Robotic: Chanyeol’s vs Park Chanyeol

IMG-20151205-WA0011.jpg

“You know my name, girl.” ―Call Me Baby, EXO

Seri lain dari Robotic.

Olivia Kim adalah gadis berusia delapan belas tahun. Caranya berpakaian serupa remaja pada umumnya, kaos bergambar beruang madu, celana jeans biru tua, dan sepatu Nike. Ia memiliki surai secokelat tangkai pinus, tinggi 165 cm, langsing, dan kulitnya seputih susu. Biasanya Olivia kerap dipanggil Liv―sangat mencolok diantara gadis seusianya, selain rupa yang memikat, sikap yang angkuh plus kekanakan, menjadikan dirinya menarik sekaligus berbahaya.

Jangan lupakan netra yang tajam, siap mengintimidasi. Kadang seseorang terlalu terpesona pada hijau pupil Liv, seringnya mereka merasa terancam, seakan-akan gadis itu punya taring yang bisa muncul kapan pun.

Misalnya saja, sekarang.

Olivia mengetuk-mengetuk meja kafe menggunakan jari telunjuk, menegaskan bahwa ada ketidaksabaran di benaknya. Ia memilih air muka cemberut serta pandangan menusuk sengaja ditujukan kepada pria yang menjadi lawan bicaranya.

Akhirnya, bibir Olivia Kim yang merah jambu, memutuskan untuk merobek kebungkaman keduanya.

“Jadi, kamu yang membuat Chanyeol. Kata Daddy, namamu juga Chanyeol.” Liv melemparkan pernyataan.

Pria yang disebut sebagai Chanyeol itu mengangguk sambil menggoyangkan cangkir. “Benar, bedanya aku Park Chanyeol, sedangkan dia cuma Chanyeol.” Lantas Park Chanyeol mengalunkan intonasi bergurau―yang langsung diralat ketika mendengar dengusan Liv. “Begini, adik kecil. Menciptakan sebuah robot, apalagi secanggih Chanyeol merupakan pencapaian terbesar. Jadi, wajar jika aku menginginkan Chanyeol memiliki bentuk wajah dan tubuh seperti aku―penciptanya.” Lanjut si pria penuh kepercayaan diri, lalu nyengir.

“Kamu sama sekali tidak serupa dengan Chanyeol.” Ejek Liv, ia sengaja mencondongkan tubuh ke arah Park Chanyeol.

“Yang benar saja,” ujar pria itu sembari melambaikan tangan.

“Pertama, Chanyeol itu robot dan dia tidak menua―”

“―Aku masih 25 tahun! Aku tidak tua.”

“Lihat kerutan di wajahmu, Paman.” Kata gadis itu, ia menggerakkan jari-jari tepat di paras Park Chanyeol. “Pa-man.” Liv, mengimbuhkan dengan gumaman yang sangat menyinggung.

“Terserah kamu ingin memanggil apa, yang penting aku adalah pencipta Chanyeol. Jika aku mau, aku bisa mengambilnya kapan saja darimu.” Pria itu tersenyum penuh kemenangan, mendukung perkataannya.

Sebagai balasan Olivia Kim melirik tajam, kalau tatapannya dapat dipadatkan mungkin sudah menghunus si pria terbalut jas serta dalaman merah menyala. “Ugh, kasihan sekali Chanyeol. Dia robot tampan, namun dibuat oleh paman menyebalkan sepertimu. Satu lagi paman―”

“―Stop! Okay. Jangan panggil paman, aku belum setua itu dan aku punya nama. Kamu tahu namaku, young lady.” Pria itu menyela omelan Liv, ia menghela napas kemudian mulai mengeja, “Park-Chan-Yeol. Park Chanyeol.”

Liv menyeringai, ia menirukan. “Pa-man. Paaammaaaaannn. Paman.”

“Olivia Kim!” Seru Chanyeol, melotot.

Liv beranjak dari kursi, tertawa sangat puas melihat tingkah Park Chanyeol. “Dengar ya, Paman. Aku tidak akan bersedia memanggilmu Chanyeol karena Chanyeol cuma ada satu―jadi kalau aku memanggilmu Chanyeol juga, aku tidak akan bisa membedakan paman dan Chanyeol. Paman tahu ‘kan kalau aku suka Chanyeol dan demi apa pun, aku amat sangat ingin berkencan dengan Chanyeol―dan aku tidak bisa berkencan dengannya karena sadar bahwa Chanyeol itu robot. Kalau paman ingin dipanggil Chanyeol juga―apalagi wajah paman sama dengan milik Chanyeol―paman manusia, keinginanku mengencani Chanyeol bisa beralih menjadi obsesi berpacaran dengan paman. Paman tentu tidak ingin ‘kan, hal itu terjadi? Jadi lebih baik paman, pasrah saja dipanggil ‘Paman’.” Liv menyelesaikan pengakuannya dalam dua tarikan napas, ia masih terengah, tangannya menarik cangkir Chanyeol kemudian meminumnya. Tergesa, gadis itu kembali menyantap lawan bicaranya dengan pertanyaan. “Mengerti tidak? Paman paham ‘kan? Astaga, paman ‘kan cerdas!” Lanjutnya, Liv menyilangkan tangan di depan dada―parasnya angkuh ditambah merona.

Chanyeol yang diberikan rentetan kalimat bersimpul amburadul itu hanya bisa membuka mulut lebar-lebar. Sebagian pikiran menerjemahkan informasi abstrak yang diberikan Liv. Setelah hening dua menit, baru ada bunyi batuk dari Chanyeol―membuat Liv semakin kesal setengah mati.

“Oh sudahlah, aku bisa gila. Lebih baik aku pergi. ” Liv menegur, dilanjutkan kakinya melenggang keluar dari kafe.

Meninggalkan Park Chanyeol yang sedang bergulat dengan benaknya―akal sehat―fantasi liar. Begini kira-kira percakapan mereka:

Jadi, Olivia Kim ingin berkencan denganku?

Iya, idiot.

Begitu saja tidak paham!

-Selesai-

a/n: Kolom komentar di sini.

Advertisements