Thousand Wishes

Wishes

Track List

“I’ll tell you a thousand wishes, you can make them come true.” —Lady Luck, EXO

Namanya Kim Jisoo, gadis manis yang acap kali mengepang surainya. Tidak terlalu tinggi hanya sebahu Kyungsoo, itulah sebabnya Jisoo sering terkena serangan ‘Jepit Ketek’ dari pria itu. Jisoo tak perlu mengeluh, bibir merah jambunya lebih suka menggelontorkan tangisan, daripada bersusah payah marah-marah.

Seperti sekarang, sewaktu Kyungsoo mengerjainya sampai paras Jisoo pucat pasi gara-gara terlalu lama terkungkung dalam lekukkan ketek Kyungsoo. Jisoo si Gadis Setengah Albino, mulai mencebik. Bibir yang memberengut itu bergetar, hingga sedu tertangkap.

Mata bulat Kyungsoo berkedip kebingungan, hatinya sedang gundah gulana. Di satu sisi, Kyungsoo gemar mengerjai Jisoo—sahabat sekaligus tetangga, di sisi lain pria kecil berusia sepuluh tahun itu tidak tahan mendengar tangisan Jisoo yang berisik.

Tunggu dulu! Jangan khawatir, Kyungsoo sudah belajar dari pengalaman, kok. Ada satu hal yang akan membuat Jisoo menutup isakan.

“Baiklah, kau boleh minta apa pun sekarang.” Kyungsoo menggerutu, ia menatap Jisoo yang tengah duduk di sampingnya.

Jisoo memang aktris paling berbakat sedunia. Bagaimana bisa ia mengubah tangisan memilukan menjadi cengiran lebar yang mempertunjukkan gigi bolongnya hanya dalam waktu dua sekon?

“Satu permintaan?” tanya Jisoo, enggan lupa dengan tarikan lebar di sudut bibir.

Kyungsoo mengibaskan surai hitamnya yang dimainkan oleh angin. Ia memelintir ujung kemeja merahnya yang kusut. Ugh! Permintaan Jisoo selalu macam-macam. Kemarin Jisoo minta Kyungsoo berjoget di depan kelas. Kemarinnya lagi gadis cilik itu meminta Kyungsoo menggambar kumis di wajah sebelum berangkat sekolah.

“Iya benar, tidak lebih. Itu aturannya, tidak ada tawar menawar.” Sambar Kyungsoo.

Jisoo menyeringai. Gadis itu mengetuk dagu agar Kyungsoo mengira bahwa dirinya sedang berpikir. Padahal, sedari kemarin Jisoo telah mendaftar beberapa permintaan konyol untuk dikabulkan sahabatnya.

“Permintaanku adalah…” Jisoo menggantung ucapannya, biar dramatis seperti di film horor.

“Adalah…” Kelakar Kyungsoo, cemberut.

Jisoo melejitkan bahu. “Permintaanku adalah…” Gadis itu kembali memutus perkataan, tetapi segera melanjutkan saat mendapati Kyungsoo melotot. “Kamu tidak boleh menolak semua keinginanku, seberapa pun banyaknya.” Lanjut Jisoo.

Kyungsoo mengeram. “Curang!” Seru anak laki-laki itu.

“Terserah saja. Kata ayah, laki-laki sejati harus memegang janjinya.” Jisoo menggunakan senjata pamungkas.

Kyungsoo mendengus. Parasnya sangat tidak bersahabat. Kesal mati-matian. Hm.

Dia memang kesal, namun Kyungsoo menimang-nimang kembali keputusannya. Begini, jika ia tidak menuruti Jisoo dirinya bisa dianggap bukan laki-laki sejati. Well, walaupun Kyungsoo masih berusia dini, dia tetap memerhatikan harkat dan martabat sebagai seorang pria—hebat bukan?

Satu hal lagi, Kyungsoo juga tidak bisa melakukan kegiatan ‘Jepit Ketiak’ pada kepala Jisoo, apabila si Gadis pensiun jadi partner-nya. Pasti Kyungsoo rindu, bila sehari saja kelewatan menggoda Jisoo.

Mau bagaimana lagi? Kyungsoo sudah kalah telak.

Masih bersungut-sungut, Kyungsoo mengangguk juga. “Baiklah,” gumam pria kecil itu.

Jisoo pun bertepuk tangan riang gembira, sangat heboh—menyamakan cemberut Kyungsoo layaknya pesta tahun baru. Yeah, maksudnya Kyungsoo jadi badut berhidung merah yang menunjukkan permainan baru.

Kasihan Do Kyungsoo.

Kyungsoo tak menyadari, janjinya sekarang akan menjungkirkan dunianya nanti, sewaktu mereka sama-sama dewasa. Jisoo akan—baiklah aku tidak bisa cerita lebih banyak lagi. Tunggu saja kisahnya, kalau aku sempat nanti pasti akan kutulis secara jelas tanpa tadang aling-aling.

Percayalah padaku ini akan menarik.

-SELESAI-

Review? Di sini.

Advertisements