Vampire’s Diary: Farewell

IMG-20151205-WA0012

“Oh remember my smile in your heart. Think about it several times a day.”

―Beautiful, EXO

“Byun,” Gumam Sue sembari meraba sisi lain ranjang. Seharusnya ada tubuh yang berbaring di sampingnya. Namun, kali ini pria itu menghilang, pantas saja kecemasan menyelip dalam lelap si gadis.

“Bakhyun,” panggilnya sekali lagi. Intonasi suara lebih tinggi dan jelas. Sue mengerang sejenak kemudian beranjak. Setengah mengantuk gadis itu melangkah menuju ruang tengah, tempat di mana mereka biasa bercengkrama.

Benar saja di sana Sue mendapati Suho memeluk Irene, Chanyeol yang memainkan surai Liv, dan Baekhyun sedang duduk di sofa. Mereka terlibat obrolan serius. Sue mendekat dengan pijakan sepelan mungkin. Ia agak berjinjit agar bisa mencuri dengar.

“Sue harus melanjutkan hidup, dia setengah manusia. Walaupun pertumbuhannya secara fisik berhenti sejak satu tahun lalu.” Ujar Suho.

Chanyeol mengangguk. “Sudah semestinya ia mendapatkan pengalaman manusia untuk menunjang perkembangan mentalnya.”

“Yang jelas ia tidak akan punya pengalaman sebagai manusia jika terus di sini.” Liv ikut menyahut, ia mengambil napas sebentar kemudian melanjutkan. “Liburan telah usai. Dia harus kembali bersekolah dan melanjutkan hidup. Toh, kita telah mengatasi masalah dahaganya.”

Irene menggeleng sebagai respons. “Baekhyun tidak akan bisa tahan, berada di tengah lautan manusia. Apa mereka harus berpisah?” tanya wanita rupawan itu kepada pasangannya.

Suho melejitkan bahu ia hendak menimpali, akan tetapi kalah cepat dengan kemunculan Sue.

“Aku tidak mau kemana-mana!” Seru Sue, galak. Ia menatap sinis satu-persatu dari vampir yang berada di ruangan itu. “Aku tidak peduli dengan kehidupan manusiaku kalau kalian mau memisahkan diriku dan Baekhyun.” Lanjut Sue, ia beringsut ke pelukan pasangannya.

Baekhyun tersenyum lembut menyambut eratnya dan protektif tubuh Sue. “Jangan marah dulu, kami hanya mengobrol ringan.” Kelakar Baekhyun sembari membenarkan gaun tidur gadisnya. Jari Baekhyun mengangkat dagu Sue, bibirnya mencari. Kecupan ringan dan lama sengaja digunakan sebagai pengalih perhatian, awalnya gadis itu tergagap, namun membalas juga lumatan lembut dari prianya.

“Jangan menginterupsi kemarahanku,” bisik Sue di bibir Baekhyun.

Pria itu lantas terkekeh, lalu melepaskan tautan mereka. “Ketahuan,” ucapnya.

Chanyeol memutar bola mata, jengah. “Bahkan kalian sudah berani berciuman di depanku.”

Sue melotot ke arah ayahnya. “Dad pun, juga sering mencium Mom di depanku.” Ujar si gadis bersurai kelabu, ia memberengut sebagai tandasan bahwa dirinya masih kesal.

Chanyeol cemberut, ia mengadu pada Liv. “Olivia lihatlah putrimu, dia berani melotot ke arahku,” kata pria yang membalut tubuh jangkungnya dengan kemeja dan celana bahan.

Lantaran mengamini ucapan Chanyeol, Olivia malah mengetuk kepala pasangan hidupnya. “Berhenti cerewet dan jangan terlalu sering ikut campur.” Omel Liv, yang ditanggapi cebikan oleh Chanyeol.

Pertengkaran kecil Chanyeol dan Liv terpotong oleh suara Sue menguap. Mereka berdua langsung terdiam, memberikan kode kepada Baekhyun agar menidurkan kembali manusia setengah vampir itu.

“Aku tidak mau tidur kalau kalian belum memberikan penjelasan mengenai topik barusan.” Ancam Sue, mengetahui arti kedipan mata dan kerlingan Chanyeol yang ditujukan untuk Baekhyun.

“Kita bicarakan besok pagi, Sue. Kau butuh istirahat.” Saran Suho, lantas ditolak mentah-mentah oleh keponakannya.

“Pokoknya

Kita bicarakan di ranjang, Sayang.” Potong Baekhyun penuh peringatan. Netra pria itu bertemu dengan manik Sue, meyakinkan. “Aku tahu pasti arah obrolan kami tadi, percayalah. Aku akan menjelaskannya.” Tegas Baekhyun, sembari bangun dari duduk. Tangan Baekhyun terulur ke arah Sue, menunggu untuk ditautkan pada jari-jari kasihnya.

“Baiklah,” Sue pun menyambut tawaran Baekhyun.

Sue menindih tubuh Baekhyun yang terlentang. Paras gadis itu sengaja berada tepat di hadapan prianya, agar dapat menelisik sejauh mana perubahan ekspresi yang dilayangkan Baekhyun. Ia menunggu kekasihnya memulai percakapan, sembari mengecup rahang Baekhyun.

Si vampir menikmati lekuk tubuhnya yang terpasang sempurna dengan milik gadisnya. Baekhyun menyisir surai Sue yang terasa lembut, lemah, sekaligus beraroma memikat. Ia memejamkan mata ketika Sue mulai mencumbu. Baekhyun merasakan panas Sue, mendengar detak jantung Sue, dan menyadari kerapuhan Sue ialah hidupnya. Apa pun yang dimiliki gadisnya akan menjadi hal paling berharga yang seharusnya ia jaga. Apalagi, harum Sue yang menagihkan, lantas membuat bibir Baekhyun mengerang pelan merasakan si gadis mengigit kecil lehernya.

“Kau haus?” tanya Baekhyun.

Sue menggeleng, “Cuma gemas.” Jawabnya kemudian melepaskan diri dari cumbunya. Gadis itu memainkan surai Baekhyun yang mencuat. “Cepat jelaskan, aku keburu mengantuk.” Lanjut Sue, kali ini pipinya merona.

“Kau harus kembali ke Seoul dan memulai kehidupan sebagai manusia.”

“Aku tidak mau,” Sue langsung menjawab, menambahkan dengusan di ucapan.

Baekhyun tertawa renyah, lantaran mengoarkan argumen berkebalikan dari pernyataan Sue. Ia bergumam sesuatu serupa persetujuan akan penolakan kekasihnya. “Aku tadinya juga berkata seperti itu kepada mereka, tetapi tidak ada yang percaya.”

“Para orangtua selalu seenaknya sendiri,” Ujar si gadis bernada mengejek.

“Aku seumuran mereka,” Sahut Baekhyun yang langsung ditanggapi Sue dengan gelengan kepala.

“Kamu ‘kan tidak primitif, jangan tersinggung.”

Baekhyun mengelus punggung Sue. “Tidak, justru itu membuatku bangga. Kehidupan panjang menjadikan diriku mengetahui lebih banyak hal. Kamu tahu berapa predikat kelulusan terbaik yang aku miliki?” Tanya pria itu.

Sue menaikkan bahu, tanda ia malas berpikir.

“Ada lebih dari 200 penghargaan akademik dengan nama yang berbeda.” Baekhyun menjawab pertanyaannya sendiri.

Sue melongo, yang benar sajaSue bosan setengah mati belajar di sekolah, namun Baekhyun lulus 200 kali dari tempat penyita waktu itu.

“Vampir kutu buku,” ejek Sue.

Dibalas tatapan tegas dari Baekhyun. “Aku dulu berpikir bahwa pasanganku nantinya memiliki kemampuan sepadan denganku. Ternyata, tidak. Bahkan ia menyerah sebelum lulus dari sekolah menengah atas.” Pria itu memulai keluh kesahnya.

“Apa hal remeh itu sangat memengaruhimu, Byun?”

“Tentu saja, Sayang. Sesuatu yang kau sebut remeh menjadi paling penting dalam harga diriku.”

“Jadi, menurutmu aku merusak harga dirimu, begitu?” tanya Sue panik.

Baekhyun kembali membentuk sudut-sudut yang menunjukkan senyum menawan. “Bayangkan saja, apabila kita bertemu vampir dari klan lain kemudian mereka bertanya mengenai pendidikanmu―”

Aku tidak ingin membuatmu kecewa, Byun.”

“Jika seperti itu, kembalilah bersekolah, berinteraksi dengan manusia lain, dan” Ucapan Baekhyun terputus, ketika Sue menenggelamkan paras cantiknya pada lekukan leher Baekhyun. Gadis itu bernapas panjang di sana. Bahu Sue naik turun dan suara sedu mulai terdengar.

“Jangan menangis, Sayang. Pembicaraan kita tidak seharusnya membuatmu berduka.” Bujuk Baekhyun.

Sue mengubah posisi, ia menjadi terlentang di samping Baekhyun. “Aku tidak ingin kita berpisah. Jika diriku kembali ke Seoul, kau tak bisa ikut denganku.” Ucap Sue di tengah tangisan.

Baekhyun menghadap Sue. Ia menghapus buliran airmata yang menggenang. “Jelek sekali wajahmu, sudah jangan menangis.” Bibir Baekhyun mengecupi alur kesedihan gadisnya. “Aku tidak bisa bersamamu di Seoul karena terlalu banyak orang, tidak seperti tempat tinggalku yang laindi mana aku mendapatkan kelulusan. Tetapi, aku bisa mengunjungimu setiap musim dingin.” Baekhyun mencoba memberikan penawaran.

“Aku akan rindu setengah mati kepadamu, Byun.”

“Aku juga, Sue.”

“Aku tidak bisa melakukannya,”

“Lakukan demi diriku, kau hanya perlu menunggu beberapa bulan hingga ujian akhir, lalu lulus. Setelah itu kita kembali bersama.” Pinta Baekhyun memelas.

Sue menimbang, ia memainkan jemari Baekhyun yang beberapa pekan ini menjadi favoritnya. Sesungguhnya, seluruh aspek dalam diri Sue pun enggan menolak. Apalagi, hal itu berkaitan soal harga diri Baekhyun yang sampai sekarang Sue tidak tahu apa hubungannya dan pengaruh status pendidikan bagi seorang vampir.

“Bagaimana?” tanya Baekhyun, ketika Sue merangkum parasnya serta menepis spasi di antara mereka.

Sue menatap lekat manik Baekhyun, kemudian mulai berbisik―sedu hatinya berhenti. “Baiklah, kau akan menjenguk diriku pada musim dingin ‘kan? Janji, ya?” Gadis itu akhirnya mengungkapkan persetujuannya.

Baekhyun menimpali dengan anggukkan kepala. “Janji,” balasnya pelan. “Kalau begitu saatnya tidur, sini.” Vampir itu melanjutkan sembari menarik Sue ke dalam pelukan.

Sue sudah diambang kesadaran, sewaktu bibirnya kembali mengajukan permintaan. “Nyanyikan lullaby  untukku.”

Dan Baekhyun pun mulai mengalunkan nada yang menggiring Sue ke alam mimpi.

“Jangan murung seperti ini, Sue.” Ucap Baekhyun tepat di rungu gadisnya.

Sue semakin cemberut menanggapi perkataan Baekhyun yang terkesan mengejek. “Aku bisa sendiri,” ungkap gadis itu galak, saat Baekhyun membantu untuk memakai tas ransel yang akan digunakan dalam perjalanan.

Baekhyun mengangkat tangan, ia menjauh dari Sue yang sudah sejak pagi uring-uringan. Pasangan hidupnya itu akan kembali ke Seoul siang ini bersama Chanyeol dan Liv, sementara Baekhyun akan mengantarkan mereka sampai ujung hutan.

Di ruang keluarga Sue disambut Suho dan Irene yang tersenyum anggun ke arahnya. Kyungsoo berdiri di dekat pintu membawa kotak kue cokelat kesukaan Sue, Sehun dan Nara berdiri tidak jauh dari Kyungsoo. Mereka menyampaikan salam perpisahan yang semakin membuat Sue cemas jika dirinya tidak akan diizinkan datang lagi ke mari.

“Paman, apa aku masih boleh datang ke rumah klan kita ini? tanya Sue ragu-ragu, saat ia hendak angkat kaki.

Suho memeluk Sue penuh sayang. “Tentu saja, sweetheart.” Jawab ketua klan lembut, meyakinkan Sue serta meluruhkan kepanikan.

Sue melambai kepada paman dan bibinya. Ia merentangkan tangan ke arah Baekhyun yang kali ini mengenakan sweeter bewarna biru muda. Baekhyun menyambut, pria itu mengungkung Sue ke dalam gendongannya agar mereka lebih cepat sampai di ujung hutan.

Tak lama setelah itu Baekhyun mulai menghentak tanah, lalu berlari―seperti terbang, mendahului Chanyeol dan Liv.

“Tumben kau tidak menutup mata. Tidak takut, lagi?” Baekhyun memulai percakapan.

Gadis yang kini menguncir surai itu menjawab pelan, terselip rasa takut dalam suaranya. “Aku hanya ingin menatap wajahmu lebih lama, Byun. Aku takut.” Keluh Sue pada akhirnya.

Tak biasanya juga Baekhyun memelankan langkah dalam berlari. Ia bahkan meminta Chanyeol dan Liv bergerak lebih dulu. “Begini tidak takut ‘kan?” tanya Baekhyun sekali lagi.

Sue tersenyum, ia semakin mengeratkan tangan yang mengalung pada leher Baekhyun. “Tidak,” gumam Sue. “Byun?” panggil gadis itu.

Yes, love?”

“Kamu tidak akan menabrak pohon ‘kan jika aku mengajakmu berbincang-bincang?”

Sue dapat merasakan Baekhyun memutar bola mata atas pertanyaannya sebelum menjawab singkat, “Tidak.”

“Byun Baekhyun.” Sekali lagi Sue berkelakar.

“Yes, love?”

“Apa kamu punya saran jika tiba-tiba aku merindukanmu?”

Baekhyun terkekeh, “Ingatlah bagian dari dirku yang paling kau sukai.”

“Aku suka semuanya.”

“Yang amat sangat kamu sukai, apa tidak ada?”

“Aku suka jarimu, eum. Ada satu lagi! Aku suka sewaktu kamu tersenyum, hatiku berdebar sangat kencang apabila melihatmu tersenyum dan tertawa.”

Baekhyun menghela napas. “Baiklah, kau ingat saja bagaimana caraku tersenyum, sepanjang hari.” Pria itu menggantung ucapan, lalu berkata lebih tegas lagi. “Ingat, Park Sue saat kau merindukanku, aku juga melakukan hal yang sama. Rasa rinduku berkali-lipat lebih besar.” Imbuh Baekhyun, ia menghentikan larinya.

Sue kebingungan, hanya mendaratkan pandangan bertanya-tanya kenapa Baekhyun tiba-tiba berhenti. Gadis itu turun dari gendongan Baekhyun, kemudian berhadapan dengan kasihnya.

Baekhyun menarik Sue agar lebih dekat, ia merengkuh paras Sue hingga hidung mereka bersentuhan. “Jika kau haus, Suho akan mengirimkan tetesan darahku padamu. Kau hanya perlu mengeluh pada Liv atau Chanyeol, tidak lama pasti Suho akan datang untuk memberikan darahku padamu, jangan menahan rasa hausmu―aku tidak ingin kau tersiksa barang sedetik pun. Kau mengerti, Park Sue?” Sela Baekhyun, tepat sebelum Sue berjinjit dan menarik dirinya untuk bertautan.

Ini adalah kecupan kesekian yang mereka lakukan, namun juga merupakan ciuman pertama yang tidak tersimpan berahi di dalamnya. Hanya ketulusan dan semua rasa rindu yang sudah terjadi dan hendak terlaksana.

Andai saja waktu mengizinkan, Sue akan meminta sekon memberhentikan hitungannya.

Andai saja Baekhyun mampu, ia sanggup menukar segalanya hanya untuk kebersamaan dirinya dan Sue. Baekhyun memang telah membeku―eksistensi bukan lagi menjadi hal penting baginya, namun tidak sama dengan Sue―gadis itu berlari bersama detik yang berubah menjadi menit hingga tahun.

“Aku mencintaimu, Park Sue.” Suara Baekhyun terselip dalam lumatan, serupa simpul perpisahan yang tidak akan terurai.

Sue pun merasakan bahwa cara Baekhyun mengecupnya serta menyatakan cinta padanya, seakan Baekhyun akan meninggalkan Sueseakan mereka tidak mungkin bertemu kembali. 

Apa dirinya yang harus memiliki pengalaman manusia hanya alasan fiktif agar Baekhyun dapat pergimenjauhinya?

Sue merasa, ada sesuatu mengenai dirinya yang dibalut rapat oleh Byun Baekhyun.

Baekhyun, merahasiakan sesuatu dari Sue.

-oOo-

a/n: Kira-kira Baekhyun lagi merencanakan apa ya?

Kolom komentar klik di sini.

Advertisements