Vampire’s Diary: [1] The Half Blood Vampire

vampires diary

Tracklist

Twilight!AU

“There’s no need to have a map as a guide, the heart will find directions.” ―Black Pearl, EXO

Sue Park bukan gadis biasa. Tubuhnya setara dengan remaja berusia tujuh belas tahun di umur kelahirannya yang menginjak empat tahun. Selaras dengan pertumbuhan yang terpacu semakin cepat, pikiran Sue juga berkembang sealur raganya. Kondisi abnormal yang dijalani Sue, bukan tanpa alasan. Sue separuh vampir.

Kulit Sue yang keras, dingin, halus menyerupai pualam―peluru pun enggan menembusnya, turun secara genetik dari ayahnya―vampir. Darah dan jantung yang berpacu menimbulkan rona merah pada kehidupan si gadis, diwarisinya dari si ibu yang dulu pernah menjadi manusia.

Sue menikmati dirinya berinteraksi sebagai manusia. Gadis itu bahkan bersekolah serta duduk di sekolah menengah atas, jangan tanyakan bagaimana bisa dokumen kelahirannya dimanipulasi―rekening ayah Sue berisi lebih dari cukup uang untuk memalsukan segalanya, termasuk identitas Sue.

Sue juga nyaman menjalani sebagian dirinya yang haus darah. Sue lebih suka meneguk darah manusia daripada cairan merah hewan atau makanan. Tubuh Sue akan bugar jika ia menghabiskan beberapa kantong darah sekaligus. Akan tetapi, kebiasaan gadis kecil itu tak mendapatkan persetujuan dari sang ibu.

Seperti sekarang, ketika Sue mengganti sarapan roti bakarnya menjadi seduhan pada cangkir putih yang berisi golongan darah O. Liv―Ibu Sue yang tampak berusia delapan belas tahun serta lebih dikenal sebagai kakak perempuan Sue daripada ibunya oleh tetangga, mengamati gadis itu sembari cemberut.

“Kebiasaanmu ini akan bertahan sampai kapan gadis nakal?” tanya Liv ada kegusaran sebagai bumbu.

Sue menatap ibunya melalui netra hitam yang serupa dengan milik si ayah. “Daripada Mom harus dipanggil kepala sekolah sebab aku mengoyak leher teman sekelasku, mending aku sarapan dengan layak. Benar ‘kan, Daddy?” Sue menunjukan pertanyaan pada pria tinggi besar yang sedang sibuk membaca koran.

Pria yang duduk di samping kiri Liv itu mengeluarkan cengiran. Ia menutup koran, kemudian mengepalkan tangan yang diangsurkan pada anak perempuannya. Mereka ber-high five seakan mengejek kekhawatiran Liv.

“Terus manjakan saja dia, Park Chanyeol.” Gerutu Liv.

Sue terkekeh menatap kekesalan pada raut ibunya. Gadis itu beranjak berdiri dari tempatnya, lalu melangkah menuju Liv. “Mom, percayalah. Aku bisa mengendalikan diri dan aku tidak akan membantai distrik kita selama―well, ada bank donor darah.” Kelakar Sue diakhiri dengan kecupan pada pipi ibunya.

“Aku harus pergi ke sekolah, sampai jumpa.” Sue kembali berucap sebelum meninggalkan ruang makan, kali ini ia mendaratkan kecupan pada pipi ayahnya.

Liv memindai kepergian Sue. Ia menghembuskan napas berat. Paru-parunya telah lama terbakar, namun kebiasaannya akan itu sukar untuk lenyap. Semua hal mengenai Sue menjadi kecemasan yang nyata bagi Liv. Tahun demi tahun yang dilalui oleh keluarga kecilnya ini menjadi kejutan berbeda setiap sekon yang terlewati.

Chanyeol menyadari kegelisahan Liv. Ia mengelus pelan bahu pasangannya itu dengan lembut. “Kau bisa berbagi kegunndahanmu.” Bisik Chanyeol.

Liv menatap Chanyeol. “Sudah satu minggu ini Sue menghabiskan lebih dari sepuluh hingga dua puluh kantong darah setiap harinya, Park Chanyeol.” Jemari wanita itu menggenggam tangan Chanyeol, berusaha menyalurkan kegelisahannya. “Kebutuhannya akan darah manusia semakin bertambah dan dia tidak pernah merasa puas. Bagaimana ini?” Lanjut Liv.

Chanyeol mengecup punggung tangan Liv sebelum menjawab. “Kau dulu juga seperti itu, awal mula dirimu bertransformasi.” Ujar Chanyeol.

Lantaran tenang, ucapan teman eksistensinya itu malah membuatnya kelabakan. “Iya, aku memang seperti itu. Tetapi, dulu aku memilikimu. Darahmu membuatku dapat mengontrol semuanya. Sedangkan Sue, aku ragu jika ia akan memiliki pasangan. Sue setengah vampir, Chanyeol. Aku takut jika ia jatuh cinta pada manusia. Lalu, bagaimana dengan kegemarannya menghabiskan darah?” Liv berkata.

“Kita jadikan saja manusia itu sebagai salah satu dari kita.”

Raut Liv menguarkan kesedihan. “Aku tidak ingin putriku menjadi pembunuh, seperti diriku.” Vokal Liv yang terakhir itulah yang membuat rahang Chanyeol mengeras, pria itu segera mengungkung wanitanya ke dalam pelukan.

Chanyeol berusaha menghapus kenangan dan merobek halaman kotor dari eksistensi Liv. Pikiran Chanyeol berputar, lalu berhenti pada satu arah. Jalan yang akan menyelesaikan masalah tanpa melukai siapa pun. “Tak ada pilihan lain, kita harus kembali―mereka pasti menyediakan jawaban atas permasalahan kita.” Ungkap Chanyeol yang disertai anggukan setuju oleh Olivia Park.

-oOo-

a/n:

  • Selamat datang Sue, akhirnya kamu masuk dalam klan vampir ini. Hehehe. Tentunya kalian sudah tahu ‘kan arah dari cerita ini mau dikemanakan?
  • Review? Klik di sini.
Advertisements