Fall Once Again

fall once again copy

Jika menurutmu I and You belum pantas untuk usai, kamu seharusnya membaca cerita ini.

Piano Forest

“It’s been long time since greeted you.”

Waktu telah berlalu begitu saja, yang lama berganti dengan baru, alur itu berlangsung ratusan kali dalam hidupku. Hingga kamu yang lama, tertulis kembali dalam lembaran kisahku yang baru.

Kamu mengulurkan tangan padaku yang masih terperangah. “Shan, senang berjumpa lagi denganmu.” Ujarmu sembari menyunggingkan sudut bibir yang masih serupa dengan yang dulu. “Kita akan jadi rekan kerja,” lanjutmu seakan menetapkan peranmu kali ini.

“Hai, Kai.” Balasku canggung. Namamu menjadi hal langka yang diucapkan bibirku.

Dua kata itu mewakili satu pertanyaan utama―

―Apakah kita sudah berbaikan dan melupakan masa remaja kita yang penuh perdebatan?

Remember Me

“Please, remember the best of me.”

“Kamu dulu suka sekali kesiangan, apa sekarang masih?” tanyamu sewaktu kita makan siang bersama setelah sekian lama tidak melakukannya.

Aku mengetuk dagu, berpikir untuk memutuskan kenangan mana yang tepat agar dapat membalas ejekkanmu. “Kamu juga suka terlambat. Kamu yang mengajariku cara melompati pagar sekolah.” Kelakar bibirku, sedangkan netra ini cepat-cepat membuang pandangan ketika bersirobok dengan manik matamu.

Kamu tertawa renyah. “Aku terlambat karena mengikutimu dari belakang, memastikan jika dirimu tidak jatuh saat melompati pagar sekolah.” Balas kamu.

“Sangat menyentuh.”

Kamu bergumam, “Itu benar. Dulu kamu sangat mengkahwatirkan.”

“Kamu seharusnya mengingat yang baik-baik saja tentang diriku.” Aku berujar sembari bersedekap dan cemberut.

“Aku ingat satu hal baik mengenai dirimu.”

Aku menyangga dagu, tertarik dan terpikat dengan cara kamu menyampaikan opini. “Yang mana?”

“Saat kamu dan aku datang ke pesta dansa bersama, kamu nampak sangat menawan. Hari itu pertama kalinya, aku melihatmu sebagai seorang gadis.” Ungkapmu, tanpa tedeng aling-aling.

Pipiku sontak bersemu merah.

Begitu sulit aku membangun sekat untuk melupakanmu dan semudah itu kamu menaklukkan diriku melalui hal lama yang telah kukubur.

Kamu berdeham sekilas lalu melanjutkan. “Mangkanya waktu itu aku kelepasan dan―”

dan mencuri ciuman pertamaku?

A Million Pieces

“You collect my broken heart, to night in the deepest place, your light filled me fully.”

Kamu datang dengan tergesa ke bar tempatku mabuk. Kamu segera merebut gelas alkohol dari genggaman tanganku. Kamu merangkum wajahku yang penuh aliran airmata. Kamu membasuhnya, lembut. Kamu mengucapkan banyak kalimat mengenai diriku yang tidak pantas untuk bersedih.

“Lupakan pria itu,” ujarmu saat aku memilih untuk mengehempaskan diri ke dalam pelukanmu. Aku masih menangis membasahi kemeja putihmu. “Kamu harus bersyukur dia ketahuan berselingkuh sebelum kalian menikah. Paling tidak, kamu tak akan menikahi pria yang salah.” Lanjut kamu, tanganmu membelai punggungku―hal sama yang dulu pernah kamu lakukan ketika menghiburku.

Because I Miss You

“Even I want to meet you, but now I can’t.”

Aku ingin menemuimu, sungguh. Namun aku terlalu malu sebab aksi kekanakanku―mabuk―yang beberapa hari lalu kulakukan.

Aku ingin bertemu dengan dirimu, tapi aku tidak bisa. Bayanganmu terlalu banyak berlalu-lalang dalam setiap napas, tidur, makan, pikiran, dan hal yang lainnya.

Aku ingin berjumpa. Akan tetapi, aku perlu menghukum diriku.

Hukuman untuk―

aku yang malah terus memikirkanmu, padahal seharusnya aku terluka karena kekasihku baru saja berselingkuh.

Autumn Sleeves

“I miss you. I miss you.”

Kamu menangkap basah diriku yang hendak kabur. Kamu menungguku di depan pintu ruang kerjaku. Kamu menyambut dengan tatapan sedih, lalu berganti lega.

“Kai,” ucapku menyembunyikan kepanikan.

Kamu menampilkan senyum simpul. “Kamu menghindar dariku.” Ucapmu santai sembari, mengantar jari-jariku untuk bertautan denganmu. “Jangan lakukan itu lagi.” Kamu menyambung perkataanmu.

“Kenapa?”

“Bertahun-tahun lalu kamu sempat menghilang. Aku takut merindukanmu lagi.” Jawabmu, tanpa memandangku. Aku menyaksikan ada rona merah jambu di parasmu.

Aku juga merindukanmu, bedanya aku tidak berani mengakui.

Wind

“I sing along the sound of the wind.”

Kamu mengajakku mendaki gunung di akhir pekan. Katamu begini, “Biar kamu bisa melupakan mantan kekasihmu yang berengsek itu.”

Asal kamu tahu, Kai. Aku sudah melupakan kekasihku―mantan, ketika pertama kali kita berjabat tangan setelah empat tahun tidak jumpa.

Kamu menggenggam tanganku. Kamu memastikan jika diriku tidak terpeleset. Kamu selalu menatapku dengan sayang bila ada kesempatan. Kamu membuat hatiku menyanyikan lagu cinta di sepanjang jalan.

Ways to Say Goodbye

“If there is no one to lean your heart on. I will come. I’m still here for you.”

Kamu memelukku. Menghalau dingin yang menusuk kulit. Kamu berbisik beberapa kata yang dulu aku nantikan.

“Aku di sini untukmu, Shan.”

“Terima kasih, Kai.” Aku membalas tepat seperti yang kamu ucapkan waktu itu.

Kamu menatapku lamat-lamat. Memastikan jika manik kita berpasangan dalam diam. Kamu mengecup ujung bibirku, tanpa menunggu persetujuan.

“Aku mencintaimu, Shan. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan menunggumu. Jika kamu sudah siap untuk jatuh cinta kembali, aku akan mencoba untuk membuatmu merasakan hal yang sama.”

Aku hanya diam, tidak lantas menjawab dengan pengakuan yang serupa.

Kamu menghela napas dalam-dalam, kamu membelai suraiku penuh kerinduan. “Asal kamu bahagia, aku juga akan begitu. Don’t be sick, don’t be cry, you must be fine.

Bibirku tersenyum getir. “Kamu membuatku menunggu sangat lama untuk mendengar ini.” Ujarku lebih seperti bisikkan.

“Maaf―”

Aku memotong permohonanmu dengan remasan ringan pada jari-jarimu. “Hatiku tidak pernah kosong.”

Karena kamu selalu ada di sana. Karena hatiku menunggumu. Karena hatiku terikat padamu. Karena akusudah jatuh cinta padamu sejak kamu belum, sampai sudah menyadarinya.

Kamu serta-merta menampakkan kekecewaan pada pengakuanku. Kamu melonggarkan eratnya kungkungan. Ada kepasrahan dalam gerak-gerikmu.

“Bukankah kamu selalu ada di sana, Kai? tanyaku yang refleks membuat kamu menciumku dengan tiba-tiba, dalam, dan tanpa akhir.

Lagi-lagi aku jatuh padamukali ini bukan hanya ada aku, namun kita.

-oOo-

a/n: Saya mengkhianati diri sendiri padahal udah janji kalau I and You gak bakal ada sequel, soalnya pengen banget bikin cerita yang sad ending, tapi gak bisa lihat mereka sedih gitu aja.

Oke deh, makasih sudah baca (semoga masih ada yang baca).

Review? Klik di sini.

 

Advertisements