Vampire’s Diary: [2/3] The Half Blood Vampire

vampires diary

Prev: 

Vampire’s Diary: [1/3] The Half Blood Vampire.

Twilight!AU

“I was mesmerized by the mysterious you and stares at you and had my one soul stolen.” ―Don’t Go, EXO

Sue Park berusaha mencerna seluruh argumen yang dikoarkan oleh ayahnya. Ia dapat menarik satu simpul yang berujung serupa yaitu mereka akan pindah ke suatu tempat untuk sementara waktu. Well, mungkin dalam beberapa pekan atau bulan, bahkan tahun―dirinya sendiri enggan menebak―sampai mereka menemukan cara agar dapat mengatasi dahaga Sue.

Gadis itu tahu jika dirinya berbeda dari kawan-kawannya. Tubuh Sue terlalu rupawan sampai mencolok mata―itu yang dikatakan Shan, sahabat baik Sue. Apalagi beberapa peluang kecil yang terpicu, bisa menggerakkan Sue untuk mencabik―gadis itu sama dengan mesin pembunuh. Poin tambahan silsilah keluarga Sue yang penuh manipulasi tak mungkin dapat tertutup rapat selamanya. Tentu ada beberapa hal lain yang dapat terbuka lebar dan mengatakan bahwa mereka keluarga vampir jika tetap teguh tinggal di kota modern ini.

Tidak ada satu pun mengenai Sue baik fisik, mental, dan sosial yang normal. Sue merasa seluruh hidupnya abnormal. Bahkan kalau mau ia bisa dilabeli sebagai mutan.

Hah. Cukup sudah membahas betapa mengerikannya diri Sue. Tanpa diungkapkan pun orang lain juga tahu.

“Jangan memasang raut sedih seperti itu, sayang.” Chanyeol membelai surai kelabu putrinya yang sedang cemberut. “Kau akan punya banyak teman di hutan.” Tambah pria yang sedang mengenakan setelan santainya.

Sue semakin mencebik plus melengos sebelum menjawab. “Maksud Daddy, aku lebih cocok tinggal di hutan bersama monyet begitu?” tanya Sue.

Chanyeol terkejut, “Oh tidak, sweetheart. Siapa yang bilang seperti itu? Tentu saja, tidak ada monyet yang secantik dirimu. Kau lebih mirip dengan berang-berang.” Ungkap ayah Sue, berusaha melucu. Jangan lupakan rupa konyol dan tawa menggelegar Chanyeol, mengisi ruang makan mereka.

Sue melotot tak percaya, ayahnya memberikan lelucon yang sangat menyinggung. Chanyeol benar-benar tidak paham jika Sue lebih sensitif kalau dimirip-miripkan dengan binatang. “Daddy, tidak ada yang lucu!” Seru Sue hampir menangis. Gadis berusia tujuh belas tahun itu bersungut-sungut meninggalkan meja makan dengan menghentak dan langkah lebar. Ia hendak melakukan aksi uring-uringan di dalam kamar.

Meninggalkan Chanyeol beserta deretan kata maafnya.

“Bodoh, Park Chanyeol. Seharusnya aku tidak memberikanmu kesempatan untuk bicara dengan Sue.” Omel Liv―berang dari arah dapur. Liv sengaja menjadi pendengar, wanita itu ingin tahu cara Chanyeol membujuk putrinya, dan respons Sue akan gagasan itu.

Ternyata malah berakhir buruk. Lagi-lagi Liv yang harus turun tangan. Dasar Chanyeol tidak becus.

“Aku tidak ingin tinggal bersama suku primitif, Ibu.” Ujar Sue dalam pelukan Liv.

Liv menepuk lembut punggung Sue, berusaha menenangkan. “Mereka paman dan bibimu, klan kita. Tidak ada yang primitif di sana. Kau akan merasa lebih nyaman karena berada di lingkungan vampir.” Jelas Liv.

Sue menatap lamat netra ibunya. Gadis itu menyalurkan kegelisahan. “Aku tidak akan nyaman dimana pun, baik dunia manusia atau vampir. Aku berada di tengah. Aku tidak sama dengan manusia karena ada sifat vampir dalam tubuhku. Begitu juga pada saat aku berada di tengah para vampir. Aku tak akan sama dengan vampir yang lain karena―”

“―Karena Sue istimewa dan tidak ada duanya. Mengertilah, sayang. Kami mencintaimu, apa pun dirimu.” Liv memotong perkataan Sue dengan nada mengingatkan. “Satu hal lagi, klan kita akan membantu untuk menemukan solusi dari dahagamu. Mereka tak akan menghakimi dirimu seperti yang dilakukan para manusia, ibu janji.” Imbuh Liv sembari mengecup puncak kepala putri satu-satunya.

Sue pun mengangguk, setuju.

Sue turun dari punggung Chanyeol. Selama perjalanan menuju klan, Sue berada di gendongan ayahnya. Mereka harus berlari menembus hutan dan melintang ratusan kilometer, sedangkan Sue tidak memiliki kecepatan berlari layaknya kedua vampir yang kini berada di samping kanan dan kirinya.

“Itu rumah kita.” Seloroh Chanyeol, senyumnya enggan lenyap.

Sue terperangah akan apa yang berada di hadapannya. Gadis itu melihat bangunan mewah bertingkat empat dengan banyak kaca sebagai pengganti dinding suram. Pilar-pilar kokoh menyangga setiap lantai, sengaja diwarna merah cerah. Dua ratus meter dari hunian itu terdapat taman yang membentang penuh bunga mawar dengan berbagai jenis rupa. Semerbak wangi menjalar ke panca indra Sue. Tanpa sadar gadis itu menyudutkan bibir, membentuk senyum cantik.

“Di luar ekspektasiku.” Gumam Sue, terkagum.

Liv memeluk pinggang Sue. “Imajinasimu soal rumah vampir yang penuh laba-laba itu terlalu liar, sayang.” Kata Liv menimpali sembari menarik kedua cinta dalam hidupnya menuju rumah.

Keluarga kecil Park disambut dengan hangat. Tiga vampir pria dan dua vampir wanita berdiri di balik pintu. Menampilkan sikap bersahabat yang kentara.

“Paman!” Sue berseru riang mendapati Suho dalam barisan. Suho beberapa kali berkunjung ke rumah keluarga Park. Ingatan Sue menyimpan kenangan akan Suho yang gemar mengajaknya bermain dan memberikan hadiah bila mereka bertemu. Jadi tak usah kaget, jika kini Sue menghambur ke pelukan Suho. “Paman, aku merindukanmu.” Ungkap Sue.

Suho tersenyum kemudian membalas, “Gadis cantik. Kau sudah besar. Paman juga merindukanmu.” Suaranya mengalun, dominasi kebijaksanaan tertera di dalamnya.

“Hai, Sue. “ Suara merdu menyapa si Gadis. Surai dan bibir dipoles merah membara, menjadikan si Wanita begitu mencolok. Keanggunan terpatri dari wanita yang Sue kenali sebagai pasangan Suho.

Sue melepaskan rengkuhan pamannya. “Hai, Bibi Irene. Paman Suho menceritakan banyak hal mengenai dirimu―kau sangat cantik dan merdu.” Balas Sue, ia menerima kehangatan jari-jari Irene.

“Terima kasih, sayang.” Balas Irene seperti bernyanyi.

“Dia juga pamanmu, namanya Do Kyungsoo.” Suho memperkenalkan salah satu pria dalam ruangan mewah itu. Pria bermata lebar dan memiliki bentuk bibir unik yang mengesankan. “Dia sudah menyiapkan kue cokelat untukmu.” Tambah Suho, menggiring Sue untuk memeluk ringan Kyungsoo yang ramah.

“Hai, Sue. Kau sangat mirip dengan Liv.” Begitu pendapat Kyungsoo. Sue tahu, Kyungsoo bakal jadi paman favoritnya.

“Sehun dan pasangannya―Nara. Kau jelas akan menyukai mereka.” Suho berucap lagi, kali ini mengarahkan tatapan pada pasangan paling serasi―selain ayah dan ibunya―yang pernah ia lihat. Mereka berdua begitu rupawan dan memikat. Tatapan Sehun seakan menjadi perisai pelindung bagi Nara serta sebaliknya. Gerakan mereka selaras, tarik-menarik layaknya kutub utara dan selatan. Gadis itu terpukau, sekali lagi.

Sue terkikik ketika merasakan angin yang berasal dari jari-jari Sehun berayun memainkan helaian surainya. Itu adalah salam perkenalan dari Sehun si Pemegang Kedali Angin. Sue pun tahu Nara menarik, ketika ia mengerling ke arahnya.

“Ada dua vampir lagi yang tak bisa hadir menyambut kalian. Kai dan Baekhyun, mereka sedang berburu. Baiklah, apa yang membawa kalian pulang?” Ujar Suho, kemudian memulai percakapan panjang bersama kedua orangtua Sue.

Kaki telanjang Sue menapaki hutan pinus. Dia hendak menyusuri setiap sudut lingkungan barunya. Toh, anggota klan sedang berdiskusi mengenai dirinya dan dari cara mereka berbisik―Sue yakin, ia dilarang menguping.

Sue menghela napas dalam-dalam, merasakan kesegaran hutan dan menelusuri urat alami yang masih kokoh. Jemarinya merapikan gaun putih selutut yang tadi dipinjamkan Irene padanya. Ia seperti putri dalam cerita dongeng yang dibuang dalam antah berantah.

Surainya tak lagi tergerai. Irene menata rambut Sue dengan begitu anggun. Semua vampir wanita yang menetap di sana memiliki aura elegan memikat―sedikit atau bahkan hanya beberapa gelintir saja, Sue sudah mulai tertular. Benak Sue enggan melayangkan protes akan itu, lagi pula si Gadis tak pernah ambil pusing soal penampilan.

Sue terus merajut langkah. Semakin dalam menuju kegelapan. Seakan terbuai dengan naluri, gadis itu melupakan peringatan Irene.

“Jangan masuk dalam hutan yang tak tersentuh cahaya, Sue.” Kelakar Irene mengantar kepergian Sue.

Andai saja, seluruh diri Sue adalah vampir, perintah Irene bakal tak teringkari. Akan tetapi sebagian dirinya ialah manusia―pemberontak ulung―peraturan ada untuk dilanggar. Oleh karena itu, jangan salahkan Sue jika sekarang dirinya menenggelamkan diri pada kepekatan.

Sue suka kesunyian, hutan ini menyajikan sepi yang begitu memikat. Hanya suara dekuk burung yang secara magis menjadi latar. Derit ranting pohon―yang entah sejak kapan berubah dari pohon pinus menjadi pohon besar berakar mencuat di atas tanah―membayangi kegamangan gadis itu untuk meneruskan perjalanan.

Gemerisik tertangkap oleh gendang telinga Sue. Berasal dari semak belukar yang jauh di belakang. Sue memalingkan kepala, berusaha menyusuri asal-muasal gesekan yang kian lantang.

Suara langkah kaki terdengar bersahutan. Mulai menggema di bagian lain hutan, lengkingan anjing―oh bukan! Itu serigala. Menyadari apa yang kini tengah menuju ke arahnya, Sue segera mengambil langkah seribu. Ia lari tunggang langgang, ketakutan menyerbak dalam setiap syaraf.

Sue memang setengah vampir, namun ia tidak pernah diajari metode memburu binatang buas. Ternyata bukan hanya satu, tapi tiga ekor serigala mengayunkan cakar ke arahnya.

Sue terus berlari, kecepatannya bakal kalah tetapi ia enggan untuk pasrah. Tubuhnya mulai panas. Ia merasakan seluruh kulit terbakar. Sibuk mengendalikan api yang menjalar pada darah, Sue terkapar di tanah. Kakinya terselip batang pohon yang patah. Ia terduduk, berjingkat ketika memindai ujung jari yang meletupkan api kecil seperti pematik.

Ada perasaan ganjil menelisik dalam hati saat ia menyadari telah mewarisi bakat dari sang Ayah. Namun, perbedannya sangat kentara. Sue tidak dapat mengendalikan api yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.

Gadis itu tenggelam dalam apinya sendiri.

“Tolong,” lirih Sue, bersahutan dengan geraman mematikan dari serigala. “Ibu,” sedu gadis itu sembari menyaksikan gaun dan tubuhnya yang terbakar.

Sue tidak kesakitan. Ia hanya ketakutan.

Takut pada apinya dan binatang ganas berkaki empat yang kini mengepung.

Sue menutup mata rapat-rapat saat mendapati para serigala melompat ke arahnya. Gadis itu menyadari hidupnya sebagai manusia setengah vampir berakhir di sini. Menyedihkan, tanpa perlawanan. Kenapa ketangkasan seorang vampir tak menurun pada darahnya?

Entahlah. Siap atau tidak, Sue akan mati.

Kelebatan angin menerjang Sue. Angin itu mendorong Sue menjauh beberapa meter dari para pemburu dan memadamkan apinya. Tak lantas ia mendapati pusaran angin, netra kelabu Sue menangkap siluet seorang pria. Gadis itu belum sempat berucap, kalah cepat dengan terjangan si Pria pada ketiga makhluk buas.

Sue menyaksikan pergumulan pria itu. Cabikan dan lengkingan menguar, Sue semakin menggigil. Si Pria lebih ganas, menjurus ke liar. Sue tersedu menyaksikan bagaimana tubuh serigala terpotong menjadi beberapa bagian. Tercabik tanpa belas kasih.

“Vampir.” Bisik Sue, napasnya tersengal saat pria itu menyeduh darah dari serigala.

“Bereskan secepat mungkin, Baek. Gadis ini ketakutan.” Suara lain dari belakang Sue berucap penuh penekanan.

Gadis itu terkesiap, lalu memindai pria lain yang muncul begitu saja. Seseorang yang Sue yakini sebagai vampir, berkulit coklat dan lebih tinggi dari yang pertama. Ia menunduk ke arah Sue, tersenyum simpul. Dia menyampirkan coat yang dikenakannya pada tubuh si Gadis yang telanjang―gaun Sue terbakar.

“Jangan takut, Sue. Aku Kai, salah satu pamanmu.” Kelakar Kai, berusaha menenangkan kekalutan Sue.

Erangan dari serigala terakhir mengalihkan perhatian kedua sosok itu. Mereka menatap pria berkulit seputih susu dan bersurai jelaga sedang menghabisi lawannya dengan bengis. Kemeja yang membalut Baekhyun bernoda darah, menjadikan rupanya yang kalem berubah mengerikan―sekaligus memikat.

Lensa Baekhyun bersirobok dengan milik Sue. Ada gravitasi lain yang membuat Sue terjatuh di dalam sana. Keindahan menyergap Sue, sekali pandang gadis itu mengikat dan terikat.

Matahari lain lahir dalam diri.

Bulan baru memandikan tubuhnya dengan cahaya.

Sue memiliki sendiri pagi dan malamnya.

Hidup dan mati.

Semua menjadi satu kebutuhan yang dipenuhi pria itu.

Sue tak pernah menginginkan apa pun sebesar caranya menginginkannya.

“Bawa gadis ini pergi.” Gertak Baekhyun lebih seperti geraman lain. Sikapnya defensif siap menerjang. Tatapannya enggan bertemu lagi dengan Sue, ada kemarahan di dalam sana.

Kai mengangguk. Paham benar.

“Sue, kita harus pergi.” Bujuk Kai, hendak merengkuh tubuh Sue. Akan tetapi, si Gadis berjengit―menolak tegas.

Sisa tenaga ia pergunakan untuk menggerakkan bibir tipisnya. Lebih seperti wasiat terakhir, Sue bergumam. “Aku menginginkan Byun Baekhyun.”

-oOo-

a/n:

Akhirnya Baekhyun ketemu pasangannya juga. Semoga kurang satu part lagi buat Vampire’s Diary: The Half Blood Princess.

Review? Di sini.

Advertisements