[1] Undercover Marriage

undiscover-mrriage-2

Poster by Miss of Beat R @ D’Angel Falls

Twelveblossom present

Do Kyungsoo melangkahkan kaki yang dibalut sepatu pantofel. Dari caranya berpakian―kemeja hitam dan celana kain bewarna senada―pria berusia dua puluh tiga tahun itu hendak bertandang ke acara resmi. Benar saja, ia menghadiri kelulusan sekolah menengah atas. Hari ini ialah terakhir kalinya adik perempuan Do Kyungsoo mengenakan seragam sekolah. Andai saja, kedua orangtua mereka masih hidup, Kyungsoo tidak perlu berperan ganda menjadi ayah, ibu, dan kakak bagi adiknya. Namun, takdir berkehendak lain, sejak Kyungsoo berusia lima tahun, ia telah memiliki begitu banyak tanggung jawab yang harus dipikulnya. Selain keluarga, Kyungsoo juga harus menjadi kepala dari beberapa perusahaan yang diwariskan orangtuanya. Ia berperan sepakai ‘otak’ dari segala aspek yang mendukung kemajuan serta keberhasilan perusahan elektronik terbesar di Korea Selatan tersebut.

Tanggung jawab itu seharusnya dapat ia bagi dengan adiknya yang kini menginjak usia delapan belas tahun. Akan tetapi, si adik kecilnya yang manja lebih tertarik di bidang seni panggung, daripada harus memutar benaknya. Kasih Kyungsoo pada sang adik lantas membuatnya menuruti semua keinginannya. Kyungsoo juga tidak rela si adik kesayangan harus berhadapan dengan kerasnya dunia bisnis. Persaingan tak hanya dari luar keluarga, dalam keluarga pun berusaha menyingkirkan kedua bersaudara itu dari tingkat tertinggi Keluarga Do. Bila saham Kyungsoo dan adiknya tidak lebih besar, maka keduanya telah diusir dari megahnya kediaman Keluarga Do. Satu lagi keuntungan yang dimiliki Kyungsoo dan adiknya, mereka memiliki Nenek Do yang senantiasa membela kedua cucu kesayangan serta siap mengenyahkan rintangan yang bisa menyakiti cucu-cucunya.

“Kakak!” Panggil seorang gadis ketika Kyungsoo memasuki gedung. Gadis itu  memiliki surai panjang lurus bewarna hitam. Kulitnya semulus pualam, setengah albino. Tingginya tidak lebih dari 160 sentimeter. Kali ini si gadis yang menggerai rambutnya itu, membalut tubuhnya dengan seragam kuning khas sekolah elit yang mahal.

Paras Kyungsoo yang dingin, jarang sekali terlukis lekukkan senyum di sana, serta-merta mengangkat sudut bibir membentuk tawa yang menawan. Pria itu menyambut pelukkan si adik yang tak henti-hentinya melompat kegirangan. “Do Jisoo jangan lari-lari nanti kamu jatuh,” Kyungsoo memperingatkan.

Yang diberi nasehat malah terkikik, lalu melonggarkan pelukannya. “Mana buket bungaku?” tanya Jisoo setelah menyadari kakaknya tidak membawa apa pun. “Kakak pasti lupa,” imbuh gadis cantik itu sembari cemberut.

Kyungsoo mencubit pipi Jisoo sejenak, kemudian melejitkan bahu. “Awalnya lupa―”

“―Aku sudah menduganya, selalu begitu.” Potong Jisoo kecewa.

Kyungsoo membelai surai adiknya, “Jangan memotong ucapan orang lain dan jangan menyimpulkan sesuatu tanpa mendengarkan keseluruhan.” Lagi-lagi Kyungsoo mengomeli adiknya. Ada jeda sejenak, lalu Kyungsoo merobeknya. “Sebagai ganti, kamu boleh minta satu hal dan aku akan mengabulkan tanpa bertanya.” Lanjut pria itu yang langsung bisa menghapus raut sedih dari paras Jisoo.

Jisoo memekik senang. “Baiklah, aku akan memikirkan baik-baik permintaanku nanti. Aku harap Kakak tidak mengingkari. Eum, acaranya sudah akan dimulai, Kak. Lebih baik kita ambil kursi.” Kata gadis itu sambil menarik tangan Kyungsooo untuk mengikutinya.

Di dunia ini hanya Jisoo yang berani menyeretnya seperti ini dan hanya Jisoo yang membuatnya menurut pada perintah orang lain, batin Kyungsoo, kemudian parasnya pun kembali kaku.

Jisoo mengernyitkan alis saat memasuki lobi rumah yang mewah. Ruangan itu dilapisi dinding bewarna coklat muda, pintu dan jendela ukir berukuran ekstra besar, perabotan bertema klasik, serta lampu gantung yang menambahkan kesan elegan. Yang membuat gadis itu kebingungan bukanlah ruangan yang kini menjadi tempat pijakkan kakinya, namun orang-orang yang tengah berada di ruangan tersebut. Netra gadis itu memindai neneknya―wanita berusia tujuh puluh lima tahun yang tengah berbincang dengan kedua tamu asing―seorang wanita kira-kira berusia empat puluh tahunan dan seorang gadis lebih muda dari Jisoo. Nenek Do tidak biasa menerima tamu, beliau tipe wanita yang memilah-milah orang. Apalagi, kedua wanita yang kini duduk di kursi mereka berpakaian―menurut Jisoo, bukan tipe yang akan mendapatkan penghargaan dari neneknya―terlalu lusuh.

Jisoo pun semakin bingung, menyadari obrolan mereka terhenti saat ia dan Kyungsoo memasuki lobi. Apalagi pandangan si wanita yang lebih tua itu tertaut padanya. Entahlah, ada kesedihan, bercampur-aduk―jenis perasaan yang belum pernah Jisoo lihat.

“Apa ada masalah?” tanya Kyungsoo yang memiliki tanda tanya besar dalam suaranya. Pertanyaan itu diangsurkan kepada Nenek Do yang langsung mengangguk.

Nenek Do memandang Kyungsoo penuh iarti, kemudian beralih pada Jisoo. “Sweetheart, pergilah ke kamar. Nenek ingin mengobrol dengan kakakmu.” Ucap Nenek Do pada Jisoo.

Jisoo mengangguk sembari melepaskan tas yang bertengger di punggungnya, menyerahkan barang itu kepada asisten rumah tangga mereka yang tengah menunggu.

“Nona muda, apa Anda menginginkan sesuatu?” Tanya Bibi Lee si asisten rumah tangga yang merawat dua bersaudara Do sejak mereka kecil.

Jisoo menggeleng, perhatiannya tertarik pada gadis asing yang juga mengawasinya. Wajah gadis asing itu terasa familiar di benak Jisoo.

“Jisoo cepat naik, ada sesuatu yang menunggu di kamar.” Kata Kyungsoo ringan―memudarkan lamunan Jisoo, secara tidak langsung memerintah si adik agar segera beranjak.

Jisoo mengangguk lalu pergi dari sana. Pasti urusan perusahaan, benak Jisoo berargumen. Pikirannya segera teralih ketika membuka engsel pintu. Netra sipit Jisoo melebar melihat apa yang ada di hadapannya.

“Mawar putih!” Seru Jisoo kegirangan. Ia langsung menghambur ke ranjang yang dipenuhi mawar putih, tidak hanya di sana, lantai, meja, dan sudut-sudut kamar Jisoo dipenuhi bunga favoritnya. Jisoo tersenyum dan menengadah ke atas menikmati harumnya bunga itu.

Awalnya aku lupa membawa mawar putih ini, maka dari itu aku memberikan ratusan kali lipat lebih banyak dari yang biasa kamu minta.

-Do Kyungsoo-

Bibir Jisoo enggan berhenti melengkung sewaktu membaca kertas yang sengaja diselipkan kakaknya di tengah lautan mawar putih.

Kyungsoo mengerang tertahan di ruangan kerja. Pria itu memijat pelipis, masalahnya bertambah lagi. Kepalanya pening bukan main, memutar kembali dialog yang dikoarkan oleh wanita entah siapa―yang mengaku sebagai ibu kandung Jisoo.

“Ibumu tidak bisa mengandung lagi setelah melahirkan dirimu, ia menginginkan seorang putri. Oleh karena itu, ibumu mengadopsi Jisoo tanpa sepengetahuan kita. Ia berpura-pura hamil―dan wanita ini ialah ibu kandung Jisoo.” Ucapan Nenek Do terngiang di kepala Kyungsoo. Rahang pria itu berkedut antara marah dan merasa dikhianati. Jika, ia terlahir di keluarga normal, silsilah keluarga bukan sesuatu yang penting―itu anggapan Kyungsoo. Namun, Keluarga Do bukanlah keluarga sembarangan. Mereka terikat dengan hak waris, saham, properti, dan jenis kekayaan yang lainnya. Tingkatan serta kehidupan ditentuntakan pada keturunan. Fakta bahwa Jisoo bukanlah putri keluarga ini berdampak buruk padaku, batin Kyungsoo

Pintu terbuka mengiterupsi lamunan si pemilik ruangan, menampilkan Nenek Do yang menyanggul surai putihnya. Begitu anggun. Wanita itu melangkah perlahan, tak hendak menyugar kesunyian dalam ruangan. “Kau masih memikirkannya?” tanya Nenek Do, lalu duduk di hadapan Kyungsoo.

Kyungsoo menatap lawan bicaranya, tajam. “Tentu, Grandma.” Jawabnya singkat, merenung. Ada hening kemudian bibir Kyungsoo kembali berkata, “Tidak akan jadi masalah, jika anggota dewan belum mengetahui bahwa Jisoo bukan putri kandung Keluarga Do.” Lanjutnya, sengaja menggantung kalimat―menunggu pendapat Nenek Do.

“Sayangnya, mereka sudah tahu―”

“―Siapa yang membocorkan?” Potong Kyungsoo, netranya berkilat kesal.

“Pamanmu, memangnya siapa lagi yang tega melakukan itu? Kau tahu ia gemar memanfaatkan peluang sekecil apa pun. Pamanmu sangat tahu jika Jisoo bukan anak kandung dari keluarga ini berarti Jisoo tidak memiliki hak atas 35% saham keluarga, itu artinya sahammu dan milik Jisoo tidak lagi berjumlah 70%. Kau hanya memiliki 35% saja.” Jelas Nenek Do.

“Dan aku akan tersingkir dari jajaran petinggi Do, berakhir menjadi gelandangan.” Simpul Kyungsoo, kepalanya kembali berdenyut. Sedari bayi ia sudah terbiasa memiliki kehidupan serba berkecukupan, Kyungsoo tidak memiliki pemikiran sedikit pun apabila nantinya ia harus jatuh miskin.

Kyungsoo bersedekap, “Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan kekacauan ini?” Tanya pria itu putus asa. Kyungsoo tidak memiliki cara lagi, ia sudah terlalu pusing dengan berbagai macam urusan perusahaan. Dia sedang enggan berpikir. Ada satu cara sebenarnya yang berlalu-lintas dalam benaknya, sesuatu yang konyol. Bahkan, Kyungsoo ragu menyuarakan.

Nenek Do tertawa sengit, “Kau yang paling cerdas dalam keluarga ini, Kyungsoo. Seharusnya kau sudah memiliki jalan keluar dari persoalan  tepat setelah mengetahui bahwa Jisoo bukan putri kandung Keluarga Do.” Jawab Nenek Do, ia memancing pemikiran yang diangap konyol oleh Kyungsoo diungkapkan.

Kyungsoo meraup wajah. Ia menghela napas lelah. “Menjadikan Jisoo benar-benar menyandang marga ‘Do’. Apa kita harus mengadopsinya secara hukum atau―”

“―Kau menikah dengan Jisoo, selama Jisoo secara resmi menjadi bagian dari Keluarga Do, baik secara hukum atau pun silsilah keluarga maka kekayaanmu akan aman.” Potong Nenek Do.

Kyungsoo mendengus. “Apa Grandma gila? Dia masih delapan belas tahun dan―”

“―Masa depannya masih panjang?”

“Ya,” timpal Kyungsoo singkat.

Nenek Do tersenyum simpul. “Menikah kemudian kirim gadis kecil itu ke luar negeri untuk menempuh pendidikan.”

“Akan sangat sulit membujuknya.” Kyungsoo berpendapat, matanya tertuju pada cincin yang bertengger di jari manisnya. “Menurut, Grandma bagaimana pendapat Nara soal pernikahanku dengan Jisoo?” Pria itu bertanya asal.

“Sudah pasti ia akan melempar cicin pertunangan kalian tepat di depan hidungmu. Siap-siap saja, bukan ‘kah Jung Nara―tunanganmu itu terlampau galak.” Nenek Do berkelakar.

“Tidak juga, Nara berulang kali memberikan gagasan untuk mengagalkan pertunangan kami. Ia ingin kawin lari bersama Sehun. Nara akan sangat gembira tidak jadi menikah denganku.” Kyungsoo berujar, dalam benaknya berkelebat bayangan seorang gadis berparas kebarat-baratan yang seharusnya menjadi mempelai Kyungsoo bulan depan, akan tetapi nampaknya rencananya melakukan ekspansi bisnis melalui jalur pernikahan harus dibatalkan.

“Besok aku akan memberitahu Jisoo soal ini,” ucap Kyungsoo menutup percakapan.

-oOo-

Bagaimana menurut kalian? Apa ini menarik? Jika menurut kalian ini menarik akan saya lanjutkan, kalau tidak maka sebaliknya.

P.s: saya belum menemukan poster yang sesuai untuk ini.

Advertisements

178 thoughts on “[1] Undercover Marriage

  1. Wow wow wow .. boleh aku baca . Ceritanya menarik sungguh … boleh dong ya aku ubek ubek wp nya ..btw salam kenal 🙂

  2. sekalii lagi cerita kaka menarik wahhh
    aku suka alurnya hahaha dari kaka adik trus jadi suami istri aduh gimnaaa jadinya wkwk

  3. Mntapssss baca yang ini juga ya kaak!! Sukaaa bget sama Jisoo dan dipair sama Kyungsoo akkk cocok cocok~~ tapj sebenernya maunya Lisa qaqaaa~~~ buat Lisa-Sehun dong kaaakk suka banget bayangin Sehun-Lisa awaw~~

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s