We Go Home

We Go Home

“You always waited for me at that spot.” ―Promise, EXO

“Apa Kyungsoo tidak menjemputmu?” tanya Nara pada gadis yang tengah berjalan di sampingnya.

Jisoo menggeleng sebagai jawaban. “Dia marah kepadaku.” Urai Jisoo sembari menyugar surai hitamnya. Raut si Gadis berubah muram dalam hitungan detik.

“Kalau saja Sehun sedang tidak sakit gigi dan aku harus menengoknya, pasti aku akan mengantarmu.” Ujar Nara penuh penyesalan.

Jisoo berusaha tersenyum. “Jangan khawatir, aku bisa naik bus dan jalan sebentar.” Ia mengakhiri perkataannya dengan dorongan ringan pada punggung Nara agar gadis itu segera masuk ke dalam mobil. “Hati-hati di jalan, Jung Nara.” Imbuh Jisoo sambil melambaikan tangan.

Jisoo melangkah sendirian ke halte bus yang jaraknya tak terlalu jauh dari universitasnya―sekitar satu kilometer. Hatinya agak sendu mendapati beberapa hal yang benar-benar berbeda. Biasanya, Jisoo tidak pernah pulang atau berangkat sendiri, ada Kyungsoo yang menjaga gadis itu.

Kyungsoo yang memastikan keamanan Jisoo. Kyungsoo yang mengingatkan barang-barang yang mungkin tertinggal. Kyungsoo yang menghangatkan jemari Jisoo di awal musim dingin seperti ini. Kyungsoo yang menemaninya berjalan kemana pun gadis itu pergi dan Kyungsoo yang mendengarkan keluh kesah serta omelan Jisoo.

Sekarang Jisoo kesepian―

“Lama sekali,” Kata pria berjaket hijau yang duduk di bangku halte sembari menggenggam ponsel.

Jisoo berhenti seketika dari posisinya dan ocehan yang sedari tadi dilayangkan benak.

Netra bulat Kyungsoo menatap gadis itu tajam dan kesal. “Di sini dingin, tahu.” Pria itu melayangkan protes.

Jisoo buru-buru menghampiri halte yang sepi, terang saja jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ragu-ragu si Gadis berkemeja biru muda duduk di bangku yang sama dengan kekasihnya. Ia menggoyangkan kaki mengisi kecanggungan.

“Kenapa kamu ke sini?” tanya Jisoo melalui bibirnya yang tipis. Tatapan Jisoo kemana-mana, nyalinya menciut melihat kehadiran Kyungsoo.

“Menjemputmu.”

“Katanya kamu sedang marah sama aku?” tanya Jisoo, agaknya gadis itu harap-harap cemas. Berharap agar Kyungsoo melupakan pertengkaran kecil mereka yang amat sangat tidak penting dan cemas karena pikirannya sendiri berseloroh soal Kyungsoo yang enggan memaafkannya.

“Aku masih marah kepadamu.” Balas pria itu, tangannya bersedekap. “Tapi rasa khawatirku lebih besar dan aku bisa gila jika tidak mengantarmu pulang atau menunggu di sini untuk memastikan kamu baik-baik saja.” Jelas Kyungsoo rautnya mencebik dan intonasi yang ia gunakan meninggi. Seakan-akan Kyungsoo sedang marah―amarah yang ditujukan pada dirinya sendiri.

Jisoo nyengir mendengar ucapan Kyungsoo.

“Terima kasih,” kata Jisoo setengah geli melihat paras Kyungsoo yang cemberut. Kalau saja dalam situasi biasa, pasti tangan Jisoo sudah jahil dan mencubit pipi Kyungsoo.

Pria itu bergerak untuk menyandang kembali tas ransel hitamnya, kemudian beranjak. Ia mengulurkan tangan ke arah Jisoo. “Kemarikan tanganmu.” Perintah Kyungsoo.

Jisoo menurut, ia menyambut jari-jari hangat prianya. “Mangkanya kalau tidak bisa marah jangan pura-pura marah.” Gadis itu berjinjit sembari berbisik tepat di indra pendengaran Kyungsoo. Tak lupa menyelipkan kecupan singkat di sana.

Kyungsoo melengkungkan senyum simpul, lalu mengeratkan pelukan pada kekasihnya sebagai balasan.

Kemudian Jisoo pun pulang ke rumah dengan selamat.

-oOo-

Review? Di sini.

Makin ke sini tulisan saya kok makin lempeng.

Advertisements