Cafe Con Leche

Cafe

Track List

“I taste you and I drink you.” ―Overdose, EXO

Deteriorasi enggan menyentuh Casa de Correos yang terbangun sejak tahun 1776. Sepasang netra yang terbalut warna abu-abu masih bisa menyaksikan dengan gamang sudut memoriam. Alun-alun kota tak kunjung kehilangan penggemarnya. Ukiran antik juga tetap bertengger tidak bergeser pun benderang matahari mulai meredup.

Sementara matanya meminda ujung selatan Puerta de Sol dengan menembus kaca, tangannya menyangga dagu. Sedangkan, serebrumnya memutar masa lalu.

Tiga tahun silam, dirinya yang dulu juga terduduk di sini. Lantaran mengamati House of The Post Office serupa sekarang, ia malah terfakur di samping El Oso y El Madroño yang menjadi lambang Kota Madrid. Kala itu dirinya kehabisan kesadaran sebab tautan pasangannya yang enggan beranjak.

Ada gelitik familiar yang menjalar syarafnya. Ia masih bisa merasakan bekas sentuhan yang mulai layu dilindas waktu. Dirinya sadar jika tubuhnya merindu, sungguhan.

“Cafe Con Leche,” kelakar pelayan wanita yang menyajikan Coffe Latte di meja―menyela lamunannya. Ia mengangguk, menyelipkan senyum ringkas sebagai ungkapan terima kasih.

Hanya ada geming yang panjang, menyadari komposisi dari minumannya. Terkandung sepertiga espresso dan dua pertiga susu plus foam setebal 5 mm. Bukan salah satu racikan favoritnya, namun cerita di dalamnya menjadi kesenangannya.

Apabila dalam keadaan normal ia akan lebih memilih Macchiato yang getir. Akan tetapi, kesenduannya enggan berkolerasi. Tubuhnya ingin pemiliknya beristirahat sejenak lalu melupakan―agaknya tak berhasil sebab dia terlalu keras kepala.

Perlahan ia menyeduh Cafe Con Leche yang masih mengepulkan asap. Setiap kecapan mengulurkan adegan lain yang tersisip. Rasa yang tertinggal di indera pengecapnya, menjadikan paras wanita yang lama tak ia jumpai terwujud semakin nyata.

Perseptifnya masih utuh ketika isi cangkirnya tinggal seperempat. Membuat monolog beralun mengisi kepalanya.

“Madrid jadi lokasi yang pas untuk bulan madu.” 

“Itu ‘kan tempat dimana kita pertama kali bertemu.”

Bagai genta angin yang bersiulan dan berbenturan, terpatri baik nada tawa ringan dari si gadis dalam kenangan ketika mengakhiri argumen.

Ia rindu.

Rindu wanginya, campuran antara parfum dan aroma alami tubuh si gadis.

Rindu surai kemilau yang melambai terkena sepoi angin.

Rindu lekuk sudut bibir itu.

Rindu… segala pikiran cerdas si gadis dan kegemaran akan Cafe Con Leche.

Cafe Con Leche membuatnya semakin rindu. Lantas menjadi obat rindu. Menyeduh racikan kopi itu, layaknya menyicip si gadis menggunakan bibirnya. Menyelami kehadiran dan meneguk kembali sisa-sisa kenangan.

“Chen?” Sapa pria yang langsung ia pahami sebagai kenalan lamanya.

Dia berdiri untuk menyambut uluran tangan. “Kris, tidak mengira bertemu denganmu di sini.” Dia berujar.

Lantaran beraut riang, Kris menunjukkan kemurungan. “Chen, aku ikut berduka atas Cand.” Kelakar Kris, menyebutkan nama si gadis yang selalu muncul dalam kepedihan.

Dia tersenyum simpul berusaha kuat. Sementara nalarnya menuju memori lain pada calon mempelainya yang berpeluh darah akibat insiden tabrak lari, tepat sehari sebelum pernikahannya. Mengakhiri kehidupan si gadis, merenggut bahagia pasangannya, dan lapisan mimpi bercampur cinta.

Membuat janji, tetap menjadi janji.

Mengakibatkan dia harus tersedu sendirian, di dampingi Cafe Con Leche dan Puerta de Sol sebagai latar.

Sendirian.

-oOo-

  • Review? Klik di sini.
Advertisements