I and You

T-

Starring Kai & Shan │ Duration <1000 wordsDrabble Mix – Song Fiction │ Twelveblossom’s present



 

U R

“The stories I couldn’t say, all of the secrets I couldn’t do. I want to deliver it today.”

Sedari cerita ini dimulai memang hanya diriku yang jadi tokoh utama dan kamu peran pendamping. Kamu, bakal hilang setelahnya sementara aku terus berusaha agar kamu tetap tinggal.

Aku kerap berkisah mengenai banyak hal kepadamu dan kamu menjadi pendengar yang baik. Serupa sekarang ketika kamu dan aku duduk di bus sepulang sekolah, rungu kita sama-sama tersumpal headset milikku. Alunan lagu terputar mengiringi kita dan seluruh rasa yang telah kulipat rapi, siapa pun tak berencana memberantakan.

Namun kali ini hatiku sedang terbawa suasana. Jari-jarimu yang hangat, tubuhmu yang berdempet erat, dan parasmu yang memikat telah berhasil membuatku terlena. Terbuai sudah diriku, begitu pun dengan rahasia kecil itu―mereka ingin diakui keberadaannya.

Bibirku tiba-tiba memanggil namamu. “Kai,”

Aku masih ingat parasmu saat itu, kamu tersenyum hingga menyisakan garis pada netramu. Bertahun-tahun aku menyaksikan sudut-sudut bibirmu melekuk, tidak lantas membuat diriku bosan.

“Aku menyukaimu.” Kataku singkat.

Kamu membolakan mata.

“Dari dulu, tapi kamu tidak pernah paham dan hanya menganggap aku bercanda.” Aku melanjutkan.

Kernyitan terpampang di keningmu. Ada tanda tanya besar berserta raut terkejut. Akan tetapi, kegamangan sikapmu enggan lama-lama.

Kamu memang begitu, pandai membalik situasi.

Kamu tersenyum lagi, kali ini lebih manis daripada sebelumnya.

Kamu meremas jari-jariku lembut.

“Terima kasih sudah menyukaiku, Shan.”

Aku tertawa dalam hati.

Hanya ucapan terima kasih yang jadi jawabanmu―rasa sukaku bertepuk sebelah tangan.

I

“At the moment that I closed my eyes, time stopped.”

Aku dan kamu sedang pergi ke bioskop hanya berdua seperti biasa. Bedanya, aku menghiburmu kali ini. Kamu habis putus dengan gadis yang katamu sangat kamu cintai.

Aku dan kamu tidak menonton film. Kamu terus berbisik-bisik, menceritakan banyak kisah mengenai dirimu dan mantan kekasihmu sepanjang roll. Aku menanggapi, apa saja asal kamu bahagia.

Tiba-tiba kamu berhenti berucap, lalu merangkum parasku.

Kamu mengecup keningku sembari berkasak-kusuk. “Shan, kamu memang sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Terima kasih sudah mendengarkan.”

Kelopak netraku tertutup rapat berharap dapat lebih lama menyimpan sensasi bibirmu yang menyentuh indra perabaku.

Aku ingin menghentikan waktu.

Dan…

Aku memblokir serebrumku agar menjauhkan opini mengenai―Aku yang hanya jadi pelampiasanmu.

Farewell

“I watched you today, without you knowing.”

Aku melihatmu hari ini, kamu tidak tahu soal itu.

Aku kecewa padamu ketika kamu kembali menjadi sandaran gadis lain.

Dia berucap mesra padamu, “Aku cinta kamu, Kai.”

“Aku juga.” Ungkapmu pada dia.

Kamu membalas cinta gadis itu, tidak hanya sekedar ucapan terima kasih seperti yang kamu nyatakan padaku.

Aku melihatmu, hatiku juga. Hatiku terluka, tapi kamu tak pernah tahu.

Stress

“I’m angry for some reason.”

Jantungku bertalu-talu. Rasanya ada yang memukul kepalaku dengan palu tak kasat mata. Bibirku menghisap batang rokok yang kesekian.

Aku ingin meninggalkan pening ini bersama dengan asap yang mengepul.

Kamu merebut rokok dari jariku. Kemarahan terpatri jelas di sana. Kamu mengeram kesal. Ada rasa tidak percaya dalam pertanyaanmu.

“Kenapa kamu merokok, Shan?” Pertanyaan bodoh itu kamu ajukan.

Aku hanya tersenyum kecut.

Kamu semakin meledak sebab aksi diamku. Kamu dengan kejam menginjak kotak rokok milikku―menyulut amarah ini.

“Bukan urusanmu, Kai!” Aku berseru lantang. “Kamu tidak perlu ikut campur kehidupanku lagi, pergi saja kepelukan wanita jalang itu.” Aku melanjutkan, sengit.

Kamu meninju dinding di sampingku. Aku marah, kamu lebih dari itu. 

Aku tidak akan pernah lupa tatapan kecewa dan putus asa yang kamu berikan padaku.

“Baiklah, terserah padamu. Kamu marah tanpa alasan dan dirimu memang bukan urusanku.” Ujarmu lalu meninggalkan aku begitu saja.

Aku punya alasan, kok. Aku cemburu.

Gemini

“I hope you’ll return to me as if nothing happened.”

Kamu, si Tokoh Pendukung.

Waktumu untuk muncul dalam cerita, nampaknya telah usai.

Kamu benar-benar pergi. Kamu tidak lagi tertulis dalam kisahku.

Aku masih dapat menatapmu, merasakan kehadiranmu, dan mendefinisikan bagaimana peranmu. Namun, kamu telah enggan tertulis di sini kembali. Kamu sibuk menjadi tokoh dalam cerita gadis lain.

Membuat diriku terabaikan.

Kamu mengabaikanku. Serupa sekarang, ketika kita bersimpang jalan.

Kamu hanya menatapku sekilas, kemudian kembali melangkah. Kamu tidak ingat lagi tentang kita.

Sekarang, hanya ada kamu…

Aku.

Bukan lagi kita.

Kira-kira, bisa tidak aku memintamu kembali?

Atau

Memintamu, berpura-pura meyakini jika pertengkaran kita tidak pernah terjadi.

Atau

Melanjutkan ceritaku, tanpa kamu.

-oOo-

a/n:

Halo!

Gemes banget sama lagunya Kak Taeyeon ini, aku suka semua satu album dan sayang banget kalau dianggurkan. Apalagi, aku lagi suka bikin Song-fic yang kadang gak nyambung sama lagunya.

Oh ya, makasih sudah baca.

Review? Di sini.

Advertisements