[6th] Sad Movie

kai-krystal

Prev: Sad Movie 1-5B

Kebahagian itu ada batasnya.

Aku menatap Sehun yang tengah berjalan di sampingku, jari-jari miliknya mengisi sela jemariku. Ia enggan melepaskan barang sesekon pun. Ketukan langkah kami menyesuaikan dalam satu nada, pertama kalinya dalam sekian lama eksistensiku mengenal dirinya, hari ini seluruh diriku selaras dengannya. Ketika ekor mata Sehun mencuri pandang, netra ini segera merespons penuh sayang―seakan mereka telah lama menantikan kesempatan untuk mengungkapkan kasih. Begitu pun perabaku yang menghangat akibat tersentuh kulit pria itu, syaraf segera mengirimkan sinyal menggelitik. Menyenangkan.

“Kau lelah?” tanyanya berusaha mengusir diam di antara kami.

Aku menggeleng sembari menyeka keringat di keningku.

Sehun pun mengambil alih kegiatanku merapikan anak surai yang berantakan, lalu menyisirnya menggunakan jarinya. “Cantik,” puji pria itu.

Bibirku menyunggingkan senyum menimpali. Sikap Sehun melunak hingga titik termanis setelah kejadian malam yang dingin di rumah kayu, pengakuan membuat harga diri dan egonya luruh. Walaupun diriku tidak memberikan jawaban secara gamblang mengenai perasaan cinta yang entah masih tertinggal atau telah lenyap, Sehun tetap memperlakukan aku seperti kami masih memiliki harapan. Aku mencintai Sehun, mudah dikatakan namun sangat rumit agar bisa mengerti definisi sebenarnya dari perasaan itu. Apakah komposisi cinta lebih besar daripada rasa sakit masa lalu? Entahlah, bisakah aku melewati fase hidupku yang satu ini. Aku lelah. Boleh ‘kan aku hanya menjadi penonton, tanpa harus terlibat dalam jalinan kisah yang menyesakkan ini?

Aku rela menukar apa saja demi mendapat kesempatan itu, sungguh.

“Sehun?”

“Hm?” Sehun menjawab panggilanku dalam perjalanan pulang kami sedari mendaki gunung. Mobil yang kami tumpangi tidak dikendarai sendiri oleh Sehun, ia duduk di kursi penumpang―bersebelahan denganku.

“Apa kita akan langsung menjemput Jino?”

Sehun melirik arlojinya, “Kita akan sampai di Seoul sore hari. Mungkin Jino sudah berada di rumah ibu.” Ia berkata dengan hati-hati, berkunjung ke tempat tinggalku yang dulu merupakan topik sensitif. Sehun menjaga hatiku agar tidak tergores sedikit pun, dirinya memastikan jika kecemburuan tololku pada Soyeon tak melukai kami, lagi.

Dia tidak tahu, jika rasa cemburu hanya terpatri sebagai kenangan dalam benakku. Delapan tahun melatih nurani ini agar merelakan. Akan tetapi, persepsi orang lain akan perasaan yang membara itu masih melekat pada diriku. Aku harus menuntaskan dan menyelesaikan, apa yang mengikatku di sini. Aku ingin bebasaku ingin pergi.

“Tidak apa-apa, kita pergi ke rumah ibu,” jawabku, menyelipkan senyum hambar dalam akhir kalimat.

Sehun mengecup punggung tanganku, “Baiklah. Jika itu yang kau inginkan.”

“Kak, maafkan aku.” Aku berujar memulai percakapan kami.

Lawan bicaraku mengernyit, ada tanda tanya besar dalam manik mata yang kini menatapku lekat. “Kau memohon maaf untuk kesalahanmu yang mana, Jung Nara? Kau tidak pernah melakukan hal yang menyakitiku.” Ujar Soyeon.

Aku tidak langsung menjawab, pikiranku melayang. Netraku malah memindai, taman belakang rumah ibu menyimpan kepingan cerita baik yang terlupakan atau pun masih tersisa dalam remahan kehidupan yang mungkin menghilang nantinya.

Aku mengajak Soyeon bicara ketika diriku dan Sehun berniat menjemput Jino. Setelah membebaskan diri dari pelukan rindu putraku, Soyeon mengantarkan aku ke tempat yang tepat sebagai saksi permintaan ampunku padanya.

“Atas segala tuduhanku kepadamu, sikap keras kepala yang enggan mendengarkan penjelasan, dan semua rasa tidak nyaman yang disebabkan olehku.” Bibir ini berujar, akhirnya.

“Kau tidak perlu meminta maaf―”

“―Aku harus, jiwaku akan selamanya tertinggal di sini jika diriku tak melakukan penghapusan dan penyelesaian atas kenangan menyenangkan atau pun menyedihkan. Aku memohon bukan untuk dirimu atau orang lain. Hal yang kita bicarakan sekarang, semata-mata agar diriku memperoleh ketenangan.” Kupotong ucapannya, semuanya meledak dalam satu tarikan napas.

Perubahan paras Soyeon terjadi begitu kentara, terselip raut menderita di atas kecantikannya. Gaun selutut yang ia kenakan menambah kesan protagonis dalam perannya kali ini. Penampilanku yang masih berantakan―mengenakan jeans dengan lumpur kering di ujung lekuk, kaos merah kebesaran―pakaian mendakiku, sebenarnya tidak layak bersanding dengan Soyeon serta keanggunannya.

“Aku memaafkanmu, namun apabila hal ini mengakibatkan dirimu pergi lebih jauh lagi dari kami. Aku tak akan pernah rela. Berjanjilah tetap tinggal, Nara. Kini aku yang memohon kepadamu,” kata Soyeon, suaranya lembut. Wanita itu menggenggam tanganku yang berada di seberang.

Aku menarik ke atas sudut bibir. Jari-jari ini mengusap telapak tangannya yang berada di atas milikku, kemudian melepaskan tautan kami. “Terima kasih, Kak. Aku tidak dapat berjanji karena selamai ini yang kulakukan hanya menjadi pengkhianat atas ikatan yang telah kubuat,” ujarku lalu beranjak dari tempat duduk. Aku menepuk bahu Seoyeon, “Semuanya telah usai, tidak ada lagi sebagian dirimu yang tertinggal di dalam diriku atau sebaliknya.” Aku mengimbuhkan, kemudian mulai merajut langkah ke ruang keluarga, tempat di mana Jino dan Sehun menungguku―berusaha mengabaikan sedu sedan kakak perempuanku.

Sehun yang pertama kali berdiri, menghampiri dengan langkah lebar. Ia merangkum wajahku. “Sudah selesai, apa kau baik-baik saja?” tanyanya.

Aku merasakan telapaknya yang menyengat indra perabaku. “Aku tidak pernah sebaik ini.” Diriku menjawab lantang, berusaha meredam getar dalam suara.

“Jangan bilang kalian akan berciuman di depan Jino―yang benar saja!” Seru Soojung dari balik punggung Sehun, di sampingnya ada Jino yang tertawa lebar, ketika Sehun akan mendaratkan kecupan di bibirku

Aku segera melepaskan tubuh kami yang melekat, berdiri canggung berhadap-hadapan dengan Sehun―pria itu sedang memutar bola matanya, kesal.

“Lebih baik kita pulang,” putus Sehun.

“Kalian tidak menginap, ibu sebentar―”

“―Tidak, Soojung. Kakakmu sudah sangat lelah hari ini.” Sela Sehun, ia menarik napas. “Kami juga perlu bicara berdua.” Lanjutnya sembari menatapku.

Baiklah, ini saatnya kami memutuskan apa yang seharusnya diputuskan. Berdua.

Aku pun mengangguk, setuju.

Jino berada di tengah. Berada di antara aku dan Sehun, selalu seperti itu. Entah Jino menjadi penghubung yang selalu mengikat kami atau sebagai sekat yang memisahkan. Kedua opsi yang dapat diperankan Jino, memiliki satu simpul serupa, yaitu aku mau pun Sehun tak bisa lepas dari putra kami. Kami memiliki kontribusi atas kehadiran Jino yang kemudian menjadikan pria kecil itu sebagai tanggung jawab mutlak. Kebahagian Jino menjadi prioritas kami, tidak akan ada tawar-menawar atas itu.

Serupa sekarang saat Jino merengek meminta aku dan Sehun tidur bersamanya. Ia ingin kami tidur bersama, aku di sisi kiri, Jino di tengah, dan Sehun sebelah kanan ranjang. Naluriku enggan menolak, aku menurut. Ada letup aneh yang menyisir di dadaku ketika melihat Jino yang terlelap, membelai surai hitamnya, dan menyanyikan lagu Anak Gembala Sapi. Mendengar suara bariton Sehun yang membacakan dongeng untuk Jino, melengkapi segalanya.

Jino tertidur dengan cepat. Ayah dan ibunya berada di tempat yang sama, berusaha menjaganya. Ia merasa aman serta damai.

“Ini pengalaman pertamaku,”bisik Sehun yang lantas membuatku menoleh ke arahnya. “Namun, sudah sejak lama aku memimpikannya. Ada kau, Jino, dan aku tidur bersama, kita menjadi keluarga.”Ia berucap sembari menatapku lamat.

Aku mengoreksi perkataannya, “Seperti keluarga.”

“Aku mencintaimu, Nara.”Gumam Sehun, penuh penekanan.

Pengungkapan itu memang bukan pertama kali. Tingkah tubuhku tetap menyala mendengarkan kalimat kasihnya. Aku masih merona. Aku… juga mencintainya, namun masih terlalu getir untuk menyuarakan secara verbal.

“Apa yang akan kita lakukan besok?” tanyaku berusaha mengalihkan topik.

Sehun cemberut, ia merubah posisi tidurnya menjadi terlentang menyebabkan piama yang ia kenakan mengkerut. “Besok aku harus bekerja,” jawabnya setengah hati.

“Besok hari minggu.” Aku menimpali, kini sembari tertawa pelan―takut membangunkan Jino.

Sehun kembali berguling menjadikan tubuhnya berhadapan denganku. “Kau mau kita kemana?” Ia kembali melemparkan pertanyaan.

Lantaran segera membalas, diriku hanya bergeming hingga puluhan detik. Pada akhirnya tercetus satu ide dalam benak. “Dimana tempat favorit Jino?” Kali ini aku yang memecah keheningan.

“Taman dekat sekolahnya, ia suka piknik di sana,” ujar Sehun.

“Baiklah kita akan ke sana besok.” Aku memutuskan, senyum ini merekah diperuntukkan kepada anggukan setuju Sehun.

“Apa pun yang kau inginkan, Love. Tidurlah, sayang.” Sehun menutup perbincangan kami.

Aku tak lagi menguarkan suara, sebagai persetujuan netraku menutup. Selamat tidur, Sehun. Aku mungkin juga mencintaimu.

Aku mendengar langkah kaki Sehun menuju dapur―tempat di mana jari-jariku tengah sibuk menyiapkan kudapan yang akan kami bawa untuk piknik. Ia lalu menghentikan tungkai tepat di sampingku, manik mata memikat itu memperhatikan setiap gerakan yang kulakukan. Aku pun merasa risih sekaligus salah tingkah, memutuskan untuk membalas pandangannya. Sehun tersenyum simpul, menampilkan sisi kekanakannya dengan surai yang masih acak dan piama kusut.

“Selamat pagi,” sapanya.

“Pagi, Sehun.”

Pria itu mengambil potongan Kimbab yang berada di kotak makan, tak jauh dari kami. Ia mengunyah, kedua alisnya berjengit menilai. “Kemampuan memasakmu meningkat,” ucapnya setelah menelan bulat-bulat potongan berikutnya.

Bahu ini melejit pongah, “Tentu saja.” Bibirku berujar penuh percaya diri.

Sehun tertawa, sudut matanya menyipit membentuk lengkung kebahagian. Ia menarik diriku, memotong spasi di antara kami. “Pantas rasa cintaku kepadamu tidak habis-habis,” Sehun pun berkelakar, nadanya jenaka yang sontak membuat pipi ini merona kegenitan.

“Hentikan, Oh Sehun―aku mual mendengar ucapanmu.” Kataku, galak dan berusaha melepaskan diri dari kungkungannya.

“Apa kau hamil, Nara? Kenapa mual?” tanyanya, jahil.

Aku menepuk pundak Sehun keras-keras mengakibatkan suara sakit yang dibuat-buat meluncur darinya. “Jangan konyol, pergi dari dapur kalau kau hanya ingin menggangguku.” Seruan ini cukup meributkan seisi rumah, Sehun yang berperan sebagai tersangka malah terkekeh semakin keras. Pria itu menghindari pukulanku, parasnya mengejek.

“Aku rela memberikan apa saja asal bisa melihat ekspresi marah dan sayang darimu, Nara.” Ia kembali berujar sembari menahan tanganku yang hendak menyerangnya. Sehun dengan lembut menurunkan tanganku yang menggantung di udara. Ia menyelaraskan posisi rupa kami―Sehun agak menunduk agar dapat menyamai. Tatapannya beralih cepat dari mataku menuju bibir. Berulang-ulang, hingga indra penciumanku merasakan hembusan napas Sehun, seperti permen mint―dingin yang memikat. Dingin yang menyejukkan, membuatku membeku di tempat.

Aku lupa siapa diriku ketika kelembaban Sehun merangkum bibir. Memberikan kesegaran dan suasana baru dalam hubungan intens kami. Jari-jarinya menarik daguku, menuntut akses ke dalam. Ia menyelipkan lidahnya dalam kecupan kami. Menjadikan indra pengecap sebagai api yang menyulut. Kelembutan yang kuidamkan sedari dulu membuat suara geraman aneh meluncur begitu saja.

Tanganku bergerak―memiliki pikiran sendiri, menuju surai Sehun kemudian menjambaknya―menyalurkan gairah ketika kecupan Sehun berubah liar. Menuntut. Mengintimidasi.

Seusatu yang dimulai dengan lambat, menenagkan, dan penuh kesabaran―kini berubah berkebalikan. Tak hanya Sehun, namun aku juga bergerak terburu-buru, seakan-akan kami dikejar waktu. Aku mengalungkan kedua tanganku pada leher Sehun ketika ia mengangkat tubuh ini lalu mendudukkanku ke meja makan.

Sehun meninggalkan bibirku yang kemerahan, ia beralih ke leher―mengecupnya penuh penekanan―membuat diriku semakin hilang arah. Aku menengadah ketika ia memintanya, suaranya dalam memohon. “Nara,” desahnya sembari menelusuri rahangku.

Kami telah lepas kendali, tepatnya aku. Apalagi saat benak ini menyadari laju jari-jariku yang perlahan membuka satu persatu kancing piama Sehun atau pun pria itu yang menurunkan lengan gaun tidurku untuk menelusuri jauh ke dalam. Namun logika dan tubuh ini sama-sama enggan menghentikan. Aku menginginkan Sehun lebih besar daripada yang kupikirkan.

“Kau tidak punya kesempatan untuk menolak,” bisiknya tepat di rungku sembari bernapas di sana yang lantas membuat kulit di sekujur tubuh meremang.

“S-sehun, kita h-harus p-piknik,” ucap diriku susah payah menahan desahan yang akan mengalun. Aku memejamkan mata berusaha memenuhi kesadaran yang tercecer. “J-jino ada J-jino,” aku mengimbuhkan.

Jino ialah senjata pamungkas. Sehun melonggarkan manufernya padaku. Ia menaikkan gaun tidurku kembali, lalu mengecup puncak kepalaku. Ada yang hilang ketika kulit kami tak lagi menempel, tetapi ada kelegaan yang menyusup.

Aku terobsesi akan tubuh menawan Sehun, namun sebagian dari diriku belum siap melakukan lebih jauh dari seharusnya.

“Maaf,” ujarnya kaku saat membantuku turun dari meja makan.

Mataku berkedip penuh kecanggungan, sama sekali tidak mengira jika Sehun merasa bersalah. Maksudku, ini bukan kesalahannya kami sama-sama terbawa suasana. “Aku maklum, kita dipengaruhi oleh hormon. Kau dan aku―”

“―Tidak Nara itu bukan hormon atau pun hasrat karena terbawa suasana. Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Aku―sudahlah.” Sehun memotong ucapanku, juga tidak menyelesaikan argumennya. Ia membalikkan tubuh, mengambil jarak. “Perasaanku padamu tidak serendahan itu, Nara. Aku sungguh-sungguh.” Lanjutnya sebelum mulai beranjak pergi.

Aku refleks mencegahnya kemudian berucap, “Sehun maaf, aku tidak bermksud―tolong jangan tersinggung.”

Sehun berbalik ia meraih punggung tangan ini lalu mendaratkan kecupan di sana. “Tidak, sama sekali―tidak perlu tersinggung. Aku hanya menjelaskan dan aku pergi bukan karena marah padamu. Aku akan membangunkan Jino, kita harus segera berangkat sudah pukul sepuluh.” Sehun menjelaskan yang mendapatkan respons anggukan dariku.

Aku melihat punggung Sehun perlahan menjauh. Tak sengaja menghela napas, berusaha memfokuskan kembali pikiran yang teracak-acak. Walaupun aku sudah berkutat lagi dengan bahan makanan, benakku masih memutar setiap geraman Sehun yang penuh berahi.

Aku bisa gilaatau sudah.

“Jino jangan lari-lari nanti jatuh,” seru Sehun penuh peringatan kepada anak laki-laki kami. Si pria kecil yang tengah mengenakan celana pendek dan kaos berkerah itu sama sekali tak mengindahkan. Tercermin tawa yang melekat di bibirnya, seakan mengembang bersama cerah cuaca dan kehijauan taman yang menyerupai padang rumput dengan pohon besar di tengah.

Aku menduplikat ekspresi Jino, tersihir oleh pesona kegembiraannya. Sehun beda lagi, dia sibuk mengoceh tentang ini dan itu sembari menenteng peralatan piknik kami. Dia berperan ganda sebagai ayah serta ibu bagi Jino, kentara sekali dari caranya bertingkah.

Sementara Sehun menata alas duduk, aku mengawasi Jino yang sedang bermain bersama merpati putih. Burung itu menjadi penghuni tetap di kawasan ini, apalagi musim panas benar-benar hangat membuat mereka terbang ke sana-sini.

“Duduklah, sayang.” Ucap Sehun beberapa menit kemudian, aku pun menurut. “Aku akan membawa Jino ke mari, astaga dia melompat terus seperti kelinci.” Lanjutnya, sambil berdiri dan berkacak pinggang.

Priaku itu tampak memikat sekaligus menarik dari segala sisi. Tidak mungkin, aku bisa berhenti jatuh cinta padanya. Sudahlah akan butuh ratusan ribu kalimat untuk memuja priakuOh Sehun.

Aku sibuk menata bekal kami ke dalam piring kertas ketika Sehun menggendong Jino di bahunya. Kedua laki-laki paling penting dalam hidupku itu tertawa riang. Membuatku mengingat kembali atas keluarga yang lama kubuang jauh-jauh dalam kepiluan masa lalu.

Seandainya, aku tidak terlalu egois.

Seandainya, aku lebih mudah memaafkan.

Seandainya―

“Ibu, aku lapar.” Rengekan Jino membuyarkan lamunan.

Aku langsung merentangkan tangan sewaktu tubuh kecil Jino menghambur kepelukan. “Mau roti isi ayam atau daging sapi?” Tawarku sambil menggelitik Jino yang sontak membuatnya kembali tertawa.

“Roti isi ayam!” Jawab Jino setengah memekik saat Sehun mengangkatnya ke dalam pangkuan.

“Apa aku tidak ditawari?” Kini giliran Sehun yang mencibik seperti balita. “Aku mau yang isi daging sapi,” lanjut Sehun―menirukan rajukkan anaknya―saat aku menyuapkan roti isi pada Jino.

“Sehun, aku sangat geli mendengarmu bersuara seperti itu.” Kataku, berpura-pura galak lalu melemparkan kudapan ke arah Sehun.

“Jahat sekali,” kelakar Sehun, menyibak senyum menggoda. Cepat-cepat dirinya bergerak tangkas untuk mendaratkan ciuman ringkas di pipiku, seakan menghapus semburat merah jambu yang ada di sana.

Setelahnya, aku pun terhanyut dalam keriangan kami, bukan hanya aku―Sehun―atau pun Jino saja yang bahagia. Akan tetapi, kami. Lantas membuat hati ini bergetar serta cemas. Benakku mulai menghitung berapa lama semua ini akan bertahan. Manusia dan segala pendukung kehidupannya digilas oleh waktu yang terus berputar―berganti―yang lama terlupakan oleh yang baru, aktual menjadi kenangan, dan kegembiraan terbalik menjadi kesedihan. Kehidupan memang begitu. Aku pernah takut menghadapinya, tetapi entah rasa dari mana―menyadari Sehun dan Jino berada di sampingku membuat raga ini siap menghadapi hal paling buruk sekali pun.

a/n:

  • Akhirnya saya punya keberanian juga untuk melanjutkan cerita ini.
  • Maaf yaaaaa buat yang masih nunggu, maaf udah PHP sekian laaaaaammmmaaaaa.
  • Terima kasih kalau masih ada yang mau baca cerita ini.
  • .. Sisa hari Nara di Seoul masih satu hari lagi. Kira-kira kalian lebih suka cerita ini selesai di sini atau masih mau dilanjutkan lagi? Kalau kalian milih dilanjutkan saya berikan sedikit penggalannya:

“Jung Nara, aku berada di Seoul.”

“Siapa yang menghubungimu, Nara?”

“Bukan siapa-siapa, turunkan aku di sini, Sehun. Ada sesuatu yang harus kukerjakan.”

“Kau tidur dengan laki-laki berengsek itu, Jung Nara.”

“Tetapi, bukan berarti kau punya hak untuk menyentuhku!”

“Aku kecewa kepadamu.”

“Rasanya lebih menyakitkan, kau menghancurkan diriku tepat di saat aku mencoba memaafkan dan mencintaimu kembali.”

 

  • Tentukan pilihan kalian :).

-oOo-

Advertisements

589 thoughts on “[6th] Sad Movie

  1. 😭😭😭😭 Speechless bgt ini mh… Yaah, gak mau sad ending, pleasee.. Walaupun udh ada next chapternya, tetep berharap happy ending. Mereka tuh udah bisa bahagiaa.. Tapi kenapa Nara gitu terus.. Sehun udah sah ‘pro’, aaaaa gregeeet 😶.
    Aduh, previewnya nge baperin bgt, lagi 😨😥..
    Semua alur dan kata-katanya, keren bgt Kaaak. Suka bangeeet 😍.
    Aku lanjut baca ya, Kaaaak.. Gak sabaaar lagii..

  2. Percakapan Nara sama Soyeon bikin gak tenang. Rasa-rasanya emang iya, kebahagian Sehun-Nara-Jino itu gak bakal lama.

    Siap-siap baca ending, nih…!!!

    Regards,

    Sehun’Bee

  3. seandainya nara tidak egois, I guess she would feel like she is the happiest mom & wife all over the universe ( well yeah, that’s too much) but seriously, she deserves to be happy with her lil fam. thank u author-nim, for such a beautiful story 🙂

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s