Vampire’s Diary: Of Christmas Eve and The Sweetest Stalker Ever

IMG_20151204_184627

“Step by step I follow you without your knowing, I match my footsteps with yours.”―First Love, EXO

Prev: Vampire’s Diary: Of Christmas and Emptiness

Setelah acara tiup lilin itu, aku diberi kesempatan oleh Liv dan Chanyeol untuk membenahi diri. Aku segera mandi dengan air hangat, mencuci rambut yang kusut serta berpakaian sepantasnya (celana jeans dan atasan berbahan wol). Suraiku masih basah dan terurai begitu saja, ketika Ibu masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.

“Sayang, apa kau bisa membantu, Mom?” Tanya si vampir wanita yang memiliki tubuh seumuran denganku. Dari raut memelas yang sengaja ditonjolkan, jelas ia menginginkan sesuatu dariku.

Aku pun yang memang tidak memiliki kegiatan―hanya sibuk menyesali ulang tahun dan Natal terburuk, tanpa kehadiran Baekhyun―mengangguk singkat.

“Apa bisa kau ambilkan kue dan ayam goreng dari restoran dekat Alun-alun kota? Tetangga kita Mrs. Kim meminta tolong,” Ucap Liv sembari mendekatiku sementara pikiran ini segera membayangkan Mrs. Kim, wanita berusia 60 tahun yang mulai kehilangan ketajaman penglihatannya saat petang.

Aku menautkan alis sebagai balasan, “Bukannya mereka menyediakan layanan pesan antar?”

Mom tertawa melengking, nadanya dibuat-buat. Biasanya Mom akan bertingkah seperti itu jika ada sesuatu yang disembunyikan olehnya dan ‘sesuatu’ yang dimaksudkan ialah tingkah konyol mendekati gila. Huh, baiklah. Aku mengedikkan bahu tanda jika tidak ambil pusing, toh sebagian diri Liv telah terkontaminasi kegilaan Chanyeol.

“Malam Natal, Sue. Mereka sedang kebanjiran pesanan, jadi pelanggan harus ambil sendiri. Tolong, sayang. Mrs. Kim perlu kue dan ayam goreng untuk bersenang-senang.” Jawab Mom, nadanya memang halus, tetapi menekan setiap kalimat yang dialunkan tandanya ia sedang memerintah dan wajib dilaksanakan

Aku pun mengangguk sebagai tanda setuju. Membantu orang di malam Natal bisa jadi perbuatan terpuji. Siapa tahu aku akan mendapatkan keberuntungan setelahnya?

Berharap saja, Sue Park. Teruslah berharap―benakku bergumam penuh keputusasaan.

“Sekitar pukul enam malam keduanya harus diambil. Kau bisa melakukan hal lain sekarang, terima kasih sayang.” Ucap Liv sebelum menghilang ke balik pintu kamar.

Sementara diriku kembali menghempaskan tubuh ke ranjang. Berguling-guling tidak tentu arah hingga mengantuk. Setidaknya dalam mimpi aku bisa mendapati aroma Baekhyun yang semakin tajam.

Dan sentuhannya.

Bahkan nyanyiannya. 

Begitu jelas dan nyata.

Aku menoleh dengan cepat, naluriku memang tak setajam vampir sesungguhnya. Akan tetapi, beberapa kali mengikuti Baekhyun berburu bisa mengasah kemampuan runguku. Langit mulai menghitam,  kotak makanan yang berada di tangan kanan dan kiriku menambah kesulitan untuk melarikan diri, apabila nantinya ada sesuatu yang berbahaya.

Oh, apalagi jalan pintas yang membentang di depan lebih gelap daripada seharusnya. Lampu-lampu kuning yang biasa terpasang di sana terkena salju atau badai, sehingga kehilangan fungsi sebagai penerang.

“Mungkin cuma halusinasiku,” gumaman itu terkuar untuk menghibur diri saat kekosongan yang kudapat. Tidak ada siapa pun di sana, bisa saja angin yang menerpa salju kali ini suaranya meniru langkah kaki seseorang. “Lagi pula aku setengah vampir, manusia biasa tidak akan bisa melukaiku.” Aku masih melanjutkan argumen, mantap.

Langkah kaki ini kembali melanjutkan perjalanan pulang. Aku mengerang kesal saat sepatu botku terbenam di dalam permukaan salju yang kian bertambah ketebalannya, membuat dingin yang menyisip kulit semakin menjadi-jadi. Syal merah yang kukenakan pun melorot, membuat leher ini terpapar salju yang turun. Aku tidak bisa membenarkan syal kedua tanganku sibuk membawa kotak makan besar dan  sangat tidak sopan apabila kotak makan ini kutaruh di tanah yang penuh salju, hanya demi membetulkan letak syal.

Semua memang kelihatan remeh. Hal-hal kecil yang tentu saja bisa dengan tabah kuhadapi jika terjadi di hari-hari biasa. Akan tetapi, kenyataan bahwa malam ini adalah malam Natal ditambah ulang tahunku, kesialan sekecil apa pun bisa mengundang airmataku menampakkan diri. Aku tidak semestinya mendapatkan nasib buruk! Semuanya akan berubah baik, jika Baekhyun menyempatkan waktu sejenak untuk mengucapkan selamat ulangtahun atau menyapa singkat. Benakku kembali meluncurkan protes yang kutanggapi dengan terus berjalan sembari menghentakkan kaki menuju rute gelap di depan sana.

“Jadi lampunya sudah diperbaiki, begitu?” tanyaku pada kekosongan sembari mendongakkan kepala. Ketika kakiku mulai menapaki jalanan gelap, tiba-tiba satu persatu lampu rusak itu menampilkan cahanya. “Syukurlah,” lirihku.

Aku mempercepat langkah kaki setelah menolehkan kepala ke belakang, lampu jalan yang telah kulalui meredup. “Padahal baru diperbaiki sudah rusak lagi―astaga!” Sontak aku memekik terkejut akibat angin yang entah bagaimana seperti menerjang tubuhku―dan ketika diriku sadar angin itu menyebabkan syalku naik dengan sempurna, menghangatkan leherku yang sempat ditusuk udara dingin.

Aku pun menyunggingkan senyum puas. Sepasang netra ini mendapati salju tebal yang tadinya harus  kulewati dan membuat sepatu bot basah, kini sudah dikeruk. Bebas salju, hanya malaikat yang memiliki niat menggunakan sekop di malam Natal yang dingin―batinku. Aku sengaja mempercepat langkah kurang dua belokkan lagi, untuk sampai rumah Mrs. Kim yang kediamannya tepat di samping rumahku. Sekarang, aku tidak peduli dengan jarak, mencoba menikmati keadaan. Toh, tubuhku mulai menghangat padahal salju masih turun, seperti ada sesuatu yang menyelimuti―selimut tak kasatmata. Kalau begini, aku bisa tahan semalaman di luar rumah.

Aku tidak bisa menyembunyikan cengiran di wajahku saat Mrs. Kim mengangsurkan buket bunga yang sangat indah sebagai ucapan terima kasih karena aku telah menolongnya.

“Sue bunga ini seperti arti namamu, bukan?” ucap Mrs. Kim yang kini meletakkan sepiring penuh kue cokelat. Pandanganku teralih sejenak pada kue cokelat itu. Oh, dia benar-benar tahu jika satu-satunya makanan manusia yang dapat ditolerir oleh pencernaanku hanyalah kue cokelat―kue cokelat buatan Paman Do.

Aku menangguk, sembari memeluk buket yang dihiasi lili merah dan biru―sangat besar, indah, dan wangi. Aromanya seperti Baekhyun, konyol, namun aku berani bersumpah. Baekhyun berbau serupa ini apabila ia sedang berburu atau berduaan denganku. “Sue dalam bahasa Ibrani memiliki arti bunga lili.” Aku berujar, kali ini sambil memandang Mrs. Kim. “Terima kasih, Mrs. Kim. Aku baru tahu kalau kau memiliki taman bunga lili, beruntungnya aku datang ke mari saat kau baru memetik bunga.” Lanjutku yang tersenyum simpul, sengaja kutujukan kepada wanita yang tengah duduk di sampingku.

“Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Itu bukan berasal dari tamanku, kau tahu kan jika semuanya terselimuti salju.” Ucapnya lembut menarik napas sekilas kemudian melanjutkan, “itu sekaligus menjadi hadiah ulang tahunmu.”

Aku tertegun sejenak, “Apa Liv yang memberitahu?” Tanyaku,lebih penasaran dengan dari mana Mrs. Kim mengetahui soal tanggal ulang tahunku.

Mrs. Kim menggeleng, “Kemarin aku bertemu Chanyeol dan Liv di toko kue memesan sesuatu yang sepertinya untuk perayaan. Aku hanya menyimpulkan. Kedua kakakmu itu sangat memperhatikanmu.” (Jangan kaget, semua orang di kota ini tahu jika Olivia Park, Chanyeol Park, dan Sue Park ialah bersaudara―bukan ayah, ibu atau anak.)

Aku memberikan tanda setuju dengan gumaman karena sibuk mengunyah kue cokelat. Enak sekali, rasanya sangat familiar, seperti baru keluar dari oven―seperti buatan Paman Do―atau memang persis?

“Kuenya sangat enak. Mrs. Kim benar-benar jago membuatnya.” aku memujinya, jempolku reacung.

Mrs. Kim tertawa sebentar lalu berkelakar, “Aku tidak membuatnya sendiri. Tadi seorang pemuda, pelayan dari toko kue favoritku yang mengantarnya, katanya ini bonus untuk pelanggan setia.”

Aku menelan bulat-bulat apa yanga ada di dalam mulutku. Serebrumku seakan sedang menautkan satu puzzle dengan puzzle yang lain, ada keterkaitan. Aku segera bertanya tanpa kesabaran lebih, “Lalu, bagaimana dengan bunganya?” tanyaku sembari mengigit bibir.

“Sudah kubilang aku memiliki kebun tetapi salju membuat mereka tidak berbunga lalu―”

“―Mrs. Kim memetiknya sediri?”

Mrs. Kim mengernyitkan alisnya, kemudian menggeleng. “Aku sudah tua, Dear. Tidak mungkin―”

“Ada seseorang yang membatu. Apa bisa kau mendeskripsikan seperti apa orangnya?” Aku kembali memangkas penjelasan wanita di hadapanku. Aku sadar itu tidak sopan, maka bibirku mengutarakan penyesalan. “Maaf, Mrs. Kim aku tidak bermaksud memotong ucapanmu. Hanya saja aku…” Entah mengapa, tidak ada kekuatan dariku untuk melanjutkan.

“Aku tidak tersinggung,” kata Mrs. Kim, tangannya yang berkeriput membelai jari-jariku yang memutih sebab terlalu erat kugenggam. “Tadi siang seorang pemuda menawarkan  jasa perawatan taman. Ia bercerita banyak hal. Dia memberiku satu buket lili di akhir penawarannya, katanya itu hadiah Natal dari perusahaan.” Jelas Mrs. Kim.

“Kalian membicarakan banyak hal?” aku menanyakan kembali, enggan percaya kemungkinan yang terjadi.

“Banyak sekali, dia memberitahu bahwa bunga lili memiliki banyak nama, salah satunya disebut Sue dalam bahasa Ibrani. Pemuda yang sangat tampan dan sopan.” Jawab Mrs. Kim parasnya menerawang mencoba mengingat kejadian tadi siang.

Napasku seketika tertahan, “Apa ia memberitahu―siapa namanya?” tanyaku kali ini lebih serupa cicitan.

“Tidak,” jawabnya.

Bertepatan dengan itu semua puzzle dalam otakku telah tersusun rapi. Aku tahu siapa mereka―atau dia.

Terakhir

Advertisements