Lovers

IMG-20151204-WA0005

“We’re close friend, we pretend not to have feelings.” ―Tender Love, EXO

“We’re close friend. Yes, Sum?”

Summer Song tersenyum simpul menimpali ucapan lawan bicaranya. Gadis bersurai coklat bergelombang yang tengah mengenakan terusan merah marun itu membuang muka sejenak, sebelum benar-benar menatap pria di hadapannya.

“Jadi, kalau kamu cemburu pada kami itu hal paling lucu. Aku dan Summer teman dekat dan kami sudah mengenal sejak masih mengompol di celana.” Jelas si pria. Kali ini ucapannya tidak ditujukan kepada Summer, namun pada gadis lain yang duduk di sampingnya.

“Entahlah, aku tidak cemburu hanya saja kalian terlalu serasi, Sehun.” Balas sang gadis sembari menyeruput milkshake vanilla.

Senyum Summer bermain di ujung bibir. “Kamu tahu itu konyol, Aria.”

Aria menggeleng, “Habisnya. Lihat, sekarang saja Sehun tahu benar apa menu kesukaanmu dan Sehun sudah hafal semua kebiasaanmu. Sehun tahu kamu suka ini dan itu. Sedangkan denganku ia terus bertanya ratusan kali.”

Sehun memutar bola mata, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu berusaha menjelaskan kepada sang kekasih. “Itu karena terbiasa―”

“Apa benar kalian berencana mengangkat topik paling tidak bermutu ini?” Potong Summer, jengah.

Ucapan gadis manis itu langsung ditanggapi cengiran lebar oleh Ariana Park. “Maaf,” selorohnya singkat. Aria menggeser tempat duduknya, “Kalau begitu agar tidak terjadi salah paham di antara kita, bagaimana kalau kamu aku kenalkan dengan teman―”

“―tidak Aria.” Sela Sehun, sengit. Pemuda yang awalnya hanya tertarik pada latte dan pie apelnya, tiba-tiba kembali bersuara membuat si kekasih cemberut.

“Kenapa?” Tanya Aria, ia menatap bergantian sepasang sahabat yang tengah berada satu meja dengannya di kafe dekat kampus. “Kamu cemburu, ya?” Pancing Aria, alisnya sudah naik beberapa inci.

Sehun pun memberengut sebagai respons, bibirnya bergumam tipis. “Over protective.”

Sama halnya, Summer juga bersikap kontra. Summer mendengus akibat argumen yang dibeberkan teman satu kelasnya itu. Ia cukup lelah karena selalu dituduh-tuduh menjadi orang ketiga. Kalau pun Summer berniat menyakiti Ariana, pasti sejak lama ia menyetujui berbagai macam ajakkan kencan yang dilayangkan Sehun padanya. Toh, ia menolak. Sebab Summer juga seorang gadis yang enggan menyakiti gadis lain.

“Sudahlah, terserah padamu. Kenalkan saja aku pada siapa pun asal kamu berhenti menyecarku―”

“―Well, dengarkan baik-baik Sehun, Summer ingin punya pacar.” Sergah Aria, ceria. Gadis itu tersenyum memikat, namun ratusan kali pun Sehun menatap senyum itu tak lantas membuatnya berdebar. Berbeda lagi ketika ia melihat senyum atau tawa Summer Song, gadis manis yang ia kenal sepanjang hidupannya. Sehun rela melakukan apa pun di derai tawa atau kekehan kecil sahabatnya, termasuk gagasan Summer dua bulan lalu soal Sehun yang harus menerima cinta Ariana.

“Tidak, aku tidak ambil pusing saat kamu mengomel tentang peluang Summer yang bisa menjadi orang ketiga di antara kita. Tapi, membuat kencan buta untuknya, aku tidak bisa tinggal diam.” Jelas Sehun nadanya tegas.

“Kenapa?” tanya Aria, suaranya berlagak memancing perdebatan.

Sehun melejitkan bahu, parasnya yang ramah berubah dingin. “Karena kami berteman dekat.”

Gadis bersurai pirang itu tertawa mengejek. “Seharusnya, kamu senang Summer punya pacar.” Kelakar Aria, ia memberikan tatapan meminta dukungan kepada Summer.

Summer pun membuang pandangannya pada pohon Natal di ujung kafe, pura-pura tidak tahu-menahu soal perdebatan mereka.

“Tidak.” Sehun berusaha mengatur napasnya. “Karena kami berteman dekat, maka kami berpura-pura untuk tidak memiliki perasaan apa pun. Dengar, aku menyukai Summer, sangat menyukainya sampai aku dengan bodohnya setuju untuk memenuhi permintaan Summer―”

“―Sehun!” Sentak Summer, kali ini masuk dalam pertengkaran mereka.

“Sebentar lagi Natal Summer, aku tidak ingin berbohong dan merusak malam Natalku.” Ucap Sehun, kalem. Kemudian, pria berkemeja kotak-kotak itu kembali fokus pada Ariana yang tertegun. “Selama ini kamu selalu meminta Summer untuk merencanakan sesuatu agar kamu bisa menjadi kekasihku. Kamu yang selalu mengatakan cinta. Kamu tidak pernah ingin tahu bagaimana perasaanku dan kamu selalu membuat kesimpulanmu sendiri. Andai saja, kamu tidak membahas soal pacar Summer dan membuatku cemburu, mungkin hubungan kita bisa berjalan sampai tahun depan tapi―”

“―Astaga!” Pekik Summer.

Bukan, ucapan Sehun berhenti bukan karena suara Summer yang memecahkan. Akan tetapi, disebabkan Ariana yang mengguyur Sehun dengan milkshake vanilla.

Summer terkejut setegah mati. Ia bisa melihat kilatan amarah di netra Ariana yang kini berdiri dari kursi.

“Kalian mempermainkan aku, namun tenang saja. Aku tidak akan sakit hati. Jangan membelanya Summer, kamu juga korban di sini. Dengar Sehun, jangan jadi pengecut. Kalau kamu memang suka Summer seharusnya kamu tidak akan menyerah berapa kali pun dia menolakmu. Kamu seharusnya tahu, hanya dengan melihat gerak-gerik Summer bisa dipastikan jika Summer meyukaimu. Oh, ternyata aku yang jadi orang ketiga. Baiklah, sepertinya aku akan menangis dan..” Perkataan gadis itu sengaja digantungkan. Ariana mengerjapkan mata berusaha menghalau peluhnya.

Summer meraih bahu Ariana untuk menenangkan, tetapi ditolak oleh pemiliknya.

“Aku tidak apa-apa, jangan merasa bersalah. Aku harus pergi. Aku tidak ingin menangis di sini.” Ujar Aria, sambil membenarkan syalnya. Aria berjalan beberapa langkah sebelum berbalik kepada mereka. “Kalian sudah menyakiti satu orang, jangan membuat perasaanku yang terluka ini sia-sia. Kalian harus―menjadi sepasang kekasih.” Imbuh Ariana, kemudian kembali merajut langkah gontai meninggalkan sepasang sahabat yang saling menatap ragu.

“Baiklah, apa kamu masih berencana menolakku?” tanya Sehun pada akhirnya, setelah hening beberapa menit.

Summer menatapnya lamat. “Iya,” jawabnya.

“Bahkan setelah aku diguyur milkshake vanilla?” Sehun mengerang putus asa.

Ada senyum di bibir Summer. “Iya,” katanya sembari bergeser mendekat untuk membantu Sehun membersihkan wajahnya dengan tisu. “Kamu jadi pusat perhatian.” Lanjut Summer, netranya memindai sekitrar.

“Tentu saja karena aku tampan.” Bisiknya di rungu Summer. “Apa kamu menyukaiku? Malam Natal tidak boleh berbohong.” Kata Sehun yang sudah jelas sangat mengada-ada.

Tapi, Summer tetap merona. “Mungkin,” lirih gadis itu.

“Kira-kira kalau aku menciummu sekarang, apa yang akan terjadi, Sum?”

“Seluruh pengunjung kafe akan memperhatikan kita.”

“Selain itu, Love?”

“Kamu akan dituduh jadi pria berengsek. Habis putus sudah punya pacar―”

“―Aku sudah tahu soal itu. Apa ada yang lain?”

Summer tertawa lembut. “Aku suka milkshake vanilla. Berhubung kamu dilumuri milkshake vanilla, aku tidak akan menolak―”

Oh, ucapan Summer tidak pernah selesai.

Kenapa?

Karena Sehun mengecupnya. Kecupan tergesa yang manis.

Selesai dan review.

 

Advertisements