Run Sehun Run!

IMG_20151028_201437

“Dangerous, dangerous, she’s so dangerous.” ―Exodus, EXO

“Kalau kamu takut datang ke rumahku tidak usah menjemputku, Sehun.” Suara dibalik telepon itu terdengar kalem sekaligus mengejek.

Sehun yang enggan kehilangan harga diri hanya tertawa garing. “Mana mungkin aku takut pada Nara. Dia hanya betina biasa.”

“Dia masuk masa pubertas.” Ucap gadis yang suaranya mengudara, ia sengaja mengambil jeda agar Sehun mencerna dengan baik informasi yang baru saja dikelakarkan. “Nara sangat sensitif dan―”

“―dan apa?” Potong Sehun, memberikan dengusan di akhir kalimat. Ia membetulkan letak tas punggung. Pemuda itu mengenakan seragam yang agak kusut di beberapa sisi. Menegaskan bahwa dirinya hendak berangkat sekolah.

Si gadis lawan bicaranya terkekeh singkat. “Gigi taringnya tumbuh semakin panjang.”

“Dari dulu Nara juga seperti itu.”

“Giginya tidak hanya bertambah panjang, tapi juga tajam, Sehun.” 

Sehun tak mengindahkan kelakar si gadis. Toh, ia sudah tiba di depan pagar rumah sahabat baiknya. “Aku sudah sampai.” Lapor Sehun mencegah ocehan di dalam telepon yang semakin berisik.

“Cakarnya ugh, aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau Nara mencabikmu. Nara sangat berbahaya.” Seloroh gadis itu enggan menyerah dan tak mengacuhkan interupsi yang dikoarkan si pemuda berusia 17 tahun.

Sehun hanya memutar bola mata sebagai respons. Ia memasuki pagar, melangkah dengan santai melintasi halaman sahabatnya. Bibirnya bersiul-siul mendendangkan lagu rancu ciptaannya.

Hingga.

Suara Nara menyentil gendang telinga Sehun.

Kaki Sehun sontak berhenti. Bulir-bulir keringat sebesar butir jagung turun dari kening. Ia menelan ludah, menyadari jika ada langkah lain yang mendekat dari sisi kanan.

Sehun berbalik dan…

Nara ada di sana.

Nara sepertinya tidak dalam kondisi marah―entahlah ekspresi Nara sukar ditebak. Benak Sehun pun enggan berurusan dengan paras Nara yang berliur.

Manik mata pemuda itu bersirobok dengan milik Nara yang coklat. Ada dorongan aneh, serta-merta membuat Sehun ingin segera lari dari tempatnya.

“Berbahaya, dia sangat berbahaya.” Gumam Sehun berulang-ulang, selayaknya mengucapkan mantra.

Nara memamerkan gigi taring. Hidungnya bergerak, mengendus. Jangan lupakan ekor Nara yang bergoyang.

“Guk!” Sapa Nara pada Sehun.

Sehun semakin mati kutu, berhadapan dengan Siberian Husky yang tengah menatapnya intens. Anjing besar itu dengan riang gembira menghambur kepelukan Sehun yang jelas menolak mentah-mentah.

Sehun pemuda jangkung yang amat sangat antipati dengan kehadiran anjing pun lari tunggang-langgang.

“Jung Nara, minta Nara menjauh dariku!” Seru Sehun, separuh histeris kepada seorang gadis yang tadi mengobrol dengannya melalui telepon.

Si pemilik anjing―Jung Nara, hanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan anjing manisnya yang sebenarnya tidak galak―Nara, bercengkrama bersama sahabatnya.  Jung Nara hanya melambaikan tangan dari sudut taman, tidak jauh dari tempat mereka berlarian. Ia sangat menikmati hiburan gratis yang dilakoni oleh Sehun.

“Ayo Sehun lari lebih kencang, akan sangat memalukan kalau kamu kalah sama Nara.” Gurau Jung Nara, kemudian tersedak. “Hati-hati bokongmu digigit, loh!” Lanjut gadis itu, tawanya berlanjut.

“Jung Nara!” Sehun menimpali, lebih keras, berusaha mengalahkan gongongan Nara.

-oOo-

a/n:

Ini receh banget :’). Semoga paham maksudnya.

Review? Track List.

Advertisements