjenis kelamin perempuan itu.

“Liv,” geram Chanyeol sembari berusaha tak menghamburmenerjang leher jenjang Liv yang begitu membangkitkan gairah. Gadis itu enggan paham bahwa, aromanya beribu kali lipat lebih memabukkan di indera penciuman Chanyeol daripada manusia yang lainnya.

Ketidak acuhan itu membuat Liv merajut langkah mendekati si vampir yang begitu defensif. Pudarnya langit menjadi malam tidak menghentikan keberaniannya, justru mendorong Liv untuk semakin bertingkah. “Halo, Park Chanyeol. Kamu berburu lama sekali, aku jadi merindukanmu.” Celoteh Liv seakan mereka sedang membicarakan perkiraan cuaca cerah dengan riang gembira.

Berkebalikan dengan Chanyeol yang menganggap kehadiran Liv sebagai mala petaka dan kondisi yang amat darurat. “Siapa yang membawamu ke mari?” tanya Chanyeol lebih terdengar seperti desis, nyalinya menciut untuk berkata lantangmembuatnya harus membuka bibir terlalu lebar, merasakan aroma si gadis menguaria belum memiliki kekuatan setangguh itu.

“Sehun,” balas si gadis bersurai seputih susu. “Dan rasa rinduku yang sudah tidak terbendung.” Lanjutnya, jari-jarinya hampir meraih rahang Chanyeol, akan tetapi ditepis begitu saja oleh pria itu.

Chanyeol mendesis, gigi taringnya yang berukuran sedikit lebih panjang dan tajam daripada seharusnya, sengaja ia pamerkan. Chanyeol memiliki niat mulia untuk menakuti Liv agar dia mau bertobat serta menyadari betapa bahayanya posisi keduanya.

Bahaya yang pertama, Chanyeol dapat membunuh si gadis berusia tak lebih dari delapan belas tahun itu, apabila nalurinya tetap nekat untuk menyeduh darah Liv. Well, walaupun Liv adalah pasangannya, tetapi tetap saja wujud Liv masih berupa manusia sangat rentan untuk diremukkan.

Bahaya kedua, jika Chanyeol sampai membunuh si gadis, maka secara serta merta ia juga membinasakan dirinya sendiri. Sebut saja Chanyeol vampir paling melankolis sealam semesta, tapi sumpah! Pria itu tidak dapat meramalkan bagaimana kehidupannya tanpa Liv.

Bahaya ketiga, Liv ialah perayu ulungLiv akan dengan mudah mewujudkan kedua bahaya yang sebelumnya dibicarakan.

Amatilah, bagaimana bisa paras anggun nan angkuh Liv bertransformasi menjadi sangat manja dan memelas, sekarang.

Chanyeol sudah berulang kali mendapatkan raut seperti itu, berulang kali pula ia berusaha memperkokoh dinding pertahan. Hingga pikiran Chanyeol pun dengan pasti dapat meramalkan langkah selanjutnya si gadis.

Benar saja ‘kan!

Bibir gadis itu mulai membuka untuk berucap. “Kamu tahu ‘kan kalau geraman, desisan, dan wajahmu yang sangar saat berburu itu tidak dapat menakutiku.” Liv lalu melanjutkan sembari melejitkan bahu. “Selama ada kamu, aku tidak akan takut dengan apa pun. Yeah, walaupun kamu menyebut dirimu monster penghisap darah, bagiku kamu tetap Chanyeol yang suka sekali menonton Patrick dan Mr. Crab bersamaku setiap sore sambil mengais sisa Nutella di stoples. Eumsatu lagi wajahmu tidak menyeramkan Park Chanyeoltetap kelihatan idiot dan konyol. Kuharap kamu tidak tersinggung, tapi beneran deh untuk ukuran vampirkamu terlalu menggemaskan.” Liv mengomel panjang dan lebar membuat Chanyeol terperangah.

Berulang kali benak Chanyeol mengulang soal Patrick plus Mr. Crab. stoples Nutella, dan parasnya yang terlalu menggemaskan―sial!―Chanyeol mengumpat.

Ups! Ternyata Liv tidak ingin membuang kesempatanmenyadari Chanyeol yang kehilangan kewarasan karena ucapannya yang asal, membuat Liv beranjak untuk berjinjit kemudian mengecup bibir Chanyeol singkat.

“Aku menang untuk yang ke seratus lima kali,” seloroh si gadis sembari menjulurkan lidahmengejek.

Sungguh manusia paling tak bisa bertoleransi si Liv ini. Ia enggan memindai bagaimana dampak dari sentuhan fisik yang baru saja Liv lakukan pada Chanyeolsi vampir melankolis. Jari-jari Chanyeol terkepal, hingga buku-bukunya memutih agar lebih terkendali.

Chanyeol benar-benar kelihatan murka kali inimurka yang menggemaskan, sihLiv tidak takut malah ia tertawa manja.

“Olivia Park!” Serunya marah, geram, memelas, dan pasrah pada gadis yang telah meninggalkannyaberlari untuk menghindari ceramah Chanyeol mengenai bahayanya mencium vampir yang sedang berburu.

Aku tidak takut pada apa pun―kecuali hilangnya eksistensi Chanyeol… dan eum… omelan Chanyeol juga, sih. Batin Liv berkelakar sambil terengah, mengambil langkah seribu.

-oOo-

a/n:

  • Jadi, teman-teman yang telah berhasil membaca hingga habis cerita ini, selamat! Hahaha. Terungkaplah siapa nama lengkap si Liv yang fix jadi pasangan Chanyeol di blog ini. Benar! Olivia Park, disingkat jadi Liv. Soalnya kalau dipanggil Oli atau Via kesannya enggak banget. Jadi cukup Liv aja.
  • Gak tau kenapa kalau nulis soal Chanyeol dan Liv bisa cepet apalagi di Vampire’s Diary ini atau di Robotic Series.
  • Yah, sudah berbasa-basinya, apabila ingin meninggalkan review silahkan di klik pada project.

Advertisements