Women in Black: The Game

women in black and grey

“Like I said, the main game didn’t start even yet.” ―Playboy, EXO

Prev:

Women in BlackWomen in Black: The Story Begin

-oOo-

Peraturan dalam permainan ini cukup mudah. Aku hanya perlu masuk lalu berlenggak-lenggok ke dalam pikiran pria itu. Menjungkir balikkan sedikit konsentrasi Sehun akan kehidupannya yang terorganisir. Buka hal yang sukar, ragaku sudah menancap jelas pada benaknya. Hanya sedikit sentilan manis agar ia mau mengakui jika dirinya sedang jatuh cinta.

“Nice to meet you,” kelakar Elle ketika menyambut uluran Sehun. Pengalaman mengantarkan wanita itu untuk sanggup meraba situasi. Paras Elle yang terpoles, menonjolkan kerupawananannya. Tatapan tajam si Wanita Penyita Perhatian mengintimidasi yang lain dengan sekali pandang. Ia merenggut atensi, apalagi saat sang Pewaris yang enggan menanggalkan Elle dari jeratan virtual sejak wanita itu masuk dalam ruang pesta.

Bibir Elle terbalut gincu merah melekuk membentuk senyum simpul bermakna dalam. Sedangkan, rautnya diatur agar meragu saat mendapati Sehun enggan melepaskan tautan jari-jari mereka. Sehun terkejut, Elle tahu akan itu. “Mr. Oh, apa ada yang salah dari penampilan saya?” tanya Elle, anggun. Mempermainkan, terselip juga genit pada nadanya.

Sehun menepis spasi antara dirinya dan Elle. Pria itu tidak menaruh minat pada tamu undangan yang lain. Ia berbisik tepat di indra pendengaran si Wanita. “Saya suka gaun Anda, Nona Muda.” Suara bariton yang mengoar, membelai kulit Elle. Wanita itu berjengit sedikit seakan latihan tiga tahunnya terbuang sia-sia.

“Gabrielle, cukup Elle.” Ungkap si Wanita, napasnya memburu. Namun, tetap memasang topeng berupa seringai memikat.

Sehun melepaskan Elle. Pria itu mengerling kemudian berucap memabukkan. “Elle, Anda cantik dengan gaun ini. Akan tetapi, lebih menawan apabila tubuh Anda tidak terbalut apa pun.” Sehun berucap tanpa tedeng aling-aling. Secepat gairahnya membuncah, ia meninggalkan si Wanita dengan langkah lebar.

Elle tertawa dalam hati. “Menarik,” tuturnya singkat.

“Dia punya rencana.” Kata Kim Jongin sembari memainkan ujung surai Elle yang tergerai. Wanita itu bergerak waspada di pangkuan pemuda yang tengah mengenakan tuksedo hitam. “Gaunmu memang memikat dan menggairahkan.” Imbuhan Jongin ditutup kecupan pada rahang Elle.

“Menurutmu, Sehun telah masuk perangkap kita?” tanya wanita berbalut satin berpotongan rendah yang memamerkan punggung porselennya.

Respons pertama Jongin ialah tertawa. “Tidak, kau yang sudah terjebak. Sehun pria terpelajar, Darling. Ia tak akan sembarangan mengajak wanita bermain di ranjang atau berseloroh penuh makna seperti tadi.” Ujar pria itu lembut. Telunjuk Jongin bergerak membelai bibir lawannya. “Sehun tahu sesuatu tentangmu.” Lanjutnya singkat.

Sebelum ada obrolan lain yang mengundang gairah di antara mereka, pintu kamar hotel itu terbuka. Seorang pria berkulit seputih susu, memiliki surai klimis, dan berdandan formal―terlampau kaku, menelisik keduanya. Pria yang kerap disebut sebagai Jun itu duduk di sofa depan mereka.

Tanpa basa-basi Jun menginformasikan hal penting. “Sehun meminta timku untuk menemukan segala hal soal dirimu.” Ungkapnya.

Elle menegang, Jongin merasakan. “Tenanglah,” bisik Jongin pelan ditujukan pada si Wanita Rupawan. “Apa yang ia dapatkan, Jun?” tanya Jongin, kali ini mengarahkan netranya pada Jun.

“Ia tidak mendapatkan apa-apa selain riwayat hidup Gabrielle yang telah kita rencanakan.”

“Good.” Puji Jongin.

“Wajahmu langsung pucat.” Umpan Jun mendapati Elle yang bergeming.

Elle mendengus. “Aku hanya khawatir. Menghadapi Sehun secara langsung membuatku gugup. Dia terlalu menggairahkan.” Balas wanita itu melalui bibir tipisnya.

“Padahal kau sudah sering berlatih dengan keparat ini.” Jun kembali menyindir, lebih kepada sepupunya yang bermarga Kim itu.

Elle memutar bola mata. “Yang benar saja, Jongin sama sekali bukan tipeku.” Kata Elle sembari menepuk pipi Jongin. “Dia seperti bayi besar, tidak menyeramkan, dan sama sekali tidak membuatku terpikat.” Tandas Elle, disusul tawa renyah Jun yang sangat puas.

Jongin pun cemberut.

“Tidak menyangka bertemu dengan Anda di sini, Mr. Oh.” Elle memainkan dialog terkejutnya. Kedua netra bewarna kelabu itu menatap lekat pria yang kini berdiri di samping pengambil gambar.

Sehun menyilangkan tangan. Pria itu mengawasi, kernyitan alis menampakkan bahwa dirinya sedang membandingkan. “Kau seorang model.” Ia membuat pernyataan, lebih untuk meyakinkan pikirannya.

Elle mengangguk, kemudian menebak arah perbincangan.

“Kalian serupa, namun berbeda.” Koar Sehun, akhirnya.

Elle segera menyambar. “Memandang saya― “

“―Jangan terlalu formal.”

“Apa menatapku mengingatkan kau pada seseorang?” Elle memperbaiki kalimatnya.

Sehun tersenyum timpang. Ia melejitkan bahu. “Iya,” jawabnya singkat tanpa penjelasan.

“Semoga saja seseorang itu meninggalkan persepsi baik padamu.” Elle berucap, ia menyelaraskan pakain kasul yang sedang dikenakan.

“Tidak terlalu baik, namun berkesan.” Sehun berkata datar. “Baiklah, selamat bekerja. Aku akan sangat mengapresiasi jika dirimu dapat menjadi objek potret yang sempurna untuk brand perusahan ini―milik sepupuku.” Seloroh Sehun, tangannya memberikan tanda agar Elle enyah dari hadapannya.

Kyungsoo menyecap kopi buatannya mengawasi lawan bicara dengan tatapan meremehkan. “Baru satu minggu kalian berinteraksi dan kau sudah sepayah ini.” Simpul Kyungsoo.

Elle mengetuk meja restoran mewah milik Kyungsoo. Lantaran membalas sengit serupa biasanya, Elle malah menghela napas panjang. “Hatiku yang lelah, Do.” Wanita itu mengalihkan atensi dari lautan di hadapannya ke tubuh Kyungsoo. “Dia seperti tidak menginginkanku. Sehun terus berada di sekitarku, akan tetapi dirinya enggan jatuh cinta. Aku takut misi ini akan gagal. Pria itu tak mengharapkanku lagi.” Kelakar Elle penuh kegundahan.

Kyungsoo tersenyum. “Aku tahu penyebabnya.” Balas pria itu tanpa keraguan.

“Apa?”

“Sehun merindukan Jung Nara itu sudah pasti, tetapi dia tidak menemukan Jung Nara pada dirimu. Dia beberapa kali menemuimu karena penasaran akan kemiripan kalian. Apalagi, riwayat hidup palsu itu menyatakan bahwa kau dan Nara kembar identik yang dibesarkan oleh dua lingkungan yang berbeda.” Jelas Kyungsoo.

Elle menggigit bibir sedikit panik. “Semakin membuatku patah arang. Penjelasanmu sangat membantu.” Ejek wanita itu. Ia mengunyah kudapan cokelat favoritnya, berusaha melupakan beban.

“Jujur saya, Elle.”

Elle mengedikkan bahu, memberi tanda agar Kyungsoo melanjutkan ucapannya.

“Sir Oh membuatmu berubah menjadi wanita yang diinginkan Jongin, bukan gadis yang dicintai Sehun.” Gumam Kyungsoo agaknya terlalu terbuka mengingat restoran tempat mereka berbincang lumayan ramai.

“Itu bisa dikategorikan sebagai tindakan pengkhianatan.” Elle mengingatkan, Kyungsoo bisa kena masalah jika Sir Oh mendengarkan. “Kau berujar seperti ada rencana dibalik semua ini. Aku dijadikan alat pemecah belah hubungan Jongin dan Sehun. Menggelikan sekali.” Kelakar Elle dalam satu tarikan napas.

Kyungsoo berkata jahil. “Sudah tugasku memikirkan opsi terburuk. Aku konsultan kejahatan, sebutan yang sangat kekanakan.”

“Sebaiknya kita sudahi obrolan konyol ini.” Ucap Elle, ia beranjak dari tempat duduknya. Lumayan melelahkan setelah beberapa jam menjalani sesi pemotretan plus menjadi tontonan Sehun di sana. “Sampai jumpa, Do.” Elle mengucapkan salam perpisahan.

“Sehun memintaku menyelediki riwayat kejahatanmu. Ia cukup cerdik untuk tidak mempercayai informasi yang diberikan Jun kepadanya. Aku rasa sebentar lagi dia akan mengetahui jati dirimu.” Kyungsoo kembali berbisik, lalu mengijinkan Elle angkat kaki.

Elle sedang menikmati susu cokelat di toko roti yang merangkap kafe. Semenjak kepindahannya di apartemen milik Luhan yang kini beratas namakan dirinya, Elle merasakan kehampaan yang sejati. Tiga tahun lamanya ia hidup dikejar target dan evaluasi dari mentor-mentor, namun sekarang terlalu datar―membosankan. Elle melakukan kegiatan monton beberapa hari belakangan ini. Tidak ada Sehun yang menganggunya dengan pertanyaan mengintimidasi.

Kata Jongin, Sehun sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri untuk seminggu ke depan. Maka dari itu, pria yang menyita seluruh minatnya tak lagi terlihat. Biasanya, Sehun muncul di tempat yang tidak terduga, misalnya tempat pemotretan di mana Elle bekerja, super market yang entah apa urusannya pria itu pergi ke sana, dan tempat lain yang kadang kala Elle singgahi.

“Terlalu sepi,” kelakar Elle bermuram durja. Wanita itu memijat tengkuk, lalu membenarkan ikatan pada surai merahnya. Dandanan yang lumayan santai untuk seorang Elle Park, tak lantas menjadikannya buruk rupu. Tubuh Elle hanya terbalut kaos biru muda yang kebesaran, jeans yang robek di bagian lutut, dan sepatu Adidas kuning menyala. Jangan lupakan polesan remang yang menambahkan eloknya. Ia lantas menjadi perhatian setengah dari pengunjung kafe.

“Merindukanku, Nona Elle?” tanya suara merdu yang langsung membuat si Wanita terkesiap.

Elle menyudahi lamunan. Netranya berkedip enggan percaya, menangkap siluet pria yang sedang memenuhi serebrumnya. “Oh Sehun.” Gelontor wanita itu, setelah menyeleksi beberapa kalimat yang disodorkan pikiran untuk diucapkan.

“Ya, ini aku.” Jawab Sehun singkat kemudian duduk di kursi tepat berhadapan dengan lawan bicaranya. Pria itu meletakkan gelas karton yang ia bawa, mungkin berisi kopi atau semacamnya. “Menurut dokumen mengenai dirimu, kau lebih suka kopi daripada susu cokelat.” Sehun memulai pembicaraan.

Elle menelan emosinya banyak-banyak. “Suatu kehormatan kau menilik semua hal mengenai diriku.” Balas wanita itu kalem.

Sehun tertawa kecil dan mengejek. “Seharusnya kau mulai panik, Elle. Informasi yang kudapatkan mengenai dirimu ada yang keliru.” Kata pria itu, dingin tanpa jeda apalagi belas kasih. “Satu hal kecil bisa keliru, tidak menutup kemungkinan hal lain juga berpeluang sama. Contohnya, namamu. Asumsiku Elle hanya inisial baru atau palsu.” Lanjut Sehun, ia sengaja mencondongkan tubuh ke arah wanita itu.

Efeknya cukup terlihat. Elle menegang ia menggigit bibir, walaupun tubuhnya berusaha menenangkan. “Menarik, namun konyol.” Ia menanggapi, sedikit ceroboh.

“Bagus, ingat satu hal Gabrielle. Aku tidak suka dipermainkan.” Kata Sehun, lalu berdiri dari kursinya.

Elle pun refleks beranjak, menyamakan posisinya dengan pria itu.

Sehun merakit langkahnya menuju samping si Wanita. Kemudian ia berbisik mesra penuh gairah dalam intonasinya. “Gabrielle nama yang bagus, tetapi aku lebih suka Jung Nara.” Tak lupa Sehun menghembuskan napasnya di titik sensitif wanita yang membeku ditelan keterkejutan.

-oOo-

a/n:

Eum, jika ingin meninggalkan review silahkan klik di sini.

Advertisements