Apples on The Tree

Apples on The Tree

Track List

“Give me sign X or O.” ―XOXO, EXO

Minseok memindai deretan pohon apel yang berjajar. Anak laki-laki berpipi tembam itu bergantian menautkan tatapannya dari pohon ke adiknya. Bibir merah jambu milik Minseok berucap pelan, “Tapi pohon apelnya ‘kan sangat tinggi.” Itu adalah tanggapan Minseok atas permintaan adiknya yang tengah cemberut.

Jongdae si Adik yang dua hari lagi genap berusia enam tahun, memberengut. “Dae ingin apel, Kak.” Rengek Kim Jongdae pada kakaknya yang dua tahun lebih tua.

Melihat Jongdae mencebik, membuat Minseok menghela napas―menyerah. “Baikalah, Kakak akan memanjat. Tapi, kita bisa dikira mencuri.” Kata Minseok mencoba peruntungan dalam membujuk adik yang memiliki surai hitam pekat.

Mata Jongdae berkilat jahil. “Kita akan minta ijin kok, tapi nanti. Soalnya kata Paman Kim yang diberitahu Paman Lee lalu didengar Bibi Kang―Bibi Jung sedang pergi ke kota. Jadi, kita bisa ambil dulu apelnya. Kakak, ingat ‘kan kalau Bibi Jung baik. Kita pasti dibolehkan memetik apel.” Jongdae berceloteh dalam satu tarikan napas kemudian mengambil udara lagi, melanjutkan persuasinya pada si Kakak. “Kita Cuma ambil dua, tidak lebih. Satu buat Kak Miseok, terus satunya lagi buat Dae.” Lanjut Jongdae.

Minseok berkedip-kedip, sebenarnya ia separuh paham hal-hal yang barusan diucapkan adiknya, selebihnya tidak mengerti. Minseok memilih untuk setuju sebab ia tipe anak laki-laki yang enggan bersusah payah untuk mendiamkan omelan Jongdae.

“Begini, aku yang akan memanjat.” Minseok memulai menyusun rencana.

Jongdae menautkan alis. “Tidak, Kak. Dae saja yang memanjat.”

“Dae tidak boleh memanjat nanti ibu marah kalau Dae jatuh.” Minseok melotot dan berkacak pinggang.

Jongdae mengkeret mendapati peringatan kakaknya. “Baiklah,” gumam si Adik pelan.

“Nanti Dae bagian mengawasi. Dae berdiri di sana.” Minseok menunjuk pagar rendah, sekitar sembilan meter dari pohon apel. “Kalau ibu datang, Dae harus memberi tanda pada kakak.” Imbuh Minseok.

Jongdae mengangguk dengan semangat. “Tandanya seperti apa, Kak?” Tanya anak laki-laki yang tengah memakai topi koala.

Minseok mengetuk dagu sembari berpikir. Parasnya dirayapi sinar matahari sedikit memerah, namun tetap menggemaskan.

“Kalau ibu datang kamu kasih kakak tanda X.” Kata Minseok sambil menyilangkan kedua tangannya ke atas, memberikan contoh pada Jongdae.

Jongdae mengangguk, kali ini sembari menirukan gerakan Minseok.

“Bagus!” Seru Minseok.

Jongdae bertepuk tangan, gembira sekali. “Lalu, bagaimana tanda yang lainnya, Kak?” Si Adik bertanya, kepalanya miring sedikit ―penuh minat.

Minseok melengkungkan tangan di atas kepala membentuk tanda O. “Tanda O kalau situasinya aman dan tidak ada siapa pun yang datang.” Kata Minseok, memberikan kode melalui kedipan agar adiknya menirukan.

“Dae mengerti.” Ungkap Jongdae, tertawa memamerkan giginya yang berlubang. “Ayo cepat, Kak. Dae mau apel ayo-ayo-ayo!” Seru Jongdae sambil melompat seperti kelinci.

Minseok mengangguk ikut bersemangat. Ia melangkah dengan penuh wibawa layaknya pasukan yang akan maju ke medan perang. Teriakan melengking Jongdae menjadi latar. Suasana kebun apel benar-benar meriah.

Hingga…

“Kim Minseok! Kim Jongdae! Ayo pulang, sekarang waktunya tidur siang.” Ibu mereka berseru lebih keras daripada jeritan berlebihan Jongdae.

Minseok belum memanjat, ia baru saja memeluk pohon apel. Minseok baru menerka-nerka bagaimana cara naik ke atas pohon, lalu ibunya menggagalkan rencana anak laki-laki itu.

Minseok cemberut, tangannya melingkar erat ke pohon apel. Separuh kecewa, separuhnya lagi bersyukur.

Sementara Jongdae, meronta dalam gendongan  ibu. Kedua tangannya membentuk tanda X sambil mencebik kesal.

-Selesai-

Review? Di sini.

Advertisements