Vampire’s Diary: Of Christmas Eve and Emptiness

IMG-20151204-WA0012

“Just like a Christmas day that I’ve always waited for.” ―Christmas Day

Baekhyun mengingkari janjinya kepadaku. Aku masih mengingat detail rayuannya, bahwa dia tak akan pernah membuatku menunggu. Ia sudah mengikat kehadirannya untukku, sebab Baekhyun tahu benar bagaimana pedihnya merindu. Aku berulang kali meyakinkan diri bahwa Baekhyun itu nyata, walaupun eksistensinya hanya ditandai oleh tetesan darah yang rutin dikirimkan satu pekan sekali.

Salju pertama meluncur dua minggu lalu, pertanda bahwa Baekhyun seharusnya sudah berada di sisiku sekarang. Namun, aku masih kesepian dan terus menanti. Natal telah tiba, keinginan sederhanaku akan kehadiran Baekhyun di malam Natal nampaknya akan meleset.

Kurang 17 jam lagi sebelum Natal.

Pagi ini aku bangun dengan paras sendu sembari mendengarkan kericuhan Mom dan Dad yang berdebat soal dekorasi Santa atau―entahlah. Benak ini enggan ikut campur percakapan mereka. Ada hal lain yang menarik perhatianku yang lantas membuat jari-jariku mengusap leher. Aku merasakan ada sesuatu yang ganjil, saat meraba kulit leher. Keanehan itu menuntun kakiku untuk segera beranjak ke cermin. Bekas gigitan Baekhyun terhadapku, terukir di sana. Terlihat masih baru, tetapi aku juga tidak yakin.

Bahuku melejit menandakan jika ini adalah masalah remeh yang tidak perlu kugundahkan.

“Mungkin gigitan lama yang terasa baru karena rinduku padanya yang sudah meluber.” Bibirku bergumam lebih untuk menghibur diri sendiri.

Aku sebenarya tidak ingin memikirkannya lagi. Akan tetapi, semakin keras aku mencabutnya dari benakku, ketidakhadiran Baekhyun justru semakin bercokol. Bahkan aku sadar apabila hal itu bisa merusak malam Natal yang sudah lama kunanti kedatangannya―Baekhyun, sih sebenarnya yang kunanti, bukan yang lain.

Terlebih lagi hari ini―

―pintu terbuka tiba-tiba, merobek gerutuan yang berkembang di pikiranku.

Mom dan Dad masuk sembari tersenyum memamerkan gigi depan mereka. Mom―Olivia membawa nampan berisi kue ulang tahun bertuliskan angka lima, sedangkan Dad―Park Chanyeol membawa terompet tahun baru dan mengenakan topi kerucut rumbai-rumbai. Keluarga meriah, sangat. Berkebalikan dengan aura senduku yang terpampang amat kentara.

“Selamat ulang tahun, sweetheart.” Ucap Liv, lembut. Ia mengangsurkan kue tepat di depan wajahku.

Sementara Chanyeol mengusap puncak kepalaku, kemudian mendaratkan kecupan di sana. “Keberuntungan dan kebahagian selalu berada di pihakmu, Sayang,” kata pria yang mengenakan setelan santainya.

Aku tersenyum simpul mencoba menghargai kejutan dari orangtuaku. “Terima kasih, Dad dan Mom. Aku mencintai kalian.” Balasku kemudian mencium pipi mereka, bergantian.

“Tiup lilinnya.” Seloroh Chanyeol tak sabar.

Liv menimpali, “Buat permohonan terlebih dulu, jangan lupa.”

Aku menurut, sebelumnya membatin satu hal yang benar-benar kuinginkan. Byun Baekhyun, paling tidak kau seharusnya datang sebentar saja, aku menunggumu. Lalu lilin pun kupadamkan.

Berlanjut.

Advertisements