[2] Undercover Marriage

 

undiscover-mrriage-2

Poster by Miss of Beat R @ D’Angel Falls

Prev: [1]

Jisoo menuruni tangga menuju ruang makan dengan sumringah. Bibirnya bersenandung kecil menirukan suara burung yang juga dilukiskan di kaos putihnya. Surai hitam pekatnya kini telah berganti warna menjadi coklat madu dan bergelombang. Sengaja ia ikat rapi kebelakang, memamerkan leher jenjangnya.

“Selamat pagi,” sapa Jisoo ceria. Gadis itu beranjak mengecup pipi Nenek dan kakaknya. “Aku senang kita bisa sarapan bersama,” ucap si gadis setelah mendarat di kursi. Memang jarang bahkan tidak pernah mereka makan bersama selalu ada kesibukan yang menghalangi.

Paras Kyungsoo melunak, senyum pria itu bermain di ujung bibir. “Suasana hatimu sedang baik,” kelakar pria yang mengenakan setelan kantor.

“Well,” jawab Jisoo singkat sambil menyuapkan roti selai kacang favoritnya.

“Apa ada kabar baik yang belum kami ketahui?” tanya Nenek Do.

Jisoo melejitkan bahu, “Tidak, Grandma. Hanya kecerian anak remaja.” Timpal gadis itu, enggan mengenyahkan kegembiraan dari parasnya.

“Pasti Jongin menghubunginya,” ujar Kyungsoo mengambil kesimpulan. Kyungsoo tahu benar satu-satunya hal yang dapat mengukir kebahagian adiknya adalah Jongin, kawan Kyungsoo sekaligus kerabat Keluarga Do. Pria itu menyelesaikan kunyahan terakhirnya, lalu berdiri. “Jisoo, setelah makan siang kamu ikut Kakak ke kantor.” Lanjut Kyungsoo, ia melangkah untuk membelai surai adiknya.

Jisoo mengeryit kebingungan. “Aku tidak mau.”

“Harus.” Kata Kyungsoo dingin sembari mengecup puncak kepala adiknya.

“Kalian membatalkan pertunangan?” Jisoo mengulangi ucapan lawan bicaranya sembari terperangah. Gadis muda itu tidak mengerti sama sekali, alur berpikir calon kakak iparnya―Jung Nara. Bagaimana bisa Nara mengucakan kalimat paling sensitif bagi kedua pihak keluarga mereka dengan suara ringan dan ceria?

Sementara Jisoo masih sibuk memberengut, Nara malah tersipu-sipu. Gadis blesteran Korea dan Amerika itu tersenyum anggun, ia kembali berdiri untuk melakukan pemanasan. “Sudahlah, jangan dipikirkan. Toh, Tuan Muda yang membatalkan pertunangan. Jadi, tidak masalah.” Ujar Nara, tubuhnya meliuk santai, menari diiringi musik kontemporer.

“Aku tidak menyangka, padahal Kak Kyungsoo sangat terobsesi memperluas jaringan bisnisnya dengan menikahimu.” Jisoo mendesah kesal, kembali merasa terasing, sebab ia tidak dapat menebak jalan pikiran saudaranya sendiri. Tatapan Jisoo berubah menerawang, memandang dinding ruangan yang dilapisi cermin. Jisoo sedang berada di tempat latihannya untuk pertunjukkan teater satu minggu lagi, namun mendengar kabar dari Nara, dirinya jadi tidak dapat berkonsentrasi.

“Kalian bertemu kemarin malam?” tanya Jisoo setelah hening beberapa detik.

Nara menggeleng di tengah kegiatan berputar. “Tidak, dia membatalkan pertunangan kami dengan mengirim surel. Kakakmu itu membuat para tetua Keluarga Jung kebakaran jenggot. Hebat! Aku tidak menyangka, kakekku yang pongah bisa pucat pasi seperti itu. Lucu sekali. Andai saja, aku bertemu Kyungsoo lebih dulu daripada Sehun, pasti aku sudah jatuh hati padanya.” Jelas Nara, tertawa di ujung kalimat.

Jisoo memutar bola mata sebagai tanggapan. “Kalian berdua gila,” timpal Jisoo ditujukan pada gadis yang berusia tiga tahun lebih tua darinya. “Baiklah, terserah kalian. Aku harus pergi ke kantor, Kak Kyungsoo yang memintaku. Sampai jumpa.” Imbuh Jisoo sembari mencuri pandang pada jam tangannya.

Nara menghentikan gerakan tarianya. Kedua alis Nara mengkerut. “Kyungsoo yang meminta?” tanya gadis itu terkejut sekaligus memastikan.

Jisoo mengangguk. Tangan Jisoo cekatan membereskan barang-barangnya yang berserakan di sekitar ruang latihan. “Ya, benar Kyungsoo atau mantan calon tunanganmu.” Jisoo menegaskan.

“Wow, dia meminta adik kesayangannya ke kantor. Semangat, Do Jisoo.” Seru Nara mengantar kepergian teman satu klub menarinya itu.

Jisoo menyeringai, “Terima kasih, mantan calon kakak ipar. Lihat, Oh Sehun―pujaan hatimu datang!” Jisoo berteriak heboh ketika mereka berselisih jalan dengan Sehun. Sontak membuat pipi Jung Nara merona.

“Sial kamu Do Jisoo,” celetuk Nara sebelum menyapa genit Oh Sehun.

Sementara, Jisoo meninggalkan klub menarinya sambil tertawa riang membayangkan perilaku salah tingkah Jung Nara yang berhadapan dengan Sehun.

Do Kyungsoo duduk diam layaknya pahatan batu, jari-jarinya yang memutar globe―menandakan jika pria itu bukanlah patung. Netra Kyungsoo hanyut pada rotasi bumi buatan itu, benaknya sedang mengotak-atik beberapa kemungkinan yang bisa menjadi solusi efektif. Suatu kesepakatan yang tidak merugikan dirinya sedikit pun. Semua opini yang ditarik oleh angan Kyungsoo merujuk pada dua hal menyingkirkan Do Jisoo atau mengorbankan Do Jisoo. Pilihan pertama meragukan, media akan mengekspose dirinya secara besar-besaran apabila menyingkirkan gadis malang itu. Mengorbankan Do Jisoo, lebih menarik. Akhirnya ia memutuskan, bertepatan dengan suara intercome ruang kerjanya berbunyi.

Mr. Do, Miss Do ingin bertemu Anda.” Ujar sekretaris pribadinya.

Kyungsoo menghela napas. “Bawa dia masuk,” balas pria berjas hitam itu sembari beranjak dari kursi kuasanya.

Pintu pun terbuka, ‘adik manis’ yang begitu polos dan naif melangkah. Gadis yang bagi Kyungsoo terlalu mudah dimanipulasi, menyunggingkan senyum lebar, seakan Jisoo baru saja bertemu malaikat.

Aku memang malaikatmu, adik kecil. Malaikat kegelapanmu―seringai tipis Kyungsoo menekankan.

Jisoo tidak menyadari perubahan gelagat kakak laki-lakinya, tak ada sejenak pun dalam pikirannya yang menyuguhkan fakta bahwa Do Kyungsoo bisa menyakiti. Bagi Jisoo, Do Kyungsoo adalah pahlawan pembasmi kejahatan dengan jaring laba-laba―Jisoo, kamu kebanyakan nonton Spiderman!

“Apa Anda menginginkan sesuatu, Miss?” tanya sekretaris Do Kyungsoo.

Paras Jisoo langsung memberengut, ia berbalik ke arah wanita berusia 25 tahun itu. Wanita memakai rok mini bewarna merah menyala, bersurai pirang, dan cantik. Namun, Jisoo sebal bukan main terhadap sekretaris itu, berulang kali si Wanita Pirang berusaha menggoda kakaknya.

“Dasar jalang,” bisik Jisoo.

“Maaf, Miss?” Sang sekretaris kembali bersikap―sok―profesional.

Jisoo melejitkan bahu, “Aku haus.” Balasnya, dingin. Ia kembali menghadap Kyungsoo yang sedang menahan senyum, jelas sekali jika kakaknya tahu benar betapa sebalnya Jisoo pada si sekretaris.

“Anda ingin teh atau―”

Milkshake cokelat.” Potong Jisoo, senyum jahil bermain di bibirnya.

Sekretaris Kyungsoo berdeham sebelum kembali berkata, “Tetapi, kantor kami―”

Jisoo melipat kedua tangan di depan dada. Ia memasang tampang galak, walaupun tubuhnya masih membelakangi sekretaris kegenitan itu. “Aku ingin milkshake cokelat dengan es krim vanila di atasnya. Jangan lupa taburan keju yang banyak. Oh, es krimnya harus tiga tingkat, tambahkan bubble juga. Aku suka milkshake di gerai Pak Lee. Kau tahu tidak siapa Pak Lee?” tanya Jisoo setelah menyelesaikan permintaannya dalam satu tarikan napas.

Si Sekretaris terperangah. “Tidak, Miss―”

Jisoo menghentikan ucapan sekretaris itu dengan telapak tangan. Dia mendekati kakaknya yang mengulum senyum. Jisoo cemberut, “Kak, katanya kamu punya pegawai yang kompeten. Sekretaris cantikmu ini bahkan tidak tahu Pak Lee itu siapa.”

Kyungsoo mendekati Jisoo, pria itu menunduk kemudian berbisik pelan. “Sudah, Do Jisoo. Dia hampir kencing di celana saking takutnya pada putri muda Do Jisoo.” Kemudian, Kyungsoo menatap tajam sekretarisnya. “Tanyakan semua pesanan Jisoo pada sopir pribadinya di bawah. You may left now.” Ujar Kyungsoo, kaku.

Sebelum sekretaris itu meninggalkan ruangan, Jisoo kembali menyahut. “Satu hal lagi Miss Hwang. Kantor ini juga milikku, kau bahkan tidak bisa memikirkan hal buruk apa yang dapat aku lakukan padamu. Kamu boleh keluar sekarang.” Kata Jisoo, disambut dengan anggukkan gugup lawan bicaranya.

Kyungsoo meminta adiknya duduk, setelah memastikan jika di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.

“Kamu menyeramkan kalau mengancam seseorang seperti itu.” Kyungsoo memulai topik.

Jisoo tertawa. Dia mengamati Kyungsoo yang kembali duduk di kursi kerjanya, membuat mereka berhadapan. “Aku menirumu, Kak. Aku ‘kan adikmu.” Kelakarnya.

“Kamu peniru yang ulung. Padahal kita bukan saudara sedarah. Semua orang sudah tahu, ” kata Kyunggso enteng. Pria itu sama sekali tidak mengira jika adiknya akan terkejut atau menangis meraung-raung, mereka sudah melalui fase itu bertahun-tahun lalu.

Jisoo menghela napas berat. “Kita ketahuan.” Timpal si gadis. Do Jisoo tahu apabila dirinya bukan putri kandung Keluarga Do. Ibu yang mengadopsinya gemar sekali menulis buku harian dan menuliskan semua hal di sana, termasuk ketika beliau mengadopsi bayi perempuan yang selanjutnya dibesarkannya. Jisoo kecil sama sekali tidak mengira, buku catatan kumal yang ia temukan di bawah ranjang mendiang orangtua angkatnya dapat melukainya. Jisoo kecil menunjukkan buku harian itu dan sesuatu yang tertulis di dalam sana pada kakaknya. Kyungsoo menghibur dan berujar, semuanya akan baik-baik saja, apabila hanya mereka berdua yang mengetahui. Mereka pun berniat merahasiakan kemalangan Jisoo untuk selama-lamanya.

Takdir berkata lain, batin Jisoo bersuara penuh kesedihan.

“Aku bisa mengendalikan takdir.” Ucap Kyungsoo, seakan dapat mendengar kegelisahan benak gadis yang merenung di hadapannya.

Jisoo menahan napas, lalu menghembuskan perlahan. Kebiasaan yang gadis itu lakukan saat panik. “Apa aku harus kehilangan semuanya? Grandma akan mengetahui kalau aku membohonginya. Aku sudah tahu sejak lama tapi―”

“―Tidak, kita baru tahu.” Potong Kyunggso, ia beringsut mendekat ke Jisoo. “Tetaplah berakting seperti sebelumnya.” Imbuh Kyungsoo.

“Aku akan diusir.” Simpul Jisoo.

Kyungsoo memutar bola mata, jengah. Kenapa gadis ini begitu pesimis?

“Bisa tidak kamu berpikir lebih kreatif?” tanya Kyungsoo kesal.

Jisoo mencebik, “Aku tidak punya gen pintar Keluarga Do. bakatku hanya menari, akting, dan menyanyi. Kamu puas, Kak?”

“Sangat puas. Aku punya solusi.”

Dengusan Jisoo terdengar gamblang, “Apa?”

Kyungsoo tersenyum. “Kita menikah.”

“Gila!” Seru jisoo histeris. “Aku tidak bisa mengikuti audisi Juilliard kalau menikah.” Jisoo menambahi, ia melotot menatap Kyungsoo yang tetap bersikap tenang.

“Kamu tidak bisa ikut audisi jika hamil, Jisoo. Kita cukup menikah dan memastikan tidak merugi. Setelahnya, dirimu bisa pergi kemana pun.” Ungkap Kyungsoo.

Jisoo masih enggan menenangkan diri. Gadis itu bahkan menggulung kemeja merahnya sampai sesiku. “Bagiamana dengan masa mudaku, Kak?” tanya Jisoo putus asa.

Kyungsoo melejitkan bahu. “Entahlah, terserah padamu. Kamu tentu tahu untuk mencapai segala hal yang kamu impikan di benakmu, kamu butuh uang.”

“Apa kita bisa bercerai nantinya?” Jisoo kembali berseloroh.

Kyungsoo tertawa kencang. “Jujur saja, Jisoo. Cara berpikirmu lebih tua daripada usiamu.”

“Aku hanya memastikan di usia berapa aku menjadi janda nanti. Oh, Demi semua sepatu baletku. Apa Jongin bersedia menungguku, Kak?” Oceh Jisoo sembari mengacak surainya.

Kalimat asal yang digelontorkan Jisoo kali ini membuat tubuh Kyungsoo menegang. Pria itu tidak suka Jisoo menyebut nama Jongin dalam percakapan mereka. “Kamu tahu, Jongin sama sekali tidak izinkan terlibat dalam batasan kolektif kita ini, Do Jisoo.”

Jisoo mengangguk cepat, nada suara Kyungsoo terdengar marah. Jisoo tidak berani macam-macam, sudah jelas. “Aku hanya bercanda, Kak.” Timpal Jisoo sambil tersenyum kecut. “Baiklah, aku setuju.” Ungkap Jisoo, lagi.

Good girl.”

“Apa kita akan menemui dewan perusahaan sekarang?” tanya Jisoo, ia kembali duduk.

“Tidak, hari ini kamu hanya perlu uji DNA, sweetheart. Kita akan memberikan kejutan kepada mereka beberapa minggu lagi. Bersiaplah.” Jawab Kyungsoo.

Jisoo menggertakkan gigi, mengakhiri percakapan mereka dengan keluhan. “Aku tidak suka disuntik.” Gerutu si gadis yang langsung membuat Kyungsoo mengecup puncak kepalanya.

Semua akan baik-baik saja, Do Jisoo. Aku memastikannya.

-oOo-

Advertisements

153 thoughts on “[2] Undercover Marriage

  1. Semakin penasaran mau dibawa kemana ini alurnya….authornim pintar sekali bikin orang penasaran….ijin baca next chapter ya ….
    Keep writing

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s